Tidak semua mimpi gagal karena kita tidak cukup berusaha.
Terkadang mimpi itu benar-benar berhasil kita raih. Hanya saja, kita tidak diizinkan untuk memilikinya.
Cerita ini akan sedikit berbeda dari kisah perjuangan lainnya. Bagaimana tidak, bagaikan kapal yang hampir bersandar di dermaga impian setelah melewati hebatnya guncangan ombak di lautan, kapal itu justru harus memutar kemudi menuju dermaga lain yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh sang nahkoda, bukan karena keinginannya, melainkan karena alasan yang tidak pernah benar-benar ia ketahui, atau mungkin tidak ingin ia ketahui.
Perkenalkan namaku Nadia Nabilah Hasan.
Aku tidak seperti kebanyakan teman SMA-ku yang lain. Mereka telah merancang rencana perkuliahan dengan sangat matang, baik itu jurusan impian, universitas impian, maupun alternatif jurusan atau universitas ketika tujuan utama mereka tidak tercapai. Aku tidak terlalu pandai dalam merencanakan hal se-detail itu. Namun satu hal yang pasti, aku memiliki universitas impian yang sudah aku tanamkan dalam hati dan pikiranku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di bangku SMA: Universitas Hasanuddin.
Aku sangat menyukai masa SMA-ku. Tidak berlebihan rasanya jika banyak orang mengatakan bahwa masa-masa SMA adalah masa terindah dalam fase kehidupan. Namun, semuanya sedikit berbeda ketika aku sudah menginjakkan kaki di bangku kelas 12, dimana kehidupan mulai terasa sangat serius bagiku, karena kelas 12 menandakan bahwa Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) sudah di depan mata.
Sekolahku memang agak berlebihan soal hal itu. Bagaimana tidak, hampir setiap hari kami diberikan bimbingan UTBK atau sekadar latihan soal mandiri agar kelak kami andal dalam menjawab semua jenis soal yang akan keluar. Tidak hanya itu, terkadang akhir pekan kami tidak lagi digunakan untuk bermain atau bersantai, tetapi untuk tryout soal-soal UTBK. Rasanya melelahkan menatap komputer dalam waktu yang lama, tapi aku selalu meyakinkan diriku bahwa lebih baik lelah karena belajar daripada lelah menangis karena tidak diterima di universitas impianku.
Hari-hari itu terus berjalan hingga suatu saat aku mengetahui bahwa aku adalah salah satu siswa eligible yang berhak untuk mendaftar ke PTN tanpa melalui tes atau orang-orang mengenalnya dengan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Aku ingat sekali saat itu adalah bulan Februari 2025. Aku mengingatnya dengan jelas karena aku benar-benar sibuk bertanya kepada siapa saja yang aku percaya dapat memberiku masukan yang baik tentang jurusan apa yang sebaiknya aku pilih, mengingat bahwa nilai raporku tidak sebagus itu untuk “menembak” jurusan yang sangat banyak peminatnya di Universitas Hasanuddin dan aku juga tidak mau mengambil risiko yang terlalu besar. Siang dan malam aku terus bertanya, baik itu kepada wali kelas, guru asuh, kakak, maupun orangtua.
Hingga akhirnya saat proses finalisasi, aku merelakan jurusan yang sempat menjadi impianku, dalam hati aku berkata, tidak apa-apa bukan jurusan itu, yang penting aku kuliah di Unhas. Setidaknya kalimat itu mampu menenangkan diriku saat itu.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tanpa aku sadari hari pengumuman SNBP telah tiba tepatnya pada tanggal 18 Maret 2025. Hari yang tidak aku sangka-sangka akan mengubah jalan hidupku sepenuhnya.
Aku membuka pengumuman diam-diam karena aku tidak terlalu yakin dengan hasilnya dan benar saja layar handphoneku menampilkan warna merah. Di saat yang bersamaan, ayahku datang dan menyuruhku untuk mendaftar UIN melalui jalur afirmasi tahfidz. Dan karena hari itu aku gagal SNBP akhirnya aku mengiyakan perintah ayahku, tapi aku mendaftar dengan niat awal ini akan menjadi cadangan, kalau nanti aku tetap ditolak Unhas melalui jalur SNBT. Aku berpikir seperti itu.
Keesokan harinya, mamaku mengantar dan mendaftarkanku ke sebuah tempat les yang bisa membantu ku untuk belajar UTBK. Selama satu bulan lebih aku belajar dengan sangat serius karena aku benar-benar bertekad untuk lulus di pilihan pertama ku, akuntansi Unhas. Tidak jarang aku belajar hingga jam tiga pagi demi mewujudkan apa yang aku impikan. Di sela-sela usaha itu, aku juga terus “merayu” Tuhan melalui doa agar aku dimudahkan dan diluluskan ujian.
Hingga ketika hari ujian tiba, aku mengerahkan semua kemampuan yang aku miliki dan menyerahkan semua hasilnya kepada Tuhan.
Dua minggu sebelum pengumuman SNBT, aku membuka pengumuman penerimaan mahasiswa UIN melalui jalur afirmasi. Aku tidak menyangka bahwa aku diterima di jurusan yang aku inginkan. Bukan universitas yang kuimpikan, memang, tetapi setidaknya ada rasa tenang. Aku sudah memiliki universitas cadangan jikalau nanti SNBT tidak berjalan sesuai dengan harapan.
Kemudian tibalah hari itu.
Rabu, 28 Mei 2025 pukul 15.00 WIB.
Lagi-lagi aku membuka pengumuman sendirian. Kali ini, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku membaca tulisan itu setengah tidak percaya.
LULUS di akuntansi Universitas Hasanuddin.
AKU BERHASIL.
Aku berlari sembari tersenyum lebar menuruni anak tangga menuju kamar orangtua ku untuk menyampaikan kabar baik itu. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat.
Seperti celengan ayam yang terbuat dari tanah liat dilempar dari ketinggian, hatiku hancur ketika mendengar perkataan mamaku,
“Lupakan saja Unhas itu, di UIN saja ya.”
Aku tidak akan pernah lupa betapa sedihnya aku saat itu dan beberapa minggu setelahnya. Bahkan mungkin hingga hari ini. Semakin aku mencoba untuk menerima kenyataan, semakin banyak pertanyaan atau bahkan remehan yang orang lain lontarkan kepadaku. Mungkin itu adalah salah satu alasan kenapa aku masih belum bisa berdamai dengan diriku hingga saat ini.
Kini, aku belum melangkah terlalu jauh, masih di semester dua, tapi sayang rasanya jika aku harus meninggalkan kampus yang tak pernah masuk dalam daftar doa ku ini. Aku tidak banyak menceritakan cerita ini kepada orang lain karena aku tidak siap untuk menjawab pertanyaan tentang mengapa aku meninggalkan Unhas demi UIN.
Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu jawabannya.
Aku juga tidak pernah benar-benar menanyakan alasan itu kepada orangtuaku. Mungkin karena aku tahu, jika pembicaraan itu terjadi, aku akan kembali menangis.
Hingga saat ini aku masih tidak tahu apakah lulus di dua universitas merupakan sebuah keburuntungan, atau justru sebuah kesialan.
Apakah mungkin karena doa ku selama ini adalah “diluluskan di Unhas” bukan “berkuliah di Unhas”?
Entahlah.
Setidaknya ada hal baik yang dapat ku petik bahwa kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan berusaha, kemudian yang menentukan tetaplah Tuhan. Bahkan sesuatu yang sudah di depan mata pun, kalau Tuhan mengatakan tidak, maka sesuatu itu tidak akan pernah terjadi.
Aku percaya, suatu hari nanti aku akan memahami alasan di balik semua ini dan mungkin suatu saat aku akan berterima kasih kepada orangtuaku karena telah mengarahkanku ke jalan yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan.
Begitulah kisahku mengejar PTN impian. Sebuah kemenangan yang sempat aku genggam, meski hanya untuk sesaat, sebelum akhirnya harus aku lepaskan dengan berat hati.

