Kampus Impian, Jalan Impian

Hai, aku Mawar, mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Jika beberapa tahun lalu ada yang bertanya di mana aku ingin kuliah, jawabanku pasti Universitas Negeri Medan (UNIMED). Saat masih duduk di bangku SMA swasta, aku termasuk siswa eligible yang berhak mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Dengan penuh harapan, aku memilih UNIMED sebagai pilihan pertamaku dengan program studi Sastra Indonesia. Sejujurnya, sampai sekarang aku masih bertanya-tanya mengapa saat itu aku memilih Sastra Indonesia. Mungkin karena saat itu aku hanya mengikuti keyakinan yang muncul dalam diriku. Yang pasti, rezekiku memang mengarah ke sana.

Hari pengumuman SNBP menjadi salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Ketika layar pengumuman menunjukkan warna biru dan tulisan bahwa aku diterima di UNIMED, rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata. Aku sangat bahagia. Semua perjuangan selama SMA terasa terbayar lunas. Setelah itu, aku mulai mempersiapkan berbagai dokumen untuk proses daftar ulang. Aku mondar-mandir mengurus berkas dengan semangat karena merasa selangkah lagi akan menjadi mahasiswa di kampus impianku.
Namun, kebahagiaan itu perlahan berubah menjadi kebingungan ketika UKT diterbitkan. Aku mendapatkan UKT sebesar Rp4.500.000 per semester. Artinya, dalam satu tahun orang tuaku harus membayar sekitar Rp9.000.000 hanya untuk biaya kuliahku. Saat itu kakakku juga masih berkuliah. Aku benar-benar terkejut dan mulai memikirkan kondisi keluarga.

Aku menjadi lebih pendiam dari biasanya hingga orang tuaku menyadari ada sesuatu yang menggangguku. Ketika mereka bertanya, aku menjelaskan tentang besarnya UKT yang harus dibayarkan. Di luar dugaan, respons mereka sangat tenang. Mereka memang sudah memperkirakan bahwa biaya kuliah di perguruan tinggi negeri tidak selalu murah. Orang tuaku kemudian memberikan saran agar aku mempertimbangkan UMSU, tempat kakakku juga berkuliah. Namun mereka tidak pernah memaksaku. Keputusan tetap berada di tanganku.
Aku menghabiskan banyak waktu untuk berpikir. Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku benar-benar yakin dengan jurusan yang kupilih? Apakah aku siap membebani orang tuaku dengan biaya yang cukup besar? Setelah mempertimbangkan banyak hal, aku akhirnya mengambil keputusan yang cukup berat. Aku memilih melepaskan kursi yang sudah kudapatkan di UNIMED dan mendaftar ke UMSU.

Keesokan harinya, aku langsung datang untuk mendaftar. Saat ditanya ingin mengambil jurusan apa, aku kembali dibuat bingung. Anehnya, seperti ada dorongan yang tidak bisa kujelaskan, aku memilih Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Sampai sekarang aku masih sering tertawa sendiri ketika mengingat keputusan spontan tersebut.
Di tengah proses menerima keputusan itu, ada satu hal yang cukup sulit untuk aku hadapi. Sahabat SMA-ku berhasil lolos SNBT di UNIMED. Aku ikut bahagia melihat perjuangannya membuahkan hasil. Namun, di balik kebahagiaan itu tersimpan kesedihan yang tidak pernah benar-benar kuungkapkan.
Aku sering berpikir, "Seharusnya aku juga berada di sana. Seharusnya kami bisa bertemu dan menjalani perkuliahan di kampus yang sama." Bagaimanapun, UNIMED adalah kampus impianku. Melihat sahabatku berjalan menuju kampus yang dulu sangat kuinginkan membuatku sadar bahwa setiap orang memiliki jalan rezekinya masing-masing.

Ujian emosiku ternyata belum berhenti sampai di situ. Tidak lama setelah resmi menjadi mahasiswa UMSU, wali kelasku mengabarkan bahwa ijazah SMA sudah bisa diambil. Saat kembali ke sekolah, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Beberapa teman, guru, staf administrasi, bahkan kepala sekolah tampak heran dengan keputusanku menolak UNIMED dan memilih UMSU.
Aku merasa seolah-olah keputusanku dianggap sebagai sebuah kesalahan. Ada kesan bahwa aku telah menyia-nyiakan kesempatan besar yang berhasil kudapatkan melalui jalur SNBP. Saat itu aku merasa sedih, kecewa, marah, dan bingung secara bersamaan.
Dalam hati aku ingin berkata, "Jika bukan karena biaya UKT yang cukup besar, aku juga ingin berada di sana. Jika kalian ingin aku tetap kuliah di UNIMED, apakah kalian siap membantu membayar biaya kuliahku?"
Namun aku memilih diam. Aku sadar bahwa tidak semua orang memahami kondisi yang sedang dihadapi seseorang. Di saat itulah sahabatku menjadi orang yang menguatkanku. Ia mengatakan bahwa aku tidak mempermalukan nama sekolah sedikit pun. Aku tetap berhasil membuktikan kemampuanku dengan diterima melalui jalur SNBP dan telah menyelesaikan proses daftar ulang.

Bahkan setelah mengikuti PKKMB di UMSU, aku masih menyimpan rasa tidak percaya diri. Aku sempat enggan mengunggah kegiatan kampus di media sosial. Pernah suatu kali aku mengunggah tentang kampusku, tetapi beberapa teman SMA memberikan komentar yang membuatku merasa dihakimi secara halus. Sejak saat itu aku lebih memilih diam.
Memasuki semester pertama, aku masih sering bertanya kepada diriku sendiri, "Apakah aku telah mengambil keputusan yang benar?" Sesekali aku melihat teman-temanku yang berkuliah di UNIMED dan membayangkan bagaimana kehidupanku jika saat itu aku tetap bertahan di sana.
Namun waktu perlahan menjawab semua pertanyaanku.
Di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, aku mulai menemukan hal-hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku belajar bukan hanya tentang bahasa, tetapi juga tentang cara menyampaikan ilmu kepada orang lain. Aku mulai menikmati perkuliahan yang awalnya kupilih tanpa keyakinan penuh.
Lebih dari itu, aku dipertemukan dengan tiga orang yang kini menjadi bagian penting dalam perjalanan kuliahku. Awalnya kami hanyalah mahasiswa biasa yang dipertemukan dalam satu kelas. Aku tidak pernah menyangka bahwa mereka akan menjadi sahabat yang selalu menemani dalam suka dan duka perkuliahan. Bersama mereka, tugas terasa lebih ringan, tawa menjadi lebih sering, dan setiap tantangan terasa lebih mudah untuk dihadapi.
Hingga saat ini aku masih berdoa agar persahabatan kami dapat bertahan sampai hari kelulusan nanti. Karena dari mereka aku belajar bahwa kampus bukan hanya tempat mencari ilmu, tetapi juga tempat menemukan orang-orang yang membantu kita bertumbuh.

Kini, ketika seseorang bertanya apakah aku menyesal tidak berkuliah di kampus impianku, jawabanku adalah tidak.
UNIMED memang kampus impianku. Namun hidup mengajarkanku bahwa tidak semua impian harus dimiliki untuk membawa kebahagiaan. Terkadang, Tuhan mengarahkan kita ke jalan yang berbeda agar kita menemukan tempat yang benar-benar tepat untuk berkembang.
Aku pernah berpikir bahwa keberhasilan adalah ketika berhasil masuk ke kampus impian. Namun hari ini aku memahami bahwa keberhasilan yang sesungguhnya adalah berani mengambil keputusan terbaik sesuai keadaan, menerima kenyataan dengan lapang dada, dan terus berjuang di mana pun kita berada.
UNIMED mungkin adalah kampus impianku, tetapi UMSU adalah tempat yang mengajarkanku arti syukur, penerimaan, persahabatan, dan keyakinan bahwa setiap jalan yang diberikan Tuhan selalu memiliki alasan terbaik di baliknya.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *