Saat Doa Tahajud Menembus Langit: Di Situlah Keraguan Menjadi Ketetapan.

Jam dinding kamar saya baru saja melewati angka 3 pagi. Di luar, dunia sedang terlelap dalam sepi. Semua orang telah terhanyut oleh mimpi-mimpi indah mereka sendiri, tetapi tidak dengan saya. Di dalam kepala ini, suara-suara keraguan justru sedang bertengkar hebat. Lembar demi lembar latihan soal UTBK yang berserakan di lantai seolah menertawakan impian saya yang terlalu tinggi. Malam itu, dengan tangan yang gemetar oleh rasa takut gagal, saya membentangkan sajadah. Saya tahu, saat logika manusia sudah angkat tangan, tidak ada tempat pulang yang lebih tepat selain bersujud kepada Tuhan.

Sulit untuk tetap percaya diri ketika semua orang di sekitar kita melihat target kampus impian saya sebagai sebuah lelucon. Jujur, saya hampir menyerah dan memilih realistis saja. Saya tahu betapa sakitnya direndahkan dan ditertawakan oleh keluarga sendiri, teman, bahkan orang-orang yang saya sayang. Namun, malam itu ada sesuatu yang mengusik hati saya untuk bangun, mengambil wudu, dan membiarkan air mata saya tumpah di atas sajadah sepertiga malam. Di saat semua pintu dunia terasa tertutup rapat, di atas kain saat saya sujud itulah saya memutuskan untuk mengetuk satu-satunya pintu yang pasti terbuka: langit.

Lewat doa Tahajud yang saya bisikkan malam itu, saya tidak lagi meminta agar jalannya dimudahkan, melainkan meminta agar hati ini dikuatkan. Di situlah semua keraguan yang berbisik di kepala perlahan-lahan berubah menjadi sebuah ketetapan tekad. Akhirnya, saya memilih Jurusan Gizi di Universitas Sriwijaya. Walaupun jurusan ini terkenal ketat dan sulit untuk ditembus, di dalam hati yang sangat dalam, saya percaya bahwa saya bisa jika terus berjuang dan melibatkan Tuhan. Setiap hari setelahnya adalah kombinasi antara belajar keras hingga larut malam dan doa yang tidak pernah putus.

Pada akhirnya, hari pengumuman yang mendebarkan itu tiba. Saat membuka layar pengumuman, warna biru yang dinanti muncul di depan mata. Saya dinyatakan lolos SNBP! Saat itu saya langsung menangis dan berpelukan bersama Mama. Air mata yang jatuh membasahi pundak beliau adalah air mata haru karena tidak menyangka jurusan yang sulit ditembus ternyata bisa saya raih. "Mama bangga sama kamu, Nak," bisik Mama lirih. Dari situlah air mata saya mengalir semakin deras seperti air terjun.

Namun, kebahagiaan itu sempat terusik. Berbeda dengan Mama, Papa justru merespons dengan nada khawatir, "Bagaimana dengan uang untuk awal kuliah nanti?" tanya Papa dengan tegas. Air mata saya terhenti seketika karena tidak percaya. Kalimat pertama Papa justru terasa menyakitkan hati saya. Di saat saya berhasil lolos ke perguruan tinggi, beliau bahkan tidak melihat foto kelulusanku dan tidak memberikan selamat kepadaku.Rasa sedih itu sempat menyelinap, tetapi saya menolak untuk menyerah pada keadaan ekonomi. Untungnya, saya mendaftarkan diri ke akun KIP Kuliah. Melalui proses administrasi dan seleksi yang panjang, Alhamdulillah, beasiswa saya lolos dan disetujui. Hambatan biaya yang sempat menjadi tembok besar di depan mata akhirnya runtuh berkat pertolongan-Nya.

Perjuangan yang melelahkan, hidup penuh dengan teka-teki, ditertawakan, diremehkan,dan

dihina karena mengambil jurusan yang sulit ditembus, ternyata berbuah manis. Kini, saya bisa berdiri tegak membuktikan bahwa impian itu nyata. Saya percaya tidak ada yang tidak mungkin kalau Tuhan sudah berkehendak. Semuanya akan terjadi, sekalipun hal itu terasa sangat sulit dan tidak masuk di akal manusia.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *