SEBAB IKHLAS AKAN MENEMUKAN MAKNANYA
Karya: Anisa
Hai, perkenalkan namaku Anisa Zakiyah Qurrota A’yun seorang remaja yang ingin mewujudkan mimpinya. Aku ingin sedikit menceritakan kisah hidupku sebagai anak yatim yang bersekolah di pondok pesantren hingga lolos masuk ke universitas yang telah Allah takdirkan.
Kala itu saat aku lulus MI aku tidak ada niatan sedikitpun untuk sekolah di pondok pesantren, dan pada akhirnya aku menuruti keinginan orang tuaku untuk mondok karna waktu itu aku yakin bahwa bersekolah di pondok bisa menjaga diriku dari pengaruh arus dunia luar yang keras seperti saat ini. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mendaftarkan sekolah di pondok pesantren At-Taqwa Muhammadiyah Miri yang jaraknya dengan rumah tidak terlalu jauh, sampai tibalah masa tes seleksi aku diantarkan oleh ayahku. Beliau sosok ayah yang menjadi tulang punggung keluarga hingga rela bekerja pelayaran ke luar negeri dan pulang 2 tahun sekali demi menafkafi keluarga kecilnya.
Pada saat itu akhirnya aku dinyatakan lolos masuk ke pondok pesantren tersebut dan aku diantarkan oleh ibuku karna ayahku sudah kembali bekerja ke perantauan, untuk pengalaman pertama kalinya disitu aku tidak seperti teman-teman yang lain yaitu menangis ketika ditinggal pulang orang tuanya, namun ternyata aku menangis waktu saat ingin tidur karna baru merasakan sedihnya ditinggal pulang orang tua dan harus hidup mandiri, bagiku untuk yang pertama kali mondok adalah kehidupan yang berat, bahkan selama aku menjalani kehidupan di pondok pesantren aku sempat tidak betah karna keseharian yang dirasa kurang dan aku tidak terbiasa melakukan hal-hal atau kegiatan seperti itu.
Namun, pada akhirnya aku masih tetap melanjutkan kehidupanku di pesantren itu hingga aku naik ke kelas 8 SMP, sampai tibalah waktu perpulangan tengah semester. Dan adanya kabar dari ayah saat itu bahwa beliau sedang menepi ke pelabuhan untuk mengisi bahan bakar kapal, tetapi biasanya hanya beberapa hari saja. Hingga akhirnya beliau berpamitan untuk melanjutkan kerjanya, karna saat memasuki wilayah laut sudah tidak bisa berkomunikasi lagi apapun dari ayah kecuali ayah duluan yang menghubungi, dan waktu itu aku ingat sekali bahwa terakhir ayah sempat bertanya kepadaku dan adikku, katanya “nanti kalau ayah sudah pulang mau dibelikan apa?”.
Dan beberapa pekan setelah telepon terakhir itu, tiba-tiba saat pukul 1 dini hari ibuku di telepon oleh teman ayahku dan memberi kabar bahwa ayahku sudah meninggal dunia, tetapi waktu itu aku tidak tahu karna aku masih tidur dan ibuku tidak membangunkanku, karna aku tahu pasti ibu ingin memastikan terlebih dahulu bahwa itu hanya kabar burung sebelum di ceritakan kepadaku, ibu terkejut dan langsung menangis tersedu-sedu kemudian pergi ke rumah belakang untuk menemui saudaraku dan menceritakan kabar duka itu. Dan pada akhirnya aku di beri tahu ibukku ketika setelah sholat shubuh sampai aku rasa ibu tidak sanggup untuk meyampaikannya padaku karna ini memang kabar terberat bagi kami.
Kami sempat dikabarkan bahwa jenazah akan di bawa pulang ke rumah, karena ternyata waktu itu sedang maraknya penyakit covid dan alm.ayahku divonis positif, yang dimana ketika jenazah dibawa pulang kurang lebih tiba sampai rumah sekitar satu bulanan, karena kami tidak tega dengan jenazah akhirnya kami putuskan untuk segera di makamkan kami sangat sedih karena sudah tidak bisa melihat untuk yang terakhir kalinya. Kami hanya bisa mensholatkan dan mendoakan dari rumah.
Kehidupan setelah kabar duka itu memang terasa berat ketika harus ikhlas, masih belum percaya bahwa ayah benar-benar sudah meninggal dunia, namun pada akhirnya semesta mengharuskanku terus melangkah menempuh pendidikan dengan iringan doa-doa ibu meskipun berat tanpa arahan dan dukungan seorang ayah. Hingga sampailah masanya aku lulus SMP dengan capaian hafalan 4 juz dan 42 hadits arba’in. Aku bersyukur atas capaian yang didapat selama aku mondok di SMP At-Taqwa Muhammadiyah Miri, dan ternyata semakin lama kehidupan di pondok itu membuatku nyaman sampai aku tidak terfikirkan untuk pindah sekolah ke negeri. Walaupun pada saat itu peraturan pondokku wajib 7 tahun, SMP, SMK, dan satu tahunnya pengabdian. Tetapi karena aku ingin sekolah di SMA bukan SMK akhirnya aku diberi izin untuk melanjutkan ke pondok lain, dengan menanda tangani surat kesanggupan kembali ke At-Taqwa untuk mengabdi pasca SMA
Namun, ada beberapa orang yang membuatku ragu untuk melanjutkan mondok agar aku bisa menemani ibuku dirumah. Dan pada akhirnya aku yakin memutuskan bahwa mondok bukan jadi penghalang untuk aku tidak sayang dan berbakti kepada ibu, justru dengan mondok aku yakin bahwa bekal ilmu yang aku cari adalah untuk kedua orang tuaku di akhirat kelak dan itulah bukti cinta sesungguhnya. Yang membuat aku bersyukur lagi adalah ibuku meridhoi untuk aku melanjutkan sekolah di pondok, karena ibu juga yakin bahwa itulah sebenarnya bentuk cinta sesungguhnya.
Dan akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke pondok pesantren Al Hikmah Karanggede Boyolali karena disana terdapat beasiswa yatim yang full gratis dengan syarat wajib pengabdian satu tahun, waktu itu aku hanya ingin meringankan beban ibuku dengan mendaftar beasiswa yatim tersebut, bahkan saat itu aku merasa tidak keberatan jika aku harus gapyear untuk pengabdian selama 2 tahun karna aku rasa itu bukan suatu masalah bagiku, justru aku dapat mengamalkan ilmu yang aku pelajari selama di pondok.
Tibalah masa tes seleksi dengan jurusan yang aku pilih yaitu IPA, dan qodarullah ternyata aku belum keterima di jurusan tersebut, aku merasa sedikit kecewa karena aku belum bisa mencapai sesuatu sesuai apa yang aku inginkan. Namun aku mencoba ikhlas bahwa mungkin memang Allah telah menunjukan jalan yang tepat yang sesuai untukku yaitu di jurusan IPS, dan aku sadari memang aku kurang mampu dibidang saintek. Hingga pada akhirnya aku baru merasa bahwa memang ini jalan yang terbaik untukku.
Ketika aku sudah memasuki pondok pesantren Al Hikmah sebenarnya untuk membagi waktu antara hafalan, belajar, mencuci dan kegiatan lainnya sangatlah susah karna aku adaptasi lagi dengan lingkungan baru dan ternyata di Al Hikmah itu kegiatan nya sangat padat. Itupun aku masi mengikuti organisasi-organisasi yang membuat aku makin super sibuk, tetapi jika aku tidak mencoba untuk mengikuti organisasi aku tidak akan memiliki pengalaman, karna aku yakin bahwa dengan banyaknya pengalaman pasti akan menjadi cerita indah di kemudian hari. Dan aku menikmatinya dengan teman-teman yang solid, patner devisi yang kompak, hingga pada akhirnya kita harus melepaskan jabatan itu untuk di lanjutkan perjuangannya dengan adik-adik kelas.
Saat aku naik ke kelas 12 SMA kegiatan pembelajaran ditambah untuk mempersiapkan ke jenjang perkuliahan, pada awal semester kelas 12 waktu itu aku sempat ditawarkan oleh ustadzah untuk mengikuti lomba olimpiade bahasa arab tingkat kabupaten yang di selenggarakan lewat online, hanya karena aku mampu dalam berbahasa arab dan selalu mengerti ketika pembelajarannya. Aku bersama 2 teman ku yang bernama Qois dan jihan. Dan aku rasa mereka lebih pintar di banding diriku, sampai aku merasa kurang percaya diri bahwa aku tidak akan lolos lomba ini. Pada akhirnya aku hanya bisa pasrah dengan tetap belajar secara maksimal. Sampai tiba hari perlombaan itu aku hanya bisa pasrah menjawab semampuku bahkan sampai tidak semua soal aku jawab karena aku kelamaan mikir, dan dari situ aku makin pasrah kalau tidak akan mungkin juara.
Aku tidak tahu pengumuman itu kapan yang pasti aku sudah tidak berharap lagi untuk juara. Namun, tiba-tiba di h-1 ulang tahunku aku dipanggil oleh ustadzah dan di beri kabar bahwa aku dapet juara 3, Jihan juara 2, Qois juara 1. Aku sangat terkejut karena tidak mungkin untuk soal yang belum aku jawab aku bisa juara. Dan ternyata memang ada masing-masing pemenang di setiap kategori sekolah masing-masing, dan alhamdulillah nya memang cuma Al Hikmah sekolah yang mendaftar pada kategori tersebut di wilayah boyolali. Jujur kita tidak menyangka dan terharu mendengar kabar ini
Akan tetapi saat kami melanjutkan ke tingkat provinsi, ternyata Allah punya takdir lain. Kami belum mendapat juara. Ketika itu rasanya sedih sekali karena telah mengecewakan harapan teman-teman dan guru, pada akhirnya aku belajar ikhlas dengan segala rencana-Nya. Dari situ aku yakinkan diri bahwa kegagalan ini pasti akan ada ganti yang lebih baik suatu saat nanti.
Tidak terasa saat menikmati masa- masa akhir kelas 12 tiba-tiba mendekati kelulusan. Karena mayoritas teman-temanku ingin melanjutkan kuliah sedangkan aku dan 6 temanku masih ada tanggungan pengabdian, jujur waktu itu kita diombang-ambing tidak ada kepastian perihal pengabdian, sampai pada akhirnya kita inisiatif bertanya dengan perasaan yang mendesak kepala kesantrian untuk segera di infokan seputar pengabdian supaya ada kejelasan. Hingga pada akhirnya kami mendapat info bahwa kami fiks pengabdian 2025 setelah kami lulus. Disaat yang lain sibuk mengurus untuk kuliah, kami masih merasa santai karna setelah lulus ada pengabdian terlebih dahulu.
Sampai tibalah masanya aku dengan temanku menjalankan pengabdian, dengan lika liku yang penuh drama dalam mengurus santri. Bahkan sering aku mengeluhkan keadaan yang aku jalani sekarang hingga terlintas dipikiranku kalimat “coba aja ayah masih ada, pasti aku tidak akan pengabdian seperti saat ini” dan kalimat itu aku pernah ucapkan ke ibuku, kemudian ibuku menasehatiku dan mengingatkanku kembali bahwa dulu aku yang memutuskan untuk ambil beasiswa yatim itu supaya meringankan ibu, dan ibu sempat mengatakan “memang takdir kita sudah ditetapkan seperti ini nak, tidak perlu menyalahkan takdir, kita itu beda sama orang lain jangan kamu samakan mereka yang masih utuh keluarganya, selesaikanlah apa yang sudah kamu mulai!” pada intinya dalam ucapan ibu yang pernah disampaikan kepadaku mengajarkan untuk belajar mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.
Di tengah-tengah masa pengabdian kala itu semester 2, teman-temanku sudah mempersiapkan berkas-berkas untuk kuliah dan mereka juga belajar untuk tes utbk. Pada saat itu aku merasa overthinking dan merasa ketertinggalan daripada teman-temanku karena setelah menjalankan pengabdian dari Al Hikmah aku masih ada tanggungan untuk pengabdian di SMP, bahkan sampai orang-orang bertanya “mengapa kok masih pengabdian?” sampai aku harus menjelaskan ke beberapa orang yang berbeda-beda.
Hingga pada akhirnya overthinking ku membuat aku menangis dan tidak ingin bertemu orang-orang di kawasan aku tinggal, sampai aku mendiamkan mereka untuk ketenangan diriku. Aku rasa mungkin ini terlalu berlebihan hanya karena aku dikuasi oleh fikiran overthinking itu. Tetapi aku menganggap bahwa seperti itu adalah hal yang wajar pada anak remaja, bahkan ketika lingkunganku sedang membicarakan hal tersebut aku hanya terdiam dan tidak tau mau merespon seperti apa, karena aku belum merasa di fase mereka. Sampai saat itu aku tidak ingin kembali ke kamar dan akhirnya aku menginap di kamar temanku yang sudah beda komplek.
Dan saat aku menenangkan diri di komplek temanku, aku di beri nasehat dan dukungan untuk terus bangkit bahwa semua sudah ada jalannya masing-masing, tidak ada yang tertinggal karna porsi kehidupan manusia itu berbeda-beda. Bahkan banyak yang mengatakan padaku bahwa justru dengan gapyear 2 tahun itu aku jadi banyak pengalaman dibanding teman-teman yang lain. Pada saat itu aku merasa bahwa dulu aku tidak merasa keberatan jika harus gapyear 2 tahun untuk mengabdi, namun saat masanya tiba ternyata membuat aku merasa selalu overthinking yang tidak ada habisnya. Hingga saat itu setelah banyak orang mendukung dan membantuku untuk bangkit dari keterpurukan dan ke overthinkingan, akhirnya aku memutuskan untuk ikhlas akan segala yang telah Allah tetapkan, aku yakini bahwa rencana Allah lebih indah di banding rencanaku.
Setelah dari ke overthinkingan kemaren, aku memutuskan untuk mengurus surat pengabdian SMP hingga akhirnya aku izin pulang kepada kepala kesantrian. Saat aku mendatangi pondok SMP At-Taqwa bersama ibuku, aku berniatan untuk menemui kepala sekolah SMP, namun pada saat itu beliau masih mengajar, sampai akhirnya aku dan ibuku diminta untuk menemui kepala sekolah SMK, karena beliau tahu bahwa kedatangan aku dan ibuku untuk meminta surat rekomendasi pengabdian.
Setelah selesai tujuanku dan ibuku, akhirnya setelah kami dari pondok At-Taqwa memutuskan untuk makan di sekitar Gemolong. Ketika saat makan berlangsung tiba-tiba ibu di telepon dengan kepala sekolah SMP ku, beliau bilang ternyata baru tahu kalau aku sudah menjalankan pengabdian di Al Hikmah. Sebelum waktu itu ibu sempat berkomunikasi dengan kepala sekolahku untuk menanyakan “terkait pengabdian apakah bisa jika di sambi dengan kuliah?” beliau menjawab “tidak harus, bisa pengabdian dengan mengajar TPA dekat rumah saja”. Kemudian waktu di telepon itu pak kepala sekolah menyampaikan bahwa “untuk mbak anisa kami ajukan saja ke forum, supaya tidak perlu mengabdi kembali dan bisa kuliah di tahun ini”. Dan disitu aku tidak ingin berfikir panjang lagi akhirnya aku mengajak ibuku untuk kembali ke pondok At-Taqwa bertemu dengan bapak kepala sekolah SMP dan meminta kejelasan terkait ini.
Akhirnya sampailah ke pondok At-Taqwa lagi dan langsung menemui bapak kepala sekolah SMP. Kemudian beliau menjelaskan bahwa sebenarnya peraturan setelah aku lulus SMP itu sudah berubah, yang dulunya ada peraturan di wajibkan 7 tahun sekarang berubah menjadi yang di wajibkan mengabdi hanya untuk santri yang bayarannya beasiswa, dan yang bayarannya full hanya dianjurkan. Beliau juga mengatakan bahwa “untuk mbak Anisa anggap saja pengabdiannya sudah terbayarkan selama di Al Hikmah”. Ketika itu aku langsung terkejut bahwa tidak menyangka atas plot twist ini. Ada rasa bahagia karena aku sudah bisa terbebas dari tanggungan pengabdian, namun juga ada rasa sedih mengapa baru tahu di bulan April kemaren. Namun aku terharu atas apa yang Allah kejutkan untuk aku, semua ini diluar dugaan.
Dan dengan kabar yang mengejutkan ini, aku diminta ibu untuk segera berfikir cepat dalam jangka waktu yang tidak lama. Karena mendekati akhir tahun seperti ini pasti sudah banyak universitas yang sudah tutup pendaftaran. Aku disitu mulai merasa berat lagi dalam memilih keputusan untuk kuliah sedangkan teman-teman yang lain saja mempersiapkan kuliah bisa sampai berbulan-bulan bahkan tahunan. Aku bimbang karena aku tidak boleh kuliah di tempat yang jauh, ibu ingin aku kuliah dekat rumah supaya aku bisa di jenguk atau bisa pulang. Sedangkan impian yang aku harapkan adalah sebenarnya aku ingin kuliah di luar negeri yaitu di universitas Al-azhar cairo mesir, namun dengan keadaan yang seperti ini ibu yang hanya tinggal bersama adik di rumah ketika aku lagi mondok, mana mungkin aku akan meninggalkan mereka lebih jauh dan lebih lama lagi. Ketika ibu belum meridhoi ku untuk kuliah di tempat yang jauh, akhirnya aku memutuskan untuk kuliah di Solo di Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan prodi ilmu qur’an dan tafsir
Setelah berfikir untuk berkuliah di UMS, tidak luput dari yang memikirkan uang ukt dan lain sebagaianya karena aku kuliah di swasta. Akhirnya pada saat itu aku mencoba mendaftar dengan jalur rapor dan lika liku disini adalah berkasku sempat tertolak 3 kali karena mungkin aku kurang teliti dalam pengisian. Hingga akhirnya pengumuman sudah keluar beberapa hari yang lalu namun, karena aku belum sempat membuka jadi aku tahu nya telat. Dan hasil dari pengumuman tersebut adalah aku lolos. Tidak menyangka bahwa yang one shoot ini menjadi rezeki ku, bahkan aku lebih dulu diterima di banding teman-teman yang sudah persiapan jauh-jauh hari. Allah memang maha baik atas segala yang telah di tetapkan.
Inti dari sekian cerita yang aku tulis adalah ikhlas menerima ketetapan Allah, bahwa di setiap kesulitan yang sedang dialami pasti akan ada jalan keluarnya. Begitupun juga dengan ikhlas, ketika kita lebih memperluas rasa ikhlasnya di setiap keadaan pasti akan menemukan maknanya. Terkadang Allah hanya ingin kita hidup di dunia mengikuti jalan yang Dia mau bukan apa yang kita mau.
