KISAHKU, INSPIRASIKU

Perkenalkan, saya Fika Najati, Lahir pada 17 Desember 2007. Saya lulusan Ma Al Falah yang berada di kawasan Jakarta Barat. Sekolah yang saya tempuh bukan sekolah favorit di kawasan tersebut, yang menjadikan saya harus belajar lebih giat untuk mendapatkan nilai yang setara dengan sekolah favorit lainnya. Perjuangan mendapatkan perguruan tinggi negeri tidak mudah, banyak hal yang harus aku korbankan untuk mendapatkan itu. Mulai memasuki kelas 10,saya mengikuti berbagai ekstrakurikuler dan organisasi untuk mendapatkan nilai tambahan. Dimulai mengikuti esktrakurikuler Tari Ratoh Jaroe, Paskibra dan Pramuka. Saya sempat menjabat sebagai anggota Humas di kelas 10.

Saat hari dimana Upacara 17 Agustus 2023, saya dipanggil ke ruang guru untuk mengikuti seleksi Paskibraka di Walikota Jakarta Barat. Kesempatan yang menjadi langkah awal untuk mencoba hal baru yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Hari demi hari, saya dinyatakan lolos seleksi tersebut. Tentu saja, saya bangga pada diri saya sendiri karena pada akhirnya, saya mempunyai kesempatan lebih ungul dibanding teman teman saya, mempunyai sertifikat yang lebih kuat.

Gambar 1. Dokumen saat bertugas sebagai anggota Paskibraka Kota Administrasi Jakarta Barat Tahun 2024.

Memasuki kelas 11, pemetaan kelas sudah dibagian, saya masuk kelas IPA yang isinya siswa-siswa yang berprestasi. Dengan kesibukan latihan Paskibraka yang super padat, membuat saya tertinggal jauh dari teman sekelas. Memasuki fase lelah dengan kegiatan yang padat, saya beristirahat sejenak dengan membuka salah satu aplikasi video. Di dalam video tersebut, terdapat sebuah perguruan tinggi negeri yang sangat cantik dari berbagai sisi. Sejak saat itu saya mulai menaruh harapan untuk menjadi bagian dari mereka.

Setiap malam saya mencari informasi tentang universitas tersebut, berbagai situs internet saya kunjungi, melihat sisi lain dari universitas tersebut. Semakin banyak informasi yang saya dapatkan, semakin besar keinginan saya untuk berkuliah disana. Melihat dari lingkungan, dapat mendukung perkembangan akademik saya sebagai mahasiswa. Lingkungan yang bisa melihat saya berkembang didunia yang mereka ciptakan. Setelah mengetahui standar nilai untuk masuk kesana, saya menyadari bahwa mengejar prestasi akademik dan non akademik harus setara. Di tengah latihan yang pulang malam, saya tetap melanjutkan belajar sampai dini hari.

Gambar 2. Proses belajar persiapan SNBT.

Di pertengahan semester kelas 11, saya mendapatkan kenyataan yang membuat harapan saya mulai menipis. Kuota eligible disekolah ternyata sangat sedikit dari bayangan saya, yaitu hanya 44 dari 105 siswa. Setiap jurusan hanya dapat 10 eligible yang membuat saya harus lebih ekstra belajar. Keterbatasan ekonomi yang membuat saya tidak bisa mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Saya menyadari bahwa keterbatasan ekonomi tidak membuat saya untuk berhenti berusaha, melainkan tantangan yang harus saya hadapi dengan kerja keras dan tekad.

Saat pengumuman siswa eligible tiba, ketakutan yang selama berbulan bulan menghantui saya akhirnya benar benar terjadi. Saya tidak masuk dalam daftar siswi eligible. Harapan besar yang saya pegang ternyata harus saya lepaskan saat pengumuan. Saya marah, kecewa, kenapa saya belum mampu menjadi bagian dari 44 siswa tersebut. Saya menyadari bahwa, usaha yang saya lakukan belum cukup untuk masuk jalur SNBP.

Banyak teman mengatakan bahwa masih banyak jalur untuk saya perjuangkan, salah satunya SNBT. Jalur yang di bilang susah, begitu banyak subtes yang diujikan. Bahkan, saya ada kalanya belajar tidak kenal waktu. Meskipun melelahkan, tetapi itu proses yang saya nikmati. Sakit tidak menghalangi niat saya untuk berproses. Karna saya percaya, bahwa usaha tidak akan menghianati hasil. Saya mulai mempelajari seluruh subtes yang akan diujikan.

Mencari informasi skor yang aman untuk masuk, tingkat keketatan, jumlah peminatnya, membandingkan beberapa universitas, berkonsultasi dengan guru BK, memilih idealis atau realistis. Dan, guru BK saya menyatakan bahwa universitas dengan jurusan yang saya impikan terlalu ketat untuk tahun ini. Hari dimana saya mendaftar ujian tersebut, dengan penuh pertimbangan, penuh tangisan, saya memilih untuk tidak mendaftar di universitas yang saya impikan. Dengan jurusan yang tidak ada di pikiran saya.

Waktu terus berjalan, hingga malam sebelum ujian tiba. Saya masih menangis, karena terlalu berat untuk melepas. Saat itu, saya masih memikirkan universitas dan jurusan yang saya impikan. Bukan karena tidak berani mencoba, melainkan terlalu takut untuk di tolak. Saya berharap Keputusan yang saya ambil tepat. Namun, saat pengumuman itu tiba, saya di kecewakan oleh harapan saya sendiri. Ternyata perjuangan saya belum boleh berhenti sampai sini. Harus banyak perjuangan lagi kedepan nya.

Gambar 3. Saat dinyatakan tidak lolos seleksi SNBT.

Saya merasa kecewa, tetapi hal yang saya sesali saat itu kenapa tidak memberi kesempatan untuk memasukan universitas yang saya impikan. Setidaknya universitas itu masuk kedalam hal saya usahakan. Dan dari situ saya belajar, bahwa ketakutan yang saya pengang selama ini justru membuat seseorang merelakan impianya. Beberapa hari setelah pengumuman, saya mengurung diri sendiri tentang langkah selanjutnya. Bahkan, sempat terlintas di pikiran bahwa seandainya saya tidak mengikuti seleksi Paskibraka, mungkin saya bisa lebih fokus belajar, memperoleh nilai sempurna, dan masuk kedalam siswa eligible.

Namun, di sisi lain, bahwa banyak orang yang bermimpi berada di posisi saya sekarang, mengenakan seragam atas nama kita sendiri, berfoto dengan Bapak Walikota saat Upacara 17 Agustus. Saya mulai memahami atas semua yang terjadi, bahwa setiap keputusan selalu ada konsekuensi.

Tepat 3 hari setelah pengumuman, kakak saya menunjukan sebuah ungahan dari laman universitas tersebut. Ternyata universita itu membuka jalur seleksi Mandiri Leadershi. Informasi yang saya dapatkan, ternyata jalur tersebut memberi akses kepada pelajar yang menjadi anggota Paskibraka minimal Tingkat Kota atau Kabupaten. Hal yang saya pikiran proses yang gagal ternyata yang membawa saya masuk ke dalam bagian dari universitas tersebut.

Sertifikat yang sebelumnya saya sesali, ternyata menjadi alas an saya untuk memperoleh kesempatan kedua. Terkadang, kegagalan tidak benar-benar menutup jalan, hanya jalan nya saja yang berbeda.

Pada 3 juni 2026 pukul 19.00 WIB, seleksi mandiri diumumkan. Saya dinyatakan lolos universitas imipian saya. Ternyata semua perjuangan, pengorbanan dan doa yang saya lakukan membuahkan hasil. Saya berhasil diterima di tempat yang saya perjuangkan selama ini, ternyata hanya jalannya saja yang berbeda dari yang lain.

Gambar 4. Saya dinyatakan lolos seleksi Mandiri Leadership.

Namun, perjuangan saya belum berakhir. Masalah demi masalah terus berdatangan, mulai dari ekonomi, persoalan keluarga. Biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Iuran Pengembangan Institusi (IPI) yang harus dibayar sangat besar, tidak sebanding dengan penghasilan keluarga. Terlebih lagi, adik saya masih menduduki kelas 10 dan juga membutuhkan biaya Pendidikan yang hamper sama dengan pemasukan keluarga. Seluruh kebutuhan keluarga di tanggung seorang diri oleh mama, sehingga membuat saya berfikir duakali untuk melanjutkan Pendidikan di tengah kondisi tersebut.

Pada hari dimana semua terasa berputar di kepala, pukul 01.00 dini hari, saya sempat berdiskusi dengan abang dan kakak. Saya bertanya kepada mereka, “Apakah saya lanjut di tengah kondisi tersebut atau mundur agar adik saya bisa mendapat Pendidikan yang layak?” Tentu mereka berdua tidak setuju akan hal tersebut. Mereka mengatakan bahwa semuanya masih bisa di perjuangkan dan pasti ada jalan keluarnya. Mereka berpesan agar saya tidak terlalu memikirkan biaya pendidikan tersebut dan juga berpesan bahwa saya layak mendapatkan itu semua setelah perjuangan panjang yang sudah dilewati.

Pertakaan mereka seakan menyadari saya bahwa tidak semua bisa saya pegang di tangan kecil ini, didalam otak yang penuh. Mereka membuat saya merasa bahwa saya tidak sedang berjuang sendian, ada mereka yang siap menerima saya gagal. Namun, sebagai adik sekaligus kakak, saya tetap harus memikirkan kedepannya bagaimana. Masih banyak hal yang harus di bayar, yang harus dipenuhi.

Hingga akhirnya tiba, hari dimana saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Keputusan itu diiringi banyak perbincangan dan air mata. Saya harus melepaskan impian yang saya perjuangakan begitu lama. Keputusan tersebut bukanlah menyerah pada mimpi saya untuk berkuliah, melainkan karena saya memilih untuk mengutamakan kelayakan seorang adik untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

Meskipun berat, saya percaya bahwa setiap keputusan yang saya ambil membawa kebahagian dimasa yang akan datang. Perjalanan panjang ini mengajarkan saya, bahwa tidak semua rencara sesuai harus benar benar terjadi. Ada kalanya kita harus mengalah demi sesuatu yang lebih besar, bukan, bukan mimpi saya tidak besar, mungkin karena terlalu besar saya melepaskan nya.

Saya memahami arti perjuang bukan hanya tentang berhasil, melainkan tentang melepaskan mimpi kita untuk manusia lain berkembang lebih besar disbanding saya. Perjalanan Panjang ini mengajarkan bahwa kegagalan proses menuju hal yang lebih besar dari yang saya harapkan. Karena pada akhirnya imipian bukan seberapa besar kita mencapai tujuan tersebut, melainkan bagaimana memperjuangkan impian yang kita miliki. Setiap proses memiliki waktu sendiri untuk lebih besar.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *