SEBELUM WARNA MERAH MEMUDAR

"ayah….aku ga lolos, maaf yaa"

Kalimat itu ku kirim beberapa menit setelah layar ponselku berubah menjadi merah.

Sore itu, setelah sholat ashar aku dan teman-temanku pergi menuju rumah kepala asrama kami untuk meminjam hp yang kami titipkan. Kami berkumpul di suatu tempat untuk membuka pengumuman yang setelah sekian lama kami tunggu, yaitu pengumuman SNBP. Sejak siang kami hampir tidak berselera makan. Tidur pun terasa sekadar memejamkan mata tanpa benar-benar beristirahat.

Beberapa hp yang telah membuka laman pengumuman telah berjajar diatas meja. Nomor peserta dan tanggal lahir juga sudah tertulis. Kini saatnya jawaban atas segala usaha akan terjawab.

"kita hitung sampai 3 yaa" ucap salah seorang dari kami yang tidak ikut membuka pengumuman.

"1….2…..3".

Semua tulisan ‘cek pengumuman’ serentak kami tekan. Seketika warna-warna (merah dan biru) pengumuman mulai terlihat. Aku sedari tadi tak berani melihat, mataku terpejam tak sanggup melihat kenyataan yang ada. Tangis haru dengan iringan nama temanku mulai terdengar. Ia lolos. Aku mulai memberanikan membuka mataku. Warna merah tertera pada pengumuman ku, yang tandanya berarti aku tidak lolos dalam seleksi itu. Seketika mataku menjadi sedikit buram. Air mata lolos begitu saja tanpa diminta. Jemariku gemetar, rasanya aku ingin menekan tombol itu kembali, seolah hasil itu bisa berubah jika kulihat sekali lagi.

Sorakan kegembiraan dan ucapan selamat masih terdengar.

"Selamat yaa binaa"

"Selamat yaaa" dia menangis bahagia.

Aku ikut senang, hanya saja mulutku tak sanggup untuk mengungkapkan kata selamat itu karena rasa kecewa yang lebih besar yang aku dapatkan. Aku raih hp ku yang terletak dimeja, lalu mengambil gambar dari hasil pengumuman ku untuk aku kirim ke orang tuaku.

Sebuah foto sekali lihat aku kirim pada ayahku, dengan sebuah kalimat putus asa "Ayah aku ga lolos, maaf yaa".

Namun dari besarnya rasa kecewaku, kalimat jawaban ayah menjadi sebuah penenang bagiku. "gapapa mbaa, coba lagi tes yang lain. Semangat belajarnya, jangan putus asa".

Aku membalas pesan itu dengan satu kata, "Iya, Yah."

Setelahnya, layar ponsel kembali gelap. Aku baru sadar, ayah tidak menyalahkanku. Seolah-olah ia sedang berusaha menanggung kecewa itu sendirian agar aku tidak ikut semakin hancur. Saat itu aku belum tahu bahwa pesan itu hanyalah awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang.

Perjalananku berlanjut, hari hari aku dan teman-temanku lalui seperti biasanya diasrama. Namun anehnya, kami sekarang sedikit lebih sensitif jika ada yang berwarna merah atau menyebut warna tersebut.

" Gimana hasilnya kak?" salah satu adik tingkat kami bertanya saat kami akan menuju kamar.

"KEBAKARAN….KEBAKARAN" kata lelucon kami setiap ada yang bertanya.

" gapapaa kak, semangat yaa" ucapnya menyemangati. Kami hanya menanggapinya dengan senyuman.

Sesampainya dikamar, salah satu dari kami memulai percakapan.

" Itu kaleng biskuit punya siapa sih? kok warnanya merah. BUANG BUANG".

"Itu juga punya siapa lagi bajunya, Jangan ditaruh sini, warna merah soalnya." yang lain ikut menyahuti.

Beberapa dari kami tertawa, entah menertawakan lelucon itu atau mencoba menertawakan nasib kami sendiri.

Kegagalan itu tidak membuatku berhenti terlalu lama. Setelah beberapa hari mencoba berdamai dengan diri sendiri, aku mulai membuka kembali buku-buku yang sempat kutinggalkan. Seusai kegiatan pondok, ketika teman-temanku mulai beristirahat, aku memilih duduk di sudut kamar dengan setumpuk soal UTBK. Tidak semua soal bisa ku jawab. Bahkan lebih sering aku menghela napas karena salah berkali-kali. Namun setiap jawaban yang keliru justru menjadi pengingat bahwa masih banyak yang harus ku pelajari.

Aku juga mulai mengikuti kesempatan belajar dari program beasiswa yang kudapat. Les yang sebelumnya hanya kupikirkan, akhirnya benar-benar ku ikuti. Setiap kali menemukan informasi try out gratis di web, aku langsung mendaftar tanpa berpikir dua kali. Bagiku saat itu, setiap soal yang ku kerjakan adalah satu langkah untuk mendekatkan diri pada bangku kuliah.

Kini riwayat try out di hpku semakin panjang, tetapi nama kampus impianku masih terasa begitu jauh. Nilai yang kudapat belum selalu memuaskan. Ada hari ketika hasilnya membuatku semakin percaya diri, tetapi tidak sedikit pula yang membuatku kembali mempertanyakan kemampuanku. Meski begitu, aku memilih untuk terus mengulang. Karena aku sadar, yang sedang ku lawan bukan hanya soal-soal UTBK, melainkan rasa takut gagal yang diam-diam terus tumbuh di dalam diriku.

****

Hari yang ku takuti itu datang lagi. Pesan yang sama kembali ku kirim kepada ayah.

"Ayah… nggak lolos, maaf yaa"

Untuk kedua kalinya, aku kembali menatap layar yang sama dengan harapan yang sama. Namun kegagalan kali ini terasa berbeda. Bukan karena hasilnya. Melainkan karena jawaban yang ku terima.

"Kepiye sih mbak?" (gimana sih mbak?) jawab ayah setelah mengetahui kegagalanku.

Aku terdiam. Tanganku melemah, hp itu terjatuh dari tanganku. Sejenak aku meninggalkan room chat ku dengan ayah. Merenungkan kekalahanku. Lagi.

Isak ku mulai terdengar. Kini yang ku sesali bukan karena aku tidak berusaha. Yang kusesali adalah belum mampu memberikan hasil yang sepadan dengan harapannya

.

Seketika aku teringat antusias ayah ketika mengantarkan ku tes waktu itu. Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya demi aku, harapan pertamanya.

"Ayo mbak, nanti sampai sananya siang kalo sekarang belum berangkat"

"Iyaa, sebentar"

"Sarapan dulu mbak" suruh ibu ku di pagi itu.

"Ngga usah bu, nanti disana aja nanti makan roti" ucapku lalu segera berpamitan takut telat.

Kami berangkat setelah sholat subuh, karena harus menempuh perjalanan yang cukup jauh. Selama perjalanan ayah menjelaskan bangunan-bangunan bahkan jalan-jalan yang kami lewati.

" Sebenarnya kita bisa lewat sana mbak, cuma nanti lebih jauh"

"Kalo misalnya mau ke UGM nanti lewatnya sana"

Atau apalah, aku tidak mengingat begitu jelas mengenai perkataannya. Tapi aku sangat menyukainya. Kebiasaan ayah yang tidak pernah berubah sedari aku kecil.

Saat itu aku hanya mengangguk sambil sesekali menjawab perkataan ayah. Pikiranku dipenuhi bayangan ruang ujian yang sebentar lagi akan ku datangi. Baru setelah semuanya berlalu, aku menyadari bahwa perjalanan pagi itu bukan sekadar perjalanan menuju tempat tes. Ayah sedang mengantarkan ku membawa harapan yang bahkan lebih besar daripada yang mampu ku ucapkan.

Meski begitu, aku belum ingin menyerah. Masih ada kesempatan yang ingin kucoba, yaitu Ujian Mandiri Universitas Gadjah Mada. Sejak hari itu aku sering mencari informasi melalui cerita sepupuku yang berhasil menjadi bagian dari kampus itu. Diam-diam aku juga ingin berjalan di lorong yang sama, mengenakan almamater yang sama, dan membawa kabar bahagia untuk kedua orang tuaku.

Waktu terus berjalan. Setelah menyelesaikan seluruh kegiatan di pondok, kami dipulangkan lebih awal menjelang wisuda. Hari-hariku yang semula dipenuhi suara teman-teman sekamar kini berganti dengan suasana rumah. Meski tempatku belajar berubah, tujuanku tetap sama: mencari satu kesempatan lagi untuk menjadi mahasiswa.

Aku kembali belajar. Kembali mengerjakan soal. Kembali berharap.

Namun harapan itu lagi-lagi harus ku telan bersama kata "belum".

Setelah beberapa kali gagal, aku hampir kehabisan keberanian untuk mencoba lagi. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar di Universitas Islam Negeri. Entah mengapa, saat mengisi formulir itu aku terlalu banyak berpikir. Sebenarnya tidak ada jurusan yang ingin aku tuju. Hanya saja jurusan bahasa dan sastra arab menarik perhatianku. Mungkin karena bahasa Arab bukan sesuatu yang asing bagiku. Bertahun-tahun di pondok telah memberiku perkenalan bahasa arab yang selama ini tidak kusadari nilainya.

****

Ketika kesempatan mengikuti seleksi UIN datang, persiapanku justru terasa lebih sederhana. Aku hanya sempat menonton beberapa video pembahasan di YouTube dan mengerjakan satu try out sebagai latihan terakhir. Anehnya, aku tidak lagi terlalu panik. Aku yakin aku bisa kali ini.

Hari itu tiba,aku melangkah memasuki ruang ujian dengan perasaan yang berbeda. Masih ada rasa takut, tetapi kali ini aku tidak datang hanya membawa harapan. Aku datang membawa semua doa, air mata, bayang-bayang soal yang pernah ku kerjakan , serta keyakinan bahwa setiap kegagalan sebelumnya telah mengajarkanku sesuatu.

Ujian itu akhirnya selesai. Aku melangkah keluar ruangan sambil menarik napas panjang. Tidak ada lagi yang bisa ku ubah. Semua jawaban telah kutinggalkan bersama beberapa soal yang ku kerjakan beberapa menit sebelumnya.

Di perjalanan pulang, aku tidak lagi sibuk menebak-nebak jawabanku sendiri. Pengalaman mengajariku bahwa mengingat soal hanya akan membuatku semakin gelisah. Kali ini aku memilih menikmati perjalanan yang ku lalui bersama ayah. Sesekali beliau kembali bercerita tentang jalan yang kami lewati, tentang bangunan-bangunan yang berdiri di sepanjang perjalanan, persis seperti kebiasaannya sejak dulu. Aku hanya mengangguk sambil sesekali tersenyum. Entah mengapa, perjalanan pulang terasa jauh lebih tenang dibanding perjalanan berangkat.

****

Jam menunjukkan pukul tiga sore. Beberapa orang mulai bersorak karena pengumuman sudah bisa diakses. Ada yang langsung membuka, ada pula yang sibuk bertanya hasil satu sama lain. Sementara itu, aku hanya mematikan layar ponselku. Entah mengapa, kali ini aku benar-benar belum siap jika harus membaca kata yang sama untuk keempat kalinya.

"Nanti aja," gumamku pelan.

Aku memilih menghabiskan sore seperti biasa, meski pikiranku terus kembali pada satu hal yang belum berani kubuka.

Malam itu ayah pulang setelah salat Isya. Seragam kerjanya bahkan belum sempat diganti ketika beliau bertanya kepada ibu,

"Pengumumannya sudah dibuka belum?"

Ibu menggeleng pelan.

"Belum. Dari tadi belum berani buka katanya."

Ayah menatapku sambil tersenyum kecil.

"Buka saja, Mbak. Apa pun hasilnya, kita terima sama-sama.

Jemariku kembali gemetar saat menekan tombol lihat hasil. Rasanya sama seperti beberapa bulan lalu, hanya saja kali ini ayah berdiri di sampingku.

Halaman itu perlahan terbuka.

Aku terdiam.

Untuk beberapa detik aku bahkan lupa bagaimana caranya bernapas.

"Kenapa, mbak?" tanya ayah pelan.

.

Air mataku jatuh lebih dulu sebelum suaraku keluar.

"Yah… aku keterima."

Tangis haru memenuhi ruangan. Ayah dan ibu mengucapkan selamat kepadaku.

****

Aku memang tidak diterima di jurusan yang pertama kali kupilih. Namun ternyata Tuhan tidak sedang menutup jalanku, melainkan mengarahkannya ke jalan lain.

Bertahun-tahun belajar di pondok ternyata bukan bagian yang tertinggal di masa lalu. Justru di sanalah bekal itu disiapkan. Awalnya aku bermimpi menjadi seorang penulis maka aku akan ambil jurusan sastra indonesia. Namun sastra Arab bukan akhir dari mimpi menjadi seorang penulis. Mungkin jalannya saja yang berubah. Mungkin melalui bahasa Arab aku bisa mewujudkan mimpiku yang lain yaitu mengenal dunia yang lebih luas, bahkan suatu hari nanti aku dapat menapakkan kaki di negeri yang dulu hanya berani kubayangkan.

Malam itu aku tidak hanya diterima sebagai mahasiswa. Malam itu aku belajar bahwa terkadang mimpi tidak gagal, hanya memilih jalan yang berbeda untuk sampai.

Ternyata Allah tidak mengambil mimpiku. Ia hanya mengubah jalannya.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *