Rekayasa Nasib di Atas Tungku: Memoir Penebusan Delapan Penolakan

Yesrun Eka Setyobudi

Dunia ini tidak pernah berjalan linier. Manusia sering kali menyusun rencana dengan sangat rapi. Namun, kenyataan memiliki caranya sendiri untuk mendidik kita. Kegagalan bukanlah musuh dari sebuah kesuksesan. Ia adalah proses pembongkaran mental secara paksa. Saya pernah berada di titik terendah itu. Titik di mana semua pintu terlihat tertutup rapat. Ruang gelap itu penuh dengan surat penolakan resmi. Delapan kali berturut-turut sistem seleksi nasional menolak saya. Saya merasa hancur dan tidak berharga. Namun, sutil besi dan tungku arang menyelamatkan mimpi saya. Ini adalah catatan tentang sebuah penebusan yang melelahkan.

Sumber : foto pribadi (https://www.instagram.com/p/B1WAFl5F8b9/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==)

Runtuhnya Singgasana Angka di Magelang

Kisah ini berakar dari tahun 2018 di SMAN 5 Magelang. Status siswa dengan catatan prestasi sangat gemilang tersemat erat waktu itu. Peringkat lima besar paralel sekolah selalu konsisten bertahan setiap semester. Lembar rapor dipenuhi deretan angka yang sangat tinggi. Guru-guru menaruh harapan yang sangat besar pada masa depan cerah ini. Teman-teman seangkatan memperlakukan diri ini bagai rujukan belajar kelompok. Pengakuan sosial tersebut pelan-pelan menumbuhkan ego yang terlalu besar di kepala. Masa depan akademik dipandang dengan cara yang sangat gampang. Kelulusan di universitas negeri favorit seolah menjadi hal mutlak yang pasti diraih. Rencana cadangan tidak pernah disiapkan sejak awal. Berkuliah di kampus swasta bahkan dianggap sebagai sebuah aib keluarga.

Sistem sekolah kemudian mengumumkan daftar siswa eligible untuk SNMPTN 2018. Nama ini berada di barisan paling atas daftar terhormat tersebut. Kabar itu membuat diri ini merasa sangat aman di atas angin. Pilihan dijatuhkan pada program studi paling populer di universitas negeri ternama. Rasio persaingan atau kapasitas tampung jurusan sama sekali tidak dihitung. Hari pengumuman hasil seleksi akhirnya tiba ke hadapan. Portal resmi dibuka menggunakan komputer dengan perasaan sangat tenang. Nomor pendaftaran diketik tanpa ada rasa ragu sedikit pun. Tombol cari hasil seleksi ditekan dengan gerakan jari mantap. Namun sistem memberikan respons yang sangat dingin dan kejam. Layar monitor komputer mendadak berubah warna menjadi merah pekat. Kalimat penolakan tertulis dengan sangat jelas di tengah layar tersebut. Keputusan tidak lulus seleksi SNMPTN 2018 resmi diterima. Ego besar hancur berkeping-keping dalam hitungan detik saja.

Kabar kegagalan siswa terbaik menyebar cepat di koridor sekolah. Bisik-bisik teman terdengar seperti duri tajam yang menyiksa telinga. Beberapa guru mulai mengubah nada bicara menjadi lebih datar saat berpapasan. Hantaman mental terasa sangat hebat untuk pertama kali dalam hidup. Rasa malu memaksa tubuh menghindari setiap keramaian di lingkungan sekolah. Namun mengurung diri terlalu lama di kamar kos bukan pilihan bijak. Jalur SBMPTN 2018 menjadi medan pertempuran kedua yang harus segera dihadapi. Buku latihan soal ujian tulis paling tebal langsung dibeli. Belajar mandiri di rumah dilakukan secara ketat setiap hari tanpa jemu. Jam belajar disusun dari pagi subuh hingga larut malam.

Siklus Kekalahan dan Tebusan Keuangan Keluarga

Pagi hari digunakan untuk menguliti materi matematika dasar yang rumit. Analisis mendalam dilakukan terhadap soal-soal aljabar dan kalkulus. Teori kalkulus, integral fungsi, dan logika matematika dikerjakan berulang-ulang tanpa rasa bosan. Sore hari difokuskan untuk menghafal konsep soshum secara mendalam. Semua interaksi sosial dengan teman di luar rumah diputus secara total. Hari pelaksanaan ujian SBMPTN berjalan di bawah pengawasan yang sangat ketat. Semua soal dikerjakan dengan seluruh sisa tenaga berpikir di kepala. Namun takdir kembali menunjukkan wajah dingin beberapa minggu setelahnya. Kotak merah kembali muncul di layar monitor komputer. SBMPTN 2018 menyatakan kegagalan kedua resmi diterima kembali.

Krisis percaya diri mulai merayap menguasai seluruh pikiran sehat. Rasa ragu terhadap kemampuan akademik sendiri mulai merusak mental perjuangan. Namun pencarian terhadap peluang masuk universitas negeri tetap dilanjutkan. Jalur SPAN-PTKIN untuk kampus keagamaan negeri dicoba berikutnya dengan secercah harapan. Berkas nilai rapor terbaik kembali diunggah ke dalam sistem pendaftaran. Hasil pengumuman tetap sama yaitu dinyatakan tidak lolos seleksi berkas. Rasa kecewa mendalam semakin menumpuk di dalam dada saat itu. Target langsung dialihkan ke jalur PMDK-PN untuk politeknik negeri. Pengumuman PMDK-PN kembali membawa berita buruk berupa kotak merah di layar. Empat jalur seleksi nasional menolak pendaftaran diri secara beruntun.

Kesempatan terakhir kini hanya bertumpu pada jalur seleksi mandiri. Namun proses pendaftaran jalur ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Setiap kartu pendaftaran ujian mandiri dihargai ratusan ribu rupiah. Keluarga bukan berasal dari kalangan kelas menengah yang mapan. Ayah terpaksa meminjam uang kepada kerabat dekat demi membiayai pendaftaran. Wajah lelah ayah saat menyerahkan uang menjadi beban pikiran berat. Setiap lembar rupiah pinjaman tersebut harus ditebus dengan kelulusan. Empat ujian mandiri universitas negeri akhirnya didaftar sekaligus demi memperbesar peluang.

Universitas Gadjah Mada menjadi pilihan mandiri pertama dalam rencana. Universitas Negeri Yogyakarta menjadi target kedua yang sangat diharapkan. UPN Veteran Yogyakarta menjadi pilihan ketiga untuk menyelamatkan nasib pendidikan. Terakhir, pendaftaran diajukan di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Perjalanan darat yang sangat melelahkan fisik ditempuh demi ujian. Yogyakarta dan Purwokerto didatangi menggunakan bus ekonomi panas berdebu. Uang saku dihemat secara ekstrem demi menutupi biaya transportasi. Fisik terkuras habis di sepanjang jalan raya Jawa Tengah. Pikiran terus didera kecemasan luar biasa sepanjang perjalanan bus.

Waktu pengumuman jalur mandiri akhirnya keluar secara bergiliran bagai mimpi buruk. UGM menolak pendaftaran ujian pada hari pertama pengumuman dibuka. Esok harinya hasil ujian mandiri UNY membawa berita penolakan serupa. UPN Veteran Yogyakarta menyusul dengan pernyataan tidak diterima di sistem. Harapan terakhir pada ujian mandiri UNSOED hancur total saat layar kembali memerah. Delapan kali penolakan berturut-turut diterima dalam satu musim seleksi. Dana pinjaman keluarga habis tanpa menyisakan hasil nyata bagi orang tua. Diri ini merasa telah menjelma menjadi beban keluarga paling tidak berguna. Kamar tidur yang gelap menjadi tempat persembunyian selama berhari-hari. Air mata mengalir deras setiap kali mengingat pengorbanan finansial orang tua.

Bara Tungku dan Gerilya Kertas Saku

Kehidupan nyata tidak boleh berhenti hanya karena tangisan sedih di kamar. Orang tua mendesak agar proses pendidikan tetap berlanjut ke kuliah. Pendaftaran akhirnya dilakukan ke Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Kampus swasta ini menerima pendaftaran pada gelombang paling akhir. Namun tagihan biaya kuliah semester pertama sangat mengejutkan keuangan keluarga. Nominal biaya kuliah swasta langsung menguras sisa tabungan orang tua. Sungguh tidak tega melihat ayah bekerja lebih keras lagi demi membiayai kuliah swasta yang mahal. Keputusan penting segera diambil untuk mandiri secara finansial di Yogyakarta. Tekad bulat diambil untuk membiayai kelungsungan kuliah sendiri tanpa membebani rumah. Pekerjaan paruh waktu harus segera dicari di sela kesibukan belajar kuliah.

Mencari pekerjaan paruh waktu di Yogyakarta ternyata sangat sulit dilakukan. Gang-gang jalanan kota disusuri dengan berjalan kaki siang hari. Banyak pemilik usaha menolak lamaran karena jadwal kuliah yang padat. Rasa lelah fisik mulai menjadi teman akrab bagi sepasang kaki ini. Perut sering terasa sangat perih karena menahan lapar demi menghemat pengeluaran. Hingga akhirnya sebuah outlet kuliner ayam bakar menerima lamaran pekerjaan tersebut. Pengelola menempatkan posisi di bagian dapur sebagai juru masak atau cook. Peran baru ini menuntut kekuatan fisik luar biasa besar setiap hari. Kehidupan ganda resmi dimulai dengan konsekuensi fisik yang melelahkan. Pagi hari berjalan sebagai mahasiswa swasta yang tertib menyimak materi kelas. Sore hari bertransformasi menjadi buruh dapur kasar yang akrab dengan jelaga.

Bekerja sebagai cook dapur ayam bakar adalah tantangan fisik yang sangat menyiksa. Area dapur outlet selalu terasa panas akibat pembakaran arang aktif tungku. Bau asap arang dan minyak goreng selalu menempel erat pada baju kerja setiap hari. Tugas utama adalah menyiapkan seluruh bahan baku makanan sejak sore. Puluhan kilogram daging ayam dingin harus dipotong menggunakan pisau besar. Jari tangan sering kali kaku karena memegang es dan daging dingin. Kulit tangan beberapa kali melepuh terkena cipratan minyak panas. Tubuh dituntut berdiri tegak selama delapan jam penuh di depan tungku. Tidak ada waktu untuk sekadar duduk beristirahat saat pesanan menumpuk.

Lantai dapur sangat licin karena tumpahan lemak ayam yang menetes. Gerakan cepat harus dilakukan mengaduk bumbu di kuali besar mengepul. Kaki sering terasa kaku dan mati rasa karena kelelahan berdiri. Jam kerja baru berakhir pada pukul dua belas malam setelah semua bersih. Perjalanan pulang ke kos ditempuh menggunakan sepeda motor dalam keheningan. Tubuh penuh noda hitam jelaga arang dapur setiap kali melangkah pulang. Gaji bulanan digunakan untuk membiayai sewa kos dan makan mandiri. Sebagian gaji tersebut ditabung secara disiplin untuk biaya UTBK baru. Ambisi masuk universitas negeri belum sepenuhnya padam di dalam pikiran. Kegagalan delapan kali justru memicu rasa penasaran yang sangat besar.

Mempersiapkan SBMPTN 2019 membutuhkan tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi. Tidak ada uang untuk mengikuti program bimbingan belajar khusus yang mahal. Strategi belajar mandiri yang efektif dirancang di sela kesibukan kerja. Buku kumpulan soal persiapan UTBK 2019 dibeli menggunakan sisa gaji pertama bekerja. Lembaran materi soal dirobek menjadi bagian kertas kecil agar praktis dibawa. Potongan kertas berisi konsep kuantitatif diselipkan ke dalam saku apron dapur. Potongan kertas berisi rumus penting dimasukkan ke saku apron kerja secara teratur.

Saat suasana outlet ayam bakar sedang sepi pengunjung waktu luang segera dimanfaatkan. Potongan kertas rumus dikeluarkan diam-diam di balik panggangan ayam. Soal penalaran kuantitatif dibaca dengan saksama di bawah lampu dapur remang. Rumus dan konsep penting dihafal dalam pikiran sambil membolak-balik daging ayam. Teman kerja sering memandang usaha ini dengan ekspresi sangat heran. Mereka menganggap perjuangan akademik ini sia-sia karena status sudah kuliah swasta. Namun keputusan bulat diambil untuk menutup telinga rapat dari komentar miring. Fokus mental dan konsentrasi belajar tetap dijaga di tengah panasnya dapur.

Tiket Hijau dari Bilik Sunyi dan Kalibrasi Jiwa

Rutinitas belajar mandiri berlanjut secara konsisten saat tiba di kamar kos. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari ketika perjalanan sampai di kamar. Tubuh terasa sangat remuk setelah berdiri berjam-jam bekerja keras di depan tungku arang. Mandi air dingin segera dilakukan untuk menghilangkan sisa bau asap dan lemak. Lampu belajar kecil di pojok meja kamar kos yang sempit segera dinyalakan. Otak kiri dipaksa untuk fokus mengerjakan latihan soal UTBK hingga subuh. Soal analogi, pemahaman bacaan, dan logika bahasa diselesaikan satu per satu. Waktu tidur hanya tersisa selama tiga jam setiap hari sebelum aktivitas pagi. Kepala sering terasa pening saat mendengarkan penjelasan dosen di kelas. Namun tekad kuat di dalam dada jauh lebih bertenaga mengalahkan lelah fisik. Rutinitas berat tersebut dijalani secara sangat konsisten selama berbulan-bulan tanpa mengeluh.

Tahun 2019 akhirnya membawa sistem seleksi baru nasional bernama UTBK berbasis komputer. Pendaftaran seleksi dilakukan menggunakan uang tabungan murni hasil kerja dapur. Jalur keagamaan seleksi tulis UM-PTKIN juga didaftar untuk memperbesar peluang kelulusan. Kali ini strategi pemilihan lokasi kampus diubah secara total dari tahun lalu. Wilayah Yogyakarta saya hindari karena memiliki tingkat persaingan sangat padat. Target pendaftaran langsung diarahkan ke universitas negeri di luar daerah asal. Pilihan berani diambil demi memperkecil rasio keketatan persaingan masuk. Pilihan utama pada jalur SBMPTN 2019 dijatuhkan pada Universitas Jember Jawa Timur. Universitas Jember memiliki reputasi akademik yang sangat unggul secara nasional. Sementara untuk jalur seleksi keagamaan UM-PTKIN pilihan jatuh pada UIN Salatiga. Hari ujian tertulis akhirnya dihadapi dengan persiapan mental tenang. Pengalaman bekerja keras memotong ayam menempa mental menjadi sekeras baja. Rasa cemas atau takut gagal tidak lagi mengganggu pikiran seperti tahun lalu. Langkah kaki terasa sangat ringan saat melangkah memasuki ruang ujian hari itu.

Hari pelaksanaan ujian tertulis berbasis komputer berlangsung sangat tertib dan lancar. Tubuh duduk tenang di depan monitor dengan napas teratur tanpa ketegangan. Tidak ada lagi rasa panik menguasai pikiran saat membaca lembar soal. Materi-materi yang dipelajari di samping panggangan arang bekerja efektif. Jari tangan bergerak lincah menghitung setiap angka di kertas buram ujian. Seluruh pengerjaan soal ujian diselesaikan sebelum batas waktu berakhir. Beberapa hari kemudian ujian seleksi keagamaan UM-PTKIN di Salatiga juga dilalui. Setelah seluruh rangkaian ujian selesai pekerjaan kasar di dapur langsung dilanjutkan kembali. Hasil akhir perjuangan diserahkan sepenuhnya kepada ketetapan takdir Tuhan di atas.

Hari pengumuman hasil seleksi SBMPTN 2019 akhirnya tiba pada pertengahan tahun. Sore itu tugas memotong daging ayam dingin sedang berjalan di area dapur. Kondisi outlet kuliner sedang sangat ramai pesanan dari pelanggan sore hari. Keringat deras membasahi seluruh wajah dan baju kerja dapur yang kotor. Ponsel pintar di dalam saku celana kerja bergetar berulang kali tanpa jeda. Getaran halus tersebut terasa sejak siang hari membuat jantung berdebar. Izin segera diajukan kepada kepala dapur untuk pergi ke toilet belakang. Di dalam bilik toilet yang sangat sempit dan pengap portal pengumuman dibuka. Jari tangan bergetar sangat hebat saat mengetik nomor pendaftaran UTBK. Layar ponsel memuat halaman web dengan lambat karena sinyal buruk di dalam toilet.

Detik berikutnya sebuah kotak besar berwarna hijau terang mendadak muncul utuh. Teks putih tebal tertulis sangat jelas di dalam kotak hijau terang yang indah tersebut. Kelulusan seleksi SBMPTN 2019 di Universitas Jember resmi diraih. Air mata langsung tumpah membasahi kedua pipi yang kotor terkena noda arang. Rasa haru dan syukur luar biasa besar langsung memenuhi seluruh rongga dada. Delapan kegagalan beruntun pada tahun lalu kini resmi dibayar lunas hari ini. Keringat kerja keras dan jelaga hitam dapur menjadi saksi perjuangan penebusan mimpi.

Kabar gembira tersebut terasa semakin lengkap beberapa hari setelah pengumuman pertama. Pengumuman seleksi jalur UM-PTKIN menyatakan kelulusan resmi didapatkan di UIN Salatiga. Dua universitas negeri sekaligus menerima pendaftaran sebagai mahasiswa baru. Persimpangan jalan hidup harus dihadapi untuk menentukan pilihan terbaik. Setelah berkonsultasi mendalam dan meminta doa restu orang tua, Universitas Jember dipilih. Keputusan bulat diambil memilih Universitas Jember Jawa Timur sebagai tujuan akhir studi. Pilihan ini diambil demi mengejar mimpi masa depan yang jauh lebih tinggi. Seluruh berkas pengunduran diri segera saya urus di Universitas Mercu Buana. Pamit hangat penuh rasa hormat disampaikan kepada pemilik outlet dan rekan dapur. Kepergian menuju kota Jember dilepas dengan pelukan hangat serta rasa bangga mereka.

Berdiri di bawah naungan menara Universitas Jember menyadarkan pikiran tentang sebuah kebijaksanaan sunyi. Delapan penolakan pada tahun 2018 bukanlah bentuk ketidakadilan dari semesta. Semua kegagalan itu adalah proses kalibrasi jiwa agar mental tidak menjadi rapuh oleh pujian. Tungku arang dan sutil besi di Yogyakarta bukan sekadar tempat pelarian mencari uang kuliah. Tempat itu adalah laboratorium pembentukan karakter yang sesungguhnya. Tanpa jelaga hitam dan panasnya bara api, daya tahan sekuat ini tidak akan pernah terbentuk. Pendidikan tinggi memang penting.

Namun, proses jatuh bangun yang melatarbelakanginya jauh lebih bernilai dari selembar ijazah. Manusia sering kali mendikte takdir dengan rencana-rencana yang dianggap paling sempurna. Padahal, kehidupan selalu menyiapkan rute memutar yang jauh lebih mendewasakan. Sekarang, langkah kaki memasuki ruang kuliah bukan lagi sebagai siswa SMA yang sombong dengan angka rapor. Langkah ini diayunkan sebagai seorang pejuang yang telah lulus dari ujian kehidupan yang sesungguhnya. Sutil besi telah diletakkan. Namun, bara apinya akan terus menyala di dalam dada untuk menerangi setiap langkah perjuangan baru ke depan.

Tinggalkan Komentar