Kisah Perjuangan dalam Berpendidikan

Oleh: M Wahyu Agani

Hai nama ku Muhammad Wahyu Agani, dari kecil sampai sekarang ini, tetap dipanggil Wahyu. Aku tidak biasa mengubah nama seperti kebanyakan temanku ketika melanjutkan pendidikan pada tahapan selanjutnya mereka kadang menggunakan nama depan, kadang nama belakang. Karena aku percaya branding yang kita ciptakan hari ini merupakan cikal bakal kita akan dikenal dan dikenang. Oh ya sudah ya perkenalan di awalnya. Selanjutnya kita berkenalan dicerita ini.

Titik ini (yang nanti akan aku jelaskan) yang ku peroleh berasal dari sebuah dusun di Lombok Tengah, ini tentang kisah seorang anak yang dari keluarga dan lingkungannya tekanan itu lahir, sehingga membuat diri ini menjadi seperti sekarang. Ingin rasanya belajar dan bermain tanpa memperdulikan ekspektasi dari orang lain bahkan keluarga, just little child . Namun ya, dilingkungan yang penuh tekanan harus seperti ini  aku mau tidak mau harus berusaha yang terbaik. Impianku cuman satu, walaupun diri ini hancur asalkan impian orang-orang terdekatku tetap subur, waktu itu aku baru menginjak pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) padahal saat itu baru saja selesai pendidikan dasar (SD/MI) namun tekanan itu langsung hadir, belum lagi pada saat itu pola pendidikan yang menurutku terlalu banyak diskriminasi hanya untuk sama-sama belajar. Adanya kelas unggulan dengan fasilitas mewah di dalamnya, dan aku kelas reguler dengan fasilitas yang pada saat itu hanya sekedar ada dibandingkan dengan unggulan itu. Namun anak sekecil itu berusaha menghadapi dunia yang seperti itu, tapi jujur aku tidak terlalu iri, hanya yang ingin aku  buktikan adalah “kami ini sama dengan mereka yang disana”. Aku terus mencoba kesempatan menaiki kelas unggulan itu, walau kadang dengan proses yang berbeda. Pada saat itu seleksi masuk kelas unggulan kembali dilaksanakan hanya boleh diikuti dari perwakilan ranking 1 sampai 3, dari setiap kelas. Sedangkan aku, hanya modal anak organisasi, mulai dari Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sampai bela diri ku ikuti semua, dan kenalan relasi dengan guru, ditambah lagi aku hanya ranking 4. Namun entah bagaimana pandangan guru tersebut membolehkan aku untuk mengikuti seleksi. Sehingga sebelum aku mengakhiri pendidikanku di MTs ini, aku berhasil meraih kursi itu pada waktu-waktu akhir.

Tidak selesai sampai sana, tekanan itu semakin menerpa, karena yang ditargetkan selanjutnya adalah Universitas Gadjah Mada atau perguruan tinggi negeri lainnya. Singkatnya 2 tahun berpendidikan di Madrasah Aliyah (MA) setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) hari-hariku masih berkutat pada dunia organisasi dan mencari teman, karena MA ku berada jauh di rumah yakni di Yogyakarta, yang mana tidak ada sanak saudara disana, hanya berusaha sendiri bersama kenalan orang tua yang mengantar untuk daftar dan memperkenalkan Jogja. Tahun pertama bersekolah di Jogja bagiku sangatlah berat. Disamping hidup sendiri, serta beradaptasi dengan segala sosial budaya yang ada. Itu terasa berat. Karena ya, aku sempat di bully, sempat juga terbesit di hati dan pikiran untuk tidak perlu melanjutkan pendidikan disini, pulang saja. Namun, melihat dan tahu biaya yang sudah dikeluarkan orang tua tidak sedikit. Maka aku yakinkan hati dan pikiranku, “aku mati disini dengan bangga, atau aku pulang dengan rasa kecewa, tentu saja tidak hanya diriku namun bisa juga orang tuaku”. Tahun demi tahun, sehingga masuk ke tahun terakhir yang mana 2 tahun sebelumnya aku rasakan tidak terlalu menikmati momen pada masa ini. Aku hanya, benar-benar hanya belajar dan sesekali melalui organisasi yang aku ikuti aku berusaha menikmati arti pertemanan di dunia putih abu-abu itu. Benar-benar hanya itu. 

Tahun terakhir itu aku habiskan dengan ujian dengan angkatan yang dijadikan bahan percobaan semua jenis kebijakan dari pemerintah, mulai tahun terakhir UN (Ujian Nasional) dilaksanakan namun menggunakan komputer, penerapan UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) untuk penerimaan mahasiswa. Sistem skor ini yang kemudian membuat sedikit gelagapan, karena memang ini sangat berbeda dengan sistem yang sebelumnya. Bahkan sampai mengalami masa wabah pandemi. Bergitulah angkatan percobaan. Ya seperti yang sudah ditakutkan, aku tidak diterima di Universitas seperti yang diharapkan, namun aku sudah mencadangkan dengan diterima di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) namun dengan jurusan yang aku memang inginkan yakni Ilmu Pemerintahan. Namun cerita di balik penentuan prodi ini saja sudah sangat membuat luka, walaupun dengan jurusan yang diinginkan. Karena sejatinya aku ingin menjadi dokter. Aku menjadi dokter hanya bisa berharap meneruskan impian Wahyu kecil untuk bisa mengobati orang tua dan orang-orang yang sakit secara gratis di lingkungan rumahku. Prinsip ini bukan hanya tidak berdasar, ini hanya berdasarkan curahan dan penyampaian orang-orang yang berada didekatku bahwa ingin sakali aku.  Yang mengobati mereka. Sampai pada finansial keluargaku menjadi taruhannya, aku berpikir seperti ini “aku tidak mungkin mempertaruhkan kesejahteraan keluargaku hanya demi aku yang belum tentu sukses ini”. Karena jika aku teruskan akan sangat bertentangan dengan pemikiranku sebelumnya.

Sampai akhirnya aku berpikir, bagaimana bisa tetap bermanfaat cuman tanpa melalui dokter, waktu itu yang terdekat dan yang ku rasa bisa menjalani itu adalah Ilmu Pemerintahan itu. Begitulah pola pikir picikku waktu itu, bisa menjadi pejabat dan bisa membuat kebijakan yang dapat membantu masyarakat. Di titik ini aku mulai bergerak dan berusaha memulai hal yang baru sehingga relasiku menjadi semakin luas dan bahkan menjadi ketua lembaga. Titik ini menjadi timbal balik dan melahirkan Wahyu yang sekarang, “Ternyata untuk menang tidak harus menang”. Kenapa aku menyampaikan ini, karena titik ini juga yang menjadi terobosan sehingga sampai pada suatu titik mengenai pendidikan. Kehidupan berorganisasi itu aku tidak mau menjadi halangan dalam menyelesaikan pendidikan, maka kehidupan perkuliahanku aku selesaikan dalam waktu 3 tahun 4 bulan, terhitung dari pelaksanaan yudisium dan cumlaude.

Tidak selesai disana, ambisi menuju kampus impianku dan orang tuaku yakni Universitas Gadjah Mada (UGM) masih terus aku usahakan, dan aku berhasil. 6 bulan setelah aku wisuda S-1. Aku diterima di disana, iyaa, disana. UGM. Namun dalam jenjang yang lebih tinggi yakni S-2. Minat organisasiku bahkan sampai pada jenjang itu tidak kunjung kendor. Namun minat dan kekonsistenan itu mendatangkan pada situasi aku mendapatkan beasiswa, yang bahkan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristekdikti). Kehidupan yang sama sekali aku tidak pernah berpikiran untuk bisa mendapatkan itu, atau bahkan sampai sedikit tidaknya meringankan tanggungjawab orang tuaku. Menurutku konsistensi dan ingin berdampak kepada masyarakat itu yang mendatangkan saya pada posisi ini, terlepas dari doa dan takdir Tuhan. Sehingga aku sampai pada kesimpulan bahwa “Konsistenlah dan bermanfaatlah sehingga sukses itu yang menemukanmu dan bukan kamu yang mencarinya”. Sekelumit cerita ini merupakan bentuk ajakan mari sama-sama berjuang dengan keyakinan dan impian kita bersama.



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.