JALAN SUNYI YANG KUPILIH

Perubahan Perspektif dan Pelajaran Hidup

Dalam hidup, tidak semua pilihan berjalan di jalur yang ramai. Ada kalanya seseorang harus melangkah sendiri, memilih jalan yang tak banyak dipahami orang lain. Di persimpangan itulah aku pernah berdiri—menimbang, ragu, dan akhirnya memilih jalan sunyi yang membentuk diriku hari ini.

Tulisan ini bukan sekadar catatan kerinduan atau kumpulan keluh kesah. Ia adalah cermin dari kegelisahan, ketakutan, dan ketidaksempurnaan yang menyertai langkahku. Aku menuliskannya sebagai pengingat bahwa setiap proses, seberat apa pun, selalu menyimpan pelajaran yang layak dikenang.

Keputusan besar itu kuambil pada tahun 2023. Saat banyak teman seusiaku berlomba mengejar bangku kuliah atau langsung terjun ke dunia kerja, aku justru memilih jalan berbeda: pengabdian. Jalan yang sunyi, sederhana, dan jauh dari sorotan, namun perlahan membentuk kedewasaanku.

Selama satu tahun penuh, aku tinggal dan belajar di Al-Azhar Pare. Di tempat itu, aku tidak hanya memperdalam bahasa Arab, tetapi juga belajar mengajar, menguatkan mental, dan menata ulang arah hidup. Masa itu kusebut sebagai tahun penguatan jiwa—sebuah jeda yang sengaja kupilih sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

Masih lekat dalam ingatan, dinginnya subuh di Pare yang menusuk tulang, ketika suara kayuhan sepeda para pelajar menjadi musik pembuka hari. Di depan kelas, dengan spidol di tangan and jantung yang berdegup kencang, aku belajar bahwa mengajar bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan menyentuh jiwa. Setiap tatapan mata santri yang antusias menjadi energi yang perlahan mengikis keraguanku atas kemampuan diri.

Pengabdian mengajarkanku bahwa belajar tidak selalu tentang angka dan ijazah. Di sana aku ditempa secara fisik, mental, dan nilai. Aku belajar bangun lebih pagi, bertanggung jawab atas amanah kecil, serta berdiri di hadapan orang lain dengan keberanian yang sebelumnya tak pernah kupunya.

Salah satu anugerah terbesar dalam masa itu adalah kehadiran dua belas kakak—saudara seperjalanan dari berbagai penjuru negeri. Aku yang paling muda di antara mereka, namun tak sekalipun merasa sendirian. Dari merekalah aku belajar tentang arti kekeluargaan, keberanian mengambil peran, dan saling menguatkan dalam keterbatasan.

Namun waktu tak pernah berhenti. Seiring berakhirnya masa pengabdian, pertanyaan-pertanyaan kembali menyergap pikiranku.

Saat masa persiapan kuliah tiba, aku diliputi keraguan yang lebih nyata. Haruskah aku benar-benar melanjutkan kuliah, atau memilih jalan bekerja lebih cepat? Aku tahu aku memiliki bekal—terutama dalam mengajar—namun di sisi lain, rasa belum cukup sering kali datang tanpa aba-aba.

Keraguan itu tak berhenti pada soal akademik. Aku juga memikirkan kehidupan kampus yang akan kuhadapi: tentang pergaulan, arah hidup, dan nilai yang ingin tetap kupegang. Aku takut kehilangan diriku sendiri di tengah arus yang deras dan tak selalu ramah.

Di tengah kebimbangan itu, aku memberanikan diri mendaftar ke Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang. Prosesnya bukan tanpa cemas—mengisi berkas dengan tangan gemetar, menunggu pengumuman dengan doa-doa yang diam-diam kupanjatkan. Hingga akhirnya, kabar yang selama ini kunanti benar-benar datang. Aku dinyatakan diterima di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang. Bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi sebagai seseorang yang telah melewati ragu dan memilih tetap melangkah.

Kini aku menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebagai mahasiswa baru, aku juga menjalani kehidupan di Ma’had. Awalnya semua terasa asing dan tidak mudah, tetapi perlahan aku memahami bahwa barangkali di sanalah cara Tuhan menjagaku—menempatkanku di lingkungan yang membantuku tetap berpijak pada nilai yang kupercaya.

Kini, setelah melewati rangkaian proses itu, aku merasa lebih siap menghadapi tantangan hidup. Bukan karena aku merasa paling mampu, melainkan karena aku belajar menerima keterbatasan diri dan terus bertumbuh di dalamnya. Rasa syukur menjadi pijakan utama langkahku hari ini.

Aku berterima kasih kepada kakak-kakakku, saudara-saudaraku dalam pengabdian, yang telah menemani dan membimbingku. Dari mereka aku belajar bahwa bertumbuh tidak selalu berarti berlari cepat, tetapi berani berjalan pelan tanpa kehilangan arah.

Pengalaman ini mengajarkanku tentang tujuan hidup. Bahwa hidup bukan sekadar tentang sampai, melainkan tentang bagaimana menjalani setiap proses dengan jujur dan penuh kesadaran. Aku ingin menjadi pribadi yang dewasa dalam cara berpikir, bersikap, dan merespons hidup. Belajar memaafkan, menerima, serta melangkah tanpa menyimpan dendam.

Aku ingin membahagiakan orang-orang yang kucintai—keluarga, saudara, dan mereka yang pernah berjalan bersamaku—bukan semata dengan pencapaian, tetapi dengan perubahan sikap dan ketenangan hati.

Dari jalan sunyi yang kupilih ini, aku belajar bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, selalu memiliki arti jika dijalani dengan keikhlasan. Aku akan terus melangkah, meski ragu dan takut kerap datang, karena aku percaya perubahan kecil yang konsisten selalu mengarah pada kebaikan.

Hari ini aku masih belajar, masih bertumbuh, dan masih menapaki jalan sunyi itu sebagai mahasiswa. Namun kini aku melangkah dengan keyakinan yang jauh lebih besar daripada ketika pertama kali memulainya.

Inilah kisahku. Jalan sunyi yang kupilih dengan penuh kesadaran. Semoga ia tak hanya menjadi catatan pribadi, tetapi juga pengingat bagi siapa pun yang sedang mencari arah, bahwa setiap perjalanan, sepi sekalipun, selalu memiliki makna jika dijalani dengan hati yang jujur dan tujuan yang benar.

***

Biodata Naratif

Muhammad Nizar Zulmi lahir di Kabupaten Jombang, 6 Juni 2005. Lulusan Madrasah Aliyah tahun 2023 ini menjalani satu tahun pengabdian di Pare, Kediri, sebagai bagian dari proses pencarian jati diri sebelum melanjutkan pendidikan tinggi. Saat ini ia merupakan mahasiswa Program Studi Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia menaruh minat pada penulisan reflektif sebagai ruang merekam perjalanan batin dan pertumbuhan diri.

Tinggalkan Komentar