KISAH PERJUANGAN MERAIH KAMPUS PTN

Nama saya Saniyatul Hanim. Dengan bangga saya merupakan mahasiswa aktif semester lima di perguruan tinggi Negeri dengan mengenyam program studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura yang merupakan salah satu kampus Negeri di Indonesia. Saya merupakan lulusan sekolah Negeri yang berada dalam lingkup Pondok Pesantren di Jawa Timur yaitu di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.           

Dulunya pada saat sebelum penerimaan mahasiswa baru saya dibantu oleh ibu saya dalam mencari info terbaru dari kampus-kampus sekaligus mencari lebih dalam tentang prodi dan universitas yang pada saat itu impikan dan beberapa kampus yang nantinya akan saya jadikan tujuan. Ibu saya memilihkan saya di daerah Malang, namun kampus di Malang merupakan kampus ternama dan lumayan susah untuk dicapai, tetapi dengan itu saya sendiri tidak mau berkuliah di UIN bukan karena saya bosan dalam mendalami agama tetapi dalam diri saya sendiri itu tidak mau untuk bertemu teman lama dan memang tidak mau di UIN. Dengan itu, saya menuruti perkataan ibu saya untuk kuliah di Malang dengan prodi yang saya inginkan yaitu prodi psikologi dan ilmu komunikasi dengan memilih Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya pada saat SNMPTN. Tetapi sebelum saya memilih Universitas saya bernegoisasi kepada orang tua agar memilih kampus di Universitas Airlangga dengan prodi ilmu komunikasi dan Universitas Trunojoyo Madura. Alasan saya memilih jurusan ilmu komunikasi adalah saya ingin lebih mendalami lebih dalam di bidang komunikasi dan sosial dan pada saat itu orang tua mendukung prodi saya dengan penuh dikarenakan beliau melihat kelebihan atau passion saya di bidang ilmu komunikasi, dalam memilih Universitas saya memilih Universitas Airlangga dengan berangan-angan bahwa Univesitas Airlangga adalah Universitas impian saya sedari dulu, tetapi orang tua tidak mengizinkan dengan alasan itu terlalu tinggi bagi saya dan kemungkinan besar sulit untuk digapai dan kemampuan saya tidak memumpuni dalam menjalankan perkuliahan. Pada saat itu saya merasa semua itu tidak mungkin dan saya down. 

Dan pada akhirnya setelah merundingkan dengan orang tua saya memutuskan mengambil prodi ilmu komunikasi di Universitas Brawijaya dengan pilihan kedua yaitu prodi psikologi Universitas Malang, namun yang masuk finalisasi hanya pilihan pertama saja pilihan kedua tidak masuk data. Mungkin ayah saya tidak merestui untuk prodi psikologi maka sebab itu yang masuk finalisasi data hanya di Universitas Brawijaya pada saat SNMPTN. Meskipun, awalnya saya tidak mau di malang saya memilih untuk di surabaya tetapi alasan orang tua yaitu kalau di malang saya akan di letakkan di pesantren milik teman ibu jadi nantinya saya akan terkontrol. Namun takdir berkata lain, saya tidak diterima pada saat SNMPTN. Dengan menjadikan pengalaman yang begitu berarti bagi saya, saya dan orang tua pastinya menjadikan pelajaran untuk tidak mengulang kedua kalinya. Saya dan orang tua saya terus berusaha untuk mencari Universitas dan prodi yang dimana nantinya memiliki peluang yang cukup besar agar saya bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Saya juga terus mencari beasiswa atau jalur masuk Universitas melalui berbagai cara dan juga memanfaatkan platform internet dan media sosial yang ada pada sat itu saya masih tinggal di pesantren. 

 

Setelah saya tertolak jalur SNMPTN saya langsung disuruh oleh ibu mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi SBMPTN dan UMPTKIN, di sela-sela menunggu seleksi saya juga mengikuti bimbel yang disediakan oleh sekolah dan membeli beberapa buku untuk menunjang belajar saya untuk mengikuti beberapa tahapan seleksi penerimaan mahasiswa baru. Disela-sela itu saya juga mencari beberapa beasiswa penerimaan mahasiswa baru, seperti penerimaan mahasiswa baru melalui seleksi beasiswa jalur PWNU dan juga melalui penerimaan mahasiswa baru melalui seleksi beasiswa PBSB. 

Perjuangan ayah saya sangat begitu besar untuk anaknya. Pada saat pendaftaran SBMPTN atau UTBK saya dan teman-teman sepakat untuk melakukan tes seleksi di Universitas Brawijaya sedangkan rumah tinggal saya di Mojokerto, karena rumah dengan malang jaraknya terpaut jauh saya menginap di rumah saudara dan diantar oleh ayah naik sepeda motor, setelah mengantarkan saya ke rumah saudara ayah saya langsung beranjak pulang dan pada saat itu waktu sudah menunjukkan waktu maghrib dan ayah saya pulang sendiri ditengah gelap malam menyusuri hutan-hutan. Pada saat hari penjemputan ayah saya berangkat pagi buta dari rumah dan pastinya menggunakan sepeda motor sendiri, hingga pada saat sampai di malang ayah saya tertabrak mobil hingga kaca lampu depan sepeda motor pecah. Dari kejadian itu saya bersyukur ayah selamat dari kejadian itu sekaligus bersyukur keluarga saya mendukung saya dan mengusakan apa yang diutuhkan anaknya. Sembari menunggu pengumuman kelulusan saya memabantu orang tua untuk berjualan di rumah sekaligus membantu di sawah. 

Sembari menunggu pengumuman saya mempunyai angan-angan apabila saya tertolak lagi saya akan meneruskan hafalan qur’an saya dan menetap di pondok sekaligus kuliah di al anwar jawa tengah atau tidak saya akan fokus mondok dan hafalan selama gapyear. Sedangkan orang tua memiliki angan-angan yang berbeda, nantinya apabila saya tidak lolos lagi saya akan di kursuskan lagi atau bimbel dan dibukakan warung untuk berjualan sekaligus hafalan ikut di pesantren dekat rumah. Pada saat hari raya idul fitri saya bersilaturahim ke rumah guru saya sembari mengerjakan tes beasiswa santri yang akan masuk perguruan tingi yaitu PBSB sembari di jalan maupun dimanapun. Namun seleksinya begitu ketat sehingga saya hanya sampai tes tulis setelah seleksi pemberkasan. Pada saat sebelum pengumuman seleksi UTBK saya di tanyai oleh orang tua semisal saya diterima pada jalur SBMPTN dan UMPTKIN saya akan memilih di mana? Sedangkan saya lebih memilih untuk kuliah di Universitas Negeri dengan konsekuensi saya sendiri saya akan mondok tetapi bukan jurusan yang saya inginkan, apabila di UIN saya tidak menginginkan di UIN tetapi jurusan yang saya inginkan ada di situ, saya bimbang dan Allah memberikan jawaban atas doa orang tua saya, guru saya dan doa saya. 

Pada saat akan pengumuman UTBK saya memohon izin untuk membuka di makam pendiri NU karena saya juga akan menghadiri acara di sana. Tetapi orang tua menyuruh saya untuk membuka di rumah karena beliau beranggapan bahwa kedekatan orang tua sekaligus doa orang tua akan membuahkan hasil. Dan pada saat orang tua sedang sholat saya membuka pengumuman di kamar, pada saat melihat pengumuman saya menangis begitu kencang dan berteriak memanggil nama ibu saya, orang tua saya mengira bahwa saya tidak lolos lagi dan sama-sama menguatkan, pada saat di tanya saya menjawab bahwa Alhamdulillah saya lolos meskipun pada pilihan kedua yaitu di Universitas Trunojoyo Madura dengan prodi ekonomi pembangunan dan pilihan pertama saya di Universitas Airlangga dengan prodi ilmu politik, namun begitu orang tua saya sangat bersyukur meskipun awalnya beliau begitu takut saat saya menyarankan untuk kuliah di Madura. Pada akhirnya saya tertolak di semua pilihan saya UIN yang memang awalnya saya tidak menginginkan untuk kuliah di UIN. Tetapi sampai saat ini saya masih terus mencoba untuk mencintai jurusan saya, Universitas saya sekaligus pesantren yang saya tempati sekarang. 



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.