Nama : Najwa Hasna Qanitah

Instansi : Universitas Tanjungpura

Kisahku, Inspirasiku

BERBELOK BUKAN BERARTI TERSESAT

Bagi sebagian orang, melihat barcode putih pada layar pengumuman SNBT adalah akhir dari perjuangan yang membuahkan hasil. Mereka belajar, mengikuti ujian, lalu lulus di tempat yang mereka impikan sejak awal. Namun bagi saya, barcode putih yang muncul di layar handphone sore itu adalah hasil dari sebuah kompromi besar antara ambisi di masa muda, restu orang tua, dan pembuktian diri. Masuk ke perguruan tinggi negeri bukanlah sekadar tentang memenangkan satu kursi kompetisi, melainkan tentang bagaimana saya berdamai dengan kenyataan dan menemukan arti sejati dari sebuah perjuangan. Sejak awal memasuki kelas dua belas, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) adalah kiblat dari seluruh impian akademis saya. Yogyakarta, dengan segala atmosfer pendidikannya, adalah tempat di mana saya ingin menempa diri secara mandiri di tanah perantauan. Namun, manusia hanya bisa berencana, sementara restu orang tua adalah penentu arah yang tidak bisa diabaikan. Ketika keinginan untuk merantau itu saya sampaikan, dinding tebal bernama "kekhawatiran orang tua" menghadang. “Jangan jauh-jauh nanti menyusahkan” kata-kata itulah yang membuat hati saya seakan dihantam batu besar yang amat berat, meruntuhkan impian saya yang sudah rapi tersusun di kepala.

Mereka belum siap melepas saya pergi terlalu jauh. Perang batin antara mempertahankan ego untuk tetap merantau atau patuh pada keinginan orang tua adalah fase terberat sebelum UTBK. Namun, saya menyadari bahwa berjuang tanpa adanya restu orang tua hanya akan membawa langkah saya pada ketidakpastian. Akhirnya, saya memilih untuk mengalah. Saya memutar haluan dan menjatuhkan pilihan pada Universitas Tanjungpura (UNTAN) sebagai tempat saya berlabuh, sebuah kampus kebanggaan di Bumi Khatulistiwa yang mendekatkan saya dengan keluarga. Mengubah target universitas bukan berarti menurunkan intensitas belajar. Di kamar tidur yang sepi, saya tetap bergulat dengan tumpukan buku latihan soal, penalaran matematika, dan literasi hingga larut malam. Saya ingin membuktikan kepada orang tua bahwa keputusan saya untuk tetap tinggal dan kuliah di salah satu kampus terbaik di Indonesia yaitu Universitas Tanjungpura (UNTAN), adalah keputusan yang matang, bukan sekadar pelarian. Saat pendaftaran SNBT dibuka, saya mengunci pilihan pertama pada jurusan Ilmu Hukum, sebuah ambisi besar yang sudah lama saya idamkan. Sementara untuk pilihan kedua, saya memilih Ekonomi Pembangunan. Hari demi hari, saya berjuang dan bertarung melalui jalur langit. Shalat Tahajud dan Dhuha tidak pernah terlewat. Setiap hari saya bersujud dan berdoa, “Ya Allah, izinkan saya lolos dan berkuliah di kampus serta jurusan impian saya”. Hari pengumuman yang mendebarkan itu pun tiba. Dengan tangan gemetar, saya membuka laman resmi pengumuman. Detik itu juga, ego saya kembali diuji. Kalimat “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SNBT SNPMB PTN Universitas Tanjungpura Program Studi Ekonomi Pembangunan.

Seketika air mata haru dan kecewa tumpah menjadi satu. Saya dilanda kebingungan yang hebat; antara harus bangga atau kecewa dengan hasil ini. Sebab, lolos di jurusan ini bukanlah hal yang pernah saya impikan sebelumnya. Pikiran saya sempat mengembara pada ratusan malam yang saya habiskan untuk mengejar Ilmu Hukum. Namun, saat saya melihat binar kebahagiaan dan kelegaan di mata orang tua yang menyaksikan pengumuman itu, ego saya perlahan melunak. Saya tersadar bahwa jalur langit yang saya ketuk setiap sepertiga malam tidak pernah salah alamat. Allah tidak selalu memberikan apa yang saya inginkan, melainkan apa yang saya butuhkan. Kegagalan di pilihan pertama bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah cara alam semesta untuk menyelamatkan saya dan menuntun langkah saya menuju tempat di mana saya akan tumbuh paling subur.

Meskipun jalan saya harus berbelok mulai dari batalnya impian berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ditolak di jurusan Hukum, hingga akhirnya berlabuh di Ekonomi Pembangunan Universitas Tanjungpura (UNTAN), saya tidak menyesalinya sama sekali. Saya menyadari bahwa Allah tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan. Jika Hukum mengajarkan keadilan lewat pasal, Ekonomi Pembangunan di UNTAN akan mengajarkan saya bagaimana membawa perubahan nyata bagi kesejahteraan masyarakat melalui analisis kebijakan, pengelolaan sumber daya, dan strategi pembangunan daerah. Perjuangan SNBT ini mengubah cara pandang saya tentang kehidupan. Saya belajar bahwa sukses tidak selalu tentang memaksakan kehendak, melainkan tentang bagaimana kita bisa bertumbuh subur di mana pun takdir menempatkan kita. Bagi siapa pun yang saat ini jalannya harus berbelok karena restu orang tua atau terlempar ke pilihan kedua, percayalah bahwa belokan tersebut adalah cara alam semesta menyelamatkanmu dan mengantarmu ke tempat terbaik untuk masa depanmu.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *