Kampus Swasta

Karya : Nur Millah

Pada hakikatnya, manusia memanglah tidak sempurna. Kekurangan yang Tuhan ciptakan bukanlah tanpa alasan. Jika kekurangan tidak ada dalam diri manusia, tentu akan membuat manusia menjadi tinggi hati dan hanya akan membuat penyesalan di kemudian hari. Kekurangan diciptakan, semata-mata agar manusia merasa bersyukur dan terus mengingat jika diatas langit masih ada langit. Tetapi ada saja beberapa orang mencibir dan tidak sadar akan kekurangannya sendiri. Terlalu fokus dengan kehidupan orang lain sehingga kehidupannya sendiri diacuhkan. 

Nama lengkapku, Nur Millah. Orang-orang sekitarku kerap memanggilku Mila ataupun Emil. Aku merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara, namun kakak dan adikku sudah berpulang terlebih dahulu kemudian disusul ibuku. Aku menyelesaikan pendidikanku selama 12 tahun bukanlah hal yang mudah, seringkali orang-orang mencibir dengan kalimat yang tidak sepantasnya. Ayahku merupakan seorang pekerja keras, ayah selalu melakukan yang terbaik untuk aku putri semata wayangnya. Ayahku berdagang bensin dan juga oli eceran sehingga hal itu juga yang membuatku kerap dibully. Menurut mereka, aku tidak pantas berada disini karena pekerjaan ayahku,. Namun, aku katakan jika aku bangga dengan ayahku. Aku selalu bangga dengan apapun yang sudah ayah lakukan untukku. Aku tidak mendengarkan celotehan mereka tentangku dan ayahku. Bagiku yang terpenting sekarang adalah bagaimana aku harus terus berjuang memberikan yang terbaik untuk hidupku supaya aku bisa mengangkat derajat ayah dan juga almarhumah ibuku dan juga almarhum kakak adikku. 

Dalam hidup yang dijalani setiap manusia, tentu memiliki fase suka dan duka. Tak terkecuali aku yang juga memiliki fase suka duka yang tidak semua orang ketahui tentangku. Yang orang lain tahu hanyalah cover depan tentang aku dan ayahku. Mereka semua tidak tahu tentang perjuanganku dan ayahku agar sampai dititik yang sekarang. Tidak ada yang pernah menyangka jalan hidup seseorang, semuanya sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa dan tergantung diri kita sendiri bagaimana mengusahakan dan memperjuangkan yang terbaik. 

Sedari kecil, aku tidak pernah diberi uang jajan karena terkendala ekonomi. Meski begitu, hal tersebut tidak menyurutkan semangat sekolahku. Sedari dahulu, aku sangat suka tampil didepan umum. Pada saat bersekolah di Taman Kanak-Kanak, aku selalu maju paling depan. Entah itu untuk menyanyi atau bahkan bercerita. Saat bersekolah di Sekolah Dasar pun begitu, aku selalu maju untuk bernyanyi, bersholawat, membaca karya puisi, lomba Tahfidz, dan lomba pramuka. Awal mula semuanya berawal saatt aku duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Aku diminta untuk membacakan karya puisi yang sudah aku tulis tentang sosok guru yang berperan penting dalam hidup murid-muridnya. Guruku terpukau dan akhirnya aku ditunjuk sebagai salah satu peserta pramuka yang akan segera diselenggarakan disuatu tempat kala itu. Dan akhirnya, aku beserta teman-teman tim pramuka dapat membawa pulang piala ke sekolah tercinta. Tak henti sampai disitu, kemudian aku dipercayakan kembali untuk mengikuti lomba pramuka saat aku duduk dibangku kelas 5. Pada saat final, aku dipercayakan untuk mengikuti lomba cerdas cermat melawan teman-teman dari sekolah yang berbeda. Alhamdulillah, aku dapat membanggakan sekolahku dengan menyempurnakan skor penilaian sehingga kami meraih juara umum. Saat duduk dibangku kelas 6, aku kembali dipercaya untuk mengikuti lomba pramuka, dan alhamdulillah dapat membawa pulang piala kembali. Disamping itu, aku juga mengikuti lomba cerdas cermat PAI dan juga lomba Tahfidz Al-Qur’an. Di sela-sela kesibukan non akademik seperti pramuka, dan lainnya, aku juga menyeimbangkan dengan kesibukan akademik karena bagaimanapun akademik tetaplah yang utama. Alhamdulillah, aku bisa meraih rangking 3 besar saat kelas 4, rangking 1 saat kelas 5 dan 6. Aku lulus dengan nilai yang cukup. Disamping suka yang aku alami saat menempuh Sekolah Dasar, tentu ada duka yang juga dijalani. Mulai cibiran hingga perlakuan tidak menyengkan. Seringkali aku sampai ketakutan sendiri namun selalu ku simpan dalam hati. Aku selalu menguatkan diriku dengan berkata “Ada Allah, Allah tidak pernah tidur dan selalu ada untuk hambanya”. 

Kemudian aku melanjutkan 3 tahun pendidikanku di Sekolah Menengah Pertama. Di tahap pendidikan ini, aku mulai memikirkan strategi apa yang harus aku jalani untuk lebih baik dari sebelumnya dan apa cita-cita yang harus aku jadikan mimpi untuk meraih dan mewujudkannya. Sampai akhirnya, pilihan hatiku mantap memilih menjadi seorang guru sebagai cita-citaku. Karena bagiku, cita-cita tersebut mulia dan selalu bisa menebarkan ilmu kepada murid lainnya sehingga juga menjadi ladang amal jariyah bagi diri sendiri. Mendidik dan mencetak anak bangsa supaya menjadi seseorang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama tanpa mengurangi akhlak serta moral yang ada merupakan pekerjaan mulia. Sehingga itu alasanku mengapa menginginkan menjadi seorang guru. Aku pun mulai belajar dengan lebih sungguh-sungguh. Namun kerja keras yang aku jalani tersebut, tetap tidak luput dari cibiran orang-orang yang menyakitkan. Aku selalu berusaha tidak menggubris dan tetap fokus pada apa yang sudah aku mimpikan. Dan alhamdulillah aku bisa meraih rangking 1. Selain bidang akademik, aku juga aktif dalam bidang non-akademik. Seperti mengikuti lomba Tahfidz putri jenjang SMP, lomba tartil tingkat kabupaten dan kota, mengikuti serangkaian tutor sebaya, mengikuti lomba Palang Merah Remaja (PMR), dan menjadi wakil ketua PMR. Alhamdulillah aku bisa meraih juara dalam lomba-lomba tersebut. Suka yang didapatkan tentu mendapatkan duka yang juga turut menyertai. Namun dengan duka yang ada, justru melatih kita menjadi orang lebih kuat dari sebelumnya. Meski terbilang tidak mudah, namun seiring waktu pasti semuanya berlalu. 

Setelah lulus, aku melanjutkan pendidikanku di Sekolah Menengah Atas. Aku sempat bergabung sebagai anak yang diproyeksi lulus 2 tahun. Namun rupanya ada kendala sehingga aku kembali 3 tahun. Walau begitu, tidak menyurutkan semangatku untuk terus belajar menjadi lebih baik. Sejak kelas X, aku dipercaya oleh wali kelas untuk memegang jabatan sebagai ketua kelas. Meski aku tidak pernah punya keahlian dibidang kepemimpinan, namun aku berusaha menjalani amanah ini dengan sebaik mungkin walau semakin banyak lagi cibiran yang aku dapatkan. Aku sangat suka dengan presentasi sehingga jika ada tugas presentasi, aku selalu maju dan tak mau kalah dengan teman-temanku yang lain. Mulai dari sini, aku dikenal oleh sebagian guru disekolahku dan para guru pun juga memberiku amanah yang harus aku jalani dengan sebaik-baiknya karena aku tidak ingin menyalahgunakan amanah yang sudah diberikan. Oleh karena itu, aku akan melakukannya dengan sebaik mungkin. Disekolah, aku mengikuti salah satu ekstrakurikuler yang ada disekolahku, yaitu Tartil. Tetapi terkadang aku juga diminta menjadi vokalis tim hadrah ketika ada penampilan seperti Maulid Nabi, pentas seni, dan lain-lain. Di ekstrakurikuler tartil, tidak hanya diajarkan mengenai olah suara saat membaca Al-Qur’an. Tetapi juga diajarkan mengenai Makhorijul Huruf yang menjadi poin penting membaca Al-Qur’an dan juga diajarkan Tilawah. Ketika kelas XI, sekolahku mengadakan pentas seni dan aku tampil membaca puisi untuk mewakili kelasku. Di pentas seni juga, aku tampil membaca Al-Qur’an dengan metode tartil, dan juga tampil sebagai vokalis tim hadrah. Dan ketika kelas XII, aku mulai aktif mengikuti perlombaan olimpiade yang diadakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) dan juga Pusat Prestasi dan Pendidikan Indonesia (Yapresindo). Ada beberapa bidang mata pelajaran yang aku ikuti, seperti Sejarah, Bahasa Indonesia, Biologi, Pendidikan Kewarganegaraan (PPKN), Sosiologi, dan lainnya. Alhamdulillah aku bisa menyabet medali perhargaan emas dan juga perak. Olimpiade terakhir yang aku ikuti semasa Sekolah Menengah Atas adalah Olimpiade Bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan alhamdulillah aku bisa menyabet medali perhargaan perunggu. Awalnya aku mengira jika aku tidak akan lolos, karena merasa kurang percaya diri. Namun alhamdulillah, Allah memberiku rezeki yang tidak disangka-sangka. Semua yang ku lalui, tentu tidak lepas dari cibiran, hinaan, dan perilaku yang membuat hatiku sakit. Terlebih lagi jika orang tua sendiri yang dihina, tentu rasa sedih akan berkali-kali lipat rasanya. Puncaknya adalah ketika aku mendapatkan rangking 1 paralel jurusan MIPA dan mendapatkan kesempatan untuk lolos di Universitas impian dengan jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Tentu itu menjadi kabar bahagia yang aku dan ayahku terima. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur karena Allah memberiku kesempatan yang sangat luar biasa. Dan aku tidak akan menyia-menyiakan apa yang sudah aku dan ayahku perjuangkan. Semua lika-liku yang aku alami memberiku pelajaran jika hidup tidak selalu mulus, ada tanjakan, belokan, tikungan, jalan berlubang. Namun, jika kita fokus pada tujuan, tentu akan sampai dengan sendirinya meski prosesnya terbilang tidak mudah dan lama. Aku hanyalah manusia biasa, seorang anak yang tidak sempurna namun memiliki mimpi dan cita-cita untuk membanggakan orang tua. Aku hanyalah manusia biasa yang kisah perjalannya terbilang sama dengan kebanyakan orang, dicibir, dihina, diperlakukan dengan semena-mena adalah lika-liku hidupku. Namun aku bersyukur karena Allah memberiku kesempatan berupa rezeki dan kesehatan. Perjalananku masih panjang dan aku berharap aku bisa melewati semuanya serta memberikan yang terbaik dalam setiap prosesku. Aku juga berharap ayahku sehat dan rezekinya selalu dilancarkan. Aamiin Aamiin Ya Robbal Alamin. 

Manusia tidaklah sempurna, selalu ada proses dan lika liku hidup yang turut menyertai supaya selalu bersujud dan berserah diri kepada Ilahi. Tidak ada yang sia-sia selama masih mau berusaha. Tidak peduli seberapa tajam hidupmu, tetapi lakukanlah yang terbaik untuk kehidupanmu selanjutnya.