Rahasia di Balik Rencana Sang Ilahi

Di malam yang gelap gulita disertai petir yang seakan ingin membelah langit dan angin yang begitu dingin menusuk pori-pori kulit. Sungguh malam itu terasa sangat menegangkan, ya keadaan malam itu seakan menggambarkan kondisiku di saat guru memberikan pengumuman tentang siswa yang masuk eligible. Siapa sih di sini yang ngga pengen masuk eligible? Sungguh mustahil jika tidak ada yang ingin, bahkan orang yang malas belajar saja sangat ingin masuk eligible. Oh iya pepatah mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang. Kenalin aku adalah siswi dari SMAS Wijaya Putra Surabaya, mungkin aku dianggap bocah yang cepat menangkap pelajaran oleh teman-temanku tapi nyatanya tak seperti itu. Menurutku usaha saja yang membedakan kita, di saat temanku bermain aku memilih untuk belajar, aku hanya tidak ingin guru menggoreskan nilai yang rendah di raporku karena aku hanya ingin membuat ibuku bangga dan tersenyum di saat beliau membuka isi raporku. 

Back to the topic

Dag dig dug itu pasti, akhirnya pada malam itu aku memutuskan untuk membukanya besok, tetapi temanku malah membocorkannya duluan kepadaku. Dan alhamdulillahnya aku masuk kategori siswa eligible, aku sangat bersyukur untuk itu. Aku berlari dan berteriak “Ibuu alhamdulillah aku lolos eligible” ibuku sangat senang mendengarnya. Tapi sejak saat itu aku mulai memikirkan jurusan apa yang akan kuambil, karena jujur saja selama menjalani bangku SMA aku hanya fokus mengikuti perlombaan karya tulis ilmiah dan pembelajaran. Aku tidak pernah sedikitpun memikirkan tentang kuliah. Mungkin kalian berpikir aku adalah anak yang ambis, tapi nyatanya tak seperti itu, aku hanya mengikuti takdir Allah saja. Tentang bagaimana aku bisa mengikuti perlombaan KTI itu karena guruku yang mendaftarkanku, jadi bagaimana aku bisa menolak permintaan dari guru, karena aku menganggap bahwa guru adalah orang tua keduaku. 

Singkat cerita…….

Hari ini adalah tanggal 28 Februari tepat di hari terakhir pendaftaran SNBP. Badanku terasa sangat panas, kepalaku pusing, dan aku merasa sangat bingung. Tanpa sadar aku juga memperhatikan temanku dan benar keadaan teman-temanku sama sepertiku. Lalu datanglah teman sebangkuku sebut saja namanya Dewi. Dewipun berkata “Bil tenang saja kamu ambil jurusan apapun pasti lolos, kamukan siswa eligible peringkat 1 di semua jurusan”. Iya kawan aku memang peringkat 1 tapi entah kenapa aku tidak begitu tenang, hatiku sangat gusar. Tak lama kemudian aku dipanggil oleh guru BK, memang ini sudah menjadi giliranku untuk mengisi jurusan. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengambil jurusan biologi UNESA di pilihan pertama dan jurusan pendidikan matematika UNESA di pilihan kedua. Jujur saja aku masih mamang tetapi aku juga tidak sembrono dalam memilih jurusan, sebelumnya aku juga sudah membaca banyak informasi di internet, bertanya ke kakak kelas, dan guru-guru. Dan aku memilih jurusan itu juga bukan tanpa alasan, aku memilihnya karena nilai paling tinggi di raporku adalah biologi dan matematika, selain itu aku juga punya sertifikat LKTI sebagai penunjangnya. Ya walaupun hanya bisa sampai finalis tingkat nasional tapi setidaknya aku sudah berusaha. Lalu kenapa aku memilih UNESA? karena aku menghargai saran dari ibuku untuk tidak kuliah jauh-jauh jadi apa daya, UNESA adalah jawabannya. Aku tidak keberatan akan hal itu karena semua langkah hidup itu butuh rida dari orang tua, jadi untuk SNBP ini aku nurut saja dengan keinginan orang tua. 

Tanggal 28 Maret pukul 15.00

Sesuatu yang bukan menjadi takdir, maka tidak akan pernah hadir, ya walaupun ikhtiarmu begitu kuat. Oleh sebab itu, kamu harus selalu tabah. Ingat rencana Allah itu lebih indah dan terbaik kawan. Ya betul sekali, terlihat warna merah menyala kawan, rasanya sakit sekali hati ini. Aku seperti tak mampu untuk berkata-kata, hanya mata yang berbicara melalui tetesan air yang semakin lama semakin deras. Aku hanya berpikir bagaimana cara memberitahu orang tuaku mengenai hal ini. Pasti mereka sangat sedih, aku merasa sangat gagal menjadi seorang anak. Tapi aku yakin warna merah ini bukanlah akhir dari perjuangan, rezeki itu datangnya tidak sendirian tapi kadang juga harus dijemput. Aku yakin pasti ada takdir lain yang Allah telah siapkan untukku. Tentunya takdir yang terbaik. Sejak saat itu aku mulai bangkit lagi, aku tidak mau terlalu larut dalam kesedihan, akupun mulai belajar tentang soal-soal SNBT melalui internet dan buku fisik. Dan dalam memilih jurusan aku lebih hati-hati lagi, aku terus mencari informasi PTN yang ada di Surabaya. 

Sebenarnya aku sangat tertarik masuk ke UIN, ya walaupun aku tau banyak anak yang memandang UIN sebelah mata, entah itu karena jurusannya atau karena mereka takut akan tes bahasa arabnya. Tapi bagiku itu bukanlah masalah karena kita sebagai muslim juga harus mendalami ilmu agama. Di SNBT ini pilihan pertama yang kuambil adalah sains data di UNESA dan pilihan kedua adalah matematika UINSA. Tetapi sebenarnya aku sedikit mamang memilih UIN karena lokasi kampusnya yang sangat jauh dari rumahku, mungkin sekitar 23 km. Tapi setelah membicarakannya dengan orang tua akhirnya orang tua mengizinkanku untuk mengambil UIN. Dalam proses SNBT ini aku lebih tenang dalam menjalaninya, aku memasrahkan semuanya kepada Allah. Apapun hasilnya nanti itulah yang terbaik untukku. 

Tentu saja ikhtiar itu nomor satu bagiku, apakah aku hanya mendaftar UTBK saja? tentu tidak, aku terus berusaha mencari peluang lain yaitu dengan mencari informasi tentang jalur masuk ke PTN, aku mulai mencoba daftar UMPTKIN, mandiri prestasi, semua kucoba. Jujur saja aku menghabiskan kurang lebih satu juta hanya untuk tes. Aku memang sengaja mengambil semua peluang yang memungkinkan, untuk hasilnya aku pasrahkan kepada Allah karena aku yakin pilihan Allah adalah pilihan yang terbaik. Tetapi ada satu yang kutekankan di sini di setiap jalur masuk aku tidak lupa memilih UNESA, ya karena itu adalah pilihan pertama orang tua dan diriku sendiri. Jadi, pada saat itu aku sangat berharap agar bisa masuk ke UNESA. 

 

Tepat tanggal 20 Juni

Hari ini adalah hari yang mungkin bagi orang lain adalah hari yang biasa saja tapi untuk siswa kelas 12 hari ini adalah hari yang sangat menegangkan. Jam berjalan begitu lambat bagaikan kura-kura, detik tiap detik terdengar sangat jelas di telingaku. Tidurpun jadi tak nyenyak, overthinking tuh ternyata seperti ini ya prend rasanya wkwk. Keadaanku waktu itu seperti seseorang yang baru saja diputuskan pacarnya, penuh dengan suudzon, astaghfirullah tidak seharusnya aku begini. Setelah sekian lama akhirnya tepat pukul 15.00, tanganku begitu gemetar, badan rasanya panas dingin, tak tertinggal pula di dalam hati rasanya ada yang lagi djan. Bodo amat dengan kondisi yang seperti ini, karena pasti semua anak kelas 12 persis seperti diriku gejalanya. Dengan mengucapkan sholawat serta basmalah akhirnya warna yang sangat kusukai terpampang di mataku. Ya Allah aku sangat bersyukur atas pilihan Engkau. Aku diterima di UINSA kawan, tentunya dengan jurusan matematika murni. 

Ya sekarang aku adalah mahasiswi UINSA prodi matematika, aku telah menginjak semester 3. Apakah kalian tau apa yang telah disiapkan Allah untukku? Aku mendapat kuliah gratis selama delapan semester serta diberi uang saku, ya Allah apakah ini rahasia di balik rencana-Mu? aku tidak menyangka akan mendapat beasiswa pemuda tangguh. Yang awalnya aku hanya coba-coba mendaftar dan akhirnya lolos seleksi. Aku tidak menyangka ini ya Allah, di balik tangisan ternyata Engkau telah menyiapkan rencana seindah ini. Tapi aku masih heran apapun jalur yang kugunakan agar bisa masuk ke UNESA tetap saja tidak bisa lolos. Aku tidak terlalu mempedulikan akan hal itu, yang penting aku sudah melakukan 3B, yaitu berikhtiar, berdoa, dan bertawakal. Aku yakin di balik badai pasti ada pelangi, begitupun di balik kesedihan pasti ada kebahagiaan. Dan aku yakin bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan kita (Q.S. al-Baqarah ayat 286).

 

Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.