Mom, I’m Trying to Rewrite the Future
Keyko Safira Raudatunissa
STIKes Pemkab Purworejo
Aku mengenal seseorang yang tidak pernah berencana kuliah setelah lulus SMA. Ketika teman-temannya sibuk memilih jurusan dan menghitung peluang lolos PTN, ia justru menghabiskan waktunya mengikuti pelatihan kerja dan mempersiapkan keberangkatan ke Jepang.
Aku juga mengenal seseorang yang harus menyaksikan rencana masa depannya runtuh bahkan sebelum benar-benar dimulai. Uang sudah dibayarkan. Pelatihan sudah diikuti. Namun program yang ia percayai ternyata tidak dapat membawanya ke mana pun selain kembali ke titik awal.
Belakangan, aku mengenal seseorang yang nyaris menunda kuliah untuk kedua kalinya. Ketika peluang mendapatkan bantuan itu tampak semakin kecil, ia sudah bersiap menerima kenyataan bahwa dirinya harus menunggu setahun lagi.
Orang-orang yang kukenal itu adalah aku. Namaku Keyko Safira Raudatunissa, dan ini adalah cerita tentang bagaimana aku belajar menulis ulang masa depan yang pernah kukira sudah selesai direncanakan.
Saat teman-teman sibuk memilih jurusan dan menyiapkan berkas UTBK, aku justru mengambil jalan berbeda. Setelah lulus SMA tahun 2024, pilihanku sudah mantaap: bekerja di Jepang, mandiri secara finansial, dan tidak menggantungkan masa depan pada bangku kuliah yang biayanya tidak sedikit. Rencana itu nyata, terasa solid di tangan. Aku bahkan sudah bisa membayangkan seperti apa kehidupan yang akan kujalani di sana.
Then everything stopped. Before I could board any plane, I learned the program was fraudulent. The money I paid, gone. The training I attended leading nowhere. And what collapsed was the entire scaffolding of the future I thought I was building.
Aku marah. Aku kecewa dengan cara yang tidak bisa ditiduri satu malam lalu bangun segar keesokan harinya. Kecewa yang membuatku duduk diam di tengah hari yang terang dan bertanya ke diri sendiri: sekarang apa? Teman-teman sudah punya kampus masing-masing. Sebagian sudah bekerja. Sementara aku, yang merasa sudah satu langkah lebih cerdas, justru kembali ke titik kosong.
For the first time since graduating, the future felt like a blank page, and I didn’t know which word to write first, or whether I had the right to write at all.
Dua bulan kuhabiskan dalam kondisi itu. Penuh pertanyaan, minim jawaban. Aku tidak bisa hanya diam, tapi juga belum punya ke mana untuk bergerak. Kemudian, perlahan, aku mulai berpikir ulang. Kali ini lebih pelan. Lebih hati-hati. Seperti seseorang yang baru belajar berjalan lagi.
If I were to study, what would actually make sense? Not in the romantic way people imagine when they talk about their calling, but in the honest, unsentimental way of someone who has already lost once and cannot afford to lose again.
Aku memikirkan masa depan yang sedang berubah cepat. Tentang bagaimana kecerdasan buatan mulai mengambil alih pekerjaan yang dulu terasa aman dan pasti. Aku tidak mau menghabiskan tahun-tahun kuliah hanya untuk tiba di ujung jalan dan mendapati tempat itu sudah penuh algoritma.
Nursing emerged. Steadily, rationally, without drama. Healthcare demands a human presence that no machine can replicate: the warmth of a hand, a decision made in a critical second, the kind of comfort that only comes from one person truly seeing another. And the need for nurses keeps growing, quiet and persistent, like a river that doesn’t ask permission.
Keputusan itu mungkin terdengar terlalu dingin. Tapi bagiku, kejujuran semacam itu jauh lebih kuat daripada memilih jurusan karena terdengar mulia di telinga orang lain. Aku memilih berdasarkan realita, dan aku bisa hidup dengan itu.
But the road wasn’t done testing me.
Karena aku mendaftar terlambat, ada ketidakpastian besar yang mengikuti keputusan tersebut: KIP-K. Pihak kampus menginformasikan bahwa peluangku cukup kecil, mengingat kuota yang sudah hampir penuh dan jadwal pendaftaran yang mepet. Bagi sebagian orang, KIP-K mungkin sekadar keringanan biaya. Bagiku, itu satu-satunya jembatan menuju kuliah.
So I made peace with the worst. If this year wasn’t possible, then next year. I had already learned the cost of forcing a door that wasn’t ready to open. Better to wait with intention than to enter with nothing left to stand on.
KIP-K akhirnya aku dapatkan. Dan ketika pengumuman itu keluar, rasanya seperti pintu yang sudah lama aku berdiri di depannya, akhirnya terbuka. Sungguh-sungguh terbuka.
When I finally walked into university, my high school peers were already halfway through their first semester. I arrived a year late, stepping into something many had already moved past.
Tapi aku tidak merasa tertinggal. Justru sebaliknya. Aku mengikuti PKKMB dengan persiapan yang lebih matang, finansial yang lebih terencana, dan mental yang sudah ditempa oleh dua kali perubahan besar dalam waktu singkat. Gap year yang tidak pernah aku rencanakan itu ternyata memberi sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan terburu-buru: waktu untuk benar-benar memahami mengapa aku kuliah, dan untuk apa aku melangkah.
This journey was never about chasing a dream campus I’d sketched in the margins of a school notebook. It was about learning that a life plan can shatter without warning — and that what matters most is the willingness to gather the pieces and begin again, even when your hands are still shaking.
Hari ini aku berkuliah di jurusan keperawatan STIKes Pemkab Purworejo. Satu jalan tertutup, dan kupilih untuk tidak berhenti berdiri.
Gambar 1. Ilustrasi persimpangan antara rencana awal (bekerja di Jepang) yang terputus dan jalan baru (keperawatan) yang terbuka
