Aku masih ingat dengan jelas warna merah yang muncul di layar ponselku pada tanggal 15 Maret 2025. Tulisan di layar itu menyatakan bahwa aku tidak lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Saat itu hatiku terasa kosong. Untuk beberapa saat aku hanya terdiam, menatap layar ponsel sambil mencoba menerima kenyataan bahwa langkah pertamaku menuju kampus impian belum berhasil.
Namun jauh sebelum momen itu terjadi, aku sudah memiliki sebuah mimpi.
Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), aku sering membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa. Bagiku, kuliah bukan hanya sekadar melanjutkan pendidikan, tetapi juga sebuah kesempatan untuk mengubah masa depan dan membanggakan orang tua.
Aku berasal dari keluarga sederhana. Ayahku bekerja sebagai petani, sedangkan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga. Karena itu, aku selalu berharap bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri agar biaya kuliahnya lebih terjangkau dan tidak terlalu membebani orang tuaku.
Perjalanan menuju kampus impian tentu tidak mudah. Ada banyak keraguan yang sering muncul dalam pikiranku. Terkadang aku merasa belum cukup pintar atau belum cukup hebat dibandingkan orang lain. Namun setiap kali rasa ragu itu datang, aku selalu berusaha mengingat kembali tujuanku, yaitu membuat orang tuaku bangga.
Ketika namaku masuk dalam daftar siswa eligible, perasaanku sangat bahagia. Rasanya seperti mendapatkan kesempatan besar untuk melangkah lebih dekat menuju mimpi. Namun di saat yang sama, aku juga dihadapkan pada kebingungan besar untuk memilih jurusan kuliah.
Sejak kecil aku pernah bercita-cita menjadi seorang guru. Akan tetapi ketika duduk di kelas XI SMA dan masuk ke kelas kesehatan, keinginanku sempat berubah. Aku mulai tertarik pada dunia farmasi dan berharap bisa melanjutkan kuliah di jurusan tersebut.
Ketika pendaftaran SNBP dibuka, aku mencoba mendaftar jurusan Farmasi di Universitas Brawijaya, Malang. Saat itu aku menyimpan harapan yang sangat besar. Namun harapan itu harus pupus ketika pengumuman pada tanggal 15 Maret 2025 keluar dan aku dinyatakan tidak lolos.
Kegagalan itu tentu membuatku sangat sedih. Namun aku tidak ingin berhenti sampai di sana. Aku memutuskan untuk mencoba kembali melalui jalur SNBT.
Aku mulai belajar dengan lebih serius. Setiap hari aku mengerjakan latihan soal, mengikuti bimbingan belajar, serta memperbanyak doa dan ibadah. Aku bahkan berusaha lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan berpuasa Senin dan Kamis serta melaksanakan salat malam.
Di tengah perjuangan itu, aku sempat mencari informasi tentang perkuliahan di Poltekkes Semarang. Aku tertarik untuk mencoba mendaftar di sana. Namun, aku melakukannya secara diam-diam karena orang tuaku tidak mengizinkanku kuliah di sana dengan alasan jarak yang jauh dan kondisi ekonomi.
Dengan uang tabunganku sendiri sebesar Rp50.000, aku memberanikan diri mendaftar melalui jalur PMB rapor pada program studi D4 Gizi. Sebenarnya aku juga tidak direstui mengambil jurusan tersebut, tetapi aku tetap mencoba karena ingin mencari peluang.
Hari pengumuman pun tiba pada tanggal 23 Mei 2025 pukul 17.00. Dengan penuh harapan aku membuka hasil seleksi. Namun sekali lagi aku harus menerima kenyataan pahit. Aku kembali dinyatakan tidak lolos.
Kali ini perasaanku benar-benar hancur. Aku menangis dan merasa putus asa karena sudah dua kali gagal masuk perguruan tinggi negeri.
Namun setelah beberapa hari, aku mulai bangkit kembali. Aku sadar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Mungkin saat itu memang belum waktunya.
Aku kembali fokus belajar untuk menghadapi SNBT.
Ketika pendaftaran SNBT tiba, aku kembali dihadapkan pada kebingungan. Aku harus mengisi empat pilihan perguruan tinggi dan jurusan. Saat itu aku sempat ragu menentukan pilihan.
Tiba-tiba aku teringat kembali cita-citaku ketika masih kecil, yaitu ingin menjadi seorang guru.
Dari situlah aku mulai yakin untuk kembali mengejar mimpi tersebut. Aku memilih program studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Negeri Surabaya Kampus 5 sebagai pilihan pertama, dan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Negeri Surabaya sebagai pilihan kedua.
Awalnya aku tidak ingin mengisi pilihan ketiga dan keempat, tetapi orang tuaku menyarankan agar tetap mengisinya sebagai cadangan. Akhirnya aku mengisi pilihan ketiga di Universitas Sebelas Maret program studi D3 Farmasi, dan pilihan keempat di Universitas Negeri Malang program studi D4 Akuntansi. Meskipun sebenarnya aku tidak terlalu berminat pada pilihan terakhir itu.
Hari pelaksanaan UTBK akhirnya tiba.
Aku memilih lokasi tes di Universitas Sebelas Maret. Itu adalah pengalaman pertamaku naik kereta api untuk mengikuti ujian di luar kota. Aku berangkat pada tanggal 26 April 2025 dan menginap di kos teman sambil menunggu ujian keesokan harinya.
Pada tanggal 27 April 2025 aku mengikuti UTBK di Universitas Sebelas Maret. Aku berusaha menenangkan diri agar tidak gugup. Ruangan ujian terasa sangat dingin, tetapi aku tetap berusaha fokus mengerjakan setiap soal dengan tenang dan percaya diri.
Setelah ujian selesai, aku kembali ke kos teman menggunakan ojek online. Namun, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Ponselku terjatuh dan layar LCD-nya rusak. Aku sempat sangat khawatir, tetapi untungnya aku sudah sampai di rumah sebelum ponsel itu benar-benar mati.
Setelah semua usaha yang kulakukan, aku hanya bisa bertawakal dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Hari pengumuman hasil seleksi menjadi salah satu hari yang paling menegangkan dalam hidupku.
Pada tanggal 28 Mei 2025, dengan tangan yang sedikit gemetar aku membuka laman pengumuman dan mengetik nomor pendaftaranku. Beberapa detik terasa sangat lama.
Kemudian sebuah kalimat muncul di layar :
“Selamat, Anda dinyatakan diterima.”
Aku diterima di pilihan pertama, yaitu Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Negeri Surabaya Kampus 5.
Aku terdiam beberapa saat. Rasanya seperti tidak percaya bahwa semua usaha, doa, dan perjuangan selama ini akhirnya membuahkan hasil.
Perasaan bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Hal pertama yang kulakukan adalah memberi tahu orang tuaku. Mereka terlihat sangat bahagia dan bangga.
Melihat senyum mereka membuatku sadar bahwa semua perjuangan ini tidak hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk membahagiakan mereka.
Hari itu menjadi salah satu momen yang tidak akan pernah aku lupakan momen ketika mimpi yang selama ini hanya ada dalam bayanganku akhirnya benar-benar menjadi kenyataan.
Ditulis oleh : EMILIA NUR AFIFAH

