”Masa Depan Tidak Selalu Tentang Apa yang Kamu Inginkan, Tapi Bukan Berarti Kamu Tidak Boleh Merencanakan”
Ini tentang aku. Tentang mimpi yang tidak berjalan sesuai rencana, tentang harapan yang berkali-kali diuji, dan tentang bagaimana aku belajar bahwa masa depan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita inginkan. Namun, itu bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Hai, panggil saja aku Alice.
Aku adalah anak kedua dari empat bersaudara dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Program Studi Statistika Universitas Tanjungpura. Jika melihatku hari ini, mungkin banyak orang mengira bahwa aku berhasil sampai di bangku kuliah karena semuanya berjalan sesuai rencana. Padahal kenyataannya, jalan yang kutempuh penuh dengan tikungan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Saat kecil, hidupku terasa begitu sempurna. Keluargaku tergolong berada. Hampir semua yang kuinginkan dapat terpenuhi. Aku bersekolah di sekolah dasar ternama dengan biaya yang tidak sedikit. Bahkan, di lingkungan tempat tinggalku, hanya aku yang bersekolah di sana. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa selama aku berusaha, semua hal yang kuimpikan akan terwujud.
Sejak kecil, aku memiliki cita-cita yang sederhana namun besar bagiku: menjadi seorang dokter.
Aku menyukai dunia kesehatan. Aku membayangkan diriku mengenakan jas putih, membantu orang-orang yang sakit, dan menjadi seseorang yang bermanfaat bagi banyak orang. Karena itu, aku belajar dengan sungguh-sungguh. Bagiku, pendidikan adalah jalan menuju impian tersebut.
Aku tidak hanya bermimpi, tetapi juga berusaha.
Sejak SMP hingga SMA, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik. Aku mempertahankan peringkat pertama selama bertahun-tahun. Tidak pernah sekalipun aku turun dari posisi itu. Ketika teman-temanku menikmati masa remaja mereka dengan lebih santai, aku memilih menghabiskan banyak waktu untuk belajar karena aku percaya bahwa kerja keras hari ini adalah investasi untuk masa depan.
Namun hidup ternyata tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan.
Ketika menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Al-Hikam Bangkalan saat SMA, aku mulai menyadari bahwa keluargaku sedang menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada yang selama ini kuketahui.
Perekonomian keluarga kami perlahan mengalami kemunduran. Usaha yang dulu menjadi sumber penghasilan utama tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Dari luar, mungkin tidak ada yang menyangka. Rumah kami masih berdiri kokoh dan bahkan lebih besar dibandingkan rumah yang kami tempati ketika aku masih SD. Namun di balik itu semua, keadaan sebenarnya jauh berbeda.
Aku mulai memahami bahwa rumah yang besar tidak selalu berarti kehidupan yang baik-baik saja.
Di saat yang sama, keluargaku juga mengalami kekecewaan yang mendalam. Kakak laki-lakiku, anak pertama yang selama ini menjadi harapan keluarga, tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya. Skripsinya tidak selesai hingga masa studinya habis.
Peristiwa itu mengubah banyak hal.
Kepercayaan orang tuaku terhadap pendidikan tinggi mulai berkurang. Mereka merasa takut mengeluarkan biaya besar untuk kuliah jika pada akhirnya hasilnya tidak sesuai harapan. Ditambah lagi, aku adalah seorang perempuan. Ada anggapan yang sering kudengar bahwa setinggi apa pun pendidikan seorang perempuan, pada akhirnya ia akan kembali ke dapur dan mengurus rumah tangga.
Mungkin kalimat itu terdengar biasa bagi sebagian orang.
Namun bagi seorang anak yang memiliki mimpi besar, kalimat itu terasa seperti tembok yang perlahan menutup jalan menuju masa depan.
Aku mulai takut.
Takut jika segala usaha yang kulakukan selama bertahun-tahun akan berakhir sia-sia.
Takut jika semua prestasi yang kuperjuangkan tidak cukup untuk membuatku mendapatkan kesempatan kuliah.
Dan yang paling kutakutkan, aku harus mengubur cita-citaku menjadi dokter.
Ada malam-malam ketika aku menangis sendirian. Aku bertanya kepada diriku sendiri, "Untuk apa aku belajar sekeras ini jika pada akhirnya aku tidak bisa memilih jalan hidup yang kuinginkan?"
Rasanya tidak adil.
Aku telah berusaha menjaga nilai, mempertahankan prestasi, dan membuktikan bahwa aku mampu. Namun keadaan seolah berkata bahwa kerja keras saja tidak selalu cukup.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku hampir menyerah.
Tetapi setelah semua kekecewaan itu, aku menyadari satu hal.
Aku mungkin tidak bisa mengendalikan keadaan, tetapi aku bisa memilih bagaimana cara menghadapinya.
Aku memutuskan untuk tetap berjuang.
Aku mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dengan harapan masih ada jalan yang terbuka untukku. Saat itu aku tidak tahu bagaimana hasilnya nanti. Aku hanya tahu bahwa menyerah sebelum mencoba adalah penyesalan yang akan kubawa seumur hidup.
Hari pengumuman pun tiba.
Dengan tangan gemetar dan jantung yang berdegup kencang, aku membuka hasil seleksi.
Aku dinyatakan lulus.
Bukan di program studi Kedokteran seperti yang selama ini kuimpikan.
Melainkan di Program Studi Statistika Universitas Tanjungpura.
Saat itu perasaanku campur aduk.
Ada rasa bahagia karena berhasil masuk perguruan tinggi negeri. Namun ada juga kesedihan karena aku harus benar-benar melepaskan cita-cita yang selama ini kupegang erat.
Aku tidak menjadi dokter.
Aku tidak berjalan di jalan yang selama ini kurencanakan.
Tetapi untuk pertama kalinya, aku belajar menerima bahwa kesempatan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan.
Aku memilih mengambil kesempatan itu.
Aku memilih melanjutkan hidup.
Aku memilih percaya bahwa mungkin Tuhan sedang menyiapkan jalan lain yang belum bisa kulihat saat itu.
Perjuanganku ternyata belum selesai.
Kondisi ekonomi keluarga yang belum pulih membuatku harus belajar mandiri. Aku tidak ingin menambah beban orang tuaku yang sedang berusaha mempertahankan keadaan keluarga.
Karena itu, selain menjalani perkuliahan, aku juga mengajar les.
Pagi hingga siang aku menjadi mahasiswa.
Sore hingga malam aku menjadi guru bagi anak-anak yang membutuhkan bimbingan belajar.
Dari hasil mengajar itulah aku berusaha memenuhi berbagai kebutuhan kuliahku sendiri. Tidak selalu cukup, tidak selalu mudah, tetapi setidaknya aku bisa sedikit meringankan beban orang tua.
Ada hari-hari ketika aku harus berpindah dari ruang kuliah ke tempat les tanpa sempat beristirahat. Ada malam-malam ketika aku mengerjakan tugas hingga larut setelah seharian belajar dan mengajar.
Aku lelah.
Sangat lelah.
Namun setiap kali ingin menyerah, aku teringat pada diriku yang dulu. Anak kecil yang bermimpi besar dan percaya bahwa pendidikan dapat mengubah hidupnya.
Hari ini aku mungkin tidak mengenakan jas dokter seperti yang dulu kuimpikan.
Namun aku tetap seorang pejuang mimpi.
Aku belajar bahwa keberhasilan tidak selalu berarti mendapatkan apa yang kita inginkan. Terkadang keberhasilan adalah tetap berjalan ketika hidup memaksamu mengambil jalan yang berbeda.
Di bangku Statistika, aku menemukan cara baru untuk berkembang. Aku belajar bahwa setiap ilmu memiliki manfaatnya sendiri. Aku belajar bahwa kontribusi kepada masyarakat dapat dilakukan melalui banyak cara, termasuk melalui data, penelitian, dan analisis yang membantu pengambilan keputusan di berbagai bidang, termasuk kesehatan yang masih sangat kucintai.
Kini aku memahami bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita minta.
Kadang Tuhan menutup satu pintu yang sangat kita inginkan agar kita menemukan pintu lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Aku memang tidak menjadi dokter.
Aku memang tidak menjalani masa depan yang dulu kurencanakan.
Namun aku berhasil menjadi seseorang yang tidak menyerah pada keadaan.
Dan bagiku, itu adalah kemenangan yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, masa depan tidak selalu tentang apa yang kamu inginkan, tetapi bukan berarti kamu tidak boleh merencanakannya. Sebab setiap rencana yang kita perjuangkan, berhasil ataupun tidak, akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih siap menghadapi kehidupan.
Aku adalah bukti bahwa mimpi tidak harus terwujud persis seperti yang kita bayangkan untuk tetap memiliki arti.
Kadang-kadang, jalan memutar justru mengantarkan kita pada versi terbaik dari diri kita sendiri.
