GAP YEAR: PERJUANGAN YANG PATUT DIRAYAKAN
Halo, perkenalkan saya Suci, mahasiswa baru yang lulus SMA tahun 2024 dan berhasil lolos SNBT tahun 2026. Perjalanan saya menuju bangku kuliah bukanlah perjalanan yang mudah. Diawali dengan keadaan ekonomi yang kurang mendukung untuk langsung melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, membuat saya harus menjalani masa gap year selama dua tahun, sebuah keputusan yang penuh keraguan, rasa putus asa, dan kekhawatiran terhadap hilangnya masa depan yang cerah. Namun, saya ingin membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mengejar mimpi.
Sejak masih duduk di bangku sekolah, saya sering membayangkan kehidupan sebagai mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik. Saya selalu mencari informasi tentang jurusan dan universitas yang saya impikan, berharap suatu hari nanti bisa menjadi bagian dari mereka dan merasakan kebahagiaan saat mengenakan jas almamater kebanggaan. Namun, setelah lulus SMA pada tahun 2024, mimpi itu seakan sirna karena kondisi ekonomi keluarga menjadi faktor utama yang menahan langkah saya. Saya masih ingat bagaimana ayah berkata kala itu, "Kerja aja ya, Nak. Kuliah ataupun tidak, akhirnya sama-sama mencari kerja." Kalimat itu bukanlah bentuk penolakan terhadap pendidikan, melainkan wujud realistis dari keadaan ekonomi keluarga kami. Saya sangat memahami perkataan beliau karena saya tahu keputusan itulah yang terbaik pada saat itu.
Akhirnya, saya memutuskan untuk bekerja dan menyisihkan sebagian penghasilan demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Meskipun begitu, mimpi saya untuk melanjutkan pendidikan tidak pernah benar-benar padam. Sepulang kerja, tak jarang saya masih membuka dan mempelajari materi UTBK. Saat itu saya sendiri belum tahu kapan kesempatan untuk mengikuti ujian tersebut akan datang. Namun, saya selalu yakin bahwa kesempatan itu akan hadir pada waktunya.
Dua tahun kemudian, kesempatan itu benar-benar datang. Saya memutuskan untuk bangkit dan mengikuti UTBK pada kesempatan terakhir yang saya miliki. Alhamdulillah, perjuangan tersebut membuahkan hasil. Saya dinyatakan lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dan diterima di Program Studi Agribisnis di salah satu perguruan tinggi negeri.
Saya memilih jurusan Agribisnis bukan tanpa alasan. Saya berasal dari daerah dataran tinggi yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani. Sayangnya, masih banyak dari mereka yang belum memahami pentingnya pengelolaan rantai pasok (supply chain), pemasaran hasil panen, maupun cara meningkatkan nilai jual produk pertanian. Melalui ilmu yang saya peroleh di bangku kuliah, saya berharap suatu saat nanti dapat berbagi pengetahuan sehingga daerah saya memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.
Saya merupakan anak kedua dari lima bersaudara dan berasal dari sebuah dusun kecil di Provinsi Jawa Barat. Dusun saya dihuni oleh kurang dari 500 kepala keluarga. Hingga saat ini, hanya segelintir warga yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebagian besar remaja di sini memilih bekerja atau menikah setelah lulus SMA. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh anggapan bahwa kuliah membutuhkan biaya yang sangat besar dan hanya dapat ditempuh oleh mereka yang berasal dari keluarga mampu. Saya memahami munculnya stigma tersebut karena minimnya informasi mengenai berbagai beasiswa dan bantuan pendidikan yang dapat menunjang biaya kuliah hingga lulus. Selain itu, masih adanya pola pikir bahwa perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi menjadi pandangan yang ingin saya ubah.
Bagi saya, pendidikan adalah harapan yang layak diperjuangkan oleh setiap orang. Seperti yang dikatakan Nelson Mandela, "Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah keadaan." Keterbatasan ekonomi bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi, melainkan ruang yang mengajarkan arti perjuangan. Saya juga ingin membuktikan bahwa jeda bukan berarti menyerah, tetapi kesempatan untuk mempersiapkan diri dan menunjukkan bahwa mimpi tidak mengenal batas waktu.
Saya berharap kisah ini dapat memberikan keberanian kepada adik-adik semua, khususnya di kampung saya, untuk terus bermimpi dan percaya bahwa kuliah bukan hanya milik mereka yang mampu secara finansial, tetapi milik siapa pun yang memiliki kemauan, tekad, dan keberanian untuk mencoba.
Sejatinya, kisah ini tidak berhenti ketika saya dinyatakan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri. Perjuangan saya sesungguhnya baru saja dimulai, untuk membuktikan bahwa gap year bukan berarti gagal, melainkan sebuah perjuangan yang patut dirayakan.
