Untuk para Inspirator

Oleh: serenaloka

Tulisan ini dari kisahku yang menjadi inspirasiku. Tulisan ini bukan merupakan cerita mengharukan. Bukan juga cerita perjuangan layaknya di perfilman. Tapi akan kubagikan isi hati dari amukan kecilku yang selama ini tersimpan. Ia hanya pernah tercurah pada pena yang menari-nari di atas lembaran.

Aku bukan tak akan memperkenalkan diri. Hanya saja biarkan kalian mengenalku sebagai penulis yang mengeluarkan kisahnya. Semoga tanpa nama asli dan latar belakang kalian akan tetap merasakan perasaan yang kutuangkan ke dalamnya.

Tulisan ini ditujukan pada mereka yang kerap berpikir untuk menyerah. Hidup sejatinya adalah pilihan. Kau yang tertatih hari ini adalah mimpi setiap orang yang menopang kehidupan orang lain di punggungnya. Sampai-sampai ia sendiri lupa pada mimpinya.

Kalian tentu tahu kampus kuning nomor satu di negeri ini. Saat kecil aku bahkan merasa hanya orang hebat yang pastas bermimpi ke sana. Ia terlalu jauh untuk kucapai. Bagaikan bintang di langit dan aku domba yang memakan rumput di daratan.

Jika kalian berpikir aku sedang menulis alur di mana pada akhirnya aku masuk kampus ini, kalian salah besar.

Kutegaskan lagi tulisan ini tentang arti sebuah merelakan.

Aku tinggal di pulau dewata. Pulau yang menjadi kebanggan Indonesia. Banyak orang ingin pergi ke pulau ini termasuk untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Dan di sinilah aku mendapat kesempatan itu.

Ini dia perguruan tinggi nomor satu di Bali. Teman-teman akhirnya aku di sini. Kampus yang tersebar ke tiga daerah di Bali. Di sekitarnya banyak ditumbuhi pohon kelapa lengkap dengan langit Bali yang eksotis.

Bagaimana aku berjuang masuk kampus ini bukan tentang susahnya kubelajar atau melawan kerasnya ekonomi. Ada seribu langkah dan setengahnya kuhabiskan untuk merelakan. Bagaimana aku meredupkan nuansa kompetitif hanya karena aku tak akan bisa pergi menuju mimpi awalku. Menuju ke UI.

Jika ditanya kenapa mimpi ini harus kututup rapat aku kan menegaskan tak ada yang salah di sini. Pertama, izin keluar kota yang nihil. Kedua, aku tak ada keluarga yang yakin aku mampu hidup sendiri. Dan bukan penghalang ekonomi yang mungkin lebih berat lagi dirasakan orang lain.

Aku sudah punya banyak kesempatan mencoba. Banyak kesempatan juga berpetualang. Walau beberapa tertahan karena alasan uang atau diragukan. Ini topik paling sensitif untukku. Dan semoga kelak aku dapat membahasnya lebih terbuka.

Hal ini berat untukku karena ini tentang pertarungan diri sendiri. Bagaimana aku melepaskan mimpi yang seharusnya dapat kuperjuangkan.

Mengejar mimpi bukan berarti dapat lagsung didapatkan, bukan? Namun setidaknya harus pernah mencoba. Dan sayangnya untuk yang satu ini aku bahkan belum sempat mencoba.

Aku selalu bersedih tiap kali seseorang gagal kuliah. Padahal seharusnya pendidikan adalah hak kesetaraan manusia. Sesekali aku bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa karena masih mendapatkan tempat belajar di antara ribuan umatnya.

Namun mimpi ke UI itu masih ada. Ia tidak hilang. Hanya saja diam.

Langit UI masih menjadi favoritku. Langit Depok yang terkadang berhembus bersamanya angin panas. Walaupun pasti banyak yang berpikir langit Bali lebih indah dari langit Indonesia mana pun.

Untuk UI aku memberi patokan. Jika aku tak bisa menjadi mahasiswa di sana, aku akan jadi gurunya. guru besar di Universitas Indonesia. Tak akan kubiarkan hidup sekaliku ini tanpa mencoba mendapatkan mimpi yang aku idamkan.

Mimpi ini bahkan masih tumbuh dalam jiwa. Ia masih hidup dan mencari celah dari realita kehidupan. Jika saja ia berbentuk seseorang, mungkin dia sedang tertatih berharap dapat mengambil kesempatan.

Jika saja ia sebuah bayangan, pastilah ia bayang-bayang kala senja menjelang. Ketika bayangan itu gelap hampir menyatu dengan daratan dan makin tak terlihat. Tapi kala matahari datang sebenarnya ia masih ada menempel dengan raga manusia.

Ia ada hanya sebagai pengingat. Ada untuk menyadarkan bahwa makhluk hidup sedingin balok es pun tetap akan jatuh cinta. Entah pada mimpi yang mana. Di waktu yang mana. Pada tempat yang mana. Atau kesulitan yang mana.

Tapi aku mendapatkan satu hal. Sekarang aku mulai berani bermimpi. Aku tak takut dikecewakan. Aku semakin kebal pada penolakan. Aku siap menerima kegagalan. Walaupun kali ini aku bahkan tak dapat kesempatan.

Kali ini aku akan mencoba paham. Kesempatanku memilih sudah dihabiskan pada sastra indah yang sedari dulu aku genggam. Maka tempat bukan masalah, bukan? Kata-kata orang kadang membekas. Kau akan jadi apa di sini. Tak ada peluang di sini. Ini tak sehebat di sana. Kau akan hebat jika di sana.

Semakin dewasa aku paham. Tempat yang terlihat remeh bagi mereka justru adalah hal yang dikejar bagi beberapa orang. Ada yang merasa tertinggal pada pencapaian yang sudah kudapatkan. Padahal di sisi lain aku masih tak menerima.

Mungkin jika nanti gagal karena memang bukan jalannya tak mengapa juga. Aku yakin sesuatu yang lebih baik sedang menunggu di depan. Karena Tuhan adalah penulis skenario terbaik kehidupan.

Maaf jika ini bukan tentang keberhasilan. Justru aku menulis tentang kegagalan. Tapi setelah semua paragraf ini dirangkai, aku semakin yakin tidak akan pernah mengatakan lagi tentang gagal. Aku hanya belum mencoba. Karena ini memang bukan waktu untukku memulai.

Untuk kalian yang masuk perguruan tinggi yang kalian impikan, kalian hebat. Dan untuk semua yang belum mencapainya percayalah kalian akan disuguhkan hidangan yang terasa lebih enak karena harus dipanaskan.

Dan untuk kalian yang merelakan mimpi awalnya dan terpaksa menjalani mimpi di tempat baru, sama sepertiku, aku yakin Tuhan akan membalas keikhlasan kalian dengan yang lebih elok. Jalan yang sama indahnya walau dengan bedanya langit yang kalian harapkan. Tapi apa pun langitnya selama masih di bumi kita tetap diperbolehkan berkelana.

Dan untuk kalian yang merelakan mimpinya, kalianlah alasan hidup seseorang. Karena di tangan kalian mereka tumbuh. Walau sekarang kau merelakan sedikit airmu untuk akar yang lain, percayalah hujan akan turun deras pada tanahmu nanti. Kau akan menjadi bunga yang cantik dengan daun yang hijau. Saat itulah rasa sabar dan lelahmu akan diganti lunas.

Salam dariku, untuk kalian para manusia yang menginspirasi.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *