Gagal yang berulang

Kisahku, Inspirasiku

Oleh: Nadia

“Berapa kali seseorang bisa gagal sebelum akhirnya berhasil?”

Saya tidak pernah benar-benar menemukan jawabannya. Bagi sebagian orang, perjuangan itu mungkin dimulai saat pengumuman hasil seleksi. Namun bagi saya, semuanya dimulai jauh sebelum itu.

Selama tiga tahun di bangku SMA, saya berusaha menjaga nilai sebaik mungkin dengan harapan bisa mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi. Karena itu, ketika daftar peserta eligible diumumkan dan nama saya tidak tercantum, rasanya seperti menyaksikan tiga tahun perjuangan berhenti tepat sebelum garis awal. Sulit menerima kenyataan bahwa segala usaha yang saya bangun selama ini belum mampu membawa saya sampai ke tahap itu.

Di tengah kekecewaan itu, saya menerima kabar yang tidak pernah saya duga. Nama saya akhirnya masuk dalam daftar eligible SNBP setelah adanya perubahan daftar peserta.

Saat itu, saya menganggap kesempatan tersebut sebagai jalan kedua yang diberikan kepada saya. Kekecewaan yang sebelumnya saya rasakan perlahan berubah menjadi keyakinan bahwa perjuangan saya selama ini akan berakhir dengan hasil yang baik.

Namun, tanpa saya sadari, harapan itu membuat saya terlalu yakin. Saya mulai merasa bahwa nilai yang saya miliki sudah cukup untuk membawa saya menuju kampus impian. Saya berekspektasi terlalu tinggi dan belum mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi tahap seleksi berikutnya.

Hingga akhirnya, hari pengumuman hasil SNBP tiba.

Saya lihat layar ponsel lebih lama daripada biasanya. Bukan karena koneksi internet bermasalah, tapi karena saya harap hasil yang terlihat di sana berubah.

Sumber: Portal Resmi Snpmb (dok. Pribadi)

Namun, tidak ada yang berubah.

Kalimat “Selamat anda dinyatakan lolos” tidak muncul di layar ponsel. Nama saya tidak terdaftar dalam daftar peserta yang lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi. Saya terus memuat ulang halaman itu, seperti ingin sistem berubah pikiran dan tiba-tiba menampilkan nama saya. Tentu saja itu tidak terjadi.

Pada saat itu saya menyadari bahwa kegagalan ini bukan semata-mata tentang hasil yang tidak sesuai harapan. Ada bagian dalam diri saya yang harus dievaluasi. Saya terlalu percaya diri. Berekspektasi terlalu tinggi. Merasa mimpi sudah berada dalam genggaman. Merasa nilai yang ada di rapor saya sudah cukup untuk membawa saya ke kampus yang saya impikan. Keyakinan itu membuat saya lengah. Saya masih belum benar-benar siap menghadapi tahap seleksi berikutnya.

Hari itu, saya menyadari bahwa harapan yang tidak disertai persiapan yang matang hanyalah keyakinan yang mudah runtuh.

Kegagalan itu membuat saya banyak merenung. Saya ingat ayah yang setiap hari bekerja sebagai buruh lepas. Setelah pulang kerja, pakaian beliau hampir selalu terkena debu semen. Saya juga teringat pada ibu yang selalu memastikan saya bisa belajar dengan tenang meskipun kondisi ekonomi keluarga sangat sulit.

Di rumah kami, pendidikan bukan hanya cara untuk mendapatkan pekerjaan saja. Pendidikan adalah harapan. Harapan kita agar kehidupan kita nanti lebih baik dari sekarang.

Kesadaran itu membuat saya merasa bersalah. Orang tua sudah berusaha dengan kemampuan terbaik mereka, tapi saya justru menyia-nyiakan kesempatan karena terlalu percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai rencana.

Saya bertanya pada diri sendiri, “apakah saya akan terus sedih karena kegagalan ini atau malah menjadikannya sebagai awal perubahan?”

Saya memilih pilihan kedua.

Sejak hari itu, meja belajar saya tidak lagi hanya berisi tumpukan buku saja. Meja itu menjadi saksi bagaimana saya memulai segalanya dari awal. Saya membuat jadwal belajar, mengerjakan soal latihan setiap hari, dan memperbaiki kesalahan yang saya lakukan. Tidak ada lagi ruang untuk menunda. Saya tidak ingin gagal karena alasan yang sama.

Proses itu tidak selalu mudah. Ada hari-hari di mana saya merasa lelah, dan ada momen-momen di mana rasa takut tiba-tiba muncul lagi. Saya sedih karena usaha yang saya kerjakan masih belum cukup. Namun setiap kali pikiran itu muncul, saya kembali mengingat alasan mengapa saya mulai. Saya belajar bukan hanya untuk diri sendiri saja. Saya sedang berusaha memenuhi harapan orang tua yang selama ini berjuang keras hanya untuk memberi pendidikan yang jauh lebih baik kepada anaknya.

Perlahan-lahan, saya mulai sadar bahwa kegagalan bukanlah lawan dari keberhasilan. Kegagalan justru mengajari hal-hal yang sering tidak diajarkan oleh keberhasilan, seperti rendah hati, disiplin, dan berani memperbaiki diri.

Hari pengumuman hasil seleksi berikutnya akhirnya tiba.

Kali ini saya tidak lagi membuka pengumuman dengan perasaan percaya diri yang terlalu berlebihan. Saya cuma harap sudah memberikan upaya terbaik yang bisa saya lakukan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, saya membuka halaman hasil seleksi.

Beberapa detik kemudian, saya tersenyum.

Sumber: Portal Resmi Snpmb (dok. Pribadi)

Nama saya akhirnya terdaftar sebagai mahasiswa baru pada Program Studi Sosiologi di Universitas Sumatera Utara.

Perasaan bahagia itu sulit dijelaskan dengan kata-kata. Saya kembali ingat hari ketika nama saya tidak muncul di layar. Jika dulu saya memutuskan untuk menyerah, mungkin saya tidak akan sampai ke titik ini.

Hari itu saya tahu bahwa keberhasilan bukan datang secara langsung bagi orang-orang yang selalu berhasil. Keberhasilan adalah hadiah untuk orang-orang yang mau belajar dari setiap kesalahan yang mereka alami.

Sekarang saya sudah menjadi mahasiswa program Sosiologi di Universitas Sumatera Utara. Namun, saya tahu bahwa diterima di kampus idaman bukan berarti prosesnya sudah selesai. Justru di sinilah perjalanan yang sesungguhnya dimulai. Saya ingin terus belajar dan berkembang, serta suatu hari nanti memanfaatkan pengetahuan yang saya miliki untuk memberi manfaat bagi orang banyak. Saya juga ingin mendapatkan beasiswa agar biaya pendidikan saya tidak mengencerkan keuangan orang tua.

Sekarang, jika ada yang bertanya kepada saya, "Berapa kali seseorang boleh gagal sebelum akhirnya berhasil?" saya mungkin masih belum mempunyai angka yang pasti.

Namun saya percaya, selama seseorang masih belajar dari kegagalan, masih berani bangkit lagi, dan tidak berhenti maju, maka kegagalan tidak akan pernah jadi akhir dari cerita.

Nama yang sebelumnya tidak pernah muncul di layar itu mengajari saya satu hal, bahwa mimpi tidak diberikan kepada mereka yang selalu berhasil, melainkan kepada mereka yang memilih untuk tidak menyerah.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *