Skenario Terbaik dari Tuhan di Ujung Penantian

Oleh: Nidaul Khaqqi

Antara garis biru dan merah. Ucapan selamat atau semangat. Bayangan itu terus menghantui pikiranku, membuat skenario pribadi bahwa kemungkinan besar jawaban yang aku tunggu bukan membawa keajaiban, melainkan tamparan kenyataan. Sorak bahagia teman-teman yang merayakan garis biru menggema di lab komputer itu. Sungguh, aku juga ikut bangga dengan pencapaian temanku. Adapun yang lain mendapatkan ucapan penyemangat dengan garis merah yang terlihat di layar monitor. Rasanya benar-benar seperti merasakan apa yang mereka rasakan. Hal itu membuatku makin kalut, hingga kuputuskan untuk lebih memilih membuka hasil pengumuman SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi) bersama keluarga.

Aku yang dulu begitu sombong, mengorbankan waktu demi kesenangan sesaat dan rasa malas yang membuai, kini tertampar oleh kenyataan. Sesuai dugaan, layar monitor memperlihatkan kalimat penyemangat disertai garis merah. Sosok wanita paruh baya di sampingku membawaku dalam dekapannya, berusaha memberikan ketenangan dan support terbaik untuk buah hatinya. Rasanya tidak pantas jika aku merasa kecewa. Bagaimana bisa seseorang tidak mengusahakan suatu hal, tetapi merasa kecewa ketika hal itu tidak bisa ia dapatkan?

Aku tidak menutup mata. Masih ada jalan terbuka lapang yang memberi banyak harapan. Aku yakin bahwa saat inilah Tuhan memberiku kesempatan untuk berjuang. Dalam kurun waktu yang terbilang singkat, aku menggeluti soal-soal try out gratis yang diadakan oleh berbagai platform edukasi. Mencoba mencerna berbagai video dari channel YouTube mengenai subtes yang akan diujikan di UTBK-SNBT (Ujian Tulis Berbasis Komputer – Seleksi Nasional Berbasis Tes) nanti. Semua kujajali dari pagi hingga malam. Tidak lupa mencari amalan demi meraih restu Tuhan. Jujur saja, dijajah oleh materi subtes UTBK-SNBT dalam waktu yang tidak genap dua pekan membuatku pusing tujuh keliling. Apalagi, kemampuan pemahamanku sama sekali tidak sebanding dengan Albert Einstein.

Hari peperangan itu tiba. Dan benar saja, tidak semua materi bisa kupahami. Meski begitu, setidaknya aku percaya bahwa doa-doa yang kupanjatkan telah menjelma menjadi perisai kokoh yang meredam semua rasa panikku ketika menatap layar monitor. Tidak sia-sia aku mempelajari teknik blok UTBK-SNBT, walaupun aku tahu bahwa hal itu berhasil jika disertai hoki.

Hari demi hari dilewati dengan melakukan hal produktif selagi menunggu pengumuman hasil SNBT. Aku tidak akan mengulangi hal yang sama, membuang waktu hingga menyesal di kemudian hari. Aku mulai merenungi apa sebenarnya tujuan hidupku. Dari kecil, aku tidak memiliki hal-hal yang bisa disebut sebagai hobi. Tidak memiliki ambisi. Hanya ingin maju tanpa tujuan yang spesifik. Dan akhirnya pilihanku tepat di SMK, agar dapat mengikuti ranah kejuruan yang kupilih, pikirku saat itu. Tidak memiliki kampus maupun prodi impian. Di perjuanganku meraih kampus yang diimpikan banyak orang, aku bulatkan tekad dan niat untuk menimba ilmu demi menjadikannya bekal di masa depan.

Aku teringat sebuah Hadis Qudsi yang membisikkan janji-Nya,

“Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”

Aku berusaha mengontrol rasa cemas. Mencoba berprasangka baik kepada Tuhan. Apapun takdir yang diberikan, pasti itulah jalan terbaik. Walaupun tidak seperti apa yang diinginkan, pasti Tuhan telah menyiapkan takdir lain yang lebih menakjubkan, bahkan di luar apa yang kita bayangkan. Adapula seseorang yang sangat dekat denganku mengatakan,

"Jika kamu menebarkan afirmasi positif, maka hal-hal baik juga akan kembali kepadamu."

Benar juga, mungkin dengan menebarkan afirmasi positif, bisa tersampaikan kepada panitia SNBT, pikirku.

Tetap tenang sedang kuusahakan. Entah kenapa aku merasa sangat percaya diri untuk membuka hasil pengumuman pada pukul 15.00 WIB. Aku ingin berharap, namun takut akan hasil yang tidak sesuai harapan.

‘Ingat, apapun hasilnya nanti adalah yang terbaik’

Akan aku terima dengan hati yang lapang. Nyatanya, aku tidak dapat membohongi perasaanku sendiri. Detik-detik menjelang pengumuman, jantungku berdegup begitu kencang, kali ini tidak bisa kukendalikan. Tanganku mendadak gemetar saat menggenggam benda pipih itu. Kolom nomor peserta dan tanggal lahir sudah terisi sempurna, hanya menyisakan satu klik terakhir menuju kenyataan. Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan kembali merapal afirmasi positif serta doa yang selama ini kuketuk ke langit. Apa pun hasilnya nanti, aku sudah berpasrah. Dengan satu helaan napas berat, tombol ‘Lihat Hasil’ itu akhirnya kuklik.

Seketika, mataku membelalak. Pandanganku terkunci pada gambar kotak berpola hitam-putih di layar benda pipih itu—sebuah barcode. Jemariku menggulirnya pelan. Di sana tertera jelas, ‘Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SNBT SNPMB 2026 di Universitas Sebelas Maret’ (program studi pilihan pertamaku).

Rasa kaget yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Aku refleks menutup mulut tak percaya, sementara air mata yang sejak tadi terbendung kini mulai luruh dengan derasnya, tangis haru yang pecah tanpa bisa ditahan.

Figure 1. Grafik peringkat kedua Universitas Sebelas Maret sebagai PTN peminat terbanyak di SNBT 2026 (Sumber: Humas UNS)

Sebuah data resmi dirilis oleh pihak kampus setelah pengumuman. Sungguh rasa syukur yang tak terbendung. Bayangkan saja, sebanyak 91.611 peminat, hanya 3.624 mahasiswa baru yang diterima di Universitas Sebelas Maret melalui jalur SNBT, dan aku menjadi salah satu mahasiswa baru tersebut. Pintu langit yang kuketuk dan rentetan afirmasi positif yang kukirim ternyata terbayarkan. Tuhan benar-benar mewujudkan takdir sesuai dengan prasangka baik hamba-Nya.

Dari perjalanan ini, aku belajar satu hal berharga bahwa musuh terbesar dalam meraih mimpi bukanlah ketatnya persaingan atau sulitnya menghadapi ujian, melainkan rasa malas yang bersembunyi di dalam diri kita sendiri. Aku memang sempat kalah oleh egoku, tetapi keputusan untuk bangkit, membangun keyakinan diri yang kuat, dan mengetuk pintu langit di sisa waktu telah mengubah segalanya. Bagi siapa pun yang saat ini sedang berjuang dan merasa tertinggal, jangan pernah menyerah pada keadaan. Mulailah melangkah, bangun prasangka terbaik kepada Tuhan, dan percayalah bahwa manifestasi jalur langit itu nyata bagi mereka yang berani mengetuknya dengan ketulusan. Karena pada akhirnya, kisah perjuanganku ini adalah bukti bahwa takdir indah selalu merapat pada hati yang penuh harap.

2 Komentar

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *