“Kelas Tiga SMA: Tangis, Semangat, dan Mimpi”

Hai, ini kisahku. Aku Yuna.

Sekarang aku seorang siswi kelas tiga SMA. Menurutku, duduk di bangku kelas tiga itu tidak mudah—baik sekarang maupun nanti. Mungkin karena ini adalah masa akhir dari banyak hal, misalnya akhir dari masa jadi anak sekolahan. Kadang aku juga merasa ini adalah akhir dari banyak pelajaran hidup. Soalnya, setelah tamat SMA, tidak semua orang bisa melanjutkan kuliah. Ada yang memang tidak punya niat, tapi ada juga yang terhalang biaya.

Aku nulis cerita ini bukan cuma buat berbagi, tapi juga buat ngingetin diriku sendiri kalau setiap langkah yang aku ambil hari ini bakal berarti nanti. Aku tahu jalan hidup nggak selalu mulus, tapi aku pengin tetap berdiri, walau cuma lewat tulisan sederhana ini. Siapa tahu, dari sini ada orang lain yang ngerasa hal yang sama dan sadar kalau mereka juga nggak sendiri.

Untuk anak kelas tiga SMA, ke depannya akan ada banyak hal yang harus dihadapi. Bukan cuma ujian untuk kelulusan, tapi juga ujian untuk menentukan langkah selanjutnya. Banyak dari kami yang masih bingung tentang masa depan—tentang apa yang akan terjadi nanti, harus ke mana, dan harus mulai dari mana. Kadang hal itu bisa bikin stres, dan sekarang aku lagi ada di fase itu. Belum sempat fokus mikirin ujian, aku udah dibingungkan lagi soal kampus, bahkan jurusan yang harus kupilih pun bikin aku pusing sendiri.

Aku tinggal di Aceh, tepatnya di daerah Bireuen. Pilihan kampus untukku di sini sebenarnya tidak banyak—hanya ada dua, UNIKI dan Almuslim. Tapi jujur, aku tidak terlalu tertarik dengan keduanya. Aku ingin bisa kuliah di Banda Aceh, atau setidaknya di Lhokseumawe. Aku ingin melihat dunia yang sedikit lebih luas dari tempatku sekarang, belajar hal baru, ketemu orang-orang baru, dan ngerasain suasana yang berbeda.

Tapi keinginanku itu tidak mudah. Ibuku tidak memberi izin, dan dari situlah semangatku mulai runtuh. Rasanya semua yang aku perjuangkan selama ini seperti nggak ada gunanya. Aku cuma ingin belajar di tempat yang aku mau, tempat yang bisa bikin aku berkembang. Tapi ketika keinginan itu ditolak, semuanya terasa sia-sia.

Aku pernah sampai di titik di mana aku ngerasa semua perjuangan sia-sia. Nilai-nilai yang aku kejar, semangat yang aku jaga, semuanya seperti hilang begitu aja. Aku bahkan sempat berpikir untuk nggak kuliah. “Ngapain berjuang kalau ujungnya nggak boleh?” pikirku waktu itu. Tapi di dalam hati kecilku, aku tahu aku nggak bisa menyerah semudah itu. Aku terlalu cinta sama mimpi-mimpiku, meski kadang rasanya mimpi itu jauh banget buat digapai.

Kadang aku mikir, kenapa harus sesulit ini buat ngejar mimpi? Aku cuma mau kuliah di tempat yang aku suka, belajar hal yang aku minati, dan ngebuktiin kalau aku juga bisa berdiri di atas kaki sendiri. Tapi setiap kali aku berusaha meyakinkan, aku malah merasa kayak semua yang aku omongin nggak ada artinya. Aku tahu ibu cuma pengin yang terbaik, tapi rasanya ibu nggak benar-benar ngerti apa yang aku rasain. Aku bukan nggak mau nurut, aku cuma pengin didengar. Pengin dihargai.

Sekarang, semangatku memang sempat hilang. Tapi di sisi lain, aku sadar, mungkin ini cuma bagian dari proses. Aku harus tetap kuat, karena kalau bukan aku yang terus maju, siapa lagi? Hidup nggak akan berhenti cuma karena aku sedih. Jadi, meski semuanya berat, aku mau tetap melangkah—pelan-pelan, sambil bawa mimpi yang belum sempat aku tunjukkan ke dunia.

Lalu datang satu masa yang nggak akan pernah aku lupain. Masa di mana aku mulai nemuin arahku sendiri. Waktu itu aku lagi bingung harus pilih jurusan apa. Dari dulu aku suka matematika, tapi aku sadar aku nggak sepintar itu dalam berhitung. Aku juga nggak pernah kepikiran buat ambil jurusan murni matematika. Sampai akhirnya, hari pertama di kelas tiga SMA, di pelajaran ekonomi, kami mulai masuk ke pembahasan tentang akuntansi.

Waktu itu, entah kenapa, aku langsung tertarik. Cara guru menjelaskan, rumus-rumusnya, cara menghitungnya, semuanya terasa menyenangkan. Dari situ aku sadar, ternyata ini bidang yang aku cari selama ini. Aku suka mengetik, aku suka berhitung, dan akuntansi adalah gabungan dari dua hal yang aku sukai itu. Rasanya seperti menemukan potongan puzzle yang hilang.

Dan jujur, aku harus bilang seribu terima kasih untuk guru ekonomiku. Karena dulu aku sama sekali nggak tertarik dengan pelajaran ekonomi. Tapi berkat cara beliau mengajar, aku jadi terbuka matanya. Rasanya waktu itu kayak ada cahaya kecil muncul di kepala—“inilah pilihanku ke depan.”

Sejak hari itu, aku mulai lebih semangat belajar. Setiap kali pelajaran ekonomi dimulai, aku selalu duduk dengan antusias. Aku nggak lagi ngerasa bosan atau bingung kayak dulu. Aku tahu arahku. Aku tahu aku ingin menjadi seseorang yang bekerja di bidang akuntansi.

Lalu, di suatu hari Jumat yang aku ingat banget, wali kelasku masuk ke kelas untuk mengajar pelajaran sejarah. Tapi hari itu suasananya agak berbeda. Beliau memberi kami kebebasan untuk belajar santai asalkan tidak berisik. Beberapa teman sibuk ngobrol, ada juga yang sibuk menulis, sampai akhirnya namaku dipanggil ke meja guru. Waktu itu, wali kelasku bilang ingin bicara sedikit.

Beliau menanyakan aku mau kuliah di mana. Aku jawab dengan jujur kalau aku sudah kepikiran mau kuliah di UNIKI dengan jurusan akuntansi, karena memang jurusan itu yang paling aku minati. Tapi aku nggak nyangka dengan apa yang beliau katakan setelahnya.

Wali kelasku bilang, menurutnya aku lebih baik kuliah di Banda Aceh. Katanya, aku punya kemampuan yang cocok untuk kampus yang lebih besar, tempat yang lebih menantang. Aku terdiam. Dalam hati aku mulai bertanya-tanya: apakah aku pantas berharap mimpi sebesar itu? Aku sadar aku bukan anak terpintar di kelas, rankingku “hanya” tujuh. Tapi jauh di dalam hati, aku tahu kemampuan aku nggak sesempit angka itu.

Waktu aku bilang begitu, wali kelasku cuma tersenyum dan berkata, “Nggak semua orang sukses itu dari juara satu, Yuna.” Kalimat itu menancap di kepalaku. Rasanya seperti ada sesuatu yang membangunkan semangatku lagi.

Tapi di sisi lain, aku juga teringat omongan teman-temanku. Aku pernah bilang kalau suatu hari nanti aku ingin kuliah di luar negeri, atau minimal tinggal di luar negeri. Mereka malah menertawakan. Katanya aku terlalu percaya diri, katanya aku ngomong setinggi langit. Tapi saat aku cerita itu ke wali kelasku, beliau justru tersenyum dan berkata, “Kamu punya mimpi yang bagus, Yuna. Karena kamu berani bermimpi. Siapa tahu nanti kamu benar-benar bisa ke sana. Setidaknya kamu sudah berani bermimpi.”

Waktu itu aku bahagia banget. Rasanya seperti beban besar di dada aku terangkat. Karena dari dulu, kata-kata seperti itu yang paling aku pengen dengar—terutama dari ibu aku sendiri. Tapi yang sering terjadi malah sebaliknya. Ibu sering meremehkan kalau aku ngomong pengen keluar negeri. Mungkin karena beliau takut melepaskan anak perempuannya berkelana jauh. Tapi bagiku, itu tetap menyakitkan.

Sore harinya, aku pulang dan cerita ke ibu. Baru sedikit aku bilang kalau wali kelasku menyarankan aku kuliah di Banda Aceh, air mataku langsung pecah. Aku nangis sejadi-jadinya sampai adik-adikku menertawakan aku. Aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi, cuma bisa nangis.

Setelah agak tenang, aku akhirnya menelpon sahabatku—karena hari itu dia nggak masuk sekolah. Aku ceritain semuanya, dari awal sampai akhir. Nggak lama setelah aku selesai cerita, dia juga ikut nangis. Mungkin karena dia juga ngerasa hal yang sama—kami berdua sama-sama hidup dengan keadaan yang terbatas, tapi punya mimpi yang tinggi. Kami sadar betapa sulitnya jadi anak yang ingin maju tapi terhalang oleh keadaan.

Dia juga anak berprestasi,dan selama ini aku selalu lihat semangat yang sama di matanya – semangat buat punya masa depan yang lebih baik.tapi waktu itu dia cuma bisa bilang, dengan suara pelan yang bergetar, "kenapa ya Yun,di saat masa depan kita terbuka…. malah rasanya kayak di hempas?"di saat mendengar kan itu sungguh aku merasa kalo dunia ini nggak adil buat kami.

Kami berdua akhirnya cuma bisa nangis dan saling bilang, “Ternyata jadi dewasa itu nggak enak ya.”

Dan benar, jadi orang miskin itu nggak enak. Tapi kami sadar juga, kalau cuma dengan nangis pun nggak akan mengubah apa pun. Sejak hari itu, aku janji dalam hati, aku nggak akan berhenti berusaha. Aku akan terus belajar, walau pelan. Aku mau buktiin kalau anak kecil dari Bireuen ini juga bisa sukses.

Sekarang, aku masih di tahap berjuang. Kadang semangatku naik turun, kadang aku masih ngerasa takut dan khawatir soal masa depan. Tapi setiap kali rasa itu datang, aku selalu ingat satu hal: aku sudah sejauh ini, aku sudah berjuang sejauh ini, jadi nggak ada alasan untuk berhenti.

Mungkin aku belum bisa meyakinkan semua orang, tapi aku ingin terus berusaha sampai suatu hari nanti, mereka bisa lihat hasilnya sendiri.

Aku nggak tahu bagaimana hidupku nanti berjalan. Tapi aku tahu satu hal—aku nggak akan menyerah buat mimpi-mimpiku. Karena buatku, mimpi itu bukan cuma tujuan, tapi juga pengingat bahwa aku masih punya harapan. Dan selama harapan itu masih ada, aku akan terus melangkah. Walau pelan, walau sendiri, aku percaya suatu hari nanti semua perjuangan ini akan terbayar.

Aku percaya, setiap langkah kecil yang aku ambil hari ini adalah bagian dari jalan besar menuju masa depanku. Aku nggak tahu apakah nanti aku akan benar-benar jadi akuntan, atau justru menemukan hal baru lagi di perjalanan. Tapi yang aku tahu, aku ingin terus tumbuh. Aku ingin terus belajar, berjuang, dan membuktikan kalau gadis yang dulu hampir menyerah ini, akhirnya bisa berdiri di tempat yang dulu cuma ada di mimpinya.

Kalau nanti suatu hari aku berhasil, aku ingin menoleh ke masa ini—masa di mana aku nyaris menyerah, tapi memilih untuk tetap bertahan. Karena di situlah aku benar-benar belajar arti dari kata “berjuang.”

Dan mungkin, suatu hari nanti, aku akan bisa bilang ke diriku sendiri:

“Lihat, Yuna. Kamu berhasil.”

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *