Mimpi di Antara Pohon Kopi

Esai Perjuangan dan Pendidikan oleh Rara Vadila

Di antara hamparan kebun kopi di Kota Agung, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, saya tumbuh bersama mimpi yang tampak sederhana: melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Bagi sebagian orang, mimpi itu mungkin biasa saja. Namun bagi saya, seorang anak petani kopi dari keluarga sederhana, mimpi tersebut adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dengan penuh kerja keras dan pengorbanan.

Perkenalkan, nama saya Rara Vadila, mahasiswi semester 3 Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya. Saya merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang lahir dan tumbuh di tengah keluarga petani kopi sederhana.

Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang seluruh kebutuhan hidupnya bergantung pada hasil panen kopi. Penghasilan keluarga kami tidak selalu menentu karena sangat bergantung pada musim dan hasil panen. Sejak kecil saya sering ikut orang tua ke kebun dan melihat langsung bagaimana kerasnya perjuangan mereka mencari nafkah. Dari kebun kopi itulah saya belajar arti kerja keras, kesabaran, dan ketekunan.

Kehidupan kami jauh dari kata mewah. Selama bertahun-tahun keluarga kami tinggal di rumah kontrakan sebelum akhirnya memiliki rumah sederhana yang selesai dibangun saat saya berada di penghujung masa SMA. Dalam perjalanan sekolah, saya terbiasa berjalan kaki, menumpang teman, atau diantar ayah. Tidak jarang saya harus menunggu ojek agar bisa sampai ke sekolah. Bagi sebagian orang hal itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi saya itu adalah bagian dari perjuangan untuk tetap memperoleh pendidikan.

Menjelang kelulusan SMA, saya mulai memikirkan masa depan. Saya memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agar dapat membanggakan kedua orang tua dan membantu memperbaiki keadaan keluarga. Sebagai anak pertama, saya merasa memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkan harapan tersebut.

Sejak SMA, saya mengenal Universitas Sriwijaya sebagai salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Sumatera Selatan. Bagi saya, kuliah di Universitas Sriwijaya bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi juga tentang membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. Karena itulah saya berusaha menjaga prestasi akademik dan berharap dapat diterima melalui jalur SNBP.

Ketika pendaftaran SNBP dibuka, saya memberanikan diri bertanya kepada ibu.

"Bu, boleh ikut SNBP?"

Ibu menjawab dengan tenang.

"Ikut saja. Kalau lolos, alhamdulillah. Kalau belum, tidak apa-apa."

Jawaban itu sederhana, tetapi saya tahu ibu juga memikirkan hal yang sama dengan saya: bagaimana jika saya benar-benar diterima? Dari mana biaya kuliahnya? Malam itu saya tidak bisa tidur. Saya salat dan berdoa meminta petunjuk kepada Allah SWT. Setelah banyak pertimbangan, saya memutuskan untuk tetap mencoba. Saya percaya bahwa mimpi tidak boleh berhenti hanya karena keadaan.

Saat memilih jurusan, saya mempertimbangkan minat saya pada dunia pertanian yang sudah dekat dengan kehidupan sejak kecil. Tumbuh di tengah keluarga petani membuat saya memahami bahwa pertanian memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Karena itulah saya memilih Program Studi Agronomi di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.

Hari pengumuman SNBP akhirnya tiba. Saat itu bulan Ramadan dan saya sedang berjualan takjil keliling bersama teman untuk menambah penghasilan. Dengan perasaan campur aduk, saya membuka hasil pengumuman. Saya dinyatakan lulus. Dari 19 siswa di sekolah saya yang mendaftar SNBP, hanya dua orang yang diterima, dan saya adalah salah satunya.

Sesampainya di rumah, saya langsung memeluk ibu sambil menangis.

"Bu, aku lulus di Unsri."

Ibu dan ayah terlihat sangat bahagia. Namun di tengah kebahagiaan itu, saya bertanya dengan suara bergetar,

"Bu, Pak… gimana cara bayarnya?"

Ayah menjawab dengan tenang,

"Kamu tidak usah pikirkan biaya. Fokus sekolah saja."

Kalimat itu menjadi salah satu kalimat yang tidak pernah saya lupakan. Saya tahu di balik ketenangan ayah, ada perjuangan besar yang sedang beliau hadapi. Saat itu keluarga kami sedang membangun rumah sederhana dan kondisi ekonomi belum stabil. Namun ayah dan ibu tetap berusaha sekuat tenaga agar saya bisa melanjutkan pendidikan.

Memasuki semester pertama, saya mulai menyadari bahwa perjuangan tidak berhenti setelah diterima di kampus impian. Berbagai kebutuhan kuliah dan praktikum menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga kami. Setiap kali saya membutuhkan biaya tambahan, saya selalu merasa takut untuk meminta kepada orang tua. Ketika saya menelepon, ibu terkadang berkata,

"Nanti ya, Nak. Bapak sama ibu cari uang dulu. Kopinya belum kering, belum bisa dijual."

Kalimat sederhana itu selalu membuat hati saya sesak. Saya sadar bahwa setiap rupiah yang mereka kirimkan merupakan hasil kerja keras yang tidak mudah diperoleh.

Bahkan suatu ketika ibu sempat jatuh sakit karena terlalu banyak memikirkan biaya hidup keluarga dan pendidikan saya di perantauan. Saat mendengar kabar itu, saya hanya bisa menangis di kamar kost karena tidak bisa berada di samping beliau. Saya juga mengetahui bahwa orang tua harus berutang agar kami tetap bisa bertahan. Momen itu membuat saya berjanji kepada diri sendiri untuk tidak menyerah. Saya harus menyelesaikan kuliah dan membuktikan bahwa semua pengorbanan mereka tidak sia-sia.

Saya juga berusaha mencari berbagai peluang beasiswa untuk membantu meringankan beban keluarga. Meskipun berkali-kali belum berhasil, saya memilih untuk terus mencoba dan tidak kehilangan harapan. Selain mengikuti perkuliahan, saya aktif dalam berbagai kegiatan kampus. Saya dipercaya menjadi Contact Person (CP) mahasiswa baru, terlibat dalam kepanitiaan PKKMB Fakultas Pertanian, serta kepanitiaan BDP di tingkat jurusan. Melalui pengalaman tersebut, saya belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, komunikasi, dan kepemimpinan.

Hari ini saya masih berjuang sebagai mahasiswi semester 3 Program Studi Agronomi Universitas Sriwijaya. Perjalanan saya masih panjang, tetapi saya percaya bahwa setiap langkah yang saya tempuh adalah bentuk penghargaan atas pengorbanan kedua orang tua saya.

Saya lahir dari keluarga petani kopi yang sederhana. Dari kebun kopi itulah saya belajar bahwa tidak ada hasil yang datang secara instan. Pohon kopi membutuhkan waktu, kesabaran, dan perawatan sebelum akhirnya berbuah. Begitu pula mimpi. Universitas Sriwijaya yang dahulu hanya menjadi angan-angan seorang anak petani kini telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Kampus impian itu berhasil saya raih berkat doa, kerja keras, dan pengorbanan kedua orang tua yang tidak pernah menyerah pada keadaan.

Suatu hari nanti, saya ingin kembali kepada kedua orang tua saya bukan hanya sebagai seorang sarjana, tetapi sebagai anak yang mampu membalas perjuangan mereka dan mengangkat derajat keluarga.

Karena mimpi yang tumbuh di antara pohon-pohon kopi tidak akan berhenti hanya karena keadaan. Mimpi itu akan terus hidup, tumbuh, dan berbuah pada waktunya.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *