Nama : Nazwa Putri Riyandini
Tema: Perjuangan Masuk Kampus
Topik: Perjuangan Seorang Siswa dalam Mewujudkan Impian Menjadi Mahasiswa
Judul: there is no word of giving up on my dream
Masa remaja adalah fase di mana mimpi seringkali terasa begitu tinggi, namun realita terkadang menarik kita ke bawah dengan beban yang tak terduga. Bagi saya, impian untuk menjadi seorang mahasiswa di bidang kesehatan bukanlah sekadar cita-cita akademis, melainkan sebuah misi hidup. Namun, perjalanan menuju gerbang kampus impian tersebut bukanlah jalan yang mulus. Ia adalah serangkaian ujian ketabahan yang menuntut segala daya upaya. Seorang siswa yang memiliki impian besar untuk mengenyam pendidikan di jurusan kesehatan, di balik seragam putih abu-abunya, tersimpan harapan untuk bisa berkontribusi di dunia medis. Namun rintangan yang menghadang terasa begitu nyata dan menyesakkan.
Di tahun kelulusan sekolah, pikiran untuk ‘gap year’ sempat menghantui benak saya. Ekonomi keluarga menjadi tantangan pertama yang paling sulit saya tepis. Ekonomi keluarga bukanlah sesuatu yang bisa saya abaikan begitu saja. Saya memiliki tiga orang adik dimana di tahun yang sama juga memerlukan biaya pendidikan dan peralatan sekolah. Membayangkan orang tua harus menanggung beban finansial untuk keempat anaknya secara bersamaan membuat hati saya sesak. Sempat terbersit niat untuk bekerja terlebih dahulu demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Namun, kedua orang tua saya selalu bilang akan mengusahakan apapun asal kamu berusaha dengan sungguh sungguh. Di balik rasa khawatir itu, saya menepis keraguan dan meyakinkan diri bahwa jika saya berusaha dengan sungguh-sungguh, akan selalu ada jalan bagi mereka yang berani bermimpi.
Tekad itu pun saya wujudkan dalam aksi nyata. Saya mulai belajar dengan intensitas yang lebih tinggi hingga berhasil meraih peringkat satu di kelas. Saya tidak membatasi diri, saya mengikuti bimbingan belajar online demi persiapan UTBK yang ketat, serta aktif mencari berbagai lomba online untuk mengasah kemampuan. Setiap peluang saya ambil, setiap kesempatan saya manfaatkan. Saya yakin usaha tidak akan menghianati hasil, jadi walaupun peluangnya kecil tidak apa apa karena usaha keras yang konsisten tidak akan pernah mengkhianati pemiliknya.
Sayangnya, takdir berkata lain saat pengumuman SNBP. Hasil kelulusan PTN berwarna merah dan di katakan ”tidak lulus” . Kekecewaan itu mendalam, namun saya mencoba bangkit dengan menunggu seleksi berikutnya yaitu SNBT dan mencari beasiswa. Belum sempat proposal dikirim, tubuh saya justru menyerah. Saya jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit selama berminggu-minggu. Akibatnya, saya harus melewatkan juga tahap SNBT. Titik terendah pun datang, harapan terasa sirna, Melihat kondisi saya, orang tua pun menyerah pada keadaan. Mereka berkata, “Kamu tidak perlu kuliah untuk membuat kami senang, yang penting kamu sembuh saja, kami sudah sangat bersyukur.” Mendengar itu, semangat saya sempat padam. Saya hampir melepaskan mimpi menjadi mahasiswa.
Namun, keajaiban datang setelah saya pulih. Seorang teman memberi kabar bahwa pendaftaran kuliah kesehatan di Kemenkes masih dibuka. Tanpa pikir panjang, saya segera mencari informasi tersebut. Awalnya, orang tua sangat khawatir dan tidak setuju, takut saya akan jatuh sakit kembali. Namun, dengan segala keyakinan, saya meyakinkan mereka bahwa jurusan kesehatan adalah panggilan jiwa saya. Akhirnya, restu pun didapatkan.
Perjuangan berlanjut saat saya berangkat ke Bandung untuk tes komputer. Saya lulus, namun tantangan belum usai. Proses seleksi Kemenkes sangat ketat, mulai dari tes kesehatan, tes psikotes, hingga tahap wawancara yang menguras mental. Awalnya saya takut kecewa lagi karena di lihat dari ketatnya seleksi dan banyaknya orang yang mendaftar, Tapi setiap tahapan saya lalui dengan doa dan harapan terutama dari keluarga. Alhamdulillah, keteguhan hati itu membuahkan hasil. Saya resmi menjadi mahasiswa jurusan Gizi di Poltekkes Kemenkes Bandung.
Kini, saya sadar bahwa ‘tidak ada kata menyerah’ bukanlah sekadar slogan. Ia adalah napas dalam setiap langkah yang saya ambil. Mimpi mungkin sempat tertunda, namun dengan kegigihan dan dukungan keluarga, ia pun menjadi nyata. "Jangan pernah menyerah saat doa-doamu belum terjawab. Kamu hanya perlu bersabar, bersabar untuk menerima waktu yang paling tepat, karena mungkin yang kamu rencanakan belum tentu baik untuk dirimu."
Dokumentasi
