kep.akademik-fkunand.web.id

Siapa peduli jika kita berjuang bertahun-tahun?usaha kita baru akan diakui saat lulus. Jika tidak lulus, di mata orang kita hanyalah orang yang kurang berusaha.”

-Daily Dose of Sunshine-

GAGAL? Kata yang baru sepenuhnya aku pahami ketika duduk di bangku SMA.

Sejak pertama kali mengenakan seragam putih abu abu, aku memiliki satu keinginan kecil yang mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang yaitu masuk kelas percepatan. Bagiku, masuk kelas percepatan bukan hanya tentang lulus lebih cepat tetapi sebuah pembuktian bahwa kerja keras mampu mengantarkanku pada kesempatan terbaik.

Tidak seperti kebanyakan siswa kelas X yang menghabiskan waktu luang untuk bermain atau berkumpul bersama teman teman, aku justru lebih memilih menghabiskan hari hariku dengan belajar sekeras mungkin demi mewujudkan impian masuk kelas percepatan itu. Kesibukan belajar membuatku jarang bersosialisasi dengan teman teman bahkan hingga kini hal itu masih menjadi salah satu penyesalan dalam hidupku. Namun di balik pengorbanan tersebut, ada hasil yang sepadan. Aku berhasil meraih peringkat dua di kelas unggulan. Prestasi ini semakin menumbuhkan rasa percaya pada diriku, terutama karna selama dua tahun terakhir seleksi masuk kelas percepatan ditentukan berdasarkan peringkat akademik. Aku pun semakin yakin bahwa impian menjadi bagian dari kelas percepatan bukanlah sesuatu yang mustahil.

“Manusia merencanakan,tetapi Tuhan yang menentukan.”

-Thomas a’Kempis-

Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Dengan perasaan penuh harapan, aku berdiri di depan papan pengumuman untuk melihat daftar siswa yang lolos ke kelas percepatan.

Jantungku berdegup kencang ketika mataku mulai menelusuri satu persatu nama yang ada dalam daftar tersebut. Aku membacanya perlahan dari atas sampai bawah. Sekali.Dua kali. Bahkan tiga kali. Namun satu nama yang kucari tidak pernah muncul dari daftar itu.

Beberapa saat kemudian, aku mengetahui bahwa mekanisme seleksi kelas percepatan tidak lagi mengutamakan peringkat akademik tetapi penentuannya didasarkan pada hasil tes IQ. Mendengar hal itu, aku hanya bisa terdiam. Rasa kecewa tentu tidak bisa kuhindari. Bukan karena aku iri dengan mereka yang berhasil, melainkan karena aku merasa usaha dan waktu yang aku korbankan selama ini seolah belum cukup.Berbagai pertanyaan muncul dibenakku “Apakah aku kurang berusaha? Apakah aku belum belajar dengan sungguh sungguh?”

Meratapi kegagalan tidak akan mengubah keadaan.Jika aku tidak bisa menjadi bagian dari kelas percepatan. Bukan berarti aku harus berhenti mengejar prestasi. Aku memilih menjadikan kegagalan ini sebagai batu loncatan untuk melangkah lebih jauh.

Sejak saat itu, aku kembali menata langkahku. Aku tidak lagi belajar hanya untuk mendapatkan nilai tinggi , tetapi juga untuk menekuni bidang yang aku minati.Di tahun yang sama sekolah memercayaiku untuk mewakili sekolah dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Matematika. Kesempatan ini kumanfaatkan dengan sebaik baiknya. Aku kembali menghabiskan banyak waktu untuk belajar, mengerjakan soal soal olimpiade dan mengikuti bimbingan bersama guru. Aku berharap kesempatan ini dapat menjadi pembuktian bahwa kegagalan sebelumnya bukanlah akhir dari segalanya.

Untuk kedua kalinya, aku kembali dihadapkan dengan kenyataan bahwa nama ku kembali tidak tercantum dalam daftar peserta yang lolos tahap berikutnya. Jika kegagalan pertama membuatku terpuruk, kali ini aku memilih menyikapinya dengan cara yang berbeda. Aku telah belajar bahwa kecewa adalah hal yang wajar, tetapi berlama lama tenggelam didalamnya tidak akan membawaku kemana mana.

Memasuki kelas XI, sekolah kembali memberikan kepercayaan kepadaku untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Matematika. Aku menjadikan pengalaman di tahun sebelumnya sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki diri. Menyusun strategi belajar yang lebih efektif, lebih aktif dalam berdiskusi dengan guru pembimbing,serta rutin mengerjakan berbagai variasi soal. Dari proses itu lah aku belajar untuk selalu melakukan evaluasi terhadap diriku.

Airin Maharani Santoso

Juara III Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Kota”

Aku tersenyum. Bukan karna merasa menjadi yang paling hebat, tetapi karna akhirnya aku bisa membuktikan pada diriku bahwa kegagalan tidak pernah menentukan batas kemampuanku.

Keberhasilan di bidang Matematika tidak mambuatku berhenti untuk berkembang. Memasuki kelas XII, aku memutuskan untuk mencoba tantangan baru dengan mengikuti Olimpiade Biologi. Awalnya banyak yang menganggap keputusanku cukup berani. Beralih dari Matematika ke Biologi bukanlah perkara mudah. Namun pengalaman menghadapi kegagalan sebelumnya telah mengajarkan ku bahwa tidak ada proses belajar yang sia-sia.

Kerja keras tersebut membuahkan hasil bahkan melampaui harapanku. Aku berhasil meraih medali emas pada Olimpiade Biologi tingkat Nasional. Saat medali itu berada ditangan ku, aku kembali teringat pada diriku yang pernah gagal. Jika saat itu aku memilih menyerah, mungkin aku tidak akan berada pada titik ini.

Berbagai pengalaman itu juga semakin menguatkan keyakinan ku untuk menjadi seorang dokter. Aku ingin mengabdikan ilmu yang kupelajari agar dapat memberikan manfaat bagi banyak orang. Hingga akhirnya, hari yang kutunggu akhirnya tiba. Dengan tangan yang sedikit gemetar,kubuka hasil pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

“Selamat! anda dinyatakan lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP)

Kedokteran (S1) Universitas Andalas”

Semua perjuangan, kegagalan, doa, dan kerja keras yang selama ini aku lalui akhirnya bermuara. Saat itu aku benar-benar memahami bahwa tuhan tidak pernah menyia-nyiakan setiap usaha hambanya. Mungkin jalannya tidak selalu mudah, bahkan berkali kali dipenuhi kegagalan. Namun, selama kita tidak berhenti melangkah, setiap kegagalan menjadi pijakan yang menghantarkan kita lebih dekat dengan impian.

Hari itu aku belajar bahwa terkadang kita harus berjongkok lebih lama, bukan untuk tertinggal, melainkan agar memiliki pijakan yang lebih kuat untuk melompat setinggi tingginya. Dan bagiku lompatan itu menghantarkanku menuju gerbang Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, tempat mimpi yang ku perjuangkan akhirnya benar benar dimulai.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *