Bukan Kampus Impian, tapi Tetap Sebuah Kemenangan
Ada masa di mana aku begitu yakin, bahwa jika aku berusaha cukup keras, semesta akan mengantarkanku ke kampus impian. Makanya sejak kelas 10, aku sudah menyusun rencana itu rapi-rapi. Aku bukan sekadar bermimpi, aku bergerak untuk mencapai impianku.
Merancang Mimpi Sejak Hari Pertama
Kelas 10 adalah awal aku memulai segalanya. Waktu SMP, aku adalah anak yang pemalu dan biasa-biasa saja. Tidak terlalu menonjol, tidak juga terlalu pintar. Aku hanya anak biasa yang berjalan mengikuti arus, tanpa target besar, tanpa mimpi yang berani kuucapkan keras-keras. Anak yang dulu pemalu dan biasa saja itu perlahan berubah jadi seseorang yang berani memasang target. Aku memasang target masuk 3 besar di kelas, dan berhasil di semester pertama. Namun semester berikutnya, peringkatku turun ke posisi empat. Aku sempat sedih, tapi perlahan kekalahanku itu justru membakar ambisiku lebih besar lagi.
Aku tidak hanya mengejar nilai. Aku aktif berorganisasi, dan diam-diam menumbuhkan bakatku di bidang Al-Qur’an dan bahasa Arab. Aku ikut berbagai lomba, meski pulang dengan tangan kosong. Tapi setiap kekalahan itu aku jadikan pembelajaran untuk terus tumbuh dan berkembang.
Di kelas 11, kerja kerasku membuahkan hasil, aku bisa meraih peringkat 2. Tapi aku masih merasa belum cukup. Aku terus mendorong diriku sampai akhirnya meraih juara 1, dan mempertahankannya hingga kelas 12. Di titik itu, aku benar-benar percaya bahwa aku bisa meraih kampus Impian dengan nilai yang terus kupertahankan sejak kelas 10.
Harapan yang Sempat Menyala, Lalu Meredup
Memasuki kelas 12, aku mulai serius menyiapkan UTBK dengan mengerjakan latihan soal, mengikuti tryout, menonton video pembelajaran. Hal itu membuatku merasa persipanku sudah sempurna, karena aku sudah mulai melangkah. Lalu pengumuman eligible pun datang, dan aku masuk sebagai eligible 2. Harapan itu semakin menyala lagi, rasanya kampus impian benar-benar sudah di depan mata. Aku mulai lebih percaya diri.
Namun tidak lama setelah itu, sekolah mengadakan rasionalisasi rapor dan melihat hasil tryout siswa bersama sebuah lembaga bimbel. Hasilnya menyakitkan, nilaiku belum cukup untuk kampus impianku. Teman-teman yang mendapat hasil yang sama denganku memutuskan untuk mengikuti bimbel untuk persiapan UTBK. Aku juga berniat untuk ikut bersama mereka, tapi ternyata harganya jauh di luar jangkauan, ditambah jaraknya yang akan menambah pengeluaran lagi. Di momen itu aku sempat berpikir, sepintar apa pun seseorang, ia bisa tergeser oleh mereka yang memiliki dukungan ekonomi lebih baik.
Memilih Realistis Bukan Menyerah
Saat SNBP aku tetap mempertahankan pilihan jurusan dan kampus impianku, walaupun nilai yang aku miliki tidak memenuhi nilai rata-rata kelulusan dipilihan itu, tapi aku ingin mencobanya, aku pikir kalo tidak sekarang kapan lagi. Pengumuman tiba, hasilnya aku dinyatakan tidak lolos. Sedih, kecewa, dan merasa gagal setelah tiga tahun berjuang, semua itu nyata dan aku rasakan sepenuhnya.
Saat pendaftaran SNBT, aku mengambil keputusan berbeda. Aku tidak lagi memilih kampus impianku, tapi tetap mengutamakan jurusan yang bagus. Bukan karena aku berhenti berjuang, tapi karena keterbatasan ekonomi membuatku sadar jika gagal di jalur ini, aku tidak punya opsi jalur mandiri yang jauh lebih mahal.
Aku belajar sungguh-sungguh tanpa bimbel, hanya bermodal channel YouTube dan satu buku. Ada kalanya aku merasa stuck, melihat teman-teman yang pulang malam dari bimbel, membeli banyak buku, dengan kemampuan yang terasa jauh di atasku. Tapi dari situ pula aku sadar, aku harus bisa melampaui keterbatasanku sendiri. Aku mengatur ulang jadwal belajar, melatih kecepatan mengerjakan soal, dan terus maju.
Bukan Sekedar Ikhtiar, tapi Juga Takdir
Saat hari tes datang, aku sempat kesulitan di beberapa subtes, tapi berhasil menyelesaikan semuanya. Orang tuaku selalu percaya aku bisa, meski aku sendiri sering pesimis. Setelah tes, aku mulai membuka ruang untuk ikhlas, bahkan sempat memikirkan kemungkinan gap year jika hasilnya tidak sesuai harapan.
Hingga hari pengumuman tiba. Aku membuka hasilnya dengan gugup, tapi alhamdulillah, aku diterima di pilihan pertama. Di momen itu aku menyadari sesuatu, bukan hanya ikhtiar dan doa yang menentukan, tapi ada takdir yang berperan lebih besar dari yang bisa dikendalikan. Aku memang tidak berkuliah di kampus impianku dulu. Tapi aku percaya, aku tetap bisa berkembang di sini.
Terkadang, kemenangan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan. Tapi selama kita sudah berjuang sejujur-jujurnya, hasil apa pun yang datang tetap layak disyukuri sebagai sebuah kemenangan.
