Namaku Syifa, begitu cara orang-orang disekitarku memanggilku. Kisah ini bermula pada tahun 2019 tepatnya, saat aku masuk masa transisi menuju sekolah menengah atas (SMA). Penuh rasa khawatir, rasa kalut. Saat itu, aku adalah seorang remaja tanggung yang kebingungan menentukan arah, bahkan aku sendiri tidak tau harus menjadi siapa di kemudian hari. Satu hal yang pasti, aku ingin menjadi setidaknya, seorang yang memotivasi adikku sendiri. Sampai pada suatu hari, seseorang menawari ku untuk mendaftarkan diri bersama putri nya ke SMA Negeri favorit di daerah kami. Tidak tau bagaimna, aku menolak dengan penuh percaya diri. Aku menyampaikan penolakanku kepada Ibu, aku hanya ingin memperdalam agama lagi saja, sudah tidak ingin sekolah.
Aku memang memiliki keinginan masuk pesantren sejak lama, tapi Ibu selalu melarang ku. Tapi pada hari itu, aku benar-benar merasa prinsipku begitu kuatnya. Meskipun, akhirnya aku harus mengalah,dan tetap mendaftarkan diri ke SMA itu. Pada kesempatan yang lain, aku tau aku lolos seleksi berkas. Lalu, selanjutnya aku nekat untuk tidak melanjutkan proses verifikasi. Sampai-sampai, salah satu staff sekolah menghubungi nomor ku. Beliau menyatakan bahwa aku lolos, masuk kelas IPA dan ditunggu untuk tahap verifikasi. Namun, aku menolak, aku juga menyatakan maaf karena harus meleas seluruh dokumen yang sempat terkirim.
Keluar dari urusan berkas-berkas SMA, aku harus segera menghadapi pertanyaan dari teman-teman sebaya ku di bangku mengaji. Pangil saja Lia. Dia mengetahui aku mendaftar di sekolah yang sama, karena melihat nama aku ada dalam daftar calon siswa. Lia selalu memastikan apakah aku sudah verifikasi atau belum. Kali ini, aku mengelak, berbohong kepada seluruh teman-teman ku. Karena, tidak ada satupun dari mereka yang tau bahwa aku telah resmi mendaftarkan diri menjadi calon santri di sebuah pesantren yang tak masyhur pula di kalangan kami.
Sampai tiba masa nya, aku tidak memberi tahu pada siapapun teman ku. Namun, akhirnya pengakuan mencelos dari bibir ku di suatu pagi setelah perjamuan acara tempat ku mengaji. Hening, teman-teman ku memusuhi ku, mereka merajuk karena merasa dibohongi. Baik lah, ini salahku. Pada 13 Juni 2020 aku memulai sebuah perjalanan sebagai seorang santri yang berangan terlalu tinggi, terlalu ambisius, dan terlalu menutup mata. Karena pada kenyataannya, pesantren yang aku tekuni, bukan lah pesantren yang sistemnya pernah aku karang sendiri. Aku bahkan tidak memiliki bakat apapun untuk menjadi seorang yang disebut santri.
Meskipun menjadi santri di pesantren yang masih terbelakang, Ibu tidak membiarkan aku lolos dengan mudah. Beliau tetap meminta ku untuk bersekolah dijenjang yang seharusnya. Pessantren ini memiliki otoritas atas sekolah yang kami sebut madrasah. Bersekolah di madrasah Aliyah (MA) sebuah hal yang tidak pernah sekalipun masuk dalam pikiran ku. Positif nya, aku belajar agama lebih banyak tentu saja, belajar adab lebih banyak pula. Namun, setelah dijalani, pada tahun 2022 saat mulai memasuki kelas XII aku merasa kecewa, lelah, dan menyesali perbuatan ku meninggalkan SMA lalu. Untungnya, Ibu memahami keadaan ku hari itu. Di pesantren aku seorang yang masuk dalam divisi konsumsi, hal yang mengerikan. Harus membagi waktu yang sangat rapat, untuk mengolah bahan masakan, mengelola jadwal masak, mengelola jam tidur, mengelola waktu istirahat, mengelola jam makan santri, dan mengelola capaian belajar ku sendiri.
Demikian, aku tetap melanjutkan MA sampai tuntas, sampai lulus, dan resmi diwisuda pada tahun berikutnya. Rasa nya sangat lega. Aku membekali kelulusan ku dengan pengetahuan mengenai Universitas di Indonesia, terutama kampus yang dekat dengan telinga ku. Saying nya, pesantren ku yang luar biasa itu, tidak ikut serta menjadi bagian dari panitia SNBT dan berbagai jalur lainnya. Pesantren dan sekolah kami hanya menyediakan jalur mandiri yang tentu saja berbayar. Kecewa, tentu saja. Karena bagi ku, ini adalah tanggung jawab lembaga pendidikan. Tahun 2023 tepatnya di bulan Juni, aku mendaftarkan diri melalui jalur UM-PTKIN karena untuk masuk kampus negeri umum, rasa nya kedua orang tua ku takkan mengizinkan, takkan mampu menanggung beban UKT nya, terlebih aku sebenarnya ingin berkuliah di UNISULA dalam jurusan Kedokteran tentu saja.
Aku tidak ingin berandai-andai lebih jauh, segera setelah pengumuman lolos ujian di kampus Islam yang berbekal pendaftaran Rp.200.000 aku sangat senang. Aku segera menanyakan pendapat orang tua ku, kalau-kalau aku lolos, apakah mereka akan melanjutkan pembayaran UKT nya atau aku harus berhenti menempuh pendidikan lanjut. Karena kedua orang tua ku menyetujui untuk membayar UKT itu berarti aku segera mengabarkan bahwa aku memang lolos. Hari-hari aku berdo’a, semoga dapat UKT dibawah 5 juta dan syukurlah, UKT semester satu ku sebesar 3,5 juta. Ibu meminjam kepada saudara kami, dan aku segera mencari informasi beasiswa untuk melanjutkan dan meringankan beban orang tua ku.
Aku lolos seleksi bantuan dana pendidikan KIP-K dengan nominal yang sangat cukup untuk membayar UKT dan biaya hidup selama satu semesternya hingga aku wisuda nanti di tahun 2027. Aku sangat bersyukur, memiliki kedua orang tua yang mendukung langkah pendidikan kami. Aku ingin menjadi lokal teladan untuk adik laki-laki ku seorang, agar dia tidak terus-menerus merasa tertinnggal, sebab kami drai golongan keluarga yang pas-pas an dalam biaya.
Saat aku menuliskan ini, aku berusia 20 tahun 9 bulan. Aku sudah masuk tahap menyusun proposal skripsi, dan harapan ku adalah dapat wisuda di tahun berikutnya yaitu awal bulan April 2027. Aku tidak ingin mematahkan semangat ku sendiri dengan bayang-bayang system kelola ketenaga kerjaan. Karena bagi ku, yang menyangkut dengan rezeki itu bergantung pada seberapa kita mengusahakan diri, dan seberapa kita memasrahkan hasil nya kepada Tuhan. Aku sedang mengusahakan untuk setidaknya lulus dengan predikat cumlaude dan segera melanjutkan pendidikan S-2 dalam negeri maupun di luar negeri, beasiswa lagi.
Salam kenal, saya Syifa.
Dapat dijumpai melalui laman instagram saya @asysyfa.nf
