GORESAN TAKDIR DI ATAS SAJADAH PENGABDIAN
Kisah Perjuangan Meraih Impian Kuliah dan Ketetapan Terbaik-Nya
Oleh: Hana Hamidatul Fanaisya
Setiap manusia terlahir dengan cetak biru impiannya masing-masing. Bagi saya, impian itu sederhana namun teramat megah: mengenakan almamater, melangkah ke dalam ruang kuliah, dan menjadi sarjana pertama yang mengangkat derajat keluarga. Selepas lulus dari Sekolah Menengah Atas, asa itu membubung tinggi. Ketika teman-teman sebaya sibuk mendaftarkan diri dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi, riuh membicarakan UTBK dan SNBT, saya justru harus menepi. Sebuah kewajiban suci memanggil saya untuk mengabdi penuh di sebuah pondok pesantren selama satu tahun lamanya. Saat itu, ada rasa sesak yang tertahan di dada. Saya harus melipat rapi lembar keinginan mengikuti SNBT dan merelakan waktu berpacu tanpa kehadiran saya di jalur kompetisi itu. Namun, di balik dinding pesantren, saya belajar satu hal mendasar: bahwa ketaatan dan keikhlasan adalah sebaik-baiknya bekal sebelum berjuang.
Waktu satu tahun pengabdian pun berlalu, menempa diri saya menjadi pribadi yang lebih tabah. Begitu masa khidmah selesai, gairah yang sempat terpendam itu membara kembali. Saya memantapkan target pada salah satu kampus swasta berbasis Muhammadiyah terbaik nomor tiga se-Jawa Timur. Fokus saya terkunci di sana. Dengan keyakinan penuh, saya mengikuti serangkaian ujian mandiri dan mendaftarkan diri sebagai calon penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Keyakinan saya begitu mutlak, hingga saya mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lain. Bagaimanapun juga, kondisi ekonomi keluarga tidak seberuntung orang lain. Orang tua saya mengemban tanggung jawab yang sangat berat, menghidupi empat orang anak yang semuanya masih aktif menempuh bangku sekolah. Berkuliah dengan beasiswa KIP bukan sekadar keinginan bagi saya, melainkan satu-satunya jalan agar saya tidak menambah beban pundak bapak dan ibu.
Namun, hidup kerap menyuguhkan plot yang tidak kita duga. Hari pengumuman tiba, dan nama saya tertera sebagai mahasiswa yang lolos seleksi mandiri, tetapi bukan sebagai penerima beasiswa KIP Kuliah. Pengumuman itu bak petir di siang bolong. Saya terduduk, menatap layar dengan mata berkaca-kaca. Pikiran saya seketika kalut memproyeksikan nominal Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang begitu besar, belum lagi biaya hidup di perantauan yang mencekik. Mengambil kesempatan itu berarti memaksa orang tua melipatgandakan peluh mereka, sesuatu yang mati-matian ingin saya hindari. Di titik itulah, ego dan harapan saya runtuh. Saya berada di titik terendah. Kecewa pada keadaan, saya memutuskan untuk menyerah dari impian kuliah dan memilih realistis: bekerja.
Saya bekerja di sebuah rumah makan, menjadi pelayan yang menghabiskan seluruh energi dari pagi hingga malam. Sistem kerja full-time yang amat menguras tenaga itu ternyata hanya dihargai dengan upah yang jauh dari kata sepadan. Di sela-sela rasa lelah yang mendera fisik, saat menyeka keringat di balik meja makan, pikiran saya justru kian bertumbuh. Dialog-dialog batin mulai bermunculan. Apakah hidup saya akan berhenti di ruang pengap dapur ini? Benarkah tidak ada lagi celah untuk mengejar ilmu? Di tengah keputusasaan yang hampir mengakar, Tuhan mengirimkan penolong-Nya melalui seorang teman yang menyodorkan sebuah brosur. Sebuah universitas yang menawarkan program kuliah gratis perdana: Universitas Sunan Giri (UNSURI) Gresik.
***
Awalnya, ada keraguan yang merayap. Ketika memeriksa daftar program studi yang tersedia, saya tidak menemukan jurusan yang selama ini saya dambakan, seperti Pendidikan Olahraga atau PGPAUD. Setelah berkontemplasi panjang, pilihan saya akhirnya jatuh pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Sebuah tikungan tajam dalam rencana hidup saya. Hambatan tidak berhenti di sana; kedua orang tua saya dilingkupi rasa khawatir yang luar biasa. Mereka ragu dan takut jika program gratis ini hanyalah sebuah tipuan, yang di tengah jalan nanti justru akan menjerat kami dengan denda atau tagihan UKT penuh. "Bagaimana kalau nanti kita ditipu, Nak?" kalimat itu terus terngiang.
Dengan sisa-sisa keberanian yang saya miliki, saya mencoba meluruhkan keraguan mereka sekaligus meneguhkan hati saya sendiri. Saya menggenggam tangan ibu dan berkata lirih, "Ibu, Bapak, saya percaya kampus ini adalah cara dan pilihan Tuhan untuk menyelamatkan impian saya." Saya pun memulai perjuangan baru. Siang hari saya tetap bekerja melayani pelanggan dengan cekatan, dan di sela waktu istirahat yang sempit, saya mengisi formulir, menyiapkan berkas, dan mengikuti seluruh tahapan tes pendaftaran. Tubuh saya lelah, namun jiwa saya kembali hidup.
Satu minggu menjelang perkuliahan dimulai pada September 2025, saya mengambil keputusan besar untuk mengambil masa break dari pekerjaan di rumah makan. Saya ingin mendedikasikan seluruh fokus saya untuk menyambut babak baru ini. Dan di sanalah, keajaiban yang sesungguhnya terjadi. Ketika pengumuman final keluar, nama saya tidak hanya dinyatakan lolos, tetapi saya resmi terdaftar sebagai mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah di UNSURI Gresik. Saya tak mampu membendung air mata haru. Tubuh saya bergetar demi menyadari betapa indahnya skenario yang sedang berjalan.
Kini, saya menyadari sepenuhnya bahwa keterlambatan saya mengikuti SNBT karena pengabdian, kegagalan saya di kampus swasta sebelumnya, hingga peluh yang keluar di rumah makan, semuanya adalah rangkaian kurikulum kehidupan yang sengaja Tuhan rancang untuk
membentuk mental saya. Allah tidak memberi apa yang saya inginkan, melainkan memberikan jalan yang jauh lebih sempurna dan tepat pada waktu-Nya. Kini, saya bisa melangkah ke ruang kuliah dengan semangat yang berkobar, menuntut ilmu tanpa perlu menyisakan ketakutan akan membebani ekonomi keluarga. Perjuangan ini belum usai, namun melaluinya saya belajar: bahwa ketika kita mendahulukan kewajiban dan rida orang tua, takdir tidak akan pernah salah mengantarkan kita ke tempat tujuan terbaik.
