Dari Keraguan Menuju Kepastian: Sebuah Perjalanan yang Mengubahku Menjadi Pribadi yang Berarti.

Annisa Larasati

Mimpi tidak selalu hadir dengan kemudahan. Keraguan, kelelahan, keputusasaan, bahkan air mata menjadi saksi suatu perjuangan. Aku belajar bahwa perjuangan bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang proses yang membentuk pribadi ini menjadi lebih berarti.

Keputusanku untuk masuk ke Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta 1 tidak lahir dari keputusan sederhana. Aku sangat ingin masuk Universitas Indonesia, memakai almamater kebanggaan, namun takdir berkata lain. Universitas Indonesia menolakku di SNBP, pikirku karena sekolah yang kududuki kala itu bukanlah sekolah ternama dan aku tidak memiliki prestasi nasional. Seingatku, aku hanya menjadi Ketua OSIS dan ikut berbagai kegiatan organisasi di luar sekolah, tanpa olimpiade. Ah, kalau diingat aku sangat tidak serius untuk belajar, bahkan tak jarang guruku bergurau, “Sekolah ini bukan sekolah terbaik dan dirimu tidak mungkin lolos ujiannya” membuatku semakin risau, tetapi aku bersikeras untuk membuktikan bahwa aku akan lolos pada SNBT dan SIMAMA.

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Perjalanan menuju titik ini tidak selalu mulus. Aku belajar 12 jam per harinya untuk mencapai target dan memuaskan egoku yang tak kunjung puas. Persaingan ketat dan materi yang menantang membuatku berpikir, aku harus mendapat skor UTBK dan SIMAMA terbaik agar lolos menjadi Mahasiswa Universitas atau Politeknik kebanggaanku. Malam-malam panjang yang terasa melelahkan, dan pagi yang dimulai dengan rasa cemas. Aku sangat ragu pada diriku sendiri. Materi yang diberikan sekolah terasa tidak cukup untuk ujian tersebut, sehingga aku mengeluarkan biaya cukup besar untuk membeli buku dan aplikasi belajar.

Hari silih berganti, tibalah waktu ujian. Semua orang terlihat sangat siap, bahkan mereka tidak lagi memegang kertas dan buku, berbeda denganku. Memasuki ruangan yang sunyi dan dingin, membuatku semakin takut. Bahkan, mengerjakan soal di layar terang itu tidak sepenuhnya kupikirkan, aku hanya berfokus untuk menyelesaikannya tepat waktu dan keluar dari ruangan tersebut. Sesuai dugaanku, mereka yang terlihat sangat siap itu tidak keluar dari ruangan dengan wajah pucat pasi, mereka justru bernapas lega dan sebagian melonjak kegirangan. Aku turut bahagia, walaupun diriku mengerjakan soal-soal tersebut dengan keadaan pasrah.

Hingga akhirnya, hari yang kutunggu tiba. Melihat namaku terpampang di website pengumuman SIMAMA dengan tulisan “Selamat” membuatku melonjak kegirangan, aku lolos di Poltekkes Jakarta 1. Namun, hal itu tidak berlangsung lama, aku juga dinyatakan lolos di SNBT. Aku terpaku, bingung dengan hasil belajarku yang selama ini kuanggap tidak membuahkan hasil yang memuaskan serta bingung harus memilih Universitas kebanggaanku atau Poltekkes Jakarta 1. Keduanya merupakan impianku, aku menaruh mimpi yang sangat tinggi di kedua tempat itu. Namun, papaku memberi saran untuk memilih jalan yang cocok dengan pribadiku, seorang perawat. Kupersiapkan mentalku selama 24 jam, dan dengan tegas aku memilih Poltekkes Jakarta 1 sebagai tempatku meraih mimpi. Memang terasa berat, namun aku percaya jalan ini kelak memberikan kontribusi nyata khususnya dalam peningkatan kualitas kesehatan.

Perjalanan ini mengajarkanku untuk melihat bahwa mimpi dapat diraih walaupun banyaknya rintangan dalam sepucuk harapan. Aku percaya satu langkah kecil dapat membawaku menuju tujuan besar dengan segala jerih payahnya

Maka dari itu, aku akan terus melangkah.

Sumber : Dokumentasi pribadi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *