Kepada Mimpi Yang Tak Kunjung Memberi Jawaban
Oleh : Darwis Basori Setiawan
Mungkin bagi sebagian laki-laki, cintanya akan habis pada seorang perempuan. Namun berbeda denganku, sebab cintaku justru habis pada sebuah tempat.
Tempat itu dikenal sebagai Gerbang Kejayaan Nusantara, kampus yang melahirkan banyak orang hebat. Ia begitu lekat dengan kesederhanaan dan kerakyatan, menjadi tujuan banyak anak bangsa yang datang membawa mimpi di pundaknya masing-masing. Banyak air mata jatuh demi menjadi bagian darinya, dan orang-orang mengenalnya sebagai salah satu kampus pilar bangsa.
Universitas Gadjah Mada.
Bagiku, ia bukan sekadar nama sebuah universitas. Ia adalah arah pulang bagi harapan yang telah lama kutitipkan pada masa depan. Namun perjalanan menuju gerbang itu ternyata tidak mudah. Hingga hari ini, perjuangan itu telah tiga kali membawaku pada kenyataan pahit yang bernama kegagalan.
Aku mengenalnya saat usiaku tujuh belas tahun, usia ketika bermimpi setinggi langit terasa seperti hak setiap anak muda. UGM bukan hanya kampus impian. Ia adalah lambang perjuangan, kesabaran, dan pengorbanan. Ia adalah tempat di mana aku membayangkan diriku tumbuh, belajar, dan suatu hari nanti memberi arti bagi banyak orang.
Perjalanan itu dimulai ketika aku mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes tahun 2024. Untuk pertama kalinya aku berjuang sekeras yang aku tahu caranya. Aku mengorbankan waktu tidur demi menaklukkan materi yang terasa tak pernah habis, mengulang pelajaran hingga lembar-lembar catatan dipenuhi coretan, dan saat itu aku percaya bahwa semua usaha itu akan cukup membawaku sampai ke sana.
Namun kenyataan memberikan jawaban yang berbeda. Ketika layar pengumuman terbuka, namaku hadir di sisi yang tidak pernah kuharapkan: gagal.
Rasanya seperti melihat bangunan harapan yang susah payah kususun runtuh hanya dalam hitungan detik. Aku memandangi layar handphoneku cukup lama, berusaha menerima salah satu kegagalan paling pahit yang pernah singgah dalam hidupku. Hari itu, mimpi tentang UGM terasa menjauh, seolah direnggut pelan-pelan oleh takdir yang belum berpihak.
Namun api dalam diriku tidak pernah benar-benar padam. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa mimpi yang besar memang sering meminta perjalanan yang panjang sebagai harga yang harus dibayar.
Tahun berikutnya aku kembali datang dengan mimpi yang sama, tetapi dengan semangat yang lebih kuat. Tahun 2025 menjadi saksi keseriusanku mengejar mimpi yang tak pernah berhenti memanggil namaku dari kejauhan. Aku kembali membuka buku-buku tebal yang mulai menguning di sudut meja, mengikuti bimbingan belajar, dan menghabiskan malam bersama video pembahasan soal di YouTube.
Setiap pagi terasa seperti permulaan baru, sementara setiap malam menjadi pengingat bahwa mimpi itu masih menunggu di ujung jalan. Namun lagi-lagi, hari pengumuman kembali menghadirkan jawaban yang sama.
Gagal.
Kali ini lukanya terasa lebih dalam. Bukan semata karena aku kalah, tetapi karena aku kalah setelah berjuang jauh lebih keras daripada sebelumnya. Ada rasa lelah yang sulit dijelaskan, rasa hampa yang hanya dimengerti oleh mereka yang pernah menaruh seluruh harapan pada satu pintu yang tak kunjung terbuka.
Tetapi justru kegagalan kedua itu mengajariku sesuatu yang berharga: kegagalan bukanlah tanda untuk berhenti, melainkan panggilan untuk mencoba sekali lagi.
Lalu datanglah tahun 2026.
Aku kembali berdiri di garis awal yang sama, membawa harapan yang sama, meskipun dengan hati yang jauh lebih matang. Aku tahu jalan ini mungkin akan kembali melukai, tetapi ada bagian dari diriku yang menolak untuk menyerah begitu saja. Untuk ketiga kalinya aku mengetuk pintu yang sama. Dan untuk ketiga kalinya pula, jawaban yang datang tetap sama.
Gagal.
SNBT 2024 gagal.
SNBT 2025 gagal.
SNBT 2026 kembali gagal.
Ada saat di mana aku bertanya kepada mimpi itu, mengapa ia terus diam dan tak kunjung memberi jawaban. Ada malam-malam ketika aku merasa lelah menjadi seseorang yang terus berlari tetapi tak pernah sampai. Ada waktu ketika aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku memang tidak ditakdirkan untuk menjadi bagian dari tempat yang begitu kucintai itu.
Namun semakin lama aku berjalan, aku mulai memahami sesuatu.
Mungkin mimpi tidak selalu menjawab dengan kata "ya" pada kesempatan pertama.
Kadang ia memilih menjawab dengan waktu.
Kadang ia meminta kita tumbuh lebih dulu sebelum benar-benar sampai.
Kadang ia sengaja membuat jalan berputar agar ketika tiba di tujuan nanti, kita benar-benar mengerti arti perjuangan.
Hari ini aku mungkin belum berhasil melangkah melewati gerbang itu sebagai mahasiswa sarjana. Namun mimpiku tentang UGM tidak ikut berakhir bersama tiga lembar hasil pengumuman yang bertuliskan kegagalan. Mimpi itu masih hidup. Dan mimpi akan terus hidup selama pemiliknya masih bernapas.
Jika bukan pada jenjang sarjana, mungkin aku akan kembali mengetuk pintu yang sama pada jenjang magister. Jika bukan hari ini, mungkin beberapa tahun lagi ketika versi terbaik dari diriku telah selesai ditempa oleh kehidupan. Aku ingin kembali datang, bukan sebagai seseorang yang pernah gagal tiga kali, tetapi sebagai seseorang yang tidak pernah berhenti mencoba.
Sebab sesungguhnya, mimpi yang paling indah bukanlah mimpi yang mudah diraih, melainkan mimpi yang membuat seseorang bertahan bahkan setelah berkali-kali jatuh. Selama langkahku belum berhenti, maka aku bukanlah orang gagal.
Tiga kali penolakan bukanlah akhir dari cerita, melainkan tiga bab awal dari perjalanan yang masih panjang. Aku percaya suatu hari nanti aku akan berdiri di bawah langit Yogyakarta, menatap gerbang kampus itu dengan senyum yang pernah lama kutunda.
Dan ketika hari itu tiba, aku ingin berkata kepada diriku yang pernah menangis di depan layar pengumuman: "Terima kasih karena tidak menyerah."
Karena pada akhirnya, bukan takdir yang akan membawaku ke sana, melainkan tekad yang sejak awal menolak untuk padam. Dan jika mimpi ini memang harus menunggu hingga jenjang magister, maka biarlah aku menunggunya sambil terus bertumbuh.
Sebab beberapa mimpi memang tidak ditakdirkan untuk datang lebih cepat mereka ditakdirkan untuk datang pada waktu yang paling tepat. Sampai hari itu tiba, aku akan terus berjalan. Sebab mungkin saja, setelah bertahun-tahun memanggil namanya dalam doa, suatu hari nanti giliran UGM yang memanggil namaku pulang.
