Ketika Mimpi Harus Bertahan di Antara Keterbatasan

Najla Qurotu’aina

Mahasiswa D3 Kebidanan

Poltekkes Kemenkes Bandung

"Bagaimana kalau setelah lulus nanti kamu bekerja dulu saja?"

Kalimat itu masih kuingat dengan sangat jelas.

Bukan karena ibu tidak mendukung mimpiku untuk kuliah, tetapi karena beliau lebih memahami keadaan keluarga kami daripada siapa pun. Sebagai ibu rumah tangga yang setiap hari menghitung pengeluaran, beliau tahu bahwa membiayai kuliah bukanlah perkara mudah.

Aku adalah anak pertama dari lima bersaudara. Ayah bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan yang tidak menentu, sedangkan ibu mengurus rumah dan keempat adikku. Di rumah kami, setiap keputusan selalu dipikirkan matang-matang, termasuk keputusan tentang pendidikan.

Malam itu aku tidak membantah. Aku hanya masuk ke kamar dengan satu pertanyaan yang terus berputar di kepala.

Apakah mimpiku harus berhenti karena keadaan?

Semakin kupikirkan, semakin aku yakin bahwa aku tidak bisa mengubah keadaan keluargaku. Namun, aku masih bisa mengubah diriku sendiri.

Sejak malam itu aku berjanji untuk membangun satu hal yang tidak bisa diambil oleh siapa pun: kemampuan.

Aku belajar dengan sungguh-sungguh, aktif mengikuti organisasi, dan berusaha memanfaatkan setiap kesempatan untuk berkembang. Bukan karena ingin menjadi yang paling hebat, melainkan karena aku percaya bahwa kemampuan adalah satu-satunya harta yang benar-benar bisa kuusahakan sendiri.

Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Aku berhasil menjadi siswa eligible. Banyak teman memilih jalur prestasi ke berbagai perguruan tinggi, tetapi aku sudah memiliki tujuan yang berbeda.

Aku ingin menjadi seorang bidan.

Bagiku, bidan bukan hanya profesi. Seorang bidan adalah orang pertama yang menyambut kehidupan baru. Dari tangannya, seorang ibu mendapatkan pendampingan, seorang bayi memulai kehidupan, dan sebuah keluarga memulai harapan baru. Itulah alasan mengapa aku memilih kebidanan.

Aku juga memilih pendidikan vokasi D3 karena ingin lebih cepat bekerja. Aku ingin membantu kedua orang tuaku dan suatu hari nanti menjadi jalan agar keempat adikku dapat mengejar pendidikan tanpa dibayangi kekhawatiran yang sama.

Dengan keyakinan itu, aku mendaftar melalui jalur PMDP ke Poltekkes Kemenkes Bandung dan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya.

Namun, menjelang pengumuman, aku menyadari bahwa ketakutanku berbeda dengan kebanyakan orang.

Aku tidak takut gagal.

Aku justru takut diterima.

Karena jika namaku benar-benar dinyatakan lolos, aku belum tahu dari mana biaya kuliah itu akan datang.

Meski begitu, aku tetap berdoa dan melangkah.

Aku percaya bahwa tugasku adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Soal bagaimana jalan itu terbuka, aku memilih menyerahkannya kepada Tuhan.

Hari yang kutunggu akhirnya tiba.

Dengan tangan yang gemetar, aku membuka pengumuman hasil seleksi PMDP melalui ponsel. Aku membacanya berulang kali karena takut salah melihat nama yang tertera di layar.

Namun, hasilnya tetap sama.

Namaku dinyatakan lolos.

Beberapa waktu kemudian, kabar baik itu datang sekali lagi. Aku kembali diterima.

Artinya, aku berhasil lolos di dua Poltekkes Kemenkes sekaligus, yaitu Poltekkes Kemenkes Bandung dan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya. Bahkan salah satunya memberikan kesempatan beasiswa.

Rasanya sulit digambarkan dengan kata-kata. Semua usaha yang kulakukan selama SMA seolah terbayar dalam satu hari.

Aku segera memberi tahu kedua orang tuaku.

Ibu tersenyum sambil memelukku. Di wajahnya aku melihat kebahagiaan yang bercampur dengan kekhawatiran. Aku tahu beliau sedang memikirkan pertanyaan yang sama denganku.

"Setelah ini, bagaimana cara membiayainya?"

Beberapa hari kemudian, ayah mengajakku datang ke kampus. Beliau ingin memastikan sendiri bahwa semua kabar itu benar.

Perjalanan dari Garut menuju kampus terasa panjang. Di sepanjang jalan kami tidak banyak berbicara. Ayah hanya sesekali bertanya tentang jurusan yang kupilih dan proses daftar ulang yang harus kulalui.

Sesampainya di kampus, ayah bertanya kepada petugas keamanan mengenai proses penerimaan mahasiswa. Ketika mengetahui bahwa aku diterima di dua Poltekkes sekaligus, petugas itu tersenyum dan berkata bahwa baru kali itu ia menemui orang tua yang datang jauh-jauh hanya untuk memastikan kabar bahagia anaknya.

Ayah hanya tersenyum pelan.

Lalu beliau menundukkan kepala.

Perlahan, tangannya mengusap air mata yang jatuh di pipinya.

Aku terdiam.

Selama hidupku, aku hampir tidak pernah melihat ayah menangis.

Hari itu menjadi pengecualian.

Beliau tidak mengucapkan kalimat apa pun. Namun, air mata itu telah menyampaikan semuanya—rasa bangga, rasa syukur, sekaligus kegelisahan seorang ayah yang sedang memikirkan bagaimana cara membawa anaknya mewujudkan mimpi.

Saat itu aku sadar bahwa perjuangan orang tua tidak selalu terdengar melalui kata-kata. Kadang, perjuangan itu hadir dalam diam, dalam kerja keras yang tidak pernah mereka ceritakan, dan dalam air mata yang mereka sembunyikan agar anak-anaknya tetap berani bermimpi.

Setelah berdiskusi bersama keluarga, aku akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di Poltekkes Kemenkes Bandung. Keputusan itu berarti aku harus melepaskan kesempatan beasiswa di kampus lain.

Aku tahu jalan yang kupilih tidak akan mudah.

Namun, aku juga tahu bahwa ada begitu banyak doa dan pengorbanan yang kini harus kujaga.

Sejak hari itu aku berjanji pada diriku sendiri.

Aku tidak boleh menyerah di tengah jalan.

Karena mimpi ini bukan lagi hanya tentang diriku, tetapi juga tentang kedua orang tuaku yang telah percaya bahwa perjuangan ini layak diperjuangkan.

Perjalanan itu ternyata tidak berhenti ketika aku berhasil diterima di kampus impianku.

Justru saat itulah perjuangan yang sesungguhnya dimulai.

Biaya daftar ulang, tempat tinggal, perlengkapan kuliah, hingga UKT menjadi tantangan baru bagi keluargaku. Hampir setiap semester selalu ada cerita tentang bagaimana kami berusaha agar aku tetap dapat melanjutkan pendidikan. Aku mulai mencari berbagai informasi mengenai beasiswa dan bantuan pendidikan. Aku percaya bahwa selama aku terus berusaha, selalu ada jalan yang bisa ditemukan.

Kini aku menjalani hari-hari sebagai mahasiswa D3 Kebidanan Poltekkes Kemenkes Bandung.

Setiap kali mengenakan seragam praktik, aku selalu teringat perjalanan yang membawaku sampai di titik ini. Aku teringat malam ketika ibu menyarankan agar aku bekerja terlebih dahulu. Aku teringat setiap lembar rapor yang kujaga dengan sungguh-sungguh. Dan yang paling tidak pernah kulupakan adalah air mata ayah di halaman kampus.

Kenangan itu selalu mengingatkanku bahwa aku tidak boleh menyerah.

Aku ingin menjadi bidan yang bukan hanya memiliki keterampilan, tetapi juga mampu menghadirkan rasa aman dan harapan bagi setiap ibu yang kutemui. Bagiku, profesi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan kesempatan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, aku juga ingin menjadi contoh bagi keempat adikku bahwa keadaan tidak selalu menentukan masa depan seseorang. Mungkin kami tidak memiliki banyak harta, tetapi kami masih memiliki mimpi, doa, dan kemauan untuk terus berusaha.

Aku tidak tahu bagaimana akhir dari perjalanan ini.

Aku hanya tahu bahwa setiap langkah yang kuambil hari ini adalah bentuk rasa terima kasih kepada kedua orang tuaku yang tidak pernah berhenti percaya, meskipun keadaan sering kali membuat mereka khawatir.

Mungkin suatu hari nanti, ketika seseorang melihatku mengenakan seragam bidan, mereka hanya akan mengenalku sebagai tenaga kesehatan.

Mereka tidak akan tahu tentang malam ketika ibu menyuruhku mempertimbangkan untuk bekerja lebih dahulu.

Mereka tidak akan tahu tentang perjalanan ayah dari Garut dan air mata yang beliau sembunyikan di halaman kampus.

Mereka juga tidak akan tahu tentang setiap doa yang mengiringi perjuangan kami agar aku tetap bisa kuliah.

Namun, aku akan selalu mengingat semuanya.

Karena di balik seragam putih yang kelak kukenakan, ada cinta, pengorbanan, dan harapan yang diperjuangkan oleh kedua orang tuaku.

Hari ini aku menyadari bahwa aku memang tidak dilahirkan dengan banyak harta.

Namun, aku memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga.

Kemampuan yang kuusahakan sendiri.

Dan selama aku masih memiliki kemauan untuk belajar, keberanian untuk mencoba, serta doa kedua orang tuaku, aku percaya tidak ada perjuangan yang benar-benar sia-sia.

Sebab aku telah belajar bahwa mimpi tidak pernah meminta kita lahir dalam keluarga yang sempurna.

Mimpi hanya meminta kita cukup berani untuk tidak menyerah sebelum mencobanya.

Gambar 1. Dokumentasi pribadi saat praktik kebidanan

Sumber: Dokumentasi pribadi.

Tinggalkan Komentar