Dari Air Mata Menuju Impian

Halo semuanya, perkenalkan nama saya Grace Marchelia. Hari ini saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan panjang saya dalam menggapai cita-cita. Sejak kecil, saya bercita-cita menjadi seorang arsitek karena saya sangat suka menggambar. Saya senang menuangkan imajinasi saya ke dalam kertas dan membayangkan bisa menciptakan bangunan yang indah suatu hari nanti. Namun, ketika memasuki masa SMP, cara pandang saya mulai berubah. Saya mulai memiliki ketertarikan pada dunia kesehatan dan juga dunia teknik. Saat itu, saya mulai bermimpi untuk menjadi seorang dokter ataupun seorang sarjana teknik.

Sejak SMP, saya mulai mengikuti kursus dan les tambahan untuk mendukung impian saya. Saya belajar dengan sungguh-sungguh hingga beberapa kali mendapatkan penghargaan di tempat les saya. Ketika memasuki SMA, semangat saya semakin besar. Saya terus berusaha mengejar cita-cita saya dengan giat belajar dan mengikuti berbagai les tambahan. Setiap pulang sekolah, saya tidak langsung pulang ke rumah, melainkan melanjutkan belajar di tempat les hingga malam hari. Hingga akhirnya tibalah masa pengumuman kelulusan SMA. Saat itu, saya berhasil menjadi siswa eligible untuk mengikuti jalur SNBP, yaitu Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi. Ketika proses pengisian formulir dimulai, saya terus berdoa kepada Tuhan agar diberikan jalan terbaik dan diterima di PTN impian saya. Hari demi hari saya lewati dengan penuh harapan. Namun, saat hari pengumuman tiba, rasa takut mulai menyelimuti saya dan teman-teman saya. Kami sangat gugup untuk membuka hasilnya. Bahkan beberapa teman saya menangis karena takut menghadapi kenyataan. Meski sebenarnya saya juga takut, saya tetap berusaha menguatkan mereka dan mengatakan bahwa kami pasti bisa lolos di kampus impian kami. Kami memutuskan untuk membuka pengumuman di rumah masing-masing. Saat itu, tangan saya gemetar ketika memasukkan data diri untuk melihat hasilnya. Orang tua saya terus mendukung saya sambil berkata bahwa apa pun hasilnya, itu bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjuangan baru.

Namun, kenyataan tidak sesuai harapan. Saya melihat warna merah di layar, tanda bahwa saya tidak lolos SNBP. Saat itu hati saya hancur. Saya menangis dan kecewa pada diri sendiri. Tidak lama kemudian, pesan dari teman-teman saya masuk. Mereka semua lolos di kampus impian mereka. Membaca pesan itu membuat saya semakin sedih karena merasa hanya saya yang tertinggal. Tetapi orang tua saya tidak pernah berhenti memberikan semangat. Mereka meyakinkan saya bahwa masih ada kesempatan lain, yaitu jalur SNBT. Orang tua saya langsung mendaftarkan saya ke kursus tambahan agar persiapan saya lebih matang. Saya pun memberanikan diri memberitahu teman-teman saya bahwa saya tidak lolos. Alih-alih menjauh, mereka justru memberikan dukungan dan membantu saya belajar saat jam istirahat maupun setelah pulang sekolah.

Ketika pendaftaran SNBT dibuka, saya kembali berdoa dan berusaha semaksimal mungkin. Saya memilih jurusan yang sama seperti sebelumnya, hanya saja di kampus yang berbeda. Setelah lulus SMA, hidup saya dipenuhi dengan belajar. Pagi hari saya belajar sendiri, siangnya mengikuti kursus, dan malam harinya kembali mengerjakan latihan soal di rumah. Orang tua saya selalu menemani dan mendukung saya tanpa lelah. Hingga tibalah hari pengumuman SNBT. Saat itu saya sedang menemani ibu saya berbelanja di pasar. Di sana, saya melihat seorang anak pedagang menangis bahagia karena lolos SNBT di kampus impiannya. Mendengar itu, ibu saya ikut senang dan bertanya bagaimana hasil saya. Namun, saya masih belum berani membukanya. Diam-diam saya membuka pengumuman itu sendiri. Dan lagi-lagi, saya gagal. Saya tidak lolos untuk kedua kalinya. Saat itu saya hanya bisa terdiam. Saya menahan air mata sepanjang perjalanan pulang hingga akhirnya sesampainya di rumah, saya menangis sejadi-jadinya sambil memberitahu hasil tersebut kepada orang tua saya. Meskipun begitu, orang tua saya tetap tegar dan terus memberikan dukungan. Kakak laki-laki saya juga menyemangati saya dan mengatakan bahwa masih ada jalur mandiri. Saya mencoba lagi melalui jalur mandiri, tetapi hasilnya tetap sama. Saya gagal lagi.

Kegagalan demi kegagalan membuat saya hampir menyerah. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi swasta. Tahun pertama kuliah terasa berat karena hati saya belum benar-benar menerima keadaan. Namun pada tahun kedua, saya kembali mencoba mengikuti SNBT sambil tetap menjalani kuliah di swasta. Saya kembali mengikuti kursus dan belajar keras. Sayangnya, saya kembali gagal. Sampai akhirnya di tahun ketiga, saya memutuskan untuk mencoba untuk terakhir kalinya. Saya meminta izin kepada orang tua saya untuk mencoba lagi, tetapi kali ini tanpa kursus tambahan karena saya merasa tidak ingin lagi membebani mereka. Saya hanya mengandalkan buku latihan dan mengikuti try out gratis secara online.

Ketika pendaftaran dibuka, saya memilih universitas yang berbeda dari kampus impian saya sebelumnya, tetapi tetap dengan jurusan yang sama, yaitu Teknik. Saya pergi sendiri ke lokasi ujian dan mengerjakan tes dengan tenang. Saat itu saya hanya pasrah dan percaya bahwa apa pun hasilnya pasti yang terbaik. Hari pengumuman pun tiba. Saya membuka hasilnya saat jam istirahat kuliah. Awalnya saya hanya menatap layar handphone saya tanpa ekspresi. Namun beberapa detik kemudian, saya sadar bahwa saya akhirnya lolos SNBT di kesempatan terakhir saya. Saya terdiam, tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Air mata saya jatuh, tetapi kali ini bukan karena kecewa, melainkan karena bahagia. Pada saat yang sama, orang tua saya menelpon dan menanyakan hasilnya. Dengan suara bergetar dan penuh haru, saya mengatakan bahwa saya akhirnya diterima di jurusan impian saya, yaitu Jurusan Teknik. Orang tua dan kakak saya mendukung apa pun keputusan yang saya ambil, apakah tetap melanjutkan kuliah di tempat lama atau mengejar cita-cita yang akhirnya berhasil saya raih setelah perjalanan panjang penuh perjuangan. Setelah berdiskusi bersama keluarga, saya memutuskan meninggalkan kampus sebelumnya demi melanjutkan mimpi yang telah saya perjuangkan selama bertahun-tahun.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Terkadang, jalan menuju impian memang lebih panjang dan melelahkan dibanding orang lain. Akan ada air mata, rasa kecewa, bahkan keinginan untuk menyerah. Namun selama kita masih mau mencoba, masih mau bangkit, dan masih percaya pada diri sendiri, selalu ada harapan yang menunggu di depan. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah jangan pernah menyerah hanya karena gagal satu, dua, atau bahkan berkali-kali. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk berhasil. Percayalah, usaha yang disertai doa dan dukungan orang-orang tercinta tidak akan pernah sia-sia. Karena pada akhirnya, perjuangan yang panjang akan terasa sangat indah ketika kita berhasil mencapai tujuan yang selama ini kita impikan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *