Hamoraon,Hagabeon, Hasangapon

“Merantau yang jauh, jangan lupa Jalan Pulang”

Saya masih menyimpan sebuah laptop tua peninggalan kakak saya.

Laptop itulah yang saya gunakan untuk membuka pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) pada suatu siang di bulan Ramadan tahun 2023. Setelah menunaikan salat Zuhur, saya duduk sendirian di depan layar dengan tangan yang terus berkeringat. Berkali-kali saya memastikan nomor pendaftaran yang saya masukkan sudah benar.

Beberapa detik kemudian, layar itu menampilkan satu kalimat sederhana.

"Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SNBP."

Saya terdiam.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada selebrasi.

Saya hanya menatap layar cukup lama.

Di kepala saya, yang terlintas bukanlah kehidupan sebagai mahasiswa. Yang saya pikirkan justru satu pertanyaan, "Bagaimana saya bisa benar-benar berangkat ke sana?"

Saya bahkan tidak langsung memberi tahu ibu.

Saat itu kondisi beliau masih dalam masa pemulihan setelah menjalani operasi. Saya takut kabar ini justru menambah beban pikirannya. Namun waktu pendaftaran ulang semakin dekat dan saya tidak mungkin menyembunyikannya lebih lama.

Ketika akhirnya saya menunjukkan hasil pengumuman itu, ibu hanya memandang saya beberapa saat.

Beliau tidak bertanya berapa nilai saya.

Tidak bertanya bagaimana proses seleksinya.

Beliau hanya berkata pelan,

"Jauh sekali… nanti siapa yang mengantarkanmu ke sana?"

Kalimat itu membuat saya sadar bahwa perjuangan saya ternyata belum selesai.

Sebenarnya, perjalanan ini sudah dimulai jauh sebelum saya mengenal SNBP.

Februari 2015, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, ayah saya meninggal dunia setelah kurang lebih dua tahun berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Saya masih mengingat perjalanan kami ke Riau untuk berobat. Empat hari kami berada di sana. Saya tidak pernah menyangka itulah salah satu kenangan terakhir bersama beliau.

Beberapa waktu kemudian ayah direncanakan berangkat ke Penang untuk melanjutkan pengobatan. Saya tidak ikut karena masih terlalu kecil. Dalam perjalanan menuju rumah sakit di Rantauprapat, beliau koma dan akhirnya meninggal dunia.

Saya bahkan tidak sempat melihat detik-detik terakhirnya.

Namun ibu pernah menceritakan satu pesan yang ditinggalkan ayah sebelum kondisinya semakin memburuk.

Apa pun yang terjadi, pendidikan anak-anak harus tetap dilanjutkan.

Pesan itu tidak pernah benar-benar hilang dari rumah kami.

Meskipun biaya pengobatan menghabiskan sebagian besar harta keluarga, ibu tetap memegang teguh falsafah Batak yang selalu beliau yakini, pendidikan adalah jalan untuk menjaga martabat keluarga dan masa depan anak-anaknya.

Sejak saat itu saya memahami bahwa saya mungkin tidak mewarisi banyak harta, tetapi saya mewarisi sebuah keyakinan. pendidikan adalah satu-satunya jalan yang tidak boleh saya lepaskan.

Keyakinan itulah yang menemani saya ketika duduk di bangku kelas XII.

Saya ingin kuliah di perguruan tinggi negeri. Namun saya tahu bahwa keinginan saja tidak cukup.

Dari November 2022 hingga pengumuman SNBP pada Maret 2023, saya belajar melalui Quipper.

Gambar mengikuti Bimbel

Biaya bimbingan belajar itu saya kumpulkan sendiri. Sepulang sekolah saya bekerja membungkus tahu dengan upah sekitar Rp300.000 setiap bulan. Malam harinya saya membantu menjaga permainan lempar gelang di pasar malam.

Gambar Kerja Pasar Malam

Ada hari-hari ketika waktu tidur saya hanya sekitar empat jam.

Bukan karena saya ingin terlihat hebat.

Melainkan karena saya tahu tidak ada orang lain yang akan memperjuangkan mimpi saya jika saya sendiri menyerah.

Seluruh lelah itu akhirnya terbayar ketika nama saya dinyatakan lolos melalui jalur SNBP.

Saya sempat berharap dapat melanjutkan pendidikan melalui bantuan KIP Kuliah. Bahkan saya dan ibu harus berfoto di depan rumah sebagai salah satu persyaratan administrasi. Saat itu saya percaya, mungkin inilah jalan yang akan meringankan beban keluarga.

Namun harapan itu tidak terwujud. Saya dinyatakan tidak lolos sebagai penerima KIP Kuliah.Kegagalan itu sempat membuat saya berpikir bahwa mimpi kuliah akan berhenti sampai di sana. Namun ibu tidak pernah menjadikan kegagalan tersebut sebagai alasan untuk menyerah. Beliau hanya berkata bahwa jalan menuju pendidikan tidak selalu mudah, tetapi tetap harus ditempuh.

Gambar Pendaftaran KIP-K

Saya mengira perjuangan telah selesai.

Ternyata saya keliru.

Perjuangan yang sesungguhnya baru dimulai ketika saya harus meninggalkan rumah, meninggalkan ibu yang sedang sakit, dan berangkat seorang diri menuju kota yang belum pernah saya kenal.

Malam keberangkatan itu menjadi malam yang tidak pernah saya lupakan.

Saya berangkat seorang diri dari Labuhanbatu Selatan menuju Padang menggunakan bus antarkota. Tidak ada keluarga yang mengantar hingga ke kampus. Bukan karena mereka tidak ingin, tetapi karena keadaan memang tidak memungkinkan. Ibu masih dalam masa pemulihan setelah operasi, sementara keluarga yang lain juga memiliki tanggung jawab masing-masing.

Sebelum saya menaiki bus, ibu hanya mengulang kembali kalimat yang sejak dulu selalu beliau yakini.

"Carilah jalanmu. Di sini nanti kamu tidak jadi orang karena pergaulannya tidak baik."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi saya, itu adalah doa sekaligus amanah yang harus saya jaga.

Di tengah perjalanan, ketika bus melaju menembus gelapnya malam, saya mulai menyadari bahwa saya benar-benar sedang meninggalkan rumah. Saya menangis pelan di dekat jendela. Ada keinginan untuk turun di terminal berikutnya dan kembali pulang. Saya merasa belum siap hidup sendiri di kota yang belum pernah saya kunjungi.

Namun setiap kali pikiran itu muncul, saya teringat perjuangan ibu yang memilih tetap memberangkatkan saya meskipun kondisi kesehatannya belum sepenuhnya pulih. Saya sadar, saya tidak sedang membawa mimpi saya sendiri. Saya membawa harapan keluarga.

Bus akhirnya berhenti di Terminal Simpang Haru, Padang.

Saya turun sendirian.

Tidak ada saudara yang menjemput.

Tidak ada teman yang menunggu.

Saya hanya membawa satu tas ransel, uang secukupnya, telepon genggam, Google Maps, dan aplikasi Maxim untuk mencari jalan menuju kampus. Hari itu saya mengikuti titik biru di layar ponsel sambil terus bertanya kepada diri sendiri apakah saya benar-benar mampu bertahan di kota ini.

Hari-hari pertama sebagai mahasiswa menjadi masa yang paling berat dalam hidup saya.

Saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, logat Minang yang sebelumnya asing di telinga, budaya yang berbeda, hingga kehidupan sebagai anak rantau yang harus melakukan semuanya sendiri. Saya masih ingat teman sekamar pertama saya bernama Adinata, seorang mahasiswa asal Pulau Jawa yang sudah terbiasa hidup jauh dari orang tua karena pernah menempuh pendidikan di pesantren.

Suatu malam saya bercerita kepadanya bahwa saya mengalami homesick yang sangat berat. Berat badan saya bahkan turun sekitar delapan kilogram karena stres dan sulit beradaptasi. Hampir setiap hari saya melakukan panggilan video dengan ibu melalui bantuan kakak saya karena ibu belum terbiasa menggunakan telepon pintar.

Yang paling saya ingat adalah tatapan ibu setiap kali panggilan video dimulai.

Beliau selalu berusaha tersenyum.

Begitu juga saya.

Saya selalu mengatakan bahwa saya baik-baik saja, bahwa saya sudah memiliki banyak teman, bahwa kehidupan di Padang menyenangkan.

Padahal setelah panggilan itu berakhir, saya sering kali hanya terduduk diam di kamar kos sambil mencoba meyakinkan diri bahwa saya harus bertahan.

Saya tidak ingin ibu mengetahui bahwa anak yang beliau berangkatkan dengan penuh pengorbanan hampir menyerah pada minggu-minggu pertamanya sebagai mahasiswa.

Sedikit demi sedikit saya mulai berdamai dengan keadaan.

Saya mulai memahami bahasa yang digunakan sehari-hari, mengenal lingkungan kampus, dan menikmati jurusan Sistem Informasi yang sejak awal memang menjadi pilihan saya. Dari situlah saya menyadari bahwa rasa rindu kepada rumah mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang, tetapi perlahan saya belajar menjadikan Padang sebagai rumah kedua.

Gambar PKKMB 2023

Semester pertama akhirnya selesai.

Ketika bus kembali membawa saya pulang ke Labuhanbatu Selatan, saya membawa hampir seluruh barang dari kamar kos.

Teman-teman mengira saya hanya sedang berkemas untuk liburan.

Padahal dalam hati saya belum yakin akan kembali ke Padang.

Saya merasa gagal menjadi anak rantau.

Namun selama berada di rumah, ibu tidak pernah bertanya apakah saya ingin berhenti kuliah.

Beliau hanya bertanya,

"Kapan balik ke Padang?"

Pertanyaan sederhana itu justru membuat saya malu.

Saya sadar…

Orang yang paling berhak menyerah justru bukan saya.

Melainkan ibu.

Namun beliau tidak pernah melakukannya.

Akhirnya saya kembali menaiki bus yang sama.

Bedanya…

Kali ini saya berangkat bukan karena terpaksa.

Saya berangkat karena mulai percaya bahwa saya mampu bertahan.

Semester demi semester berlalu.

Saya tidak ingin hanya bertahan sebagai mahasiswa. Saya ingin membuktikan bahwa pengorbanan orang tua saya tidak berhenti pada surat kelulusan SNBP. Saya mulai mencari berbagai cara agar dapat membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah tanpa terus bergantung kepada ibu. Setiap pulang ke kampung halaman saat libur semester, saya bekerja untuk mengumpulkan biaya kuliah berikutnya.

Perlahan saya mulai menikmati proses itu.

Saya aktif di organisasi.

Belajar membangun usaha kecil.

Dan terus mengembangkan kemampuan yang saya miliki.

Hingga akhirnya saya mengikuti seleksi magang di PT Semen Padang.

Gambar Kelolosan Magang

Dari sembilan mahasiswa kampus kami yang mendaftar, hanya tiga yang dinyatakan lolos.

Saya menjadi salah satunya.

Ketika mengenakan kartu identitas magang untuk pertama kalinya, saya kembali mengingat perjalanan yang pernah saya lalui.

Membungkus tahu.

Pasar malam.

Bus menuju Padang.

Google Maps.

Homesick.

Semuanya terasa seperti potongan-potongan perjalanan yang akhirnya mempertemukan saya di titik itu.

Bagi sebagian orang, perjalanan saya mungkin hanya tentang meraih bangku perguruan tinggi negeri.

Namun bagi saya, diterima melalui jalur SNBP hanyalah pintu pertama.

Perjuangan yang sesungguhnya adalah membuktikan bahwa kesempatan yang telah diperjuangkan oleh ayah dan ibu saya tidak berhenti sia-sia.

Saya teringat masa ketika sepulang sekolah saya membungkus tahu demi membayar bimbingan belajar.

Saya teringat malam-malam di pasar malam dengan waktu tidur yang hanya beberapa jam.

Saya teringat perjalanan panjang menuju Padang dengan bus antarkota.

Saya teringat minggu-minggu pertama ketika saya hampir menyerah karena tidak mampu menahan rindu kepada rumah.

Semua kenangan itu seolah kembali hadir kembali ketika saya mengigatnya

Ada satu momen yang hingga hari ini selalu saya syukuri.

Setelah kurang lebih tiga tahun hubungan kami merenggang karena perbedaan pandangan mengenai keputusan saya untuk kuliah, pada Lebaran tahun ini saya memberanikan diri meminta maaf kepada abang saya.

Beliau memeluk saya.

Beliau berkata bahwa dahulu ia menyesal pernah berusaha menghalangi saya melanjutkan pendidikan. Setelah melihat perjalanan yang saya lalui, organisasi yang saya ikuti, pengalaman magang yang saya peroleh, hingga berbagai pencapaian yang berhasil saya raih, beliau menyadari bahwa keputusan ibu mempertahankan pendidikan saya adalah keputusan yang tepat.

Saat itu saya tersenyum.

Bukan karena merasa telah membuktikan bahwa saya benar.

Melainkan karena saya merasa telah menjaga kepercayaan yang dahulu dititipkan oleh ayah dan ibu kepada saya.

Beberapa bulan yang lalu saya kembali pulang ke rumah.

Rumah yang sama.

Halaman yang sama.

Tempat yang dulu saya gunakan untuk berfoto sebagai syarat pendaftaran KIP Kuliah.

Bedanya, kali ini saya pulang membawa lebih banyak cerita.

Saya sudah tidak lagi kebingungan mencari jalan menggunakan Google Maps.

Saya tidak lagi menangis setiap malam karena rindu rumah.

Saya juga tidak lagi takut bertanya apakah saya mampu bertahan.

Karena perjalanan itu telah menjawab semuanya.

Hari ini saya memahami bahwa ayah tidak meninggalkan banyak harta.

Beliau meninggalkan keyakinan.

Ibu menjaganya melalui falsafah Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon.

Kini giliran saya menjaga keyakinan itu.

Suatu hari nanti saya ingin kembali ke daerah saya.

Bukan hanya sebagai seorang lulusan perguruan tinggi.

Tetapi sebagai seseorang yang mampu membuka jalan bagi anak-anak lain untuk memperoleh kesempatan yang sama.

Karena saya percaya…

Perjalanan menuju kampus impian saya tidak akan benar-benar selesai…

Sampai lebih banyak anak dari kampung halaman saya juga berhasil menemukan jalan mereka sendiri.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *