LANGKAH KECIL MENUJU MIMPI BESAR

Perjuangan Seorang Mahasiswa KIP Kuliah Meraih Mimpi Melalui Pendidikan

Oleh : Ahmad Maulana

Mahasiswa D3 Manajemen Informatika

LANGKAH KECIL MENUJU MIMPI BESAR

Halo, perkenalkan nama saya Ahmad Maulana, mahasiswa D3 Manajemen Informatika Semester 4 di Akademik Manajemen Informatikan Dan Komputer YPAT Purwakarta. Saya merupakan angkatan 2024 sekaligus lulusan SMK Negeri Jatiluhur Tahun 2024 dan penerima KIP Kuliah.

Jika orang bertanya mengapa saya memilih melanjutkan kuliah, jawabannya sederhana. Bukan saya merasa paling pintar, bukan juga karena berasal dari keluarga yang mampu, Saya kuliah karena ingin mengubah masa depan keluarga saya.

Saya adalah anak ke 3 dari 8 bersaudara sekaligus anak laki laki terakhir harapan keluarga, Sejak kecil saya melihat bagaimana kedua orang tua saya bekerja keras demi memenuhi kebutuhan kami. Ayah bekerja sebagai petani sekaligus buruh harian, sedangkan ibu membantu keluarga dengan segala kemampuan yang beliau miliki, Kehidupan kami sangat sederhana. Alhamdulillah, Keluarga kami termasuk penerima bantuan pemerintah dan saat mendaftar KIP Kuliah saya memperoleh Desil 1.

Jujur, terkadang saya sering bertanya dalam hati, “ apakah suatu hari nanti saya bisa sukses?”

Pertanyaan itu sering muncul karena saya sadar harapan orang tua kini ada di pundak saya. Saya ingin membuktikan bahwa segala pengrobanan mereka tidak sia sia.

Orang tua saya saya hanya mengenyam pendidikan sampai Sekolah Dasar. Dahulu mereka ingin untuk melanjutkan sekolah hingga SMP, tetapi keadaan ekonomi membuat mimpi itu harus berhenti di tengah jalan, Karena itulah saya ingin mewakili mimpi yang belum sampat mereka wujudkan, Saya ingin menjadi anak yang mampu membawa keluarga kami memiliki pendidkan yang lebih tinggi.

Perjalanan menuju kampus bukanlah hal yang mudah

Keluarga kami tidak memiliki kendaraan pribadi yang layak. Sejak sekolah hingga sekarang kuliah, saya terbiasa jalan kaki sekitar 4-5 Kilometer setiap kuliah. Waktu tempuh membutuhkan waktu sekitar 1jam. Saya mengambil jadwal kuliah sore pukul 16.30 WIB, tetapi saya sudah berangkat sekitar pukul 14.30 agar tidak terlambat dan memiliki waktu untuk memulihkan tenaga sebelum perkuliahan dimulai.

Saat musim hujan saya harus rela kehujanan. Saat matahari terik, saya tetep berjalan kaki di bawah panasnya cuaca. Karena itu saya selalu membawa baju ganti ke kampus agar bisa mengikuti perkuliahan dengan nyaman.

Di sepanjang perjalanan, saya sering melewati rumah rumah besar dengan halaman yang dipenuhi mobil. Saya selalu bertanya tanya dalam hati, “Mereka berkerja sebagai apa yaa? Kapan yaa saya bisa seperti mereka?”

Namun saya tidak ingin merasa iri itu berubah menjadi kebencian. Saya memilih menjadikan sebagai motivasi. Setiap melewati rumah rumah tersebut, saya selalu berdoa dalam hati sembil membaca solawat

“Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad wa’ala sayyidina muhammad.”

Saya percaya bahwa setiap doa yang di panjatkan dengan sungguh sungguh akan menemukan jalanya sendiri.

Dulu ketika masih kecil, saya bercita cita menjadi polisi, anggota TNI atau pemadam kebakaran, Namun seiringan bertambahnya usia, cita cita saya berubah menjadi jauh lebih sederhana.

Saya hanya ingin membahagiakan kedua orga tua saya

Saya ingin membuktikan bahwa didikan mereka tidak pernah salah

Saya ingin melihat mereka tersenyum karena perjuangan mereka akhirnya terkabuli

Saya masih inget sebuah kenangan yang sampai sekarang tidak pernah hilang dari ingetan saya.

Pada akhir tahun 2019, setiap pagi sekiat pukul 04.30 WIB, ibu selalu mengantarkan saya berjalan kaki menuju sekolah, bahkan ada masa ketika ibu harus meminjam uang kepada tetangga hanya agar saya memiliki uang saku untuk berangkat sekolah.

Pengorbanan itu kembali saya rasakan ketika akan masuk kuliah, Saat itu saya harus membayar biaya almamater dan kegiatan ta’aruf sebesar Rp800.000. Uang tersebut berasal dari hasil ibu memasak dan bekerja kerasa sedikit demi sedikit hinnga akhirnya terkabul.

Bagi sebagian orang mungkin jumah itu terlihat biasa, Namun bagi keluarga kami uang itu adalah hasil banyak pengorbanan.

Saya sering membayangkan, bagaimana jika saat orang tua saya tidak mampu membayarnya? Mungkin saya tidak akan pernah duduk di bangku kuliah seperti sekarang.

Karena itulah saya selalu berusaha menjalankan perkuliahan dengan sungguh sungguh. Saya percaya bahwa setiap langkah kecil hati ini adalah begian dari perjalanan menuju mimpi yang lebih besar.

Saya tidak tahu kapan perjuangan ini akan berakhir.

Saya tidak tahu kapan saya bisa membeli kendaraan sendiri

Saya tidak tahu kapan saya bisa membalas semua pengorbanan kedua orang tua saya.

Namun saya yakin, selama saya tidak menyerah, Tuhan akan mewujudkan jalan terbaik.

Dan saya berjanji, jika hari ini saya harus berjalan kaki demi mengejar mimpi, suatu saat saya akan berusaha agar ayah dan ibu tidak perlu lagi berjalan sejuah ini.

Saya percaya, setiap langkah kecil yang dijalani dengan penuh kesabaran akan membawa seseorang lebih dekat pada mimpi besarnya, Perjalanan saya mungkin masih panjang tetapi saya akan terus melangkah, karena saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti.

Tinggalkan Komentar