Mimpi yang Berpindah Rumah
Dari: Tasya Nur Farasadilla
Hujan selalu punya cara untuk mengingatkan.
Malam itu, ia jatuh pelan di atap rumah kami, rumah kecil yang menyimpan lebih banyak harapan daripada kepastian. Aku duduk di lantai, bersandar pada dinding yang mulai rapuh, menatap layar ponsel yang memantulkan satu nama yang sejak lama kusebut dalam doa:
Universitas Hasanuddin.
Nama itu bukan sekadar tujuan.
Ia adalah janji yang pernah diucapkan oleh seseorang yang kini hanya tinggal dalam ingatan.
“Kalau kamu jadi dokter, bantu orang-orang yang tidak mampu, Nak.”
Suara bapak masih hidup di kepalaku, meski tubuhnya telah lama kembali ke tanah. Sejak kepergiannya, hidup tidak lagi sama. Dunia terasa lebih sunyi, lebih berat. Yang tersisa hanyalah ibu, perempuan sederhana yang setiap pagi menanak adonan, membentuk harapan dari tepung dan gula, lalu menjualnya dari pintu ke pintu.
Tangannya kasar.
Bukan karena usia,
tetapi karena bertahan.
Dan setiap kali melihatnya, aku tahu, aku tidak punya pilihan selain terus berjalan.
Sejak SMA, aku menanam satu mimpi dengan keyakinan yang hampir keras kepala: menjadi mahasiswa Pendidikan Dokter di Universitas Hasanuddin.
Aku belajar di sela waktu.
Di antara lelah.
Di antara keterbatasan.
Ketika teman-temanku berbicara tentang bimbingan belajar, aku berbicara dengan diriku sendiri. Ketika mereka membeli buku baru, aku membaca ulang buku lama. Ketika listrik padam, aku tetap belajar, ditemani cahaya kecil dari layar ponsel yang hampir kehabisan daya.
Aku tidak pernah merasa hebat.
Aku hanya tidak ingin berhenti.
SNBP menjadi pintu pertama yang kuketuk.
Hari pengumuman datang seperti badai yang ditunggu-tunggu sekaligus ditakuti. Dengan tangan gemetar, aku membuka hasilnya.
Dan di sana, dunia terasa berhenti.
Tidak Lulus
Tidak ada suara.
Tidak ada air mata.
Hanya hening yang terlalu dalam untuk dijelaskan.
Namun aku belum selesai.
Aku masih punya harapan yang tersisa.
SNBT adalah kesempatan terakhirku.
Kali ini, aku belajar lebih keras. Bukan karena aku yakin akan berhasil, tetapi karena aku tidak ingin menyesal. Aku mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang kupunya, menambalnya dengan doa, lalu melangkah lagi.
Hari ujian itu datang.
Aku duduk di kursi, menatap soal demi soal seperti menatap masa depan yang sedang diuji. Jantungku berdegup cepat, tapi aku tetap bertahan.
Karena aku tahu, aku sudah sejauh ini.
Namun, tidak semua perjuangan berakhir seperti yang kita harapkan.
Hari pengumuman itu kembali datang.
Dan sekali lagi, aku membaca kalimat yang sama.
Tidak Lulus.
Kali ini, aku runtuh.
Air mata jatuh tanpa izin. Dadaku sesak oleh sesuatu yang tidak bisa dinamai, antara kecewa, lelah, dan kehilangan.
Aku merasa gagal.
Aku merasa tidak cukup.
Aku merasa mimpi itu terlalu tinggi untukku.
Beberapa hari setelahnya, aku duduk di samping ibu yang sedang membungkus kue.
“Ibu…” suaraku nyaris hilang.
“Iya, Nak?”
“Aku tidak lulus.”
Ibu berhenti. Ia menatapku dengan mata yang tidak pernah menghakimi.
“Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Mimpi itu tidak selalu sampai lewat jalan yang kita rencanakan.”
Aku menunduk. “Tapi aku ingin jadi dokter…”
Ibu menggenggam tanganku.
“Yang penting kamu tetap jadi orang yang bermanfaat.”
Kalimat itu sederhana.
Namun ia jatuh tepat di tempat yang selama ini kosong di dalam diriku.
Aku mulai memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan.
Bahwa mimpi tidak selalu harus berubah arah dan terkadang, ia hanya berpindah rumah.
Sebenarnya masih ada satu kesempatan.
Jalur Mandiri, tapi aku tau kalau jalur mandiri membutuhkan biaya yang sangat banyak, apalagi jurusan Pendidikan Dokter. Aku tidak ingin membebani kedua orang tua ku dengan biaya yang sebanyak itu, tetapi aku tetap tidak menyerah.
Aku mulai mencari info beasiswa untuk jalur mandiri Pendidikan Dokter,
Tapi hasilnya, tidak ada.
Akhirnya aku menemui ibu,
“Ibu.., Aku tidak menemukan adanya beasiswa untuk Mandiri Unhas” Kataku.
Ibu melihatku dengan senyum tulus dan berkata,
“Nak, terkadang mimpi bisa dicapai dari hal yang tidak disangka sangka, mulai dari menjadi pendidik yang menghasilkan dokter misalnya?”
Aku terdiam, tetapi aku mengerti maksud ibu.
Ibu ingin aku menjadi guru, dan akhirnya aku mengambil langkah itu.
Aku memilih melanjutkan langkah ke Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Negeri Makassar,
Awalnya, langkah itu terasa asing.
Aku bertanya-tanya, apakah aku sedang menjauh dari mimpi? Atau justru mendekatinya dengan cara yang berbeda?
Waktu menjawabnya perlahan.
Di ruang kelas, aku bertemu dengan anak-anak.
Dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Dengan mimpi yang masih belum terdefinisi.
Dengan harapan yang rapuh, tapi jujur.
Dan di sana, aku melihat diriku.
Aku melihat seorang anak kecil yang dulu bermimpi menjadi dokter, tanpa tahu betapa sulitnya jalan itu.
Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti
Aku mungkin tidak mengenakan jas putih.
Tapi aku bisa membantu seseorang memakainya.
Aku mungkin tidak menyembuhkan pasien.
Tapi aku bisa menumbuhkan manusia yang kelak akan melakukannya.
Kini aku tidak lagi menyebut diriku gagal.
Aku hanya sedang berjalan di jalan yang berbeda.
Mimpi itu tidak hilang.
Ia masih ada.
Ia tinggal lebih dalam, di dalam diriku, di dalam doaku, dan kelak… di dalam masa depan anakku.
Suatu hari nanti, aku akan memeluknya dan berkata:
“Jadilah dokter. Lanjutkan mimpi yang dulu tidak sempat Ibu capai.”
Dan kali ini, aku akan berdiri di belakangnya
bukan sebagai seseorang yang gagal,
tetapi sebagai seseorang yang telah belajar arti memperjuangkan.
Aku tidak menyesali jalanku.
Karena kini aku tahu
Tidak semua mimpi harus kita miliki sendiri.
Beberapa cukup kita jaga, kita rawat,
lalu kita titipkan pada masa depan.
Dan sebagai calon guru,
aku tidak hanya sedang membangun hidupku,
aku sedang membangun banyak kemungkinan.
Mungkin, di antara murid-muridku nanti,
akan ada seseorang yang berdiri di ruang operasi,
menyelamatkan nyawa,
menghidupkan harapan.
Dan di dalam dirinya,
akan ada sedikit bagian dari mimpiku
yang tidak pernah benar-benar hilang
hanya berpindah rumah.
