DI BALIK SATU PENGUMUMAN
Tidak semua perjuangan dimulai dari nilai yang tinggi. Ada yang dimulai dari satu pertanyaan sederhana: apakah aku bisa kuliah?
Banyak orang melihat satu pengumuman yang terpampang di layar gawai: namaku dinyatakan diterima di perguruan tinggi negeri impian. Mereka mengucapkan selamat, tersenyum, dan ikut berbahagia. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di balik satu pengumuman itu, tersimpan perjalanan panjang yang dipenuhi doa, keraguan, kegagalan, dan harapan yang nyaris padam.
Sejak kecil cita-citaku hanya satu: menjadi guru. Saat itu, keluargaku masih hidup berkecukupan. Namun, ketika aku duduk dikelas lima, roda ekonomi keluarga mulai berputar. Toko buku ayah semakin sepi, dan beliau sering pulang dengan tangan kosong. Dari situlah aku mulai memahami bahwa pendidikan bisa menjadi jalan untuk mengubah keadaan keluargaku. Setiap upacara, aku melihat teman-temanku dipanggil ke depan untuk menerima penghargaan. Aku pun berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari nanti, aku juga bisa berdiri di sana. Sejak saat itulah, aku mulai memberanikan diri mengikuti berbagai lomba, terutama di bidang matematika yang memang kusukai. Aku percaya bahwa setiap kesempatan yang datang adalah langkah kecil yang membawaku lebih dekat pada cita-citaku. Usahaku membuahkan hasil. Aku berhasil memperoleh beasiswa penuh di sebuah pesantren tahfidz modern. Saat itu, aku mulai percaya bahwa perjuanganku memiliki arti, bukan hanya untuk diriku, tetapi juga untuk keluargaku. Tabungan yang kukumpulkan sejak SD akhirnya dapat digunakan untuk membantu meringankan biaya sekolah adikku. Semasa SMP, aku masih aktif mengikuti berbagai lomba yang direkomendasikan guru-guruku. Semua usaha itu mengantarkanku diterima di MAN 1 Kota Malang.
Di Magesa, aku menemukan banyak kesulitan, mulai dari rutinitas hingga mata pelajaran di madrasah yang belum pernah kupelajari saat di pesantren. Di kelas 10, aku berada di titik terendahku. Nilai rapotku tak mampu bersaing dengan nilai teman-temanku. Setiap kali ikut lomba, langkahku selalu terhenti di babak penyisihan. Saat itu, aku benar-benar merasa putus asa. Akhirnya, di kelas 11 aku mencoba memperbaiki nilaiku. Aku berhenti mengikuti lomba dan mulai fokus belajar. Teman-temanku bisa mengikuti les, sedangkan aku tidak. Aku tahu kondisi ekonomi keluargaku tidak memungkinkan untuk itu. Aku masuk MAN tanpa beasiswa. Di saat yang sama, adikku juga mulai masuk SMP. Aku tidak ingin menambah beban ibuku, sehingga hanya bisa mengandalkan diriku sendiri. Alhamdulillah, usahaku membuahkan hasil dan nilaiku perlahan mulai membaik. Namun, memasuki semester berikutnya, pelajaran semakin menantang sehingga peringkatku kembali turun. Aku sempat sedih. Namun, aku memilih untuk kembali bangkit di kelas 12.
Perjuanganku mengejar pelajaran ternyata tidak sia-sia. Di tahun yang sama, namaku tercantum dalam daftar siswa eligible. Aku bersyukur akhirnya bisa menjadi bagian dari daftar tersebut. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Peringkatku berada di bagian bawah dan aku hampir tidak memiliki sertifikat prestasi yang dapat menjadi nilai tambah. Aku benar-benar bingung. Haruskah aku tetap mengejar impian, atau memilih jurusan yang lebih realistis dengan nilai rapotku? Hampir sebulan penuh aku memikirkan pertanyaan itu.
Di tengah kebingungan itu, ibu meyakinkanku, "Gapapa mbak, pilih aja Pendidikan Matematika di UM, sama satunya Akuntansi di Polinema. Mbak mau Akuntansi kan?" Namun, ucapan ibu justru mengingatkanku pada percakapanku dengan ayah beberapa waktu sebelumnya: "Mbak, pean lulus SMA, kerja o ae, ikut o ndek tempat kerja e kakak, bagian cuci piring, pean lak bisa se." Jujur, aku sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Akhirnya, aku menceritakan percakapan itu ke ibu. Perbedaan pandangan mereka pun memicu pertengkaran. Ibu ingin ada anaknya yang berhasil menjadi sarjana karena kedua kakakku tidak sempat melanjutkan kuliah. Sementara itu, ayah ingin mengurangi beban keluarga. Aku memahami alasan ayah. Usia orang tuaku tidak lagi muda, sementara kakakku juga sedang mempersiapkan kehidupan keluarganya sendiri. Dari situ, akhirnya aku mulai mengurus pendaftaran KIP-K. Karena bukan penerima KIP saat SMA, aku harus mencari informasi dan mengurus seluruh persyaratan KIP-K secara mandiri. Sesekali, aku meminta bantuan guru atau orang tuaku ketika menemui kesulitan. Setelah seluruh persyaratan KIP-K selesai kuurus, aku semakin mantap memilih Pendidikan Matematika di UM seperti yang disarankan ibu.
Awalnya aku ragu. Bagaimana jika aku tidak lolos? Bagaimana jika aku tidak diterima? Ibu hanya berkata, "Gapapa, tak doain. Lek ga lolos berarti emang belum rezeki." Benar saja, saat pengumuman SNBP, layar merah terpampang di hadapanku. Tentu aku kecewa dan sedih. Namun, aku tidak ingin larut dalam kekecewaan itu. Jarak antara pengumuman SNBP dan pelaksanaan UTBK-SNBT hanya sekitar tiga minggu. Aku langsung mendaftar SNBT, menyinkronkan akun KIP-K, lalu mengejar materi yang belum kukuasai. Syukurlah, sekolah bekerja sama dengan sebuah bimbingan belajar sehingga aku bisa mengikuti kelas tambahan. Di rumah, aku belajar menggunakan buku-buku bekas yang ada di toko ayah dan memanfaatkan berbagai materi dari akun bimbingan belajar di Instagram. Setiap hari terasa seperti berpacu dengan waktu, tetapi aku tidak ingin menyerah sebelum benar-benar mencoba.
Seperti biasanya, setelah melalui masa-masa penuh tekanan, tubuhku tumbang. Seminggu sebelum UTBK, aku jatuh sakit. Namun, saat hari pelaksanaan tiba, aku tetap berangkat meski kondisi tubuhku belum sepenuhnya pulih. Aku mendapat jadwal hari pertama sesi pertama. Di ruang ujian, keringatku terus bercucuran meskipun ruangan ber-AC, sementara temanku justru merasa kedinginan. Sepulang dari UTBK, aku langsung tertidur. Setelah itu, aku hanya bisa berdoa dan menjalani hari-hari seperti biasa. Di balik rutinitas itu, aku terus menunggu hari pengumuman dengan penuh harap.
Hingga akhirnya, tibalah hari pengumuman. Sejak pagi aku hanya bisa berdoa. Pukul tiga sore, laman utama sempat mengalami error sehingga aku mencoba membuka web mirror. Di sampingku, ibu terus mendoakanku. Dengan mengucap bismillah, aku menekan tombol submit. Tulisan "Selamat" muncul di layar. Aku hanya bisa terdiam. "Buk… ini beneran?" tanyaku. Ibu hanya tersenyum dan mengangguk. Bahkan ayah pun tidak menyangka.
Perjuanganku belum benar-benar selesai. Aku masih menunggu pengumuman KIP-K sambil menyiapkan berbagai rencana cadangan jika belum berhasil. Tiga minggu kemudian, doa-doa itu kembali dijawab. Aku dinyatakan sebagai penerima KIP-K. Saat itu aku merasa sangat lega. Untuk pertama kalinya, aku merasa perjuanganku benar-benar meringankan beban keluargaku. Ibu tidak lagi harus memikirkan biaya kuliahku dan bisa lebih fokus mempersiapkan pendidikan adikku.
Kini, hari-hariku diisi dengan berbagai persiapan menuju perkuliahan. Suatu hari, saat berada di toko ayah, aku mendengar teman-temannya berkata, "Alhamdulillah yo, anakmu wes dadi uwong." Aku hanya tersenyum karena dalam hati aku tahu bahwa perjalananku masih sangat panjang. Aku bahkan belum memulai kuliah. Namun, ucapan itu semakin meyakinkanku bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia.
Kini aku juga bisa menjadi kompas bagi adikku. Ia tidak perlu lagi mencari jalan sendiri seperti yang pernah kulakukan. Aku ingin menjadi orang pertama di keluargaku yang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari mimpi, melainkan awal dari perjuangan. Di balik satu pengumuman, ada doa, air mata, kegagalan, dan perjuangan yang mungkin tidak pernah dilihat orang lain. Karena itu, untuk siapa pun yang sedang berjuang mengejar perguruan tinggi impian, jangan pernah menyerah. Mungkin jalanmu memang lebih panjang, tetapi bukan berarti kamu tidak akan sampai.
