“Kuliah itu Bukan Untukmu” Kata Mereka. Tuhan Mengajakku Maju.

-Langkah Kecilku Menuju Kampus Impian-

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku…"
(QS. Al-Baqarah: 186).

"Kuliah itu bukan untukmu. Mending kerja, bantu orang tua." Kalimat itu masih kuingat hingga hari ini. Saat mendengarnya, aku hanya terdiam. Bukan karena aku setuju, tetapi karena sebagian kecil hatiku mulai mempercayainya.

Hai, namaku Mirdayanti, biasa dipanggil Mirda. Namaku unik, bukan? Bahkan sejak SD hingga SMA, aku menjadi satu-satunya siswa dengan nama itu di sekolah. Orang tuaku memberikannya dengan penuh cinta, dan sampai hari ini aku masih sangat menyukainya. Sejak kecil aku tumbuh dalam keluarga yang hidup dengan segala kesederhanaan, aku anak keenam dari tujuh bersaudara. Kami sering kali harus menghadapi keterbatasan ekonomi. Keadaan itu membuatku sering bertanya dalam hati, "Apakah aku pantas menjadi seseorang yang berhasil di masa depan?" sedangkan kakak-kakakku bahkan ada yg tidak sampai menamatkan SMA dan mereka sudah berkeluarga.

Di tengah keadaan itu, aku punya satu mimpi sederhana: menjadi sarjana pertama di keluargaku. Orang tuaku hanyalah buruh yang dipercaya menjaga kebun milik orang lain. Dari kepercayaan itu, mereka memanfaatkan lahan yang diizinkan untuk bercocok tanam agar kami tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kami hidup sederhana hingga hari ini, tetapi bagiku orang tuaku adalah orang-orang yang luar biasa. Di balik tangan mereka yang lelah, ada kasih sayang, kerja keras, dan doa yang selalu menguatkanku untuk terus bermimpi.

Saat duduk di bangku SMA, aku sering memikirkan masa depan. Banyak harapan yang tumbuh hingga aku menginjak kelas XII, teman-temanku sibuk memikirkan di kampus mana mereka akan melanjutkan Pendidikan, sedangkan aku disana terus memikirkan “Apakah aku bisa melanjutkan pendidikan sama seperti mereka?” Harapan itu bertambah Ketika aku terpilih menjadi salah-satu siswa eligble di sekolahku. Guruku menyampaikan bahwa aku memiliki kesempatan untuk kuliah dan mendapat beasiswa KIP kuliah yaitu beasiswa untuk siswa dari keluarga yang kurang mampu.

Hari itu, aku pulang kerumah dengan perasaan bahagia dan berniat meminta izin kepada orang tuaku untuk ikut mendaftar di kampus impianku, sesampainya dirumah orang tuaku hanya tersenyum dengan wajah teduh mereka, ada ragu yang aku tangkap dari mata ibuku dan ada takut dari raut wajah ayahku. Aku menunggu satu kata dari mereka sambil meyakinkan mereka dengan berkata “bu, pak. Aku coba daftar dulu ya? Nanti kalo aku ga lolos beasiswa aku gapapa kalo harus mundur.” Saat itu ibuku tersenyum menatapku, beliau berkata “boleh, silahkan, nak”. Sejak hari itu, aku bertekad untuk bisa kuliah dengan beasiswa. Aku mulai belajar mengerjakan soal-soal SNBT sebagai bentuk ikhtiarku. Walaupun ada beberapa kesempatan melalui jalur rapor, seperti SNBP dan SPAN-PTKIN, itu tidak membuatku berpatok pada dua jalur tersebut. Aku ingin terus berusaha semaksimal mungkin.

Di sela-sela persiapanku menggapai impian itu, tidak semua orang percaya aku bisa melakukannya. Bahkan ada orang terdekat yang berkata. "Untuk apa kuliah kalau ujung-ujungnya jadi pengangguran? Kuliah bukan untukmu. Mending kerja, bantu orang tua." Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa sangat membekas di hatiku. Rasanya seperti semua harapan yang selama ini kubangun perlahan runtuh. Untuk beberapa hari, perkataan itu terus terngiang di kepalaku. Aku bahkan sempat bertanya pada diriku sendiri, "Apa benar aku tidak pantas memiliki mimpi sebesar ini?" Aku hampir mempercayai perkataan itu dan memilih berhenti mencoba. Namun setiap kali keraguan datang, aku selalu ingat bahwa mimpi ini bukan hanya tentang diriku, tetapi juga tentang kedua orang tuaku. Aku percaya, kalau Allah sudah menanamkan mimpi ini di hatiku, Dia juga yang akan menunjukkan jalannya. Hari-hariku pun dipenuhi dengan usaha dan doa. Aku tidak pernah lupa meminta rida dan doa ibuku agar Allah memudahkan setiap langkahku. Aku juga bersyukur karena Allah mempertemukanku dengan bulan Ramadan di tengah proses ini. Di bulan yang penuh keberkahan itu, aku semakin yakin bahwa Allah benar-benar dekat dan tidak pernah meninggalkanku.

Sampai akhirnya hari pengumuman SNBP tiba, tepat pada Selasa, 26 Maret 2024 pukul 15.00 WIB. Hari itu aku benar-benar merasa cemas sampai tidak berani membuka laman pengumuman. Aku hanya bisa tersungkur di atas sajadah dengan penuh harap kepada Allah sambil menggenggam ponselku. Tak kusangka, saat itu hujan turun. Aku teringat bahwa hujan adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Aku pun meletakkan ponselku dan kembali menundukkan kepala di atas sajadah. Saat itu hanya ada satu doa yang terus kuucapkan berulang kali, "Allah-ku, jika Engkau rida dengan jurusan, program studi, dan kampus yang kupilih, tolong luluskan aku." Setelah beberapa saat, aku memberanikan diri membuka laman pengumuman. Dalam hitungan detik, layar ponselku menampilkan latar berwarna biru dengan tulisan, "SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS SNBP 2024" Saat itu aku benar-benar terdiam. Air mataku langsung jatuh tanpa bisa kutahan. Berkali-kali kubaca tulisan itu karena takut salah melihat. Ketika aku benar-benar yakin bahwa aku lulus, aku langsung lari kedapur dan menunjukkan layar ponsel itu kepada ibuku. Beliau hanya terdiam beberapa saat, lalu memelukku sambil menangis. Kakak iparku yang saat itu ada di rumah juga ikut menangis. Rumah sederhana kami sore itu dipenuhi rasa syukur. Untuk pertama kalinya aku merasakan bahwa semua usaha, doa, dan air mata yang kami lewati tidak sia-sia.

Sumber: Laman Pengumuman SNBP 2024.

Aku diterima di Program Studi S1 Biologi Universitas Lampung. Kebahagiaanku semakin lengkap ketika beberapa waktu kemudian aku kembali mendapat kabar bahwa aku juga dinyatakan lolos Beasiswa KIP Kuliah. Saat itu aku benar-benar merasakan betapa baiknya Allah dalam hidupku. Aku terus mengingat firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 186, bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya yang memohon kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Dari perjalanan ini aku belajar bahwa usahaku tidak akan berarti apa-apa tanpa pertolongan Allah dan rida dari ibuku.

Aku tidak pernah menyangka bahwa akhirnya aku benar-benar bisa duduk di bangku perkuliahan. Namun, memasuki dunia perkuliahan ternyata menghadirkan banyak tantangan baru. Sebagai mahasiswa Biologi, aku harus menghadapi berbagai praktikum, laporan, tugas, dan materi yang tidak mudah dipahami. Di awal perkuliahan, aku sempat merasa minder sekaligus kagum melihat teman-temanku yang tampak lebih pintar dan lebih percaya diri. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu aku mulai menyadari bahwa setiap orang memiliki garis perjuangannya masing-masing. Saat itu aku meyakinkan diriku bahwa aku tidak perlu menjadi orang lain, cukup menjadi diriku sendiri dan terus berusaha menjadi versi yang lebih baik setiap harinya. Di kampus, aku juga mulai aktif mengikuti organisasi. Hal yang dulu tidak pernah kubayangkan, karena aku adalah orang yang mudah minder. Namun, organisasi mengajarkanku untuk berani mencoba, belajar berbicara di depan orang lain, dan bertemu banyak teman yang membantuku bertumbuh.

Perjalanan ini masih Panjang dan aku masih belajar, banyak mimpi yang ingin kuraih. Aku ingin menyelesaikan kuliahku dengan baik dan tidak menyia-nyiakan usaha,doa serta pertolongan tuhanku selama ini, aku ingin membuktikan bahwa anak dari keluarga sederhana juga bisa menjadi seorang sarjana. Dulu mereka berkata, "Kuliah itu bukan untukmu." Hari ini aku tidak ingin membalas ucapan itu. Aku hanya ingin bersyukur karena Allah tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Di saat banyak orang meragukan langkahku, Dia justru mengajakku terus maju. Kini aku percaya, mimpi tidak memilih siapa yang kaya dan siapa yang sederhana. Mimpi hanya meminta satu hal: jangan berhenti melangkah.

Dari Mirda, untuk kamu yang sedang memperjuangkan kampus impianmu.

Tinggalkan Komentar