Mimpi yang Hampir Kukubur: Jejak Perjalanan Si Ehung
Mondok, kerja, kuliah, atau nikah muda? Itulah pertanyaan yang selalu berputar di benakku ketika aku hampir lulus kelas 12. Hai teman-teman, perkenalkan namaku Siti Solehah. Namun, kebanyakan orang memanggilku Ehung. Lucu memang, nama sebagus itu malah dipanggil Ehung. Tapi jujur, aku lebih suka dipanggil Ehung daripada Siti atau Solehah. Rasanya lebih dekat dengan diriku sendiri. Menurutku, Ehung bisa menjadi Siti Solehah, tetapi Siti Solehah belum tentu bisa menjadi Ehung. Nama Ehung menggambarkan diriku yang ceria, mudah tertawa, ramah, suka bergaul, dan dikenal banyak orang. Aku adalah anak keempat dari enam bersaudara, dan dari keenam bersaudara itu, akulah orang pertama yang merasakan duduk di bangku perkuliahan.
Awalnya, kuliah bukanlah impianku yang utama. Bahkan kuliah adalah pilihan ketigaku. Saat kelas 11 SMA, aku pernah bercita-cita masuk jurusan Geografi karena aku sangat menyukai mata pelajaran tersebut. Bagiku, Geografi sangat menarik karena mengajarkan banyak hal tentang bumi dan alam semesta. Aku juga sangat menyukai alam sehingga jurusan itu terasa cocok untukku. Aku pernah menyampaikan keinginanku kepada mamah dan bapak. Saat itu bapak bertanya alasanku memilih jurusan tersebut, lalu aku menjelaskan dengan penuh semangat. Namun, bapak menyarankan agar aku memilih jurusan lain karena beliau khawatir jika nanti pekerjaanku banyak berhubungan dengan alam dan lapangan. Meski begitu, aku tetap bersikeras. Akhirnya bapak berkata bahwa keputusan ada di tanganku.
Saat itu kondisi bapakku sedang sakit cukup parah. Meski demikian, beliau pernah mengatakan sesuatu yang hingga kini masih teringat jelas dalam ingatanku. Bapak berkata bahwa jika aku ingin kuliah, beliau akan berusaha sehat kembali dan mencari uang untuk membiayai pendidikanku. Mendengar hal itu, aku merasa sangat bahagia karena merasa didukung sepenuhnya oleh bapak. Sejak saat itu aku mulai mencari berbagai informasi tentang dunia perkuliahan. Aku bahkan sering bertanya kepada guru mengenai jurusan Geografi dan berbagai hal tentang kampus. Banyak istilah yang awalnya asing bagiku, seperti UKT, SKS, IPK, IRS, dan Osjur. Semua itu aku pelajari sendiri melalui internet karena aku benar-benar tidak memahami dunia perkuliahan.
Ketika aku menginjak kelas 12, kami mulai mengurus berbagai persyaratan SNBP. Namun, pada saat itulah hidupku berubah. Pada tanggal 23 Juli 2024, Allah memanggil bapakku untuk pulang lebih dahulu. Rasanya duniaku runtuh seketika. Orang yang paling mendukung impianku pergi untuk selamanya. Sejak saat itu, keinginanku untuk kuliah perlahan terkubur. Aku mulai berpikir tentang biaya pendidikan dan siapa yang akan membiayaiku. Aku yang awalnya selalu berdoa agar bisa kuliah akhirnya hanya bisa meminta kepada Allah agar diberikan jalan terbaik.
Ketika waktu pemilihan jurusan SNBP tiba, sebenarnya aku ingin mengundurkan diri. Namun, aku merasa tidak enak kepada guru yang sudah membantu mengurus semuanya. Dalam hatiku aku berpikir bahwa mungkin aku tidak akan lolos, jadi tidak ada salahnya mencoba. Aku ingin masuk UPI Tasikmalaya meskipun saat itu aku belum pernah melihat kampusnya secara langsung. Masalahnya, jurusan Geografi tidak tersedia di kampus tersebut. Guruku menyarankan jurusan Kewirausahaan dan Bisnis Digital, tetapi aku merasa tidak memiliki gambaran mengenai kedua jurusan itu. Aku sempat ingin memilih PGSD, namun akhirnya aku memilih PGPAUD sebagai pilihan pertama dan Kewirausahaan sebagai pilihan kedua. Dengan penuh kebingungan, aku menekan tombol submit.
Tanggal 18 Maret 2025 menjadi hari yang sangat menegangkan karena pengumuman SNBP akhirnya tiba. Malam sebelumnya aku bahkan berkata kepada mamah bahwa aku berharap tidak lolos. Namun, mamah hanya menjawab bahwa beliau selalu mendoakan yang terbaik. Saat pengumuman berlangsung, kami berkumpul di sekolah. Aku menjadi orang terakhir yang membuka hasil karena jaringan internet sangat sulit. Semua orang menunggu hasilku. Aku begitu takut hingga memejamkan mata. Tiba-tiba guruku memelukku. Ketika kubuka mata, layar di depanku berwarna biru. Aku dinyatakan lolos. Anehnya, aku tidak langsung merasa bahagia. Aku justru menangis karena takut. Aku takut memikirkan biaya kuliah, takut menjadi beban keluarga, dan takut mamah harus memikirkan semuanya sendirian.
Sepulang sekolah aku menelepon mamah dan memberitahukan bahwa aku lolos SNBP. Mamah tampak bingung harus merasa bahagia atau sedih karena sebagian besar keluarga sebenarnya lebih setuju aku mondok daripada kuliah. Namun akhirnya mamah berkata bahwa jika memang itu sudah menjadi jalan yang diberikan Allah, maka aku harus menjalaninya. Sejak saat itu perjuanganku belum selesai. Proses daftar ulang menjadi salah satu masa yang paling berat dalam hidupku. Aku harus mengurus banyak dokumen, data ekonomi keluarga, surat dari desa, dan berbagai persyaratan lainnya. Karena tinggal di pesantren, aku tidak bisa mengurus semuanya secara langsung. Aku berkali-kali menghubungi perangkat desa untuk meminta dokumen yang diperlukan. Bahkan suatu hari aku dimarahi karena terlalu sering bertanya. Kalimat yang mereka ucapkan memang sederhana, tetapi cukup membekas dalam hatiku. Saat itu aku merasa seperti orang kecil yang tidak dianggap penting.
Semua proses itu aku jalani sendirian. Aku menangis sendirian, takut sendirian, dan bingung sendirian. Belum lagi banyak dokumen yang ditolak oleh sistem sehingga harus diperbaiki berkali-kali. Aku mulai mengalami kecemasan yang berlebihan. Bahkan membuka WhatsApp saja membuatku takut karena grup calon mahasiswa baru selalu dipenuhi informasi yang tidak kumengerti. Setiap notifikasi membuat dadaku berdebar. Di saat yang sama, aku juga harus mendengar berbagai komentar yang meragukan kemampuanku. Dari pengalaman itu aku belajar bahwa jika tidak bisa menyemangati seseorang, setidaknya jangan menjatuhkan semangat dan mentalnya. Karena satu ucapan buruk bisa membuat seseorang semakin ragu terhadap dirinya sendiri.
Hari ini, ketika aku melihat ke belakang, aku merasa sangat bangga pada diriku sendiri. Aku bangga karena berhasil melewati semua ketakutan, kebingungan, dan kesulitan yang pernah menghampiriku. Aku berhasil bertahan meskipun masuk jurusan yang bukan impianku, meskipun hampir tidak memiliki support system, dan meskipun harus mengurus banyak hal seorang diri. Kini aku adalah mahasiswi S1 PGPAUD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya yang sedang bersiap menginjak semester tiga.
Perjalanan ini mengajarkanku bahwa takdir adalah milik Allah, sedangkan usaha adalah tugas kita. Mungkin jalanku tidak mudah dan tidak sesuai dengan rencana yang pernah kubayangkan. Namun aku percaya bahwa setiap langkah yang Allah tuliskan pasti memiliki alasan terbaik.
Dan untuk diriku sendiri, aku ingin mengatakan satu hal: aku bangga karena telah bertahan sejauh ini.
Untuk mamahku, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Aku bangga memiliki mamah sekuat dirimu. Setelah kepergian bapak, mamah rela banting tulang, menahan lelah, dan berjuang sendirian demi anak-anaknya, termasuk demi pendidikanku. Maafkan aku jika sampai hari ini masih menjadi beban bagi mamah. Percayalah, sebenarnya aku juga tidak ingin berada di posisi yang membuat mamah harus bekerja lebih keras. Namun aku berjanji akan terus berusaha agar semua pengorbanan mamah tidak sia-sia.
Mah, doakan aku agar selalu kuat menjalani setiap proses yang ada di depan. Doakan aku agar bisa menyelesaikan kuliah ini dengan baik, menjadi orang yang bermanfaat, dan mampu membanggakan keluarga. Aku ingin suatu hari nanti melihat mamah tersenyum bahagia karena perjuangannya telah terbayar.
Untuk kakak-kakakku, terima kasih karena selalu membantu dan mendukung biaya pendidikanku. Mungkin aku tidak selalu mengatakannya, tetapi aku sangat bersyukur memiliki kalian. Terima kasih karena sudah menjadi bagian dari alasan mengapa aku bisa bertahan sampai sejauh ini. Dan untuk adik-adikku, terima kasih karena selalu mendoakan dan menyemangatiku. Kalian adalah salah satu alasan mengapa aku ingin terus berjuang dan tidak menyerah.
Dan untuk bapakku yang sudah lebih dulu pulang kepada Allah, lihatlah aku dari sana. Anak yang dulu selalu bercerita tentang mimpinya kini sudah berada di bangku kuliah. Aku masih ingat janji ayah yang mengatakan akan sembuh dan mencari uang untuk menguliahkanku. Namun ternyata Allah memiliki rencana yang berbeda. Ayah memang tidak bisa menemaniku sampai di gerbang kampus, tidak bisa melihatku memakai almamater, dan tidak bisa mendengar cerita-cerita perkuliahanku secara langsung. Tetapi aku percaya, doa dan kasih sayang ayah masih mengiringi setiap langkahku.
Ayah, terima kasih karena pernah percaya pada mimpiku ketika aku sendiri masih ragu. Hari ini aku ingin mengatakan bahwa aku berhasil sampai di titik ini. Meski ayah tidak lagi berada di sampingku, semangat dan harapan ayah selalu hidup di dalam diriku. Jika ayah bisa melihatku sekarang, aku harap ayah bangga. Karena sejauh apa pun aku melangkah, aku tetaplah anak kecil ayah yang sedang berusaha mewujudkan mimpi yang dulu pernah kita bicarakan bersama.
Untuk keluargaku tercinta, mungkin aku belum bisa memberikan apa-apa saat ini. Namun percayalah, setiap langkah yang aku tempuh hari ini adalah untuk membahagiakan kalian di masa depan. I love you, my family. Terima kasih karena selalu menjadi rumah tempat aku pulang, tempat aku menguatkan diri, dan alasan mengapa aku terus berjuang sampai hari ini.
