Gagal di Angka, Menang di Makna
Penulis: Satria Suriyadi Roma
Suara kalkulator berdenting pelan, berulang, seperti detak jam yang tak pernah lelah. Di atas meja, lembar-lembar latihan soal menumpuk, sebagian terlipat di sudut, sebagian penuh coretan koreksi. Malam di Pontianak masih panas, meski sudah lewat tengah malam. Kipas angin berputar tanpa banyak membantu. Keringat menempel di pelipis, tapi tangan saya tetap bergerak menekan tombol, menulis angka, menghapus, lalu mencoba lagi. Saya menghafal pola, Saya mengulang rumus, Saya menghitung sampai kepala terasa penuh. Di antara semua itu, ada satu bayangan yang terus saya kejar: diterima di jurusan akuntansi, di kampus yang selama ini hanya saya lihat dari cerita orang-orang. Setiap angka yang saya selesaikan terasa seperti satu langkah lebih dekat.
Hari pengumuman datang tanpa aba-aba. Saya duduk di depan layar komputer, jari telunjuk menggantung di atas mouse. Halaman itu terbuka perlahan. Nama saya tidak ada. Yang ada hanya satu kata “Maaf”. Saya tidak langsung menutup layer Kursor berkedip di sudut halaman, sementara saya tetap menatap kata itu. Menit berganti, tapi tidak ada yang berubah. Di meja sebelah, sepiring nasi yang tadi disiapkan ibu sudah tidak lagi mengeluarkan uap. Sendoknya masih bersih, belum tersentuh. Beberapa hari setelah itu, saya berada di ruang pendaftaran sebuah universitas swasta di Pontianak. Formulir di tangan terasa lebih berat dari seharusnya. Di sekitar saya, orang-orang berbicara tentang jurusan, tentang rencana, tentang masa depan. Saya hanya mengisi kolom demi kolom, tanpa banyak berpikir. Hari-hari pertama kuliah terasa asing. Di layar ponsel, notifikasi terus muncul unggahan teman-teman yang tersenyum di depan gerbang kampus impian mereka. Saya menggulir layar lebih cepat dari biasanya, lalu mengunci ponsel dan meletakkannya terbalik di meja. Di dalam kelas hukum, saya duduk sambil menatap buku yang terbuka, tapi pikiran saya entah ke mana. Halaman-halaman itu terasa seperti bahasa yang tidak saya kenal.
Suatu siang, panas Pontianak terasa lebih menyengat dari biasanya. Saya duduk di kelas, membuka buku hukum yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Kali ini, saya berhenti lebih lama di satu paragraf. Tentang keadilan, tentang hak, tentang seseorang yang harus dilindungi oleh aturan. Saya membaca ulang dengan pelan. Lalu untuk pertama kalinya, saya tidak sekadar melihat kata-kata saya mulai membayangkan cerita di baliknya. Bagaimana jika seseorang tidak mendapat keadilan? Siapa yang akan membelanya? Saya menutup buku itu sejenak, lalu membukanya lagi. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Kalimat demi kalimat tidak lagi terasa asing. Ia mulai terasa… penting. Di titik itu, saya menyadari: tidak semua hal harus dihitung untuk menjadi berarti.
Sejak hari itu, meja belajar saya berubah. Bukan lagi penuh angka, tapi dipenuhi catatan pasal, ringkasan materi, dan buku-buku hukum yang mulai penuh dengan stabilo warna-warni. Saya mulai duduk lebih lama bukan karena harus, tapi karena ingin tahu lebih banyak. Nilai demi nilai muncul di layar akademik. Angka 4.0 tertera di sana, sederhana, tanpa suara tapi cukup untuk membuat saya berhenti sejenak dan menatapnya lebih lama. Di luar kelas, saya melangkah ke ruang organisasi. Di Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM), saya tidak hanya duduk dan mendengar. Saya berbicara, berdiskusi, terkadang berbeda pendapat, lalu belajar bagaimana menyatukan semuanya. Suatu hari, saya berdiri di tengah kegiatan Natal Oikumene sebagai volunteer. Suara lagu mengalun, orang-orang berkumpul, dan saya bergerak dari satu tugas ke tugas lain. Di tengah keramaian itu, saya menyadari saya tidak lagi merasa asing.
Sekarang, saya berada di semester 2. Langkah saya belum panjang, tapi sudah cukup jauh untuk melihat ke belakang tanpa ragu. Di tengah jadwal kuliah, saya mengikuti workshop dan mentoring Komnas HAM. Saya duduk, mencatat, berdiskusi kali ini dengan rasa yang berbeda. Bukan lagi mencari jalan keluar, tapi sedang membangun jalan ke depan. Saya pernah berdiri di depan layar, terpaku pada satu kata: “Maaf”. Hari ini, saya berdiri di titik yang berbeda bukan karena semuanya berjalan sesuai rencana, tapi karena saya tidak berhenti berjalan. Kampus impian itu ternyata bukan tentang gedung megah atau nama besar yang tertulis di jaket almamater. Ia ada di meja belajar yang panas tanpa AC. Di halaman buku yang dibaca ulang. Di langkah kecil yang diambil, setiap hari, tanpa banyak suara. Dan di sanalah, saya menemukannya.
