Oleh: Yun Ita
Setiap orang pasti memiliki impian tentang masa depan yang cerah. Namun, tak semua orang diberi kemudahan untuk meraih impian tersebut. Kisah ini adalah kisah inspiratif seorang wanita muda yang berjuang keras demi melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, meskipun berbagai rintangan menghadang di sepanjang perjalanan.
Segala sesuatu bermula saat Nita memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kampus swasta di Banjarbaru menjadi tujuan Nita. Jurusan yang Nita pilih adalah Pertanian, sesuai dengan minat dan harapan Nita untuk berkontribusi di bidang tersebut. Namun, impian ini tak semudah yang dibayangkan. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas menjadi penghalang utama. Nita tahu bahwa satu-satunya cara untuk melanjutkan kuliah adalah dengan mendapatkan beasiswa. Maka, Nita mendaftar dengan penuh harap. Semua persyaratan Nita penuhi, termasuk mengikuti tes tertulis yang menjadi penentu kelulusan beasiswa.
Waktu menunggu hasil pengumuman terasa begitu lama. Sebulan penuh Nita menjalani hari-hari dengan harapan dan doa. Setiap hari, Nita berangkat pagi-pagi ke warung kopi di dekat rumah untuk membaca buku sambil menanti hasilnya. Di sana, Nita sering berbicara dengan pemilik warung, seorang ibu paruh baya yang selalu memberikan dorongan semangat. Ibu itu berkata, “Jangan pernah menyerah, Nita. Jika memang rezekimu, takdir pasti akan membawamu ke sana.”
Namun, harapan tersebut seolah runtuh ketika hasilnya diumumkan. Nita diterima di kampus tersebut, tapi tanpa beasiswa. Kabar itu bagaikan petir di siang bolong. Keterbatasan ekonomi membuat Nita harus mengurungkan niat untuk melanjutkan kuliah. Berat rasanya menerima kenyataan tersebut, tetapi Nita tak punya pilihan lain. Impian melanjutkan pendidikan pun terkubur untuk sementara waktu.
Waktu berlalu, dan Nita mulai bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Setiap pagi, Nita bangun subuh untuk membantu ibunya membuat kue yang kemudian dijual di pasar. Meski lelah, Nita tetap tekun bekerja sambil menyimpan impian kuliah dalam hatinya. Takdir pun memberikan Nita kesempatan kedua. Kepala sekolah SMA Nita memberi tawaran untuk mendaftar kuliah di universitas Muhammadiyah Banjarmasin. Tawaran ini datang saat Nita sudah hampir melupakan impian tersebut. Dengan iseng, Nita mendaftar, meski hanya tersisa jurusan Pendidikan Matematika dan Pendidikan Bahasa Inggris yang tersedia untuk beasiswa. Nita memilih Pendidikan Matematika sebagai pilihan pertama dan Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan kedua.
Namun, cobaan kembali datang. Nita gagal lolos seleksi administrasi karena status KIP (Kartu Indonesia Pintar) Nita masih terdaftar di kampus Banjarbaru. Hati Nita kembali hancur, merasa bahwa kesempatan ini pun akan hilang. Namun, seorang teman memberi tahu bahwa dia berhasil mendapatkan izin mengikuti tes wawancara setelah mencabut status KIP-nya dari kampus lama. Lalu Nita pun melakukan konfirmasi juga dengan pihak kampus meminta izin untuk mencabutnya status KIP-nya juga. Nita pun tak menyerah begitu saja. Bersama guru Nita, mereka berangkat ke kampus di Banjarbaru untuk mengurus pencabutan status KIP tersebut.
Saat itu, mereka datang pukul 8 pagi dengan harapan masalah ini bisa segera terselesaikan. Namun, mereka harus menunggu hingga pukul 12 siang, dan orang yang mereka tunggu tak kunjung datang. Waktu semakin mendesak. Tes wawancara di kampus Banjarmasin hanya berlangsung hingga pukul 12 siang, dan Nita mulai merasa putus asa. Nita ingin menyerah dan pulang, tapi guru Nita menyarankan untuk tetap bertahan sebentar lagi. Di tengah kekecewaan itu, sebuah telepon masuk dari seorang dosen di universitas Banjarmasin. Beliau menanyakan apakah Nita masih bisa melanjutkan proses wawancara. Dengan jujur, Nita katakan bahwa mereka masih menunggu orang yang bisa mengurus pencabutan status KIP tersebut. Mendengar jawaban Nita, dosen tersebut meminta nomor kontak staf itu kepada Nita dan langsung menelepon staf kampus di Banjarbaru. Nita tak menyangka, apa yang tadinya terasa mustahil akhirnya bisa teratasi. Status KIP Nita segera dicabut, dan Nita bisa mengikuti tes wawancara.
Meski waktu wawancara sudah selesai, Nita diberi kesempatan untuk mengikuti tes tersebut saat selesai jam makan siang. Dengan segenap kekuatan, Nita berusaha memberikan yang terbaik dalam wawancara itu. Perasaan Nita saat pulang adalah campuran antara lega dan cemas, tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Beberapa hari kemudian, kabar baik itu datang. Nita dinyatakan diterima di universitas tersebut, lengkap dengan beasiswa yang Nita impikan. Mendengar kabar itu, ibu Nita tak kuasa menahan air mata haru. Nita pun sadar bahwa perjuangan yang penuh liku ini akhirnya membuahkan hasil. Jika takdir sudah berbicara, tidak ada yang bisa menghalanginya.
Kini, Nita melanjutkan kuliah dengan semangat dan tekad yang lebih kuat, siap menghadapi tantangan apa pun demi masa depan yang lebih baik. Setiap kali Nita merasa lelah atau ragu, Nita selalu teringat pada ibu pemilik warung kopi di kampungnya yang pernah berkata, “Jangan pernah menyerah, Nita. Jika memang rezekimu, takdir pasti akan membawamu ke sana.”
Perjalanan ini mengajarkan Nita bahwa impian memang membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Tapi selama kita tidak menyerah, selalu ada jalan untuk mencapainya. Nita juga bertekad untuk membantu orang lain yang menghadapi tantangan serupa di masa depan, sehingga mereka tidak perlu merasakan kesulitan yang sama seperti yang pernah Nita alami.

