Separuh Langit yang Kusisakan

Kisah Perjuangan Meraih Kampus Impian

Semua orang punya versi langitnya masing-masing. Ada yang menyebutnya cita-cita, ada yang menyebutnya ambisi, ada pula yang menyebutnya sekadar mimpi, sesuatu yang indah untuk ditatap dari kejauhan, namun terlampau jauh untuk dijangkau. Langitku bernama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Bukan karena aku ingin terlihat hebat di mata orang-orang kampung. Bukan pula karena ikut-ikutan tren. Melainkan karena suatu sore di bulan Juli, ketika aku berusia tiga belas tahun, aku menyaksikan ibuku menangis diam-diam di depan lembar tagihan rumah sakit yang ia lipat berkali-kali seolah melipat rasa malunya sendiri. Sejak hari itu, aku memutuskan bahwa aku akan menjadi dokter bukan untuk mencari kaya, tetapi untuk memastikan tidak ada ibu lain yang perlu menangis seperti ibuku.

Namun hidup, seperti yang kemudian aku pelajari dengan cara yang paling keras, tidak pernah peduli seberapa mulia niatmu.

Tahun pertama UTBK berlalu seperti badai yang datang tanpa permisi. Aku belajar hingga pukul dua dini hari, mengerjakan soal demi soal latihan yang kubeli dari uang jajan yang kutabung selama berbulan-bulan. Kamarku yang kecil di sudut rumah itu penuh dengan catatan yang kutempel di mana-mana, di langit-langit, di pintu lemari, bahkan di bagian dalam pintu kamar mandi. Aku hafal struktur anatomi jantung lebih baik daripada aku hafal nama-nama tetanggaku sendiri. Ketika hari pengumuman tiba, aku membuka laman resmi dengan tangan yang gemetar, bibir yang komat-kamit membaca doa yang bahkan aku tidak tahu ditujukan kepada siapa.

Tidak lolos.

"Kegagalan pertama terasa seperti lantai yang tiba-tiba amblas di bawah kakimu, tubuhmu jatuh, tetapi kakimu masih dalam posisi melangkah."

Kegagalan pertama terasa seperti lantai yang tiba-tiba amblas di bawah kakimu, tubuhmu jatuh, tetapi kakimu masih dalam posisi melangkah. Aku menangis tiga hari berturut-turut, tersembunyi di dalam kamar dengan alasan sakit kepala agar ibuku tidak perlu melihat anaknya hancur. Lalu pada hari keempat, aku bangkit. Bukan karena aku sudah sembuh. Melainkan karena aku tidak punya pilihan lain selain bangkit. Kemiskinan tidak memberi kita kemewahan untuk berlama-lama berduka.

Aku mendaftar bimbingan belajar intensif dengan uang hasil menjual sepeda tua yang tidak terpakai di gudang. Setiap pagi aku naik angkot pukul lima setengah enam, duduk di bangku paling depan agar bisa menyimak penjelasan pengajar dengan lebih jelas, bukan karena aku tuli, tetapi karena aku tidak mau kehilangan satu kata pun. Aku tidak punya laptop pribadi, maka aku meminjam milik tetangga untuk mengunduh materi tambahan, lalu mencatatnya dengan tangan di buku yang kertasnya sudah mulai menguning. Selama sembilan bulan penuh, aku hidup seperti pendeta, menjauh dari pergaulan, mengurangi tidur, menangguhkan kesenangan, dan menukar semua itu dengan satu harapan tunggal: tahun depan akan berbeda.

Tahun depan tidak berbeda.

Pengumuman UTBK kedua menamparku lebih keras dari yang pertama, justru karena aku sudah begitu yakin bahwa kerja kerasku kali ini pasti membuahkan hasil. Seorang tetanggaku yang bekerja sebagai guru sekolah dasar berkata dengan nada merendahkan yang ia bungkus rapat-rapat dalam kata-kata yang terdengar seperti kepedulian, bahwa mungkin aku memang "bukan rejekinya." Kata-kata itu menempel di dadaku seperti besi panas. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mempertanyakan apakah impian memang berhak dimiliki oleh semua orang, atau hanya oleh mereka yang lahir dengan lebih banyak keberuntungan.

· · ·

Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar mati dalam diri manusia yang masih hidup: harapan. Ia mungkin meredup, mungkin hampir padam, tetapi selalu ada bara kecil yang bertahan entah di sudut mana, menunggu hembusan angin yang tepat untuk menyala kembali. Hembusan angin itu datang dari tempat yang paling tidak kuduga, sebuah percakapan singkat dengan paman yang bekerja sebagai perawat di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Ia berkata, "Dokter yang baik tidak lahir dari kampus mana ia masuk. Ia lahir dari seberapa keras ia mau berjuang untuk orang lain." Kalimat itu sederhana. Mungkin klise bagi sebagian orang. Tetapi bagiku, kalimat itu adalah tali yang melingkar di pergelangan tanganku ketika aku hampir tenggelam.

Aku mencoba jalur ketiga. Kali ini dengan strategi yang berbeda. Aku tidak lagi belajar lebih keras, aku belajar lebih cerdas. Aku bertanya kepada kakak angkatan yang berhasil masuk, aku membaca pola soal selama lima tahun terakhir, aku berlatih manajemen waktu dengan timer yang berdentang seperti pengingat bahwa setiap detik adalah sumber daya yang tidak bisa dikembalikan. Aku juga, untuk pertama kalinya mengizinkan diriku untuk bermimpi lebih realistis tanpa kehilangan visi besarku. Jika bukan UI, mungkin Universitas Airlangga. Jika bukan Airlangga, mungkin Universitas Diponegoro. Yang penting aku masuk Kedokteran, dan dari sana aku akan membuktikan bahwa nama kampus tidak menentukan seberapa baik seorang dokter melayani pasiennya.

Pengumuman itu datang pada suatu pagi di akhir musim hujan. Aku membukanya di warung kopi dekat rumah dan sengaja, karena aku tidak mau menangis sendirian di kamar jika hasilnya kembali menyedihkan. Warung kopi itu ramai, bising, dan berbau minyak goreng yang sudah terlalu sering dipakai. Aku meletakkan gawai di atas meja, mengambil napas dalam-dalam, lalu memandang layarnya.

Namanya tercantum di sana. Namaku. Di bawah kolom yang bertuliskan: “Diterima”.

Bukan UI. Bukan pula Airlangga. Melainkan sebuah universitas negeri yang empat tahun lalu tidak pernah masuk dalam daftar impianku. Namun pada pagi itu, di tengah riuh warung kopi yang bau minyak gorengnya tiba-tiba terasa seperti wangi kemenangan, nama universitas itu terasa seperti kata paling indah yang pernah kueja dalam seluruh hidupku.

"Aku tidak meraih langit yang pernah kubayangkan. Aku meraih langit yang memang diperuntukkan untukku, dan itu jauh lebih berharga."

Aku tidak meraih langit yang pernah kubayangkan. Aku meraih langit yang memang diperuntukkan untukku, dan itu jauh lebih berharga, sebab untuk sampai ke sini aku harus melewati padang pasir yang tidak pernah ada di peta siapa pun selain petaku sendiri.

Tiga kali gagal mengajariku hal-hal yang tidak akan pernah bisa kupelajari dari buku mana pun. Ia mengajariku bahwa ketangguhan bukan berarti tidak pernah jatuh, ketangguhan adalah keputusan untuk berdiri kembali meski lututmu masih berdarah. Ia mengajariku bahwa impian yang terlalu sempit untuk menampung kegagalan bukanlah impian yang cukup besar. Dan ia mengajariku bahwa jalan menuju tempat yang benar kadang melewati lorong-lorong yang gelap, berliku, dan terasa seperti jalan buntu, padahal sebenarnya hanya sedang menikung.

Hari ini, ketika aku berjalan melewati gerbang kampus dengan jas putih yang masih terlalu besar di bahuku, aku selalu menyempatkan diri untuk berhenti sejenak. Bukan untuk berfoto. Bukan untuk memamerkan kepada siapa pun. Melainkan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa di balik pintu gerbang ini ada seorang anak yang pernah tiga kali mencoba, tiga kali jatuh, dan memilih untuk tidak menyerah, bukan karena ia tidak merasakan sakitnya, tetapi karena ia tahu bahwa sakit yang ia rasakan tidak ada artinya dibanding sakit yang akan ia tanggung jika ia menyerah.

Ibuku masih belum pernah menangis lagi di depan lembar tagihan rumah sakit. Bukan karena tagihan itu tidak ada. Melainkan karena kini ada seseorang di dalam rumah ini yang sedang belajar untuk memastikan bahwa suatu hari nanti, ia tidak perlu lagi melakukannya.

Langit itu tidak pernah terlalu jauh. Ia hanya menguji seberapa keras kamu mau terbang.

Tinggalkan Komentar