DEAR, DIARY
Oleh: Laura Dewi Angelina
Bab 1: Harapan dari Batam
Nama saya Laura Dewi Angelina, seorang siswi yang berasal dari Batam. Hari ini, saya ingin membagikan sebuah kisah tentang perjuangan nyata dalam meraih masa depan yang sudah lama saya impikan. Tulisan ini saya dedikasikan demi harapan kedua orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, dan membiayai hidup saya hingga detik ini. Saya sengaja menuliskan seluruh pasang surut kisah ini agar di masa depan nanti, saya selalu bisa mengingat kembali masa-masa berharga yang mungkin saja terlupakan.
Saya hanyalah anak dari keluarga yang biasa saja—tidak miskin, namun juga tidak kaya. Ayah saya mengabdi sebagai seorang guru ngaji di sebuah pondok pesantren, sedangkan Ibu adalah seorang ibu rumah tangga. Lahir sebagai anak tertua dengan empat orang adik laki-laki dan perempuan membuat saya memikul tanggung jawab besar di pundak seorang kakak.
Perjalanan ini dimulai ketika Ayah memberikan rekomendasi kampus agar saya berkuliah di dekat tempat tinggal Bibi saya di Surabaya. Beliau menyarankan beberapa kampus besar, yaitu ITS, UNAIR, dan UNESA.
Bab 2: Tamparan di Jalur SNBP
Saat pendaftaran SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi) dibuka, pilihan saya jatuh sepenuhnya pada UNESA. Pertimbangan saya saat itu sederhana; rata-rata nilai rapor untuk lolos ke UNESA dirasa tidak setinggi dan sesulit ITS atau UNAIR.
Jujur, dari awal saya tidak terlalu menaruh harapan tinggi pada jalur SNBP ini. Keinginan awal saya sebenarnya hanyalah mengikuti kursus keterampilan biasa. Di pikiran saya, dunia perkuliahan pasti akan sangat melelahkan dengan segala kepadatan aktivitasnya. Namun, karena berkuliah adalah permintaan langsung dari Ayah, saya memantapkan hati untuk tetap melangkah. Apa pun yang bisa membuat Ayah senang dan bahagia, akan saya lakukan dengan sepenuh hati.
Proses administrasi SNBP berjalan tanpa kendala berarti karena modal utama saya hanyalah nilai rapor SMA. Meskipun nilai saya tidak bisa dikatakan luar biasa bagus, saya tetap bersyukur karena terpilih menjadi salah satu siswa eligible di sekolah.
Hari pengumuman yang dinanti-nanti pun tiba. Ketika masuk ke laman resmi dan membuka hasilnya, sebuah kotak merah muncul di layar. Saya sudah menduganya; saya ditakdirkan untuk tidak lolos pada tahap ini. Tidak ada tangisan ataupun penyesalan yang berlebihan malam itu, karena saya tahu ini adalah bagian dari konsekuensi pilihan saya sendiri.
Saat Ayah menelepon dan menanyakan hasilnya, saya menjawab apa adanya. Saya tidak bisa melihat bagaimana raut wajahnya secara langsung karena posisi saya sudah berada di Surabaya, sedangkan keluarga besar berada di Batam. Namun, mendengar getaran suara Ayah melalui sambungan telepon malam itu entah mengapa langsung membuat pikiran saya berkecamuk. Rasa bersalah karena gagal mulai membayangi saya.
Sumber: Dokumen Tangkapan Layar Pribadi, 2026.
Bab 3: Badai SNBT dan Titik Terendah
Enggan tenggelam dalam kesedihan, saya berusaha tegar dan langsung mengalihkan fokus untuk melanjutkan perjuangan di jalur UTBK-SNBT. Saya memutuskan masuk ke lembaga les persiapan ujian. Tekad saya kali ini jauh lebih bulat dibanding saat SNBP; saya benar-benar bersungguh-sungguh ingin menembus dua kampus pilihan saya, yaitu UNESA dan UNAIR.
Saya belajar mati-matian hingga di satu titik, tekanan mental membuat saya kehilangan nafsu makan selama beberapa hari. Namun, di pertengahan masa les, saya justru merasa stagnan. Saya merasa diri ini tidak berkembang dan tetap tidak mengerti materi apa pun yang diujikan, padahal sudah mengerahkan seluruh kemampuan untuk belajar dan menghafal.
Keputusasaan itu membawa saya pada keinginan untuk berhenti. Saya merasa mengikuti kelas les ini hanya membuang waktu dan biaya secara sia-sia. Memorinya membawa saya kembali pada trauma masa lalu—sejak SD, SMP, hingga SMA, saya sering mengikuti les, namun selalu berakhir dikeluarkan karena nilai saya yang terus menurun. Padahal, saya selalu mencoba mengikuti semua alurnya dengan patuh.
Pertanyaan menyakitkan mulai muncul di hati saya: “Apa yang salah dengan diri saya? Mengapa saya harus menjalani hidup yang sesulit ini?” Kadang, saking sulitnya mengimbangi tekanan belajar, saya merasa sangat lelah hingga perlahan-lahan merasa asing dengan diri saya sendiri.
Di tengah kebimbangan antara melanjutkan dan berhenti, saya meminta saran kepada seorang teman. Setelah saya menumpahkan seluruh cerita panjang lebar, kalimat dari teman saya malam itu berhasil menyadarkan saya: karena dari awal saya sudah bertekad untuk lolos, maka saya harus menyelesaikannya sampai akhir.
Ketika hari pelaksanaan ujian UTBK tiba, perasaan saya terasa datar. Ada beberapa soal yang bisa saya selesaikan dengan baik, namun tidak sedikit pula yang terpaksa saya lewati begitu saja. Kendati demikian, jauh di lubuk hati, saya menaruh harapan besar setidaknya bisa lolos di salah satu kampus pilihan. Ketakutan itu terus menghantui pikiran saya setiap hari, mulai dari pagi, siang, sore, hingga menjelang tidur.
Hari pengumuman hasil UTBK pun tiba. Rasa takut yang luar biasa membuat saya sengaja menunda untuk membuka situs pengumuman. Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba HP saya berdering, memperlihatkan panggilan telepon dari Ayah. Karena belum siap mental dan belum mengetahui hasilnya, saya memilih untuk tidak mengangkat telepon tersebut.
Baru beberapa jam kemudian, setelah berhasil mengumpulkan sisa keberanian, saya membuka hasilnya. Dan ya… kenyataan pahit kembali menghantam saya di luar dugaan. Takdirnya masih sama persis seperti SNBP; tidak ada satu pun dari kedua kampus tersebut yang menerima saya.
Sumber: Dokumen Tangkapan Layar Pribadi, 2026.
.
Pertahanan saya runtuh seketika. Saya menangis sejadi-jadinya, marah, dan terus mempertanyakan apa kesalahan besar yang telah saya perbuat hingga kegagalan ini harus terulang lagi. Dalam hati, rasanya dunia kiamat hari itu juga. Semua usaha keras, waktu, dan energi yang saya kerahkan
terasa menguap sia-sia. Saya benar-benar kehilangan daya dan tidak tahu bagaimana cara menyampaikan berita duka ini kepada Ayah. Keesokan harinya, tubuh saya ambruk. Saya menderita demam tinggi, disertai sakit perut hebat yang luar biasa menyakitkan, dan ditambah lagi sakit gigi
yang menyiksa di saat bersamaan. Hari itu resmi menjadi hari terburuk dan paling menyiksa dalam hidup saya.
Hari demi hari berikutnya berlalu dengan penuh penyesalan. Pikiran saya terkunci pada pertanyaan tanpa jawaban mengenai kesalahan apa yang sebenarnya telah saya lakukan. Di tengah kekacauan mental tersebut, satu-satunya tempat saya mengadu adalah teman saya. Tanpa lelah, dia selalu mengirimkan kalimat penguat: "Kamu pasti bisa, selalu semangat ya." Kalimat sederhana itu menjadi satu-satunya hal yang membuat saya sedikit tenang, meskipun di sisi lain saya juga dirundung rasa takut jika pada akhirnya harus mengecewakannya.
Tidak hanya itu, kabar buruk kembali datang ketika saya memeriksa pengumuman jalur beasiswa Mandiri dari Telkom University (Tel-U) yang saya ikuti sebagai cadangan; nama saya kembali tercantum di daftar ketidaklulusan. Saat itu, saya benar-benar merasa kehilangan seluruh energi kehidupan.
Sumber: Dokumen Tangkapan Layar Pribadi, 2026.
Bab 4: Kebangkitan dan Pilihan Terakhir
Butuh waktu lebih dari seminggu hingga kondisi fisik saya benar-benar pulih dari sakit. Perlahan, saya mulai menata kembali puing-puing semangat dan berpikir jernih tentang langkah selanjutnya. Satu-satunya pintu yang tersisa untuk masuk perguruan tinggi negeri hanyalah jalur mandiri. Namun, trauma mendalam membuat saya dilingkupi ketakutan akan kegagalan yang sama.
Saya sempat membulatkan niat untuk berbicara jujur kepada Ayah bahwa saya ingin menyerah saja dari dunia perkuliahan dan memilih kursus. Namun, sebelum kalimat pasrah itu sempat keluar dari mulut saya, Ayah mendahului dengan pertanyaan hangat: "Kamu mau mendaftar kuliah di mana lagi?"
Detik itu juga, hati saya berdesir. Saya langsung tersadar bahwa Ayah belum mengizinkan saya untuk menyerah. Masih ada satu babak perjuangan lagi yang harus saya selesaikan demi melihatnya tersenyum bangga. Saya mengingat kembali betapa banyaknya materi dan uang yang sudah Ayah keluarkan demi membiayai kelas les dan pendaftaran UTBK saya. Semuanya beliau lakukan demi masa depan saya, namun saya malah membalasnya dengan kekecewaan. Untuk menebus kekalahan itu, saya berjanji akan mengerahkan seluruh sisa energi di jalur Mandiri ini. Apa pun caranya, saya harus diterima.
Saya mendedikasikan seluruh hidup saya dari pagi hingga malam hanya untuk berburu informasi pendaftaran. Total ada lima kampus berbeda yang saya kumpulkan dan daftarkan, membentang dari wilayah Surabaya, Malang, hingga Madura. Prinsip saya saat itu: jika satu kampus menolak, saya harus langsung siap dengan dokumen penggantinya. Namun, badai belum sepenuhnya reda; dua kampus pertama dari daftar mandiri tersebut kembali mengirimkan surat penolakan, membuat benteng ketakutan di dalam diri saya semakin membesar.
Di tengah kepanikan tersebut, Ayah kembali menelepon saya. Di luar dugaan, beliau justru menyuruh saya untuk mencoba mendaftar di UNESA sekali lagi. Mendengar kalimat itu, saya hanya bisa terdiam. Ketakutan terbesar saya adalah harus menghadapi kenyataan ditolak oleh UNESA untuk ketiga kalinya, padahal saya sudah menaruh kesetiaan penuh pada kampus itu sejak jalur SNBP dan SNBT.
Awalnya saya sudah berniat berhenti mengejar UNESA karena keyakinan batin bahwa saya akan ditolak lagi. Namun, saya tidak pernah bisa menolak permintaan tulus dari Ayah. Dengan sisa keberanian yang ada, terpaksa saya mendaftarkan diri ke UNESA untuk terakhir kalinya. Sejak saat itu, saya berhenti mencari alternatif kampus lain dan menumpahkan seluruh fokus serta doa saya pada pengumuman UNESA.
Bab 5: Air Mata Bahagia dan Janji Masa Depan
Beberapa jam sebelum pengumuman resmi kelulusan dibuka, HP saya bergetar menampilkan panggilan video call dari Ayah. Saat saya angkat, layar memperlihatkan seluruh keluarga besar di Batam sedang berkumpul, mengobrol, dan tertawa bersama. Melihat kebahagiaan mereka di tengah situasi saya yang sedang tegang memberikan kehangatan tersendiri di hati saya.
Di tengah obrolan video call tersebut, saya teringat bahwa waktu pengumuman telah lewat beberapa menit. Dengan tangan gemetar, saya membuka situs resmi pengumuman kelulusan UNESA menggunakan laptop.
Seketika itu juga, seluruh tubuh saya terasa menggigil hebat dan detak jantung saya berdegup kencang. Di layar monitor, sebuah surat keputusan resmi terpampang jelas dengan logo Universitas Negeri Surabaya di bagian atasnya. Mata saya terpaku pada baris kalimat yang menyatakan nama LAURA DEWI ANGELINA resmi diterima sebagai mahasiswa baru pada program studi D4 MANAJEMEN INFORMATIKA melalui jalur SPMB NONTES RAPOR.
Sumber: Dokumentasi Keluarga Laura. Sumber: Dokumentasi Pribadi
Bersama teman-teman
Sumber: Dokumen Tangkapan Layar Pribadi, 2026.
Rasanya seperti sebuah impian besar yang selama ini melayang jauh tiba-tiba jatuh tepat di pelukan saya. Dengan suara bergetar dan perasaan gembira yang membuncah, saya langsung berteriak memberi tahu Ibu yang saat itu sedang berbicara di telepon. Kebahagiaan itu menular seketika melintasi lautan Surabaya dan Batam; Ibu langsung memanggil Ayah dengan histeris untuk memberi tahu bahwa anak perempuan mereka akhirnya lolos.
Jujur, saya merasa sangat bersyukur karena momen sakral kelulusan ini bisa disaksikan langsung oleh seluruh keluarga saya. Hari itu resmi tercatat sebagai hari paling membahagiakan dalam hidup saya, karena pada akhirnya, saya berhasil mengembalikan senyuman bahagia di wajah Ayah.
Jika menengok ke belakang, ini adalah murni keajaiban dari sebuah perjuangan. Kalau bukan karena keteguhan Ayah yang terus mendorong dan memaksa saya memilih UNESA, mungkin saya sudah menyerah dan mengubur mimpi ini sejak lama. Saya juga tidak akan pernah melupakan jasa teman baik saya yang selalu bersedia menjadi pendengar setia dan penguat utama di masa-masa paling kelam dalam hidup saya. Mungkin suatu hari nanti saya akan menulis cerita tentang dirinya. Saya berjanji akan membalas semua ketulusan dan kebaikan mereka pada masa depan.
Langkah awal saya secara resmi dimulai dari jurusan D4 Manajemen Informatika UNESA. Dari sini, saya berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk menjadi orang yang sukses, menjadi kebanggaan penuh bagi kedua orang tua, serta menjadi teladan yang baik bagi keempat adik saya. Ini adalah janji suci yang akan saya bawa erat menuju masa depan.
Cita-cita terbesar saya adalah menjadi seorang CEO di perusahaan teknologi terkemuka yang mampu membawa perubahan masif pada dunia modern. Suatu hari nanti, saya pasti akan membawa keluarga besar dan teman-teman terbaik saya berdiri bersama, menikmati indahnya matahari terbenam di tengah-tengah dunia megah yang sudah berhasil saya bangun dengan tangan saya sendiri. Dan itulah impian terbesar hidup saya.
