JEJAK PERJUANGAN MERAIH KAMPUS IMPIAN

Perkenalkan, nama saya Lisa. Saya berasal dari Desa Lakarama, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Saya merupakan alumni SMA NEGERI 1 NAPABALANO. Sejak kecil saya hidup di lingkungan sederhana dengan berbagai pengalaman yang membentuk cara pandang saya terhadap masa depan yang mulia. Dari sanalah saya mempunyai cita-cita menjadi guru dan masuk di Universitas Haluoleo, tetapi masuk di kampus Impian saya tidaklah mudah ada saja tantanggan dan ujian yang saya hadapi seperti, saat masi duduk di bangku kelas XII SMA, saya sangat berharap dapat di terima melalui jalur undangan. Saya telah mempersiapkan diri sebaik mungkin, tetapi takdir berkata lain saya tidak mendapatkannya, walaupun saya tidak mendapatkan kesempatan itu saya tidak ingin menyarah. Dengan semangat yang tersisa saya kembali mencoba dengan mendaftarkan diri melalui jalur SNBP sambil mengurus persyaratan KIP KULIAH karena kondisi ekonomi keluarga membuat bantuan tersebut sangat berarti bagi saya. Setelah menyelesaikan proses pendaftran dan ujian telah usai, saya memutuskan untuk berangkat ke Kendari, di mulai dari menaiki kapal kecil yang kami sebut bodi dari Pelabuhan Tampo, sebenarnya ada kapal Feri dari pelabuhan Tampo ke Torobulu tetapi saya memilih menaiki bodi karena saya rasa menaiki kapal Feri sangat lama dikarenakan waktu tes saya untuk SNBP sangat terbatas. Kurang lebih dari 1 setengah jam saya menempuh perjalanan saya di lautan, ahh saya lupa menuliskan jam berapa saya berangkat. Saya berangkat pukul 12.00 pada siang hari dan bodi saya naiki tidak memiliki atap, kalau saya ingat lagi pada masa itu sangatlah panas bayangkan pada pukul 12.00 siang matahri tepat di atas kepala saya berada di tengah lautan tanpa pelindung kepala tetapi hal itu membuat saya tidak patah semangat untuk masuk di kampus Impian saya. Setibanya di Pelabuhan Laenea saya melanjutkan perjalanan saya dengan menaiki mobil menuju ke Kendari perjalanan menuju ke Kendari 3 jam , sekitar pukul jam 16.00 saya tiba di Kendari saya langsung ke kos kakak saya.Keesokan paginya, saya pergi ke Lokasi tes dengan berjalan kaki dari kos kakak saya ke kampus selama kurang lebih dari 30 menit hingga akhirnya tiba di Lokasi. Meskipun perjalanan saya ke kampus cukup melelahkan hal itu tidak sedikit pun melunturkan semangat saya untuk dapat masuk ke kampus Impian saya. Keesokan paginya saya bangun lebih awal, tepat pukul 04.00 untuk melaksanakan sholat dan berdoa agar diberikan kemudahan dalam mengerjakan tes. Setelah selesai sholat, saya Bersiap-siap menuju ke Lokasi ujian. Mengingat jadwal tes dimulai pada pukul 07.00, saya berangkat dari kos kaka saya pada pukul 06.00 dengan berjalan kaki menuju kampus. Meskipun harus menempuh perjalanan dengan berjalanan kaki, semangat saya untuk mengikuti tes dan meraih cita-cita tidak pernah surut. Setelah mengikuti tes, saya tidak kembali ke kampung halaman, melainkan tetap menetap di Kendari untuk bekerja selama beberapa bulan. Hingga akhirnya, penguguman hasil pun tiba namun kenyataannya tidak berjalan dengan sesuai harapan dan doa yang selama ini saya panjatkan. Saya dinyatakan tidak lulus, kabar tersebut tentu membuat saya merasa sedih dan kecewa. Setelah saya dinyatakan tidak lulus, saya sempat mengurungkan niat melanjutkan kuliah bukan tanpa alasan untuk mengikuti tes SMBP memungut biaya yang cukup besar bagi keluarga saya. Namun keluarga saya terus memberikan saya dukungan dan keyakinan agar saya tidak menyerah. Berkat dorongan mereka, saya akhirnya memutuskan memutuskan untuk kembali mencoba jalur tes berikutnya yakni SMBP. Usaha dan doa kami akhirnya membuahkan hasil, saya dinyatakan lulus dan diterima di kampus Impian saya, Universitas Haluoleo pada Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Meskipun biaya kuliah menjadi tantangan yang cukup besar bagi keluarga, kedua orang tua saya tidak mengeluh ataupun menyerah. Pengorbanan mereka justru menjadi motivasi terbesar bagi saya untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan membanggakan keluarga. Kini saya telah berada di semester dua, hingga saat ini saya masih berjalan kaki setiap hari menuju kampus. Melihat teman-teman saya memiliki kendaraan tidak pernah membuat saya merasa minder. Bagi saya, setiap Langkah yang saya tempuh adalah bagian dari perjuangan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Melalui lomba ini, saya berharap dapat meraih kemenangan sehingga hadiah yang diperoleh dapat membantu meringankan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) saya. Lebih dari itu, saya berharap kisah perjuangan ini dapat menginspirasi banyak orang bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Selama masih ada tekad, doa, dan usaha jangan mudah menyerah karena setiap perjuangan akan menemukan jalannya menuju keberhasilan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *