Saya Sebrina Grecia Br Sijabat. Banyak orang mungkin mengira bahwa saya beruntung karena dapat masuk ke salah satu dari sepuluh universitas terbaik di Indonesia. Namun, mereka hanya melihat hasil akhirnya tanpa mengetahui perjalanan panjang yang harus saya lalui untuk sampai pada titik ini. Semasa SMA, saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari saya bisa menjadi mahasiswa di Universitas Brawijaya. Saya bukan siswa yang cepat memahami materi Pelajaran. Ketika teman-teman saya sudah mengerti suatu Pelajaran, saya sering kali masih membutuhkan waktu lebih lama untuk memahaminya. Karena itu, saya harus mempelajari kembali materi tersebut hingga benar-benar mengerti.
Ketika akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalut prestasi, saya merasa bahwa kesempatan tersebut adalah sebuah anugrah. Namun, harapan yang saya miliki saat itu tidak sesuai dengan yang saya bayangkan. ketika pengumuman hasil akhir keluar, saya justru dinyatakan tidak lolos. Sedih? Tentu saja tetapi apakah pada saat itu saya menangis karena hasil yang saya harapkan tidak sesuai? Jawabannya adalah tidak. Saya tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan sehingga saya mencoba kembali dengan mengikuti jalur seleksi berdasarkan tes. Saya mengikuti kursus yang membahas mengenai soal-soal tes pada tahun lalu, menambah jam kursus saya dengan berdiskusi dengan mentor, latihan soal untuk menguji kemampuan saya, tidak hanya latihan soal dari dalam kursus tetapi juga di luar kursus, tidak jarang juga saya menghabiskan waktu hingga malam hari untuk mengulang soal-soal latihan. Pada saat saya memiliki waktu senggang, saya dan teman-teman saya akan belajar bersama mengenai soal-soal tahun lalu. Hal itu sangat membantu karena saya merupakan tipe orang yang cenderung pemalu sehingga jika saat belajar bersama teman, saya tidak sungkan bertanya ketika ada hal yang belum saya pahami.
Pada saat itu, saya berusaha agar saya mendapatkan hasil yang memuaskan. Saya teringat pada uangkapan Latin, “Ora et Labora” yang berarti berdoa sambil bekerja. Ungkapan sederhana itu mengingatkan saya bahwa setiap usaha yang saya lakukan akan semakin bermakna ketika disertai dengan doa. Di samping saya belajar, saya juga tidak pernah lupa untuk selalu meminta Tuhan agar menyertai setiap usaha yang saya lakukan. Setelah melewati berbagi usaha dan proses belajar yang tidak mudah akhirnya, pengumuman yang saya tunggu pun tiba. Saat itu saya merasa cukup yakin akan lolos karena ketika mengerjakan seluruh subtest, saya rasa saya mampu menjawab soal yang diberikan. Namun, Tuhan berkehendak lain, saya kembali dinyatakan tidak lolos. Pada saat itu saya menangis, merasa sedih dan kecewa. Saya merasa semangat saya sudah hilang hingga membuat saya berpikir bahwa saya akan mencoba lagi di tahun depan. Setiap malam saya akan menangis dan bertanya kepada Tuhan, mengapa saya harus menghadapi cobaan seperti ini. Saya pikir semua orang pasti akan memiliki pemikiran seperti saya hingga membuat saya menyadari bahwa saya tidak boleh terus terpuruk. Saya bertekad bahwa saya harus masuk ke dalam universitas impian saya.
Saya memutuskan untuk mencoba kembali melalui jalur mandiri. Sebelum saya mendaftar jalur tersebut, saya mulai merefleksikan bagaimana hubungan antara diri saya dengan Tuhan. Ada pada suatu saat dimana seluruh anggota keluarga saya pergi ke bandara untuk menjemput kakak sepupu dan hanya saya yang berada di rumah. Saya ingat pada saat itu sore menjelang malam saya menangis, saya kembali memikirkan setiap usaha yang telah saya lakukan untuk dapat masuk ke dalam univeristas impian saya. Saya bertanya kepada Tuhan mengapa harus saya yang gagal? Apakah pada saat saya berdoa ia mendengarkan doa saya? Apakah segala usaha yang telah saya lakukan masih kurang?. Saat itu saya kembali berdoa kepada-Nya, meminta Tuhan untuk menunjukkan kehadirannya kepada saya. Saya juga memohon kepadanya untuk memberi saya harapan melalui jalur mandiri ini, memberi orang tua saya harapan karena anak pertama mereka dapat masuk ke dalam salah satu universitas terbaik di Indonesia, membuat orang tua saya bangga dan merasa bahwa segala perjuangan mereka tidak sia-sia.
8 Juli 2025, hasil pengumuman pun keluar. Saya tidak berani untuk membuka hasilnya karena saya merasa bahwa saya akan kembali dinyatakan tidak lolos. Pada jam 4 sore saya memberanikan diri untuk membuka hasil pengumuman yang ternyata saya dinyatakan lolos seleksi jalur mandiri. Senang? Tentu saja. Saya kembali menangis tetapi kali ini karena bahagia. Saya bersyukur kepada Tuhan karena doa saya didengar, saya berterima kasih kepada dia karena telah memberikan harapan bukan hanya bagi saya tetapi juga bagi orang tua dan keluarga saya.
Perjalanan saya menuju kampus impian mengajarkan saya bahwa kegagalan bukanlah akir dari segalanya. Justru dari kegagalan saya belajar untuk bangkit, menjadi lebih sabar, berusaha lebih keras, dan mempercayakan setiap langkah kepada Tuhan. Saya percaya bahwa ketika usaha dan doa berjalan bersama, tidak ada perjuangan yang sia-sia.
Kini saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Universitas Brawijaya di semester dua. Semua perjalanan ini mengajarkan saya bahwa ketika usaha dilakukan dengan sungguh-sungguh dan disertai doa, selalu ada jalan yang Tuhan bukakan. Karena itu, saya percaya bahwa mencoba kembali bersama Tuhan akan selalu membawa kita pada tujuan yang tepat. Terima kasih, Tuhan Yesus.

