E S A I P E S E R TA L O M B A M E N U L I S A R T I K E L 2 0 2 6

Dari Air Mata Sujud hingga Polnes: Mengejar Asa di Balik Ketukan Keyboard Bekas

Oleh: Mayang Auliawati

Tema: Perjuangan Masuk Kampus

Garis awal perjuangan ini tidak pernah bertabur kemudahan. Ketika sebagian besar remaja merayakan kelulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan tawa dan rencana masa depan yang matang, saya justru berdiri di persimpangan jalan yang sunyi. Kebingungan menyelimuti benak saya: apakah saya harus melanjutkan sekolah, atau terpaksa mengambil jeda (gap year) selama satu tahun? Alasan di balik keraguan itu begitu nyata dan menyesakkan dada. Bapak saya, seorang buruh serabutan, saat itu sedang lama tidak mendapatkan panggilan pekerjaan dari atasannya. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang kian tak menentu, rasanya egois jika saya memaksakan diri.

Namun, di dalam hati terkecil, api keinginan untuk belajar menolak padam. Berbekal modal nekat dan doa, saya memutuskan mendaftar di SMK Negeri 11 Samarinda melalui jalur domisili. Pilihan saya jatuh pada bidang yang benar-benar asing bagi saya kala itu: Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Ketika pengumuman keluar dan nama saya dinyatakan lolos sebagai pelajar resmi di SMKN 11 Samarinda, rasa syukur luar biasa membuncah. Sekolah pun menyambut tekad saya dengan tangan terbuka; saya diberikan keringanan luar biasa berupa sistem cicilan untuk pembayaran seragam, serta hadiah sepasang baju putih-abu gratis sebagai bentuk apresiasi atas keteguhan saya untuk terus bersekolah.

SEBUAH AWAL YANG MENGEJUTKAN DAN HANTAMAN REALITAS

Memasuki semester pertama, realitas langsung menghantam saya tanpa ampun. Sebagai anak yang awam, materi pelajaran kejuruan terasa seperti bahasa asing. Bayangkan saja, di awal masuk kelas TKJ, saya bahkan tidak tahu apa itu fungsi sesungguhnya dari keyboard, monitor, ataupun CPU secara mendalam. Di tengah kebingungan itu, sifat saya yang tertutup membuat situasi kian sulit. Saya hanya berani akrab dengan beberapa teman saja. Perasaan salah jurusan terus membayangi setiap malam, berbisik bahwa saya tidak akan mampu bertahan di tempat ini.

Namun, setiap kali keputusasaan itu datang, bayangan wajah kedua orang tua saya langsung hadir memotongnya. Saya teringat betul bagaimana perjuangan Bapak dan Ibu

mengumpulkan rupiah demi rupiah agar saya bisa mencicil baju seragam ini. Pikiran itu menjadi jangkar saya. "Ayo jalani aja dulu, tidak apa-apa, aku pasti bisa," bisik saya pada diri sendiri. Dengan keyakinan kecil yang dirawat setiap hari, saya akhirnya berhasil melampaui semester pertama tersebut.

Tantangan sesungguhnya baru dimulai pada semester kedua. Teori mulai berkurang, digantikan oleh rentetan praktik yang padat. Dalam dunia TKJ, ‘alat perang’ utama yang wajib dimiliki adalah laptop. Sekolah memang menyediakan fasilitas, namun ceritanya berbeda ketika tugas rumah (PR) mulai menumpuk. Di sinilah fase terberat itu terjadi. Hampir setiap hari setelah bel pulang berbunyi, saya tidak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi kerja kelompok demi meminjam laptop teman bergantian untuk menyelesaikan tugas.

"Ada momen di mana rasa lelah, sedih, dan cemas bercampur aduk menjadi satu. Setiap malam, air mata saya tumpah di atas sajadah dalam keheningan sujud. Dalam doa yang bergetar, saya memohon: ‘Ya Allah, semoga ada rezeki lebih untuk membeli laptop ya Allah, Aamiin…’"

Melihat anak gadisnya pulang larut malam hampir setiap hari demi mengantre pinjaman laptop teman, hati Ibu teriris. Beliau tidak tega melihat fisik dan mental saya terkuras habis. Hingga pada suatu hari, Ibu mengambil keputusan besar yang tak akan pernah saya lupakan: beliau menjual satu-satunya kalung emas peninggalan dari almarhum bapaknya (kakek saya). Ditambah dengan sedikit uang beasiswa yang saya terima, Ibu membawa pulang sebuah laptop bekas bermerek Acer Aspire 3.

Gambar 1.1 Laptop Acer Aspire 3 bekas pemberian ibu, saksi bisu perjuangan mengejar impian akademik

Bagi sebagian orang, laptop bekas mungkin bukan sesuatu yang mewah. Namun bagi saya, Acer Aspire 3 bekas itu adalah sebuah mahakarya pengorbanan seorang ibu. Dengan laptop itulah saya membalas budi. Saya gunakan setiap detiknya untuk mengejar ketertinggalan materi pada semester sebelumnya. Hasilnya, saya berhasil menyelesaikan semester kedua dengan catatan prestasi yang baik.

TITIK BALIK, EKSPLORASI DIRI, DAN DUNIA BARU DI TEMPAT PKL

Menginjak kelas 11 semester pertama, rasa percaya diri saya mulai tumbuh subur. Didorong oleh rasa syukur atas adanya laptop baru, saya memutuskan keluar dari zona nyaman. Saya tidak ingin lagi menjadi Mayang yang tertutup. Saya memberanikan diri mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tari dan Palang Merah Remaja (PMR). Melalui organisasi ini, kemampuan sosialisasi saya terasah tajam, dan saya mulai berani tampil berbicara di depan umum.

Di bidang akademik, lompatan besar terjadi. Kehadiran laptop di rumah membuat saya bisa belajar secara mandiri kapan saja, bahkan mempelajari materi yang belum diajarkan di kelas. Grafik nilai saya melonjak drastis secara eksponensial. Jurusan TKJ yang awalnya saya benci dan saya anggap ‘salah alamat’, perlahan berubah menjadi passion terbesar saya. Di titik inilah impian masuk ke perguruan tinggi mulai dipahat dengan tegas. Saya mematok target utama: kuliah di Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) dengan pilihan utama D4 Rekayasa Perangkat Komputer di Jurusan Teknologi Informasi, dan pilihan kedua D3 Teknik Komputer.

Semester kedua kelas 11 berjalan dengan ritme yang sangat dinamis. Sebagai tim tari, waktu saya banyak tersita untuk mempersiapkan penampilan dispensasi latihan demi acara kelulusan kakak kelas. Meski raga lelah dan fokus terbagi, komitmen terhadap akademik tidak boleh goyah sedikit pun. Saya tetap menjaga stabilitas nilai rapor saya, dan Alhamdulillah, semuanya tetap bertahan di jalur aman.

Gambar 1.2 Dokumentasi penampilan tim tari saat memeriahkan acara perpisahan kakak kelas.

Momen penempaan mental berikutnya hadir saat saya menduduki kelas 12 semester pertama, yaitu masa Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Balai Karantina Kesehatan (BKK) Kelas I Samarinda. Di sana, saya benar-benar mencicipi bagaimana dunia kerja yang sesungguhnya berjalan. Pengalaman PKL menjadi begitu indah karena lingkungan kerja yang sangat suportif. Saya mendapatkan bimbingan dan kebaikan luar biasa dari Ibu Fifie selaku Kepala Kantor, Ibu Ratna di bagian Adum, Dr. Sandra sebagai pembimbing langsung saya, serta seluruh staf seperti Pak Syahril, Pak Wahyudi, Pak Pawzi, Ibu Lastri, dan lainnya.

Di BKK Kelas I Samarinda pula saya dipertemukan dengan rekan-rekan baru dari berbagai sekolah, serta kakak-kakak mahasiswa yang sedang magang. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Di sela-sela waktu istiraket, saya kerap mengajak kakak-kakak magang berdiskusi. Saya bertanya banyak hal: Bagaimana rasanya sistem perkuliahan? Jalur masuk apa saja yang bisa ditempuh? Bagaimana strategi bertahan di kampus? Penjelasan-penjelasan dari mereka bertindak bagai bahan bakar baru yang membuat tekad saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah semakin membara tanpa ragu.

Gambar 1.3 Kebersamaan para pembimbimbing dan rekan sejawar selama PKL di BKK Kelas I Samarinda

PUNCAK PERJUANGAN DAN LEMBARAN BARU SEBAGAI MAHASISWA BARU

Setelah masa PKL berakhir, saya kembali ke sekolah untuk menghadapi rangkaian ujian akhir yang menentukan kelulusan sekolah: USP, USK, dan UKK. Di tengah hiruk-pikuk persiapan yang menguras energi tersebut, momen mendebarkan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba: pengumuman siswa eligible sekolah.

Saat melihat lembar pengumuman, nama saya tertera dengan jelas di sana. Saya terpilih sebagai salah satu siswa eligible yang berhak mendaftar jalur rapor nasional. Rasa bahagia yang membuncah membuat air mata saya kembali menetes—kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kemenangan kecil. Tanpa membuang waktu, saya mendaftarkan diri pada Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dengan program studi yang telah lama saya impikan.

Tuhan mendengar doa-doa di sepertiga malam saya dan melihat air mata Ibu yang luntur bersama kalungnya. Saya dinyatakan Lolos SNBP di Politeknik Negeri Samarinda, Jurusan Teknologi Informasi pada Program Studi D3 Teknik Komputer. Perasaan lega dan bahagia luar biasa langsung membungkus hati kami sekeluarga. Langkah kaki saya menuju masa depan kini telah memiliki rumah baru.

Gambar 1.4 Bukti cetak kelulusan di jalur SNBP di Politeknik Negeri Samarinda

Meski pengumuman kelulusan kampus sudah di tangan, tanggung jawab di sekolah tetap saya tuntaskan. Saya menyelesaikan rangkaian Uji Sertifikasi Kompetensi (USK) dan Uji Kompetensi Keahlian (UKK) dengan predikat ‘Kompeten’. Semua lelah, peluh, pengorbanan kalung peninggalan Ibu, hingga kerja keras Bapak, dibayar tunai oleh keberhasilan ini. Perjuangan kami tidak berakhir sia-sia.

Kini, saat tulisan ini saya rakit, atmosfer perjuangan itu telah bertransformasi menjadi debaran yang berbeda. Beberapa hari lagi, saya akan mengenakan atribut baru, melangkah masuk ke gerbang kampus, dan mengikuti masa orientasi atau ospek. Ya, saya yang dahulu bingung memikirkan cara membeli seragam, kini resmi berdiri dengan status kebanggaan baru: sebagai Mahasiswa Baru (Maba) Jurusan Teknologi Informasi di Politeknik Negeri Samarinda. Ketukan keyboard bekas dari laptop pemberian Ibu telah berhasil mengantarkan saya sampai ke titik ini.

Melalui tulisan ini, saya, Mayang Auliawati, ingin berpesan kepada teman-teman semua yang mungkin saat ini sedang berjuang di tengah keterbatasan: jangan pernah menyerah pada keadaan. Langit tidak selamanya mendung. Ingatlah sebuah pepatah kuno yang selalu terbukti kebenarannya: "Berakit-rakit ke hulu, berenang-enang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." Sampai jumpa di dunia perkuliahan, salam hangat dari saya, seorang maba yang siap menjemput mimpi!

Tinggalkan Komentar