Judul: Mimpi Yang Tidak Pergi, Hanya Berubah Arah

Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis (2026)

Setiap orang pasti memiliki kampus impian. Begitu juga aku. Sejak duduk di bangku sekolah, aku sudah memiliki satu tujuan, yaitu melanjutkan pendidikan di Universitas Brawijaya dengan jurusan pariwisata. Bagiku, itu bukan sekadar pilihan, melainkan harapan untuk mengenal dunia yang lebih luas dan menentukan jalan hidupku sendiri.

Mimpi itu tumbuh perlahan, dari rasa penasaran hingga menjadi keyakinan. Aku membayangkan diriku belajar di kota Malang, bertemu banyak orang baru, memahami berbagai budaya, dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa yang aktif. Dalam bayanganku, di sanalah aku akan memulai langkah besar dalam hidupku.

Namun, kenyataan tidak selalu berjalan searah dengan harapan.

Ketika aku menyampaikan keinginanku untuk kuliah di luar kota, ayahku menolaknya. Ia mengatakan bahwa aku tidak perlu kuliah jauh-jauh. Bahkan, sempat terucap bahwa aku tidak perlu kuliah sama sekali. Saat itu, aku merasa kecewa, seolah mimpi yang selama ini kujaga perlahan runtuh begitu saja.

Seiring waktu, aku mulai memahami bahwa keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Keadaan ekonomi keluarga kami saat itu memang tidak memungkinkan. Kuliah di luar kota berarti membutuhkan biaya yang jauh lebih besar—biaya hidup, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya—yang sulit untuk dipenuhi. Di situlah aku berada dalam posisi yang tidak mudah: antara mempertahankan mimpi atau memahami keadaan.

Aku tidak menangis, hanya diam. Namun dalam diam itu, ada banyak hal yang runtuh. Aku merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat kumiliki sepenuhnya. Mimpi yang selama ini kususun perlahan seakan berhenti di tengah jalan.

Di saat yang sama, aku melihat teman-temanku mulai melangkah menuju masa depan mereka. Mereka berbicara tentang kampus impian, jurusan pilihan, dan rencana yang akan mereka jalani. Sementara itu, aku hanya bisa menyimpan keinginanku sendiri, mencoba terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya tidak.

Hari-hari itu tidak mudah. Aku sempat merasa marah, kecewa, bahkan kehilangan arah. Aku bertanya-tanya apakah aku kurang berjuang atau memang mimpiku tidak pernah benar-benar memiliki tempat dalam kenyataan.

Namun waktu terus berjalan.

Akhirnya, aku tetap melanjutkan pendidikan, tetapi bukan di tempat yang kuinginkan. Aku berkuliah di Universitas Lampung dengan jurusan kehutanan, yang sebelumnya tidak pernah kurencanakan. Awalnya, semuanya terasa asing—baik lingkungan, pelajaran, maupun perasaan dalam diriku sendiri.

Kini, tanpa terasa aku sudah berada di semester empat. Perjalanan ini tidak selalu mudah. Ada banyak hal yang harus kuhadapi sendiri, mulai dari tantangan akademik hingga proses beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, di balik itu semua, aku mulai menemukan hal-hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Ternyata, kuliah di jurusan yang tidak pernah ada dalam rencanaku ini juga memiliki sisi yang menyenangkan. Aku bertemu dengan banyak orang baru, belajar memahami berbagai karakter, dan tumbuh melalui pengalaman-pengalaman yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Di jurusan kehutanan ini, aku belajar banyak hal tentang alam—memahami perilaku satwa liar, cara menanam pohon yang benar, hingga menginventarisasikan isi hutan. Hal-hal yang dulu terasa asing kini justru menjadi bagian dari proses belajarku setiap hari.

Perlahan, aku mulai menyadari bahwa meskipun ini bukan jalan yang kupilih sejak awal, bukan berarti aku tidak bisa menemukan makna di dalamnya.

Seiring waktu, aku mulai memahami sesuatu yang perlahan mengubah cara pandangku. Hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi selalu memberi kesempatan untuk terus melangkah.

Aku mulai belajar menerima, bukan karena semuanya sudah baik-baik saja, melainkan karena aku tidak ingin terus terjebak dalam kekecewaan. Aku belajar berdamai dengan diriku sendiri.

Kini aku mengerti bahwa mimpi tidak selalu harus tercapai dengan cara yang kita bayangkan. Mimpi itu tidak hilang, hanya berubah arah.

Hari ini, aku masih berjalan, membawa mimpi itu meski melalui jalan yang berbeda. Dan mungkin, suatu saat nanti, aku akan sampai pada tujuan yang sama—melalui cara yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Tinggalkan Komentar