Kisah Perjuangan Saya Meraih Kampus Impian

Karya: Lina Husniah

Saat saya masih duduk di bangku SMA, saya merasa sangat bersyukur karena terpilih menjadi siswa eligible. Itu artinya saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi agar bisa masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Waktu itu saya benar-benar berharap bisa lolos ke jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, karena saya ingin membuktikan bahwa saya juga bisa meraih masa depan yang baik lewat pendidikan.

Setiap hari saya selalu berdo`a dan berharap agar mendapatkan laman website warna biru ucapan selamat. Tetapi ternyata, hasilnya tidak sesuai harapan. Saya dinyatakan tidak lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi {SNBP}. Jujur, saat itu saya benar-benar sedih dan patah hati. Rasanya seperti semua usaha saya selama sekolah sia-sia. Saya sempat kehilangan semangat dan merasa kecewa dengan diri sendiri.

Namun, guru-guru saya terus memberi semangat. Mereka bilang kalau kegagalan bukan akhir dari semuanya. Dari situ saya mulai mencoba bangkit lagi dan mempersiapkan diri untuk mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes {SNBT}.

Saya belajar selama tiga bulan penuh. Hampir setiap hari saya mengerjakan latihan soal, belajar sampai malam, dan mencoba memahami materi yang belum saya kuasai. Perjalanan itu benar-benar melelahkan, tapi saya terus bertahan karena saya masih punya mimpi yang ingin saya capai.

Sebelumnya,saya memilih dua program studi saat mendaftar SNBT. Pilihan pertama saya adalah Pendidikan Bahasa Inggris dan pilihan kedua adalah Hukum. Sebenarnya saya sangat berharap bisa lolos di Pendidikan Bahasa Inggris,karena sejak awal saya lebih tertarik dengan jurusan tersebut. Sedangkan jurusan Hukum saya pilih karena saran dari guru BK.

Dan akhirnya, pada tahun 2025 saya berhasil lolos di jurusan Hukum melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes. Saat saya melihat laman website berwarna biru dengan tulisan, “Selamat! Anda dinyatakan lolos SNBT 2025 di jurusan Hukum,” saya benar-benar menangis haru. Rasanya seperti semua rasa sakit, kecewa, takut, dan perjuangan yang saya lewati selama ini akhirnya terbayarkan. Saya sampai tidak percaya bahwa setelah semua proses panjang itu, akhirnya saya bisa membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu.

Tetapi di balik rasa bahagia itu, sebenarnya saya juga sedikit kecewa karena saya tidak lolos di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang memang sangat saya inginkan dari awal. Saya sempat merasa bingung dengan perasaan saya sendiri, karena di satu sisi saya bersyukur bisa lolos SNBT, tetapi di sisi lain jurusan yang saya dapatkan bukan jurusan yang paling saya harapkan.

Seiring waktu berjalan, saya mulai memikirkan semuanya kembali. Saya merasa belum siap mengambil jurusan tersebut. Saya pun berkata kepada ibu saya, “Ma,kayaknya aku nggak bisa ambil jurusan Hukum itu, karena belum paham tentang sistem pemerintahannya.” Saat itu saya benar-benar merasa belum siap untuk menjalani dunia perkuliahan.

Karena itu, saya memutuskan untuk mengambil gap year. Saya memilih menunda kuliah selama satu tahun karena ingin mencari pengalaman kerja terlebih dahulu dan mempersiapkan diri dengan lebih matang.

Akhirnya saya bekerja sebagai marketing perbankan selama lima bulan. Dari pekerjaan itu saya belajar banyak hal tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan bagaimana menghadapi dunia kerja. Walaupun capek, pengalaman itu membuat saya menjadi lebih dewasa.

Setelah lima bulan bekerja, saya memutuskan untuk keluar karena ingin fokus belajar Seleksi Nasional Berdasarkan Tes {SNBT} lagi. Saya belajar selama enam bulan berturut-turut dengan sungguh-sungguh demi bisa mendapatkan hasil yang lebih baik. Hampir setiap malam saya belajar ditemani buku, laptop, dan latihan soal. Saya benar-benar memanfaatkan waktu itu untuk memperbaiki diri dan mengejar impian saya. Karena perjuangan belajar selama enam bulan itulah, akhirnya saya bisa lolos di Universitas Indonesia.

Tetapi ada satu hal yang membuat perjalanan belajar saya terasa berbeda. Saya tidak merasa sendirian, karena selalu ada yang menemani saya belajar malam, yaitu kucing saya yang bernama Putih. Putih selalu ada di dekat saya. Kadang dia tidur di atas buku saya, kadang juga tidur di atas laptop saya. Hal kecil itu membuat saya merasa tenang dan ditemani.

Bagi orang lain mungkin Putih hanya seekor kucing biasa, tetapi bagi saya Putih adalah teman perjuangan saya. Saat saya lelah belajar, melihat Putih tidur di dekat saya membuat saya kembali semangat.

Namun, di saat saya sedang mendekati waktu tes, Putih malah meninggal dunia. Dia pergi meninggalkan saya untuk selamanya. Saat itu saya benar-benar merasa kehilangan dan kesepian. Saya sempat putus asa karena biasanya selalu ada Putih yang menemani saya belajar malam.

Kepergian Putih membuat saya menangis karena belum bisa menerima kenyataan tersebut. Rasanya sangat berat kehilangan teman yang selalu menemani proses perjuangan belajar. Melihat saya terus menangis, bapak akhirnya membawa Putih untuk dikuburkan,Sebelum menguburkannya, bapak berkata kepada saya ’’Sudah ikhlaskan saja. Lagi pula semua makhluk yang bernyawa, mau manusia ataupun hewan, pasti akan meninggal.’’ Walaupun kata-kata itu terdengar sederhana, perlahan saya mulai belajar menerima kehilangan dan mencoba mengikhlaskan kepergian Putih’.

Tetapi saya sadar, saya tidak bisa berhenti sampai di situ. Saya masih punya cita-cita yang harus saya raih. Saya percaya mungkin jalan menuju impian saya memang harus melalui perjuangan yang lebih besar lagi.

Saya juga ingin menunjukkan kepada Putih bahwa selama saya ditemani olehnya, semua perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Dan saya yakin, di mana pun Putih berada sekarang, dia pasti bangga melihat saya terus berjuang dan tidak menyerah.

Dan akhirnya, pada tahun 2026 saya kembali mendapatkan kabar bahagia karena berhasil lolos di jurusan Administrasi Perkantoran Universitas Indonesia. Namun, saya memutuskan untuk mengundurkan diri karena biaya Uang Kuliah Tunggal {UKT} yang cukup besar dan kondisi ekonomi yang harus saya pertimbangkan.

Saya sempat berpikir bahwa dulu saya sangat ingin sekali bisa kuliah di kampus negeri, karena menurut saya kampus negeri itu bagus, apalagi kampus yang termasuk top university. Saat itu pola pikir saya hanya satu, yang penting bisa masuk negeri. Saya merasa bahwa kampus negeri adalah tujuan utama yang harus dicapai.

Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai sadar bahwa tidak semua hal harus sesuai dengan gengsi atau standar hidup orang lain. Dari situlah saya mulai memahami bahwa kuliah tidak harus selalu di kampus negeri.

Menurut saya, kuliah yang sebentar lagi akan saya jalani juga merupakan bagian dari kampus impian saya. Karena pada akhirnya, kampus impian bukan hanya tentang nama besar atau status negeri dan swasta, melainkan tentang tempat yang membuat kita nyaman untuk belajar, berkembang, dan memperluas wawasan untuk menuju masa depan yang baik.

Akhirnya saya memilih melanjutkan di Perguruan Tinggi Swasta {PTS} Universitas Pamulang jurusan Manajemen. Saya memilih kampus tersebut karena biaya kuliahnya terjangkau, waktunya yang fleksible, dan fasilitasnya juga bagus.

Dari semua perjalanan ini, saya belajar bahwa kegagalan, kehilangan, dan rasa sedih bukanlah akhir dari segalanya. Semua itu justru membuat saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih menghargai proses.

Untuk siapa pun yang sedang berjuang masuk kampus impian, jangan pernah takut gagal. Jika kamu gagal di satu jalur, maka cobalah lagi di jalur lainnya. Percayalah, sekali gagal bukan berarti kamu akan terus gagal. Akan ada waktunya kamu berhasil dan mendapatkan jalan terbaikmu sendiri.

Saya bangga karena saya sudah mampu bertahan sejauh ini. Dan saya berharap, kisah perjuangan saya ini bisa menjadi semangat bagi siapa saja yang sedang berjuang meraih kampus impiannya.

Tinggalkan Komentar