Yang Selalu Duduk Bersamaku di Malam Hari

Dulu, aku punya mimpi.

“ITB, Luar negeri, Setidaknya luar Bali.” Sejak kecil aku sudah menggambar jalannya di kepala keluar dari pulau ini, pergi ke tempat yang lebih besar, lebih jauh, lebih keras. Aku yakin bahwa jarak adalah bukti keseriusan. Bahwa merantau adalah syarat dari cita-cita. Ibuku tahu itu. Dan ia selalu jadi yang paling keras mengetuk kepalaku setiap kali aku mulai ragu.

"Kejar," katanya. Selalu begitu. Bukan dengan suara lembut ibu-ibu di sinetron, bukan juga dengan suara galak yang menyengat. Tapi dengan suara yang tahu bahwa hidupnya sendiri tak punya cukup ruang untuk bermimpi, jadi ia pindahkan semua mimpi itu ke pundakku. Tapi aku dibangun dari mimpi itu sebelum aku bisa tidur.

Tiga bulan. Hanya tiga bulan aku belajar sebelum pendaftaran. Sementara teman-temanku sudah memulai sejak kelas sebelas, sepuluh, bahkan dari SMP. Aku baru membuka buku ketika mereka sudah hafal polanya. “Tapi kamu bisa” ucap Ibuku. Justru, nilai-nilainya aku naik secara drastis selama SMA, dibandingkan dengan nilai SMP ku, bedanya cukup besar, Aku tahu aku cukup pintar saat itu, di bimbingan pembelajaran pun selalu dapat nilai terbesar.

“Kalau udah tau pinter, nilai-nilai besar, kenapa ga masuk SNBP?” ujar ibuku. Aku hampir tidak mau ikut. Banyak yang bilang itu buang waktu; Jalur dari langit, formalitas untuk yang tidak punya pilihan lain. Aku memikir saat itu jika aku mengikuti SNBP, aku akan membuang hasil kerja keras bertahun-tahun yang aku siapkan untuk jadi pintar, dan BIMBEL berbulan-bulan itu. Walaupun kalau mengikutinya tak ada resiko, aku masih tidak berkenan untuk mengikutinya.

Ibuku mendorong aku untuk mengikutinya, ia mengingatkan aku “Kalau kamu tidak mau ikut SNBP, lalu gagal SNBT dan jalur mandiri, kamu mau jadi pengemis emangnya?” kata-katanya cukup menyengat. Pada akhirnya aku daftar SNBP hanya setelah diajak temen-temen. Sebelum SNBP, aku pun tak tahu Kampus Politeknik yang ada di Bali, pikiranku “Oh, kampus kecil, pasti itu juga ditolak”

Aku masih ingat layarnya, jam 4 siang. Gelap dulu, lama sekali rasanya, lalu biru.

“Selamat, kamu diterima di Politeknik Negeri Bali.”

Egoku waktu itu masih terlalu tinggi untuk langsung bersyukur. Ada bagian dari diriku yang membaca kalimat itu dan berpikir, ini bukan yang aku minta. Bukan ITB. Bukan luar negeri. Bukan bahkan luar Bali. Kemenangan yang terasa seperti kompromi. Peluk yang terasa seperti kandang. Tanteku sangat ekstatik saat aku diterima, dia keterima di UI, bangga melihat anak dari kakaknya dia masuk ke PTN. Setiap kali aku balik ke kampung bersama keluarga, tanteku lah yang aku paling bangga menemui, aku selalu curhat ke dia tentang persoalan cinta. Tentang persoalan kuliah?

Tanteku bilang syukuri. Lalu Ibuku bilang syukuri. Jadi aku coba syukuri.

Semester satu di kuliah baruku, tanteku meninggal.

Semester duanya, ibuku menyusul.

Tidak ada peringatan yang cukup untuk kematian orang yang paling keras mendorongmu maju. Tiba-tiba kau berdiri di titik di mana kau ingin balik badan dan bilang, Bu, aku sudah mensyukuri keadaan kuliahku. tapi tidak ada yang bisa mendengar. Hanya sunyi, dan tanggung jawab yang tidak berkurang meski air mata belum kering. Saat itu, hanya aku dan adikku yang berada di Bali, bapakku balik dari perantauannya.

Aku mengambil alih banyak hal. Adikku. Keluarga. Organisasi kampus yang tidak berhenti berputar hanya karena hatiku sedang hancur. Kadang aku duduk dengan gitar di malam hari, bukan karena aku ingin berlatih, tapi karena itu satu-satunya cara tanganku tahu harus melakukan apa ketika pikiranku tidak punya jawaban.

Sekarang aku mengerti sesuatu yang dulu tidak akan bisa aku terima.

Kalau aku di Jerman, di Jepang, atau di Jawa; aku tidak akan ada di sana saat ibuku membutuhkan seseorang di sampingnya. Aku tidak akan bisa menjaga adikku. Tidak akan bisa pulang dengan cukup cepat. Jarak yang dulu aku pikir adalah bukti keseriusan, ternyata bisa juga jadi bentuk pengkhianatan.

Mungkin Tuhan tidak salah perhitungan. Mungkin justru mimpi yang aku ingin cari bukan milikku untuk meraih.

Ada pepatah yang orang bilang dengan nada motivasi murahan di media sosial barat “shoot for the moon, you’ll land among the stars” namun itu cukup klise, mungkin itu ada arti yang lebih mendalam dari yang aku pertama ngira. Mungkin itulah cara alam semesta menjelaskan bahwa tujuanmu dan takdirmu tidak selalu sama, dan kadang yang kedua lebih jujur dari yang pertama.

Ibuku dan tanteku tidak akan melihat aku wisuda. Tapi ia melihat layar itu jadi biru.

Dan mungkin, untuk seorang ibu yang seluruh hidupnya dipakai untuk mendorong anaknya itu sudah cukup.

Terima kasih Mami, Terima kasih Tante

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *