Tak Pernah Berhenti Bermimpi
Dari : ARDINA PUTRI
"Mimpi itu gratis, tapi memperjuangkannya membutuhkan keberanian." Kalimat itu sangat menggambarkan perjalanan hidupku hingga hari ini.
Hai, kenalin! Namaku Ardina Putri, tapi semua orang lebih sering memanggilku Dina. Aku adalah siswi SMAN 5 Takalar. Di sekolah, aku dikenal sebagai siswi yang punya banyak mimpi. Bahkan setiap kali guru bertanya, "Dina, nanti mau jadi apa?" jawabanku hampir selalu berbeda. Kadang aku ingin menjadi dokter, kadang anggota DPR, dosen, bahkan psikolog. Jawabanku sering berubah tergantung siapa guru yang bertanya.
Namun, sebenarnya ada satu cita-cita yang paling kusimpan dalam hati, yaitu menjadi seorang psikolog. Aku ingin membantu orang lain memahami dirinya, mendengarkan cerita mereka, dan menjadi alasan seseorang kembali tersenyum. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, aku mulai mengubur mimpi itu dalam-dalam. Bukan karena aku tidak lagi menginginkannya, tetapi karena aku sadar kondisi ekonomi keluargaku mungkin belum mampu mengantarkanku ke sana. Saat itu aku mulai berpikir bahwa mungkin tidak semua mimpi bisa diwujudkan.
Untungnya, Tuhan mempertemukanku dengan tempat yang mengubah cara pandangku terhadap masa depan, yaitu organisasi dan ekstrakurikuler di sekolah. Aku bergabung di OSIS, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), dan Rohani Islam (Rohis). Banyak orang berkata, "Kenapa sih ikut banyak kegiatan? Memangnya nggak capek? Liburnya ke mana?" Aku hanya tersenyum. Mereka tidak tahu bahwa organisasi dan ekstrakurikuler telah menjadi keluarga keduaku. Bahkan, aku merasa lebih dekat dengan teman-teman di sana daripada teman sekelasku sendiri.
Dari sanalah aku belajar banyak hal. Aku mengikuti seminar, menjadi panitia berbagai kegiatan sekolah, hingga memberanikan diri mengikuti berbagai perlombaan. Setiap kegiatan mengajarkanku arti tanggung jawab, kerja sama, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru.
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagiku adalah saat mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) tingkat Kabupaten. Perjalanan menuju lomba itu benar-benar mengajarkanku arti tanggung jawab dan kerja keras.
Bayangkan saja, kami baru ditunjuk untuk mengikuti lomba dua hari sebelum batas pengumpulan karya. Waktu yang sangat singkat membuatku dan tim harus bergerak secepat mungkin. Kami menyusun karya ilmiah dari awal, sementara aku juga harus turun langsung melakukan wawancara agar data yang kami gunakan benar-benar valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Saat itu rasanya ingin menyerah. Tubuhku hampir drop karena harus membagi waktu antara menyusun karya, mencari data, dan menyelesaikan semuanya hanya dalam waktu dua hari. Namun, aku terus mengingat tujuan kami. Aku percaya bahwa kesempatan tidak datang dua kali.
Alhamdulillah, kerja keras kami membuahkan hasil. Tim kami dinyatakan lolos tahap administrasi. Namun, perjuangan belum selesai. Kami kembali berlatih presentasi setiap hari agar bisa memberikan penampilan terbaik di hadapan dewan juri.
Cobaan kembali datang. Salah satu anggota timku jatuh sakit sehingga kami tidak bisa berlatih bersama seperti biasanya. Bahkan pada hari perlombaan, kami terpaksa melakukan latihan terakhir di area parkir lokasi lomba sambil menunggu kondisi teman kami memungkinkan untuk bergabung. Rasanya benar-benar melelahkan. Namun, di balik semua rasa lelah itu, kami tetap saling menguatkan.
Dan ketika nama tim kami dipanggil sebagai Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat Kabupaten, semua rasa lelah, panik, dan air mata seolah terbayar lunas. Saat itu aku menyadari bahwa kemenangan bukan hanya tentang membawa pulang piala atau sertifikat, tetapi tentang keberanian untuk tetap berjuang ketika keadaan terasa mustahil.
Perjalanan KTI itulah yang menjadi titik balik dalam hidupku. Aku belajar bahwa tidak ada usaha yang sia-sia jika dilakukan dengan sungguh-sungguh. Keyakinan itu terus kubawa dalam setiap langkahku.
Saat kelulusan tiba, aku kembali mengejar mimpiku melalui jalur SNBP. Aku memilih Teknik Informatika di Universitas Muhammadiyah Makassar (UMM). Sayangnya, hasilnya belum berpihak kepadaku.
Aku tidak ingin berhenti sampai di situ. Dua hari kemudian, aku kembali bangkit dan mendaftar SNBT dengan memilih Ilmu Perpustakaan dan Sains Informasi di Universitas Hasanuddin (Unhas). Namun, lagi-lagi hasilnya belum sesuai harapan.
Malam itu aku menangis. Rasanya semua usaha yang kulakukan belum cukup untuk membawaku menuju kampus impian. Yang membuatku semakin sedih, keesokan harinya adalah hari ulang tahunku. Rasanya seperti hadiah yang tidak pernah kuharapkan. Saat itu orang-orang hanya bisa berkata, "Semangat ya, Dina. Masih banyak jalan lain."
Awalnya kalimat itu terdengar biasa saja. Namun, lama-kelamaan aku menyadari bahwa mereka benar. Gagal bukan berarti selesai. Gagal hanya berarti aku harus mencoba lewat jalan yang berbeda.
Kini aku kembali mencoba melalui Seleksi Mandiri Universitas Negeri Makassar (UNM). Aku telah melewati tes tulis dan wawancara yang benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Berkali-kali aku merasa gugup, takut, dan khawatir tidak mampu menjawab pertanyaan pewawancara. Untungnya, selama proses persiapan aku ditemani oleh "asisten" yang selalu siap membantuku kapan saja. Siapa lagi kalau bukan ChatGPT. Hehe.
Saat tulisan ini kutulis, aku masih menunggu hasil seleksi. Jujur, rasa cemas itu masih ada. Namun, kali ini aku tidak lagi setakut dulu. Perjalanan KTI telah mengajarkanku bahwa perjuangan yang berat sering kali melahirkan hasil yang indah. Kalaupun hasilnya nanti belum sesuai harapan, aku tahu bahwa Tuhan pasti sedang menyiapkan jalan terbaik untukku.
Aku mungkin belum sampai di kampus impianku hari ini. Namun, aku yakin setiap langkah kecil yang kuambil sedang membawaku semakin dekat ke sana. Aku percaya bahwa mimpi tidak akan pernah menjadi terlalu besar jika kita memiliki keberanian untuk terus memperjuangkannya.
Karena pada akhirnya, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Mungkin hasil itu tidak selalu datang sesuai waktu yang kita inginkan, tetapi setiap perjuangan pasti akan membawa kita menjadi pribadi yang lebih kuat.
Dan untuk siapa pun yang sedang membaca kisahku, jika hari ini kamu sedang gagal, jangan buru-buru menyerah. Bisa jadi, kegagalan itu hanyalah cara Tuhan mengarahkanmu menuju jalan yang lebih baik. Tetaplah bermimpi, tetaplah melangkah, dan percayalah bahwa suatu hari nanti kita akan tersenyum bangga karena tidak memilih untuk menyerah.
RIWAYAT PENULIS
Ardina Putri lahir di Makassar pada 26 Mei 2008. Ia merupakan lulusan SMA Negeri 5 Takalar jurusan IPA. Selama bersekolah, Ardina aktif dalam organisasi OSIS, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), dan Rohani Islam (ROHIS). Keaktifannya membawanya meraih Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) tingkat Kabupaten. Ardina memiliki minat di bidang kepenulisan, penelitian, dan pengembangan diri. Melalui setiap karya yang ditulisnya, ia berharap dapat menginspirasi banyak orang untuk terus berjuang dan pantang menyerah dalam meraih cita-cita.
