Perjalanan Dari Sebuah Harapan

Ketika aku menatap langit, aku tidak tahu apakah ku bisa menggapainya. Lautan awan biru yang ku tatap dari bawah seakan tak ada ujungnya. Semuanya berubah setiap harinya, entah dari cuaca, cahaya, maupun suhunya. Sama seperti impianku, bertumbuh ke arah lebih tinggi, berubah menjadi sebuah sesuatu yang ingin ku kejar. Sebuah hal yang secara tidak sengaja bisa mengubah hidupku seluruhnya, itu yang ku sebut perjalanan dari sebuah harapan. Aku percaya bahwa semua hal bisa berubah, menjadi suatu petualangan yang menyenangkan. Namun, aku juga tahu bahwa kebahagiaan tak akan mungkin berdiri sendiri. Dia bersanding dengan kesedihan, kekecewaan, dan penderitaan. Semua itu bisa terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Semua berawal dari jiwa ini yang tidak berani bermimpi. Dia berpikir bahwa tanpa dukungan materi seperti uang, semuanya tidak akan berjalan seperti yang diinginkan. Setelah peristiwa COVID-19, diri ini hanya menginginkan sekolah SMA Negeri yang dekat dari rumah, dan tentunya dengan biaya setiap tahun yang tidak memberatkan. Ketika pengumuman lulus SMP, aku sudah memprediksi bahwa nilaiku mungkin tidak bisa setara dengan standard yang telah di tetapkan pada SMA Negeri incaranku. Sampai pada hari pendaftaran sekolah, aku yang memang tidak mempunyai prestasi apa-apa. mencoba menggunakan nilai akademikku yang hanya berdasar pada rapor hasil selama tiga tahun di SMP. Tentu sudah ku prediksi bahwa nilai yang aku dapat masih kurang untuk SMA Negeri yang cukup bagus di daerahku, SMAN 1 Pandaan. Sama sepertiku, itu adalah sekolah yang semua orang idam-idamkan.

Selepas pengumuman nilai akademikku yang tidak memenuhi standar, aku beralih mencoba lagi peluang masuk menggunakan zonasi. Melihat jarak antara sekolah dan rumah yang cukup dekat, aku merasa hal tersebut masih bisa aku perjuangkan. Aku memutuskan untuk mengisi semua data yang diperlukan untuk mendaftar jalur zonasi itu. Di sisi lain, rumah kontrakan tempatku tinggal sudah habis masanya. Ayah mempunyai rencana untuk mencari rumah di tempat asalnya, Mojokerto. Disana ada rumah saudara yang bisa dihuni untuk sementara, sedangkan Ayah akan kembali mencari uang untuk biaya sekolahku juga karena memang dia tidak bisa lanjut membayar kontrakan di Pandaan. Aku sudah mempersiapkan segala kemungkinannya, bahkan jika harus pindah.

Tibalah hari pengumuman. Aku diterima di SMAN 1 Pandaan, sekolah yang menjadi impian banyak orang. Mungkin jalur zonasi bukanlah yang bisa ku banggakan. Tapi aku tahu kalau orangtua ku sangat senang dengan hal itu dan untuk masalah rumah, rezeki tak di sangka-sangka dititipkan oleh Tuhan untuk memperpanjang kontrakan rumah. Hingga pada tahun pertama aku SMA, COVID-19 menjadi satu-satunya alasan kenapa kami sebagai siswa harus menjalani masa-masa pengenalan lingkungan sekolah dengan online. Aku mengikuti perjalanan awalku dengan semangat, sampai pada pertengahan awal tahun kedua. Pengalaman itu yang menjadi awal untuk menentukan kisahku selanjutnya pada perguruan tinggi.

Sejak COVID-19 mulai mereda, sekolahku sudah memperbolehkan kami hadir di sekolah meskipun awalnya hanya setengah siswa setiap kelas. Aku juga berencana mendaftar ekstrakurikuler drum band, yang setidaknya bisa menjadi awal untuk mencari minat bakatku. Disitulah semuanya dimulai. Disanalah impian dan harapanku perlahan mulai tumbuh. Meski ekspektasiku tak banyak, tahun ke tiga SMA sudah mulai berjalan normal seperti sebelum COVID-19.

Drum band yang ku ikuti seakan berubah menjadi rumah dan keluarga ke dua bagiku. Gita SMANDA yang awalnya hanya menjadi tempat mencari minat bakat, saat itu beralih menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Pada saat COVID-19 sudah mereda, aku memulai latihan bersama teman-teman baru. Semua berjalan seperti yang seharusnya dan aku mulai menguasai alat musik yang aku pegang, yakni bellyra. Aku dan tim sudah dipercaya tampil pada hari-hari penting, seperti pada saat hari kemerdekaan dan setiap upacara bendera di hari senin. Sampai suatu ketika muncul keinginan baru untuk mengikuti kompetisi. Dan kami sebagai tim Gita SMANDA mengambil tantangan tersebut. Semua dimulai usai aku menjalani diklat (pendidikan dan pelatihan) selama tiga hari. Pengalaman tersebut menjadi bekal utama untuk kami pada kompetisi HB Cup (Hamengkubuwono Cup) 2023.

HB Cup adalah salah satu kompetensi drum band paling bergengsi yang dilaksanakan di Yogyakarta. Sejak tahun 2017 lalu, Gita SMANDA sudah berkeinginan untuk mewujudkan impian mengikuti HB Cup dan kami wujudkan pada tahun 2023. Namun itu bukanlah perjalanan yang mudah. Pada awal tahun 2023, tim Gita SMANDA terbagi menjadi dua karena sekolah kami dipilih menjadi perwakilan PORPROV Jatim (Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur) yang ke VIII di tahun 2023 cabang olahraga drum band. Sebagian dari mereka terpilih berjuang di ajang PORPROV yang juga untuk pertama kalinya. Dan sebagian tim Gita SMANDA tetap berlatih untuk HB Cup 2023. Semua kami lakukan untuk menambah pengalaman kompetisi, setelah peristiwa COVID-19 yang mengharuskan untuk isolasi, dan tidak diperbolehkan mengikuti lomba apapun.

Kompetisi dimulai pada pertengahan Oktober. Aku dan tim hanya berlatih selama satu bulan setengah. Itu bukan persiapan yang baik. Kami terpaksa melakukan itu lagi-lagi karena pemain yang tidak mencukupi, sehingga harus menunggu teman-teman PORPROV selesai lomba pada akhir agustus. Para pembimbing sudah ingin membatalkan keberangkatan kami karena takut persiapan yang belum maksimal. Tapi aku dan tim tetap latihan se-maksimal mungkin, sebanyak energi yang kami punya setiap harinya. Setiap hari selalu ada improve dan evaluasi untuk tim agar bisa meminimalkan kesalahan, entah itu dari gerakan maupun komposisi lagu. Belum lagi ketika mengetahui bahwa aku ternyata harus dipindah memakai alat musik bariton, yaitu semacam terompet—tapi yang lebih besar lagi. Sebab memang komposisi alat musik brass (yang berisi terompet, mellophone, bariton, dan tuba) kekurangan pemain dan harus mengambil dari section yang lain. Perasaanku pada saat itu sungguh bimbang sekaligus takut. Bagaimana bisa kemampuanku menggunakan alat baru hanya membutuhkan persiapan selama satu bulan setengah? Apakah aku bisa memperjuangkan impianku dan Gita SMANDA agar sama-sama bisa bersaing di HB Cup untuk pertama kalinya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul di kepalaku tentang kekhawatiran mengenai diriku sendiri yang entah apakah sanggup menyelesaikan komposisi lagu.

Hingga tiba saatnya Gita SMANDA akhirnya berangkat ke Yogyakarta, setelah latihan rutin, dengan tawa dan tangis yang mengiringi setiap harinya. Kami berangkat dengan niat dan tekad tanpa mengharapkan juara atau apapun istilah penghargaannya. Karena kami sadar bahwa pengalaman pertama kami berkompetisi seharusnya menjadi hal yang paling berharga untuk tim kami di tahun depan, dan itu bukan hanya soal menang atau kalah tapi tentang kebersamaan ketika berjuang, tidak menyerah walau semua orang menganggap kita telah gagal sebelum memulai. Pada akhirnya, Gita SMANDA membuktikan bahwa kami tak kalah hebat dibanding banyak peserta yang lain.

Posisi delapan menjadi realita yang kami terima. Dengan banyak lika-liku berat yang telah terlewati, semua seakan terbayar dengan sertifikat berkategori “Silver Level Proficiency Street Parade Klasemen Senior Brass.” Mungkin untuk sebagian orang, pemenang adalah siapapun yang mendapatkan posisi pertama pada tiap ajang perlombaan. Tapi bagiku, perjalanan Gita SMANDA mengikuti HB Cup 2023 adalah kemenangan tersendiri yang tak akan pernah bisa ternilai oleh materi apapun. Aku tetap bangga karena periode tersebut menjadi tahun pertama Gita SMANDA menginjak kompetisi nasional. Dan sertifikat penghargaan posisi delapan itu yang membuatku diterima di perguruan tinggi Universitas Negeri Surabaya melalui jalur SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi). Aku sama sekali tidak menyangka akan menduduki bangku perkuliahan negeri, salah satu yang terbaik di Surabaya.

Rasa syukur tak henti-hentinya ku ucapkan sampai detik ini. Aku sangat beruntung bisa berjuang bersama teman-teman yang sangat hebat dan selalu mendukung satu sama lain, juga karena perjalanan dan petualangan berharga bersama Gita SMANDA di HB Cup tahun 2023. Semua hal tersebut tak sengaja menyatu menjadi perjalanan dari sebuah harapan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *