Lika-liku Sang Pejuang Mimpi dalam Meraih Kursi PTN

Oleh : Afrigh Abrar Brahmantya

Tema: Perjuangan

Hello, Fellas. Apa kabar? Semoga rekan-rekan semua dalam keadaan sehat selalu. Di sini, aku ingin berbagi kisah tentang lika-liku perjalananku dalam meraih PTN impianku. Sebelum aku menceritakan panjang lebar tentang perjalanan penuh liku ini, izinkan aku memperkenalkan diri dulu. Kalau tak kenal maka tak sayang, bukan? #bercanda.

Namaku Afrigh, begitu panggilan akrabku sehari-hari. Saat ini, aku adalah seorang remaja yang sedang menuju fase dewasa awal, berusia 21 tahun. Aku berasal dari Mempawah, Kalimantan Barat. Namun, kini aku sudah merantau selama 9 bulan di Surabaya. Lama juga, ya?

Aku sangat senang menjelajahi tempat-tempat baru. Melanjutkan pendidikan di luar daerah adalah salah satu impianku sejak kecil. Aku bertekad untuk masuk ke salah satu PTN dengan reputasi baik di Indonesia. Selain itu, aku sangat bersemangat dalam mengejar cita-citaku. Di daerah asalku, jarang sekali orang yang melanjutkan kuliah sampai ke luar kota. Kebanyakan memilih untuk kuliah di daerah sendiri, dan aku tidak ingin terjebak dalam pola itu. I need to explore more!

Mungkin kalian heran, bagaimana bisa aku merantau dan sudah tinggal di Surabaya padahal baru diterima di SBMPTN tahun 2022 ini?

“Kon kerjo yo?” 

“Onok saudara ta?” 

“Lapo se kok koyok ngebet banget ngunu lo”

Okay, let me tell you about my story

Singkat cerita, di kelas 11 aku telah memantapkan diri untuk masuk ke jurusan yang benar-benar aku idamkan dari dulu, yaitu Psikologi. Aku pun dari kelas 11 sudah mulai menyicil materi untuk persiapan UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer). Hal itu juga dibarengi dengan usaha maksimal untuk meningkatkan nilai agar bisa masuk melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). And finally, I did it.

Waktu pun berlalu, tibalah aku di kelas 12. Masih dengan semangat yang sama, aku tetap berambisi mengejar prodi impianku. Kali ini, aku sudah memiliki target spesifik, yaitu Prodi Psikologi di Universitas Sebelas Maret, Surakarta (UNS Solo). Aku ingin sekali masuk ke sana karena sudah lama mengikuti open house-nya dan benar-benar jatuh cinta pada UNS. Selain itu, psikologi di UNS termasuk dalam rumpun saintek (Sains dan Teknologi) yang tentunya sangat relevan dengan jurusanku di sekolah, yaitu MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Tentu saja, aku sangat bersemangat mengejar universitas ini karena termasuk salah satu prodi psikologi saintek terbaik di Indonesia.

Selang beberapa waktu, SNMPTN 2021 pun dibuka. Aku termasuk salah satu siswa yang masuk dalam daftar eligible. Seperti kebanyakan anak SMA yang terpilih, aku sangat senang karena berhasil masuk dalam 40% dari keseluruhan siswa di angkatanku. Nilai-nilaiku juga cukup baik, stabil dengan rata-rata 88,4 di 5 semester. Namun, aku juga agak idealis pada waktu itu, bahkan bisa dibilang agak nekat.

Sebagai siswa SMA akhir yang akan memasuki dunia perkuliahan, aku memilih prodi sesuai dengan idealisku. Anehnya, aku tidak riset lebih jauh tentang track record alumni atau keketatan penerimaan di universitas yang aku pilih. Aku nekat memilih Psikologi di Universitas Sebelas Maret, yang passing grade-nya sangat tinggi. Bayangkan, dari daerah pelosok memilih prodi di Jawa dengan keketatan 1:43. Uji nyali banget, kan?

Dari lebih dari 2000 pendaftar, prodi yang aku pilih hanya menerima 30 orang. Yap, bisa ditebak, aku gagal di SNMPTN. Rasanya seperti dunia runtuh. Aku benar-benar hilang arah, clueless, dan kemudian langsung curhat ke orang tuaku. Untungnya, masih ada kesempatan untuk ikut SBMPTN dan berbagai ujian mandiri di PTN lain.

Setelah pengumuman SNMPTN, aku segera menghubungi orang tuaku dan meminta mereka untuk membiayai kursus di salah satu lembaga bimbel terkemuka di Indonesia. Rekan-rekan pasti familiar dengan bimbel ini, soalnya terkenal dengan latihan soal yang “katanya” mirip persis dengan soal UTBK.

Aku meminta untuk les persiapan SBMPTN agar peluang diterima di PTN impianku lebih besar. Akhirnya, aku mengikuti bimbel itu dan untuk pertama kalinya merantau, berpisah dengan orang tua. Hidup mandiri di kosan, mengatur segalanya sendiri.

Selama di kota tempat aku bimbel, aku rutin mengikuti setiap sesi dan tryout yang diadakan. Latihan soal demi soal aku kerjakan, mengejar materi demi mencapai skor yang tinggi.

Akhirnya, pada 17 April 2021, aku melaksanakan tes UTBK-SBMPTN di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Nekatnya, aku mengambil IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran) padahal mata pelajaran soshum (sosial dan humaniora) sama sekali tidak aku pelajari. Meskipun aku telah berusaha keras belajar materi saintek, saat tes aku merasa bingung dan tidak mengerti apa-apa. Aku pun kemudian merasa panik sejak awal hingga akhir, ditambah lagi saat itu sedang Bulan Ramadhan di mana buat para Muslim harus menjalankan ibadah puasa. Bisa dibayangkan betapa nge-blank-nya aku saat itu. Mengerjakan UTBK selama 5 jam penuh tanpa jeda di pagi hari. Namun, beruntungnya, Tuhan memudahkan segalanya.

Setelah mengikuti tes UTBK, aku tidak lantas berleha-leha. Aku tetap mencari rencana cadangan jika suatu saat tidak lolos ke prodi pilihan SBMPTN. Aku mencoba berbagai ujian mandiri, bahkan sampai mendaftar ke Universitas Gunadarma dan Universitas Bakrie. Syukurnya, aku diterima di keduanya, tapi tidak aku ambil karena alasan finansial dan orang tua tidak merestui.

Aku mendaftar berbagai jalur mandiri PTN, seperti SIMAK UI, UM-UNDIP, dan PTN backup terakhirku, yaitu salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Sambil menunggu pengumuman SBMPTN, aku juga mempersiapkan ujian mandiri seperti SIMAK UI, yang banyak diikuti anak-anak dari seluruh Indonesia. Entah kenapa, setelah UTBK, aku tiba-tiba ingin berpindah haluan dari saintek ke soshum. Prodinya tetap sama, hanya sub-tes pelajaran yang berbeda.

Karena SIMAK UI sistemnya daring, aku berpikir, “why not untuk dicoba?” Selain itu, aku juga mengikuti tes UM-UNDIP yang juga daring. Namun, dari SBMPTN, SIMAK UI, dan UM-UNDIP, semuanya menolak diriku.

“MOHON MAAF, ANDA DINYATAKAN TIDAK LULUS SELEKSI PADA UJIAN KALI INI.”

Saat itu, aku sangat depresi dan merasa kehilangan arah. Aku mulai mempertanyakan apakah aku bisa mendapatkan PTN tahun ini. Kenapa semua usaha yang aku lakukan tidak membuahkan hasil? Apa yang salah dengan diriku?

Pikiran negatif, energi rendah, dan sikap pesimistis menghantuiku setiap hari. Aku kecewa karena tidak mendapatkan PTN yang aku idamkan. Beruntungnya, aku telah mempersiapkan rencana cadangan. Dengan sedikit usaha untuk mengurus berkasnya, aku diterima di perguruan tinggi tersebut, berkat saran dari Ayahku. Aku masih bisa berkuliah di prodi yang aku mau, meskipun bukan di PTN yang aku impikan.

Setelah diterima, aku perlahan-lahan mengubur ambisiku mengejar PTN. Aku menjalani perkuliahan dengan lancar dan mulai aktif berorganisasi serta mengikuti berbagai UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di kampus ini. Aku dikenal sebagai mahasiswa yang aktif secara akademik. Bahkan, aku menjadi ketua kelas di prodi ini dan meraih IP (Indeks Prestasi) tertinggi kedua di angkatanku. Pencapaian yang luar biasa, bukan?

Selama di perguruan tinggi itu, aku merangkap berbagai peran. Aku mengikuti UKM paduan suara, organisasi internal kampus, UKM fakultas, serta dipercaya menjadi Komisariat Mahasiswa (Kosma a.k.a Ketua Kelas) sebagai perantara dosen dan mahasiswa. Ini pertama kalinya aku menjadi pemimpin yang mengarahkan orang-orang dalam jumlah yang cukup besar. Aku juga menjadi koordinator divisi pada acara Pengmas (Pengabdian Masyarakat) di organisasi fakultasku.

Setelah beberapa lama menikmati kegiatan perkuliahan, pada bulan Maret dan April 2022, terbesit dalam benakku untuk mengikuti SBMPTN lagi. Ini kesempatan kedua dan aku tidak ingin melewatkannya. Selagi ada jalan untuk meraih impian, kenapa tidak? Beruntung, kali ini orang tua menyetujui dan mendoakan yang terbaik untukku. Namun, mereka tidak mengizinkanku untuk mengikuti ujian mandiri karena terlalu banyak memakan biaya dan waktu.

Akhirnya, aku mendaftar SBMPTN 2022 di prodi impianku, termasuk prodi yang sama di universitas lamaku. Pilihan pertamaku adalah Psikologi Universitas Airlangga. Pilihan keduaku adalah Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Airlangga. Aku tiba-tiba secara impulsif ingin mencoba UNAIR (Universitas Airlangga) karena menurutku UNAIR adalah kampus yang keren dan merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia, bahkan sedang menuju World Class University. Siapa yang tidak tergiur untuk masuk ke PTN Top 4 di Indonesia?

Selain itu, aku juga berpikir, karena sudah beberapa bulan berada di Surabaya, kenapa tidak sekalian saja memilih PTN di daerah sini? Di Surabaya, ada PTN yang bagus dengan suasana yang sangat mendukung diriku untuk belajar. Selain itu, aku sudah menikmati suasana dan lingkungan di sini sehingga Surabaya layaknya rumah kedua bagiku.

Kala itu, aku sedang sibuk-sibuknya menjadi ketua kelas, menjalani kuliah offline, mengurus acara, ikut kepanitiaan, kegiatan UKM, dan organisasi. Waktuku untuk mengulang pelajaran SBMPTN bisa dikatakan sangat sedikit. Namun, alhamdulillah, aku bisa mengatur semuanya. Pada tanggal 21 Mei 2022, aku mengikuti UTBK di Universitas Airlangga, kampus A, Fakultas Kedokteran.

Fun fact, 12 hari sebelum UTBK, tepatnya pada 9 Mei 2022, aku sempat berkeliling UNAIR seolah-olah aku sudah menjadi mahasiswa di sana, hehehe. Aku bervisualisasi dan memanifestasikan keinginan dengan menggunakan metode Law of Attraction, ditambah dengan sholawat dan doa. Tahun 2022 ini, alhamdulillah, aku merasa lebih tenang dan tidak serta se-desperate dulu karena sudah tahu bagaimana rasanya UTBK, jadi aku tahu bagaimana cara mengendalikan diriku saat menghadapi tes.

Untungnya, pada saat mengerjakan tes SBMPTN kali ini, aku merasa lebih tenang. Tidak ada rasa cemas, gemetar, bahkan perutku aman-aman saja. Soal-soalnya bisa aku kerjakan dengan pikiran jernih. Entah kenapa, aku merasa yakin bahwa aku akan menjadi mahasiswa baru UNAIR tahun ini. Begitu cintanya aku pada UNAIR sampai-sampai menyamar menjadi mahasiswa sana, haha.

UTBK-SBMPTN 2022 pun berlalu. Tahun ini, aku hanya diizinkan mengikuti tes ini saja sehingga ini menjadi penentu ke mana aku akan melangkah setelahnya. Selain itu, aku juga tidak ingin mencoba lagi tahun depan, takutnya usiaku bertambah tua. Akhirnya, UTBK sudah aku lewati dan aku melanjutkan masa-masa akhir perkuliahanku di kampus sebelumnya. Semua berjalan lancar. Kegiatanku berjalan seperti biasa.

Sampai akhirnya, tanggal 23 Juni 2022, hari yang paling dinanti para pejuang PTN se-Indonesia tiba. Aku sebelumnya pasrah saja dengan hasilnya karena aku pikir ini hanya sekadar usaha. Namun, entah kenapa dua jam sebelum pengumuman, aku merasa sedikit takut tidak diterima lagi. Tetapi, aku mencoba menenangkan diri dengan berjalan-jalan sebentar keliling Kota Surabaya.

Pukul 15.00 WIB, saatnya membuka pengumuman hasil SBMPTN. Namun, entah kenapa, tanganku menolak untuk membukanya. Dengan penuh keyakinan dan dorongan semangat dari teman-temanku, akhirnya aku memberanikan diri membuka pengumuman pada pukul 16.00 WIB.

Dan hasilnya…

“SELAMAT ANDA DINYATAKAN LULUS SBMPTN 2022”

DENGAN PRODI BAHASA DAN SASTRA INGGRIS DI UNIVERSITAS AIRLANGGA — 3812145.

Huh? Benarkah? Aku berhasil! Seketika diriku langsung penuh semangat dan menjalani hari-hari dengan penuh kebahagiaan. Setiap hari, jam, menit, dan detiknya, aku tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur yang begitu luar biasa kepada Allah SWT. Aku berhasil melalui semua proses ini, meskipun diterima di pilihan kedua, aku tetap minat di jurusan ini dan mungkin ini sebenarnya adalah tujuan akhirku.

Aku yakin, apa pun pilihan terbaik yang telah aku tentukan untuk masa depanku, hidupku akan berubah jauh lebih baik dari sebelumnya ketika aku memasuki jurusan dan universitas ini. Ini bisa mengubah hidupku sepenuhnya dengan baik. Aku benar-benar bersyukur kini telah dipertemukan dengan jurusan dan universitas sesuai keinginan, minat, serta pencarian jati diriku selama ini.

Aku yakin, setelah melewati semua rintangan dan tantangan ini, aku akan menarik banyak hal baik dalam hidupku. Lingkungan yang sehat dan teman-teman yang mendukung akan datang dengan sendirinya.

Dan ternyata benar-benar menjadi kenyataan, selama aku di UNAIR, empat semester telah berlalu, aku mendapatkan banyak sekali pencapaian luar biasa. Mulai dari diangkat menjadi mahasiswa berprestasi utama tingkat fakultas tahun 2023, mendapatkan lebih dari 10 prestasi, aktif berorganisasi di dalam maupun luar kampus, serta tergabung dalam program inkubasi yang sangat terkemuka bernama StudentsCatalyst serta meraih pencapaian sebagai Top 10 High Achiever Student. Aku juga berkesempatan mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan mendapatkan pendanaan sehingga aku tidak perlu skripsi lagi. Rasanya sungguh lega dan bangga terhadap diri sendiri.

Pesanku adalah, tetap semangat dalam meraih cita-cita. Terus belajar dan gali sedalam mungkin potensi dalam diri. Jika kita menikmati apa yang kita lakukan, niscaya kita juga akan menarik banyak hal positif dalam hidup kita.

Salam semangat dari aku, anak rantau yang berhasil masuk PTN Top 4 di Indonesia dan peringkat 308 terbaik di dunia menurut QS World University Rankings (WUR) 2024!



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.